Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #317


__ADS_3

Liam mengambil kentang goreng yang berada di atas meja itu dan memakannya satu persatu sembari menunggu gilirannya mengeluarkan kartu. Liam memakannya sembari melihat lingkungan sekitar rumah Yunna yang masih berada di pedesaan serta rumahnya yang memiliki halaman luas dengan rumput hijau yang tumbuh di setiap jengkal tanah di halaman itu, dan halamanannya hampir mirip dengan yang berada dirumahnya namun bedanya di rumahnya ada pagar sedangkan punya Yunna tidak. Liam bertanya - tanya apakah Yunna beserta keluarganya tidak takut jika ada orang jahat yang dengan mudah masuk ke dalam rumahnya karena tidak ada pagar di sekeliling rumahnya. Yunna lalu menepuk bahu Liam yang mengisyaratkan jika sekarang giliran Liam untuk mengeluarkan kartu yang dia miliki.


Mereka sangat santai sekali bermain kartu uno sembari bercanda ria di teras rumah Yunna. Liam bisa saja pergi ke rumah Ricko jika dia sedang menghindari sesuatu seperti biasanya namun karena sekarang Ricko sangat sibuk dengan keluarganya terutama anaknya, akhirnya Liam memilih pergi ke rumah Yunna saja. Liam tidak ingin pergi ke rumah Chicko maupun Dio karena mereka berdua pasti akan mengajak Liam untuk menenggak alkohol jika mereka tahu Liam sedang merasa pusing. Liam sudah berjanji kepada dirinya sendiri jika dia akan mulai mengurangi kadar alkohol yang dia konsumsi karena biasanya disaat seperti ini Liam bisa saja habis satu botol penuh dan bahkan lebih. Di tengah - tengah permainan Liam kemudian mengeluarkan sebungkus rokok beserta korek gas yang dia bawa dari rumah.


Dia kemudian menyalakannya dan menghisapnya sembari melanjutkan permainan kartu uno bersama Yunna, sedangkan Yunna hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat Liam yang menghisap rokok karena dia sudah terbiasa melihat Liam yang seperti itu saat sedang sedikit stress di kantor. Bahkan Yunna pernah memergoki Liam yang tangan kanannya memegang rokok serta botol alkohol secara bersamaan di ruangan kerjanya, dan sebab itu mengapa ruangan Liam tidak dipasangi alarm kebakaran karena memang Liam sendiri yang melepasnya. Liam tipe orang yang tidak terlalu menyukai sebuah aturan dan cenderung memiliki aturan sendiri alias seseorang yang pemberontak.


"Sebenarnya aku malas jika kita berdua sering berdebat satu sama lain, yah mungkin saja memang benar kata orang jika kita harus mencari seorang pasangan yang sefrekuensi serta mempunyai fikiran yang sama agar tidak selalu berakhir dengan perdebatan."


"Hei jangan begitu, kenapa ucapanmu itu seolah - olah kamu merasa menyesal telah menikah dengan Jane? dan lagipula kenapa juga kamu harus mendengarkan ucapan orang lain?"


"Karena terkadang ucapan orang lain itu ada benarnya juga."


"Sekarang aku tanya, mengapa kamu memutuskan untuk menikah dengan Jane?"


"Karena aku ingin menuruti ucapan mommy saja, dengan begitu mommy pasti akan bahagia."


"And how about you?" (dan bagaimana dengan kamu).


*Mpshh.* Liam menghisap rokoknya.


"I don't know. Terkadang aku merasa bahagia namun terkadang juga aku merasa tidak bahagia, dan rasanya aneh sekali ketika aku merasa bahwa aku ini sangat mencintainya namun disisi lain aku membencinya."


"Bagaimana bisa begitu?"


"Tidak tahu, rasanya aku masih harus ekstra belajar untuk mencintainya agar suatu saat aku bisa sepenuhnya mencintainya serta memberikan seluruh hatiku untuknya."