Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #99


__ADS_3

Bukannya pergi untuk mandi Liam justru malah membaringkan tubuhnya di atas ranjang Jane lalu dia mengambil handphone miliknya untuk bermain game. Berulang kali Jane mengganggu Liam dan meminta dirinya untuk mandi namun dia tidak mendengarkannya. Hal itu membuat Jane merasa kesal kepada Liam dan dia langsung meninggalkan Liam sendirian di kamarnya. Jane pergi membawa bucket bunga tadi untuk dipindahkan ke dalam vas bunga yang berisi air agar bunga tersebut tidak layu. Jane terus menggerutu saat memindahkan bunga tersebut karena kelakuan Liam tadi. Setelah selesai memindahkan bunga itu Jane kemudian memandangi bunga - bunga daisy yang sangat indah pemberian dari Liam tadi, dan setelah itu Jane membaca kartu ucapan yang dia temukan saat membongkar bunga daisy tadi. Di kartu itu hanya tertulis "beautiful daisies for my beautiful lady" (bunga aster yang indah untuk wanita cantikku) yang sontak membuat Jane mengeluarkan senyuman manisnya setelah membaca kartu tersebut. Jane lalu mengikat kartu ucapan itu di salah satu tangkai bunga daisy yang paling depan sendiri agar tidak hilang. Jane menjadi berfikir jika sebenarnya pria menyebalkan itu sangatlah romantis namun cara menunjukkannya yang terlihat seperti bukan pria yang romantis. Intinya Liam itu pria yang romantis namun dia tidak ingin menujukkannya secara berlebihan. Dia itu seperti pria yang tsundere, terlihat cuek namun diam - diam sangat perhatian dan romantis.


Lamunannya itu justru membuatnya kembali berfikir tentang ajakan yang sering Liam lontarkan akhir - akhir ini kepada dirinya yaitu ajakan Liam untuk menikah. Pertanyaan itu dikemas dalam setiap candaan yang berbeda - beda setiap harinya namun sebenarnya memiliki konteks yang sama, terlihat seperti pertanyaan sepele namun harus membutuhkan pemikiran yang matang untuk bisa menjawabnya agar tidak salah dalam melangkah. Sejujurnya Jane merasa sangat tidak enak jika dia terus menolak ajakan Liam namun dia juga tidak bisa gegabah dalam menerima ajakan tersebut walaupun Jane tau jika dari lubuk hati Liam yang paling dalam dia sangat bersungguh - sungguh ingin membina hubungan rumah tangga dengan Jane. Hari sudah mulai gelap karena matahari sudah tenggelam, Jane lalu bergegas pergi ke dapur untuk memasak hidangan makan malam dan tidak lupa dia juga membuatkan secangkir teh hangat untuk Liam yang tadi asyik bermain game. Jane kemudian pergi ke kamarnya sembari membawa secangkir teh hangat itu, saat dia sudah berada di kamarnya ternyata Liam sedang tertidur pulas dengan gamenya yang masih menyala di layar handphone miliknya. Jane menghela nafasnya dan dia meletakkan teh tersebut di atas meja yang berada samping ranjangnya. Jane kemudian mengambil handphone milik Liam dan mematikannya, setelah itu Jane membangunkan Liam yang masih tertidur dengan pulas. Jane mengusap lembut rambut dan pipi Liam untuk membangunkan dari tidurnya. Liam lalu membuka matanya secara perlahan dan menguceknya saat Jane memanggil namanya.


"Liam ayo bangun dan mandilah! lalu setelah itu kita makan malam bersama."


"Nanti saja aku masih ingin tidur, aku merasa sangat lelah sekali."


"Kalau nanti makannya, masakannya keburu dingin dan menjadi tidak lezat."


"Tetapi aku masih mengantuk Jane."


Jane lalu duduk di tepi ranjang "memangnya perkejaanmu tadi sangat banyak ya sampai kamu merasa kelelahan seperti ini?"


"Iya," ucap Liam sembari memeluk pinggul Jane dari samping dan kembali tertidur.


"Kenapa kamu kembali tertidur? bukankah nanti kamu ada urusan ya?"


