
"Dia kekasih Renald?"
"Astaga, kamu membuat aku terkejut,"
"Maaf,"
Vanilla menepuk sisi di sampingnya agar Jhico duduk. Baru saja Jhico mencuri pandang ke ponsel Vanilla yang sedang dijelajahi oleh perempuan itu seraya berbaring.
"Masih penasaran tentang hal-hal yang menyangkut Renald?"
"Tidak, aku dan dia 'kan berteman. Kebetulan postingannya terlihat,"
"Bukan kamu yang mencari tahu?"
"Hmm... iya juga sih,"
Vanilla berbohong, Ia menahan senyumnya. Vanilla melirik Jhico yang fokus menatap foto Renald dan beberapa teman sejawatnya.
Jhico tidak menanggapi, dan tak merasa cemburu juga. Ia percaya dengan Vanilla, dan cinta yang dimiliki oleh perempuan itu untuknya.
"Dia masih bekerja di kampus-mu?"
"Masih,"
"Artinya kalian masih sering bertemu?"
"Jelaslah, dia bekerja dan aku belajar di kampus itu. Tapi kami semakin jarang bertemu. Apa lagi setelah ada gadis itu,"
"Tidak usah cemberut begitu,"
"Aku tidak cemberut. Biasa saja. Lihat! aku tersenyum sekarang,"
Jhico terkekeh pelan, dan menatap ke dalam sorot Vanilla, mencari tahu sesuatu yang bisa lebih meyakinkan dirinya bahwa Vanilla memang tak seperti dulu lagi dengan Renald.
"Siapa yang kamu maksud tadi?"
"Namanya? entah, aku tidak tahu. Untuk apa juga mencari tahu? dia menyebalkan. Aku mau cerita, waktu itu aku tidak sengaja menginjak lantai yang sudah dia bersihkan, aku sudah memohon maaf. Tapi dia berlebihan sekali. Dia berani sinis padaku, kalau aku jahat, sudah aku tusuk matanya biar tidak bisa--"
"Haish jangan bicara begitu! aku merinding," Jhico mengusap lengannya. Ia jadi membayangkan hal yang diucapkan Vanilla. Padahal Ia tahu kalau Vanilla hanya sedang mengungkapkan emosinya saja, tanpa mau melakukan hal itu.
__ADS_1
"Aku kesal, Jhico. Seharusnya kalau aku sudah minta maaf, dia maafkan, dan apa sulitnya dibersihkan lagi lantai itu? dia bekerja memang untuk membersihkan semuanya 'kan? lagipula, kampus bukanlah tempat yang sepi dan tak berkegiatan, pastilah ada orang yang melintas. Kalau dia tidak mau hasil pekerjaannya dirusak, ya bekerja saja di rumah kosong," Vanilla menggerutu saat mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Benar, rasanya Ia ingin melakukan sesuatu pada gadis cleaning service yang menyebalkan itu. Tapi Vanilla tidak mau menjadi orang jahat lagi. Ia tahu semua yang bekerja pasti membutuhkan penghasilan. Bisa saja Ia memaksa Raihan untuk memberi pelajaran pada dia yang kurang ajar.
Jhico menarik tangan Vanilla agar melingkari perutnya. Ia menenggelamkan kepala Vanilla di dadanya, tangan lelaki itu juga mengusap kepala belakang Vanilla.
"Teruslah seperti itu. Tuhan tahu mana yang harus dibela, kamu tidak perlu khawatir."
Jhico begitu senang saat istrinya murah hati, memilih untuk tetap diam sekalipun Ia berkuasa.
"Setelah dia menegur aku dengan tegas dan tatapan sinisnya, tak lama dia terjatuh,"
Secepat itu mood Vanilla berubah. Tadi dia tampak geram sekarang malah tertawa begitu puas, mengingat betapa mengenaskannya gadis itu ketika terjatuh. Vanilla anggap itu adalah pelajaran dari Tuhan yang diberikannya dalam waktu sangat cepat untuk manusia-manusia sombong macam cleaning service itu.
