Nillaku

Nillaku
Nillaku 413 Jane bukan berlibur tapi kabur


__ADS_3

Auristella menggeleng tidak setuju dengan permintaan Adrian. Ia melirik Jane sekilas kemudian menyampaikan permintaannya.


"Aunty Jane saja yang buat,"


Jane mengerjapkan mata. Buat puding? Ia sudah membelinya sebelum ke sini untuk apa lagi buat yang baru? Ia belum tentu bisa!


"Kamu sengaja mau mengerjai Aunty ya? Aunty ini tamu. Masa disuruh buat puding? ah tidak mau," tolaknya langsung tanpa basa-basi.


Auristella terbahak melihat wajah kesal Jane. Sudah Ia duga. Pasti Jane kesal sebagai tamu diminta untuk turun ke dapur sekalipun hanya membuat puding.


"Iya, Aunty. Tidak akan aku minta Aunty melakukan itu,"


Jane berdecak dan merangkum wajah mungil Auristella dengan gemas.


"Jadi Aunty sekarang menginap di rumah Icelle ya?"


"Iya, Tapi Aunty sudah ada pilihan rumah,"


"Jadi pindah ke sini Jane? ah ya ampun, aku senang sekali,"


"Senang? bukannya kesal kalau aku dekat dengan kalian? kamu tidak cemburu padaku, Lovi? aku bisa saja menyukai dia lagi," Jane menaik turunkan alisnya sengaja tidak mau menyebut nama Devan. Ada anak-anak Lovi di sini. Jane takut mereka paham dengan pembicaraannya. Gawat, mereka bisa tahu kalau Ia sempat dengan gilanya menyuka Drvan.


"Tidak! kata siapa aku kesal, cemburu? sudah aku bilang, kita ini keluarga. Tidak seharusnya memiliki perasaan semacam itu,"


"Hmm aku terharu mendengarnya,"


"Jadi Aunty sekarang menginap di sini?" Adrian sampai menjawil tangan Auntynya agar segera menjawab pertanyaan yang Ia ajukan.


"Tidak, Aunty akan kembali ke rumah Icelle,"


"Kenapa begitu? menginap saja di sini sebelum pindah,"


"Tidaklah, Aunty itu dimusuhi oleh ayah kalian,"


Lovi terkekeh mendengar penuturan Jane. Devan masih kelihatan kesal dengan Jane dan Jane menyadari itu. Mskipun hubungan mereka baik-baik saja sebagai saudara tapi tetap saja Devan pernah merasa terganggu dengan perasaan yang dimiliki Jane untuk dirinya. Apalagi Devan merasa Jane pernah berpotensi membuat rumah tangganya hancur berantakan. Jane bahkan sama seperti Vanilla. Pernah juga menjadi tokoh antagonis dalam hubungannya bersama Lovi. Mereka sama-sama pernah menyakiti Lovi.


"Tidak mungkin, Aunty. Daddy itu saudara Aunty. Yang namanya saudara tidak boleh ada permusuhan,"


"Setuju!" Adrian menyahuti adiknya dengan semangat.


"Eh tapi aku ganti jadi tidak setuju," sesaat kemudian Ia menyangkal yang langsung membuat mereka yang ada di meja makan mentatap ke arahnya penasaran dengan alasan Adrian merubah pendapatnya.

__ADS_1


"Kita saja bersaudara sering bermusuhan, Auris. Kamu itu sebelum bicara, berkaca dulu,"


Yang dibicarakan tidak bisa menahan dengkusan kesalnya sementara Lovi dan Jane tertawa membenarkan. Memang Adrian dan Auristellah adalah contoh persaudaraan yang tak jarang bermusuhan. Andrean yang sedang sakit memang sangat pendiam setelah sakit begini Ia makin diam.


"Tapi kita bukan permusuhan yang besar, Ian. Permusuhan kecil saja seperti anak pada umumnya,"


"Namanya tetap permusuhan. Tidak ada bedanya,"


"Ada! permusuhan kita itu bukan  permushan yang kejam. Saling membentak atau bahkan memukul. Permusuhan kita masih sangat aman,"


"Ah jangan sampai," Lovi berdoa dalam hati semoga anaknya tidak pernh seperti itu. Serint bertengkar kecil seperti yang selama ini tetjadi padamreka masih tergolong wajar. Dan besar nanti Ia berharap akan berkurang. Ia dan Devan selau berdoa agar anaknya sampai kapanpun tidak pernah terpecah sekalipun nantinya sudah punya keluarga kecil masing-masing.