Liam seketika membuka matanya kembali "oh iya aku lupa."


"Ya sudah sana mandi dulu, aku tunggu di ruang makan."


Liam kembali memeluk pinggul Jane "tunggu dulu, aku sudah terlanjur nyaman seperti ini."


"Kalau seperti ini terus kamu nanti tidak jadi pergi."


"Iya, aku ingin beristirahat sebentar lagi untuk memulihkan tenagaku seperti semula."


"Baiklah jika itu kemauanmu, apa kamu juga ingin aku memijat tubuhmu?"

__ADS_1


"Tentu saja jika kamu bersedia."


Jane lalu mulai memijat punggung Liam sembari sedikit berbincang dengannya. Kemudian dia mulai bertanya mengenai hal yang mengganggu fikirannya akhir - akhir ini "apa kamu akan terus menanyakan hal yang sama setiap bertemu denganku?"


"Menanyakan apa?"


"Menanyakan apakah aku bersedia untuk menikah denganmu atau tidak."


"Oh mengenai hal itu. Tenang saja aku tidak akan bertanya mengenai hal itu lagi karena aku sudah lelah menanyakannya apalagi mendengar jawaban yang sama setiap kali aku menanyakan hal tersebut."


Seketika tangan Jane berhenti memijat punggung Liam "maaf."


"Tidak perlu meminta maaf, justru aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu karena membuat fikiranmu terganggu akhir - akhir ini. Tetapi jika hari ini, besok, atau lusa kamu memiliki jawaban yang berbeda dari biasanya maka aku menerima apapun jawabanmu itu dengan lapang dada."


"Ah sudah selesai, sekarang pergilah untuk mandi," ucap Jane berusaha mengalihkan pembicaraan.


Liam lalu bangun dan mencium kepala Jane sebelum pergi untuk mandi "baiklah, terima kasih."


Liam kemudian duduk dan meminum secangkir teh hangat buatan Jane yang tadi belum sempat dia minum "ah teh buatanmu sungguh sangat lezat," ucap Liam memuji teh buatan Jane.


"Itu hanya teh instan biasa, jangan memujiku sampai segitunya."


"Memangnya kenapa kalau aku memujimu?"


"Tidak apa - apa hanya saja," Jane tidak melanjutkan ucapannya.


"Hanya saja?"


"Ini makanlah yang banyak agar tenagamu bisa kembali seperti semula," ucap Jane sembari memberikan piring yang sudah terisi lauk dan nasi untuk Liam.

__ADS_1


"Ini terlalu banyak untukku."


"Akhir - akhir ini aku perhatikan kamu semakin kurus, jadi aku sengaja menambah porsi makanmu agar kamu tidak semakin kurus."


"Aku merasa biasa saja."


"Karena kamu tidak menyadarinya. Apa pekerjaanmu semakin banyak dan apa ada banyak hal yang mengganggu fikiranmu?" tanya Jane sembari menyantap hidangannya.


"Ya begitulah, ada banyak hal yang membuatku pusing hingga membuatku semakin susah untuk tidur."


"Malam ini perbanyaklah untuk istirahat dan tidur yang cukup."


"Baiklah asal temani aku malam ini, bagaimana?"


"Iya. Eh aku mendapat tawaran untuk bermain drama, menurutmu aku harus menerimanya atau tidak?"


"Saranku lebih baik kamu menerimanya saja, ya itu bisa dijadikan sebagai pengalaman karena kesempatan tidak akan datang dua kali."


"Baiklah aku akan fikirkan kembali."


"Dimana tempat syuting dramanya dan selama berapa hari?"


"Di Korea Selatan, mungkin bisa sekitar 2 bulanan atau lebih aku juga kurang tau sebenarnya."


Liam menghela nafasnya, lalu dia mengusap lembut rambut Jane "pergilah, dan aku tidak ingin kamu menyesal karena tidak menerima tawaran tersebut."


"Tidak apa - apa aku pergi?"


"Iya. Sudah ya aku mau pergi sebentar."

__ADS_1


"Iya, hati - hati dijalan."


__ADS_2