"Pasti kamu menahan tawa pada saat itu," tebakan suaminya benar, hingga Vanilla tertawa semakin keras. Beruntungnya Ia masih punya hati hingga tak menertawakan gadis itu dengan terang-terangan.
"Aku sudah mengulurkan tangan ingin membantu dia, Renald datang lalu salah paham,"
"Lalu kamu sakit hati?"
"Tentu saja!"
Melihat Jhico mengangkat alisnya, Vanilla cepat-cepat melanjutkan kalimatnya, "Aku sakit hati dia tidak percaya padaku. Dan aku dituduh padahal tidak bersalah. Dia mengira aku yang membuat gadis itu terjatuh. Menyebalkan sekali 'kan?"
TOK
TOK
TOK
"IYA, SIAPA DI LUAR?" Jhico menutup mulut istrinya karena suara Vanilla keras sekali, sampai telinganya terasa pengang.
"Siapa yang datang ya?"
"Mana aku tahu. Kita sama-sama di sini sejak tadi,"
"Mungkin karena kita tidak bergabung bersama yang lain malam ini. Jadi mereka semua mencari kita,"
Vanilla mengangguk. "Ya, mungkin saja. Coba kamu lihat," ucap Vanilla yang sudah terlanjur nyaman berada di atas ranjang. Jadi Jhico saja yang membuka pintu.
Begitu pintu dibuka, tidak ada orang. Jhico mengerinyit, lalu menjelajahi matanya ke seluruh penjuru.
__ADS_1
"Tidak ada orang, Nilla."
"Huh? serius?"
"Coba lihat ke sini,"
Meskipun mulai merinding, Vanilla tetap bangkit juga. Jhico sudah berada di luar kamar mencari seseorang yang telah mengganggu waktu mereka berdua.
"Aduh, aku takut ini. Siapa sih yang mengerjai kita?"
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Kita masuk sekarang," Jhico mengusap kepala istrinya yang sudah cemas. Lalu merangkul bahu Vanilla agar masuk ke dalam kamar lagi.
Sebelum pintu ditutup oleh Jhico, ada seruan mengejutkan sampai Vanilla yang akan berbaring di ranjang menoleh.
"Astaga, Mama. Jahil sekali, pantas saja cucunya jahil juga," Vanilla mencibir Rena sebagai orang yang telah membuatnya ketakutan.
"Siapa yang jahil? Mama hanya ingin memanggil kalian berdua,"
"Kenapa langsung menghilang saat Jhico membuka pintu?"
"Hmm... tidak ada tujuan apa-apa."
"Tidak salah lagi, Mama jahil juga orangnya," sahut Jhico setelah sebelumnya menghela napas lega. Jujur Ia juga merinding tadi. Tapi tak mau menunjukkannya pada Vanilla. Kalau Ia takut dengan hal-hal seperti itu, percuma saja Ia berdoa dan percaya pada Tuhan selama ini. Lagipula siapa yang akan menenangkan Vanilla kalau Ia sendiri takut?
"Ada apa, Ma?"
"Ayo, kita keluar. Ada yang ingin dibicarakan,"
"Hal apa?" tanya Vanilla tak sabaran. Rena menggeleng seraya tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Jhico menatap istrinya bingung. "Menurutmu kita akan membicarakan apa sebentar lagi?"
"Entah, aku juga tidak tahu. Oh mungkin saja akan membicarakan pembagian harta warisan untukku dan Devan," ujar Vanilla seraya berjalan ingin keluar dari kamar usai menata baju tidur yang dikenakannya karena tadi sempat berantakan.
"Tidak boleh bicara seperti itu," ucap Jhico dengan gemas seraya menekan pipi Vanilla hingga bibirnya mengerucut.
"Memang kenapa?"
"Papa-mu masih hidup, Nilla. Tidak seharusnya membahas harta warisan."
__ADS_1