"Hanya ada Aunty Jane kurang menyenangkan. Kalau Uncle Richard datang, aku bisa mengajaknya bermain game. Tapi sayangnya Uncle tidak datang,"


"Lalu? karena kurang menyenangkan kamu jadi mengusir Aunty?"


"Ya, ampun. Tidaklah, Aunty,"


Adrian panik mendemgar penuturan Auntynya yang menyalah artikan ucapannya.


Maksudnya adalah sayang sekali Richard tidak datang. Padahal kalau Richard datag Ia akan menjadikan Richard menjadi temannya untuk bernain game.


"Kapan Uncle datang?"


Telinga Jane memanas mendengar pertnyaan tentang suaminya terus. Padahal wujudnya saja tidak ada di hadapan mereka saat ini.


"Ean duduk dulu sebenar ya. Setela itu minum obtnya,"


Andrean sudah makan dan Ia langsung mengangguk begitu mendengar kalimat Mommynya.


*****


Olahraga menggunakan sepeda statis Raihan lakukan ketika pulang bekerja hari masih sore. Ia gunakan waktu yang ada untuk menerapkan salah satu pola hidup sehat yang selam ini terbilang jarang Ia lakukan yaitu olahraga. Sekalipun hari libur Raihan tidak setiap saat mau bergegas olahraga. Ia terkadang memilih untuk istiraat. Karena sehari-harinya suah dibuat lelah dengan kesibukan yang menyerangnya.


Disela kegiatannya ponsel yang sedari tadi hening kini menimbulkan suara getaran yang berarti ada seseorang menghubunginya.


"Hallo, Jane,"


"Ada apa tadi menghubungiku, Uncle?"


"Kamu menginap di rumahku ya. Bukankah Rena sudah mengataknnya padamu?" 

__ADS_1


Jane segera membuka pesan dari Rena yang belum sempat Ia baca. "Oh iya, aku baru lihat. Jadi kenapa aku menginap di ana?"


"Ya...kami hanya ingin kembali merasakan tinggal bersamamu,"


Jane tersenyum langsung mengatakan 'ya' tsnpa mrasa keberatan. Ia tentu akan menyetujui permintaan Rena dan Raihan yang begitu baik padanya. Mereka hanya ingin kembali mengenang dimana Jane dan Vanilla masih tinggal bersama mereka.


"Aku akan ke rumah Vanilla dulu untuk mengambil satu atau dua bajuku untuk dibawa ke rumahmu,"


"Ya, hati-hati, Jane,"


Raihan menyelesaikan panggilan. Ia sudah mendengar dari Rena apa yang yengah dihadapi Jane. Ia belum sempat bicara langsng dengan Jane, waktu Jane datang ke rumahnya, Ia juga belum tshu ceritanya secara langsung. Ia ingin menguatkan perempuan itu sebab Ia yakin tak mudah. Disaat Jane masih sangat mencintai Richard tapi Jane selau dibuat sakit dengan perlakun keluarga Ricjard yang seolah menghakimi takdirnya sebagai peremolpuan yang belum bisa mengansung kemudian diperparah dengan diam dan tenangnya Richard sebagi seorang suami yang tak bisa menjaga hati istrinya agar siapapun tak bisa menyakitinya.


*****


"Tidak jadi menginap di sini?"


Auristella kessl mendengar itu dari Jane sampai Ia ingin memastikan sekali lagi.


"Iya, Grandpa dan Grandma meminta Aunty ke sana,"


"Haaa,"


Auristella merengek tanda merajuk. Tapi Lovi memberi tahunya agar tidak bia keras kepala membawa keingina sendiri sementara Raihan dan Rena menginginkan Jane ke rumah mereka.


"Lain kali,"


"Nanti Aunty sudah terlanjur punya rumah," rajuk Auristella masih belum terima Auntynya tidak jadi menginap di sini padahal Ia sudah berusaha keras membujuk Jane.


"Itu Daddy,"


Devan penasaran ketika seorang tamu perempuan ada di rumahnya dengan posisi perempuan itu membelakangi dirinya yang baru pulang bekerja.


Semuanya kompak menoleh ketika Adrian berujar seperti itu. Devan kelihatan terkejut dengan kehadiran Jane.


"Jane, kapan kamu datang?"


Devan mendekat dan menyapa Jane lebih dulu. Jane terkekeh dan langsung memeluk Devan.


"Senang dengan kedatanganku? heh?"


Devan mendengkus Ia menaikkan alisnya dan kembali bertanya, "Sedang berlibur?"

__ADS_1


"Tidak! aku sedang kabur,"


__ADS_2