Nillaku

Nillaku
Nillaku 113


__ADS_3

Vanilla dan Jhico langsung beristirahat setelah tiba dari Korea. Esok adalah akhir pekan, dan mereka akan mengunjungi rumah orangtua Jhico, mansion dan juga rumah keluarga kecil Devan untuk berbagi cerita usai liburan.


Sekaligus memberikan buah tangan yang sudah dipersiapkan Vanilla untuk keluarga terdekatnya.


"Nanti saja mengurus itu, Nilla. Kamu tidur sekarang,"


Jhico melarang istrinya membongkar koper pakaian kotor. Kasihan kalau Vanilla langsung mengurus barang-barang yang mereka pakai selama di sana. Jumlahnya tidak sedikit.


"Aku hanya ingin meletakkannya di tempat mencuci. Biar---"


"Nanti, sekarang kamu istirahat. Bisa dengar aku 'kan?"


Akhirnya Vanilla yang baru mandi itu segera beranjak ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya di sana.


Jhico masuk ke dalam kamar mandi. Setelah memastikan istrinya benar-benar mengistirahatkan tubuhnya. Mereka baru saja melakukan perjalanan yang cukup panjang. Dan Jhico tahu istrinya sangat kelelahan. Meskipun Ia tidak menunjukkannya secara langsung.


Setelah mandi, Jhico membongkar koper berisi baju kotor dan baju bersih. Ia yang akan mengurus semua itu. Ia sudah terbiasa melakukannya, berbeda dengan Vanilla.


Jhico memasukkan semua pakaian kotor ke dalam alat mencuci pakaian. Lalu mengembalikan pakaian yang tidak terpakai ke dalam almari. Jhico berkegiatan dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin mengganggu istrinya.


Selesai dengan pakaian, Jhico mengembalikan pouch make up Vanilla, sepatu, dan yang lainnya ke tempat masing-masing.


Ia ingin saat Vanilla bangun nanti semua sudah selesai, tidak merusak keadaan kamar mereka yang sangat rapi.


******


Sebelum ke mansion dan rumah Devan, Vanilla dan Jhico ke rumah Thanatan dan Karina terlebih dahulu.


Vanilla ingin ke rumah orangtua suaminya dulu. Agar tidak menimbulkan persepsi negatif lagi dari Thanatan.


"Wow terima kasih."


Karina tersenyum senang begitu Vanilla menyerahkan buah tangan untuknya dan Thanatan. "Kalau tidak suka, dibuang saja ya, Ma."


"Mama pasti suka. Tidak mungkin dibuang, apapun isinya."


"Aku senang mendengarnya,"


"Oh ya, kalian dari rumah sakit menjenguk Lovi ya?"


"Huh? menjenguk Lovi, Ma?"


Vanilla mengerinyit bingung. Ia tidak mengerti ucapan Karina. Ia langsung datang ke sini dari apartemen. Tidak ke rumah sakit sama sekali. Dan apa yang terjadi dengan Lovi?


"Lovi keguguran. Kalian tahu 'kan?" sahut Thanatan yang baru ikut bergabung di ruang tamu, menyambut kedatangan putra dan menantunya.


Vanilla nampak terkejut, begitupun dengan Jhico. Mereka tidak tahu sama sekali perihal itu. Apakah orangtua Vanilla lupa memberi tahu mereka atau memang sengaja ditutupi?


"Raihan dan Rena mungkin sengaja belum memberi tahu kalian karena kalian sedang berlibur kemarin. Mereka tidak ingin mengganggu kebahagiaan kalian," ujar Karina memberi pengertian pada Vanilla yang otaknya sudah berpikir buruk pada Devan dan kedua orangtuanya. Apa salahnya memberi tahu? tidak ganggu kebahagiaan sama sekali.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu kami pergi ke rumah sakit dulu," ujar Jhico.


"Baru juga sampai di sini," jawab Thanatan kurang senang karena putranya akan pergi.


"Kami harus tahu kondisi Lovi, Pa."


"Dia baik-baik saja---"


"Ya, Jhico. Silahkan kalian pergi. Hati-hati ya," Karina menyanggah suaminya yang pasti akan berdebat dengan Jhico.


Thanatan seharusnya tahu bahwa salah satu keluarga Vanilla saat ini sedang mengalami kesedihan. Sudah seharusnya Vanilla dan Jhico datang ke sana memberi dukungan dan melihat kondisi Lovi secara langsung.


Jhico dan Vanilla bergegas menuju rumah sakit. Vanilla menggerutu begitu masuk ke dalam mobil.


"Kenapa sih kita tidak tahu kabar itu? aku sedih mendengarnya dan kesal juga karena---"


"Mereka punya alasan tidak memberi tahu kita, Nilla."


"Ya, aku tahu alasannya."


"Mereka tidak ingin membuat kita khawatir ditengah liburan kemarin. Mereka paham bahwa kita sedang butuh waktu berdua untuk bersenang-senang tanpa harus merasakan kesedihan---"


"Kabar duka tidak akan mengganggu kita, Jhi. Yang pergi adalah keponakanku," sergah Vanilla.


******


Saat Vanilla dan Jhico keluar dari mobil, kebetulan Raihan akan memasuki mobilnya. Raihan akan pulang ke mansion untuk membersihkan tubuhnya sekaligus bekerja. Nanti Ia akan kembali lagi.


Raihan menoleh kemudian wajahnya terkejut melihat kedatangan Vanilla dan juga suaminya.


"Bagaimana kabar kalian?"


"Baik, Papa juga 'kan?"


"Ya, kalian datang ke sini untuk---"


"Kami ingin bertemu Lovi," ujar Vanilla.


Raihan mengangguk, kemudian Ia memberi tahu ruang perawatan Lovi. Setelah itu, Vanilla dan Jhico langsung bergegas mendatangi ruangan yang telah disebutkan Raihan tadi.


******


"Vanilla datang ke rumah sakit,"


"Huh? dia tahu kalau Lovi sedang tidak baik-baik saja?"


"Dia datang artinya dia tahu,"


"Hmm pasti nanti salah paham karena kita tidak memberi tahu nya,"

__ADS_1


Sebelum ke mansion, Raihan mendatangi istrinya dulu di rumah Devan. Ia langsung bercerita mengenai kedatangan putri nya tadi. Reaksi Rena sama dengannya, terkejut dan bingung Vanilla tahu darimana.


"Grandpa nanti ke rumah sakit lagi?"


"Iya, tapi Grandpa mau ke kantor sebentar. Setelah itu ke rumah sakit,"


"Oh, bagaimana dengan Daddy?"


"Daddy mu baik, kenapa memangnya?"


"Tidak, aku hanya ingin tahu keadaannya. Dari kemarin yang aku tanya Mommy terus. Aku baru sadar kalau Daddy juga kehilangan,"


Raihan mengusap rambut Adrian yang pintar menyampaikan rasa khawatirnya itu dengan terang-terangan.


*****


"Lovi sedang tidur,"


"Tidak apa,"


Devan mempersilahkan Vanilla dan Jhico untuk masuk ke ruangan Lovi. Mereka bertiga langsung mendekati Lovi yang memejamkan matanya.


Setelah itu, Vanilla dan Jhico duduk di ruang tamu. bersama Devan juga Mereka takut mengganggu Lovi.


"Lovi sudah jauh lebih baik dari kemarin," ucap Devan.


"Kamu tidak memberi tahu aku,"


"Maaf, Vanilla. Aku harus selalu berada di samping Lovi. Yang sempat aku lakukan hanya memantau ketiga anakku di rumah melalui Mama. Aku tidak sempat menghubungi kamu,"


"Aku tidak menyangka, Devan."


Bibir Devan terangkat sedikit. "Aku juga begitu. Pagi itu aku masih sempat mengajaknya bicara, mengusap perut Lovi. Siang nya aku dapat kabar itu. Tapi tidak apa, aku sudah menerima kepergiaannya, Lovi pun begitu. Kami tidak ingin membuat dia sedih di atas sana,"


Jhico salut dengan Devan yang bisa mengendalikan dirinya. Ia terlihat tenang, meskipun Jhico tahu bahwa perginya sang anak pasti meninggalkan luka dalam untuk Devan dan Lovi.


"Iya, kalian tidak usah sedih. Mungkin memang Auris sudah ditakdirkan sebagai anak bungsu mu dan Lovi," ujar Vanilla


"Atau... nanti akan ada penggantinya. Tunggu saja rencana Tuhan selanjutnya," sambung Jhico.


"Tidak ada pengganti pun tidak apa. Kejadian ini sudah yang kedua kalinya. Aku cukup trauma bila Lovi harus mengandung lagi,"


Devan tidak ingin berharap punya anak lagi. Tiga anak sudah cukup. Mungkin memang Andrean, Adrian, dan Auristella saja yang ditakdirkan Tuhan untuk mengisi hari-hari nya dan Lovi. Sementara kedua anaknya yang sudah tiada, hanya memperhatikan dari surga.


 


Ogheyyy gimana kabar kalian? udh tengah malem nih, siapa yg matanya masih segerrr bugerrrr?


Selain Nillaku, aku up Addicted jg yaa. MCH ntar nyusul :)

__ADS_1




__ADS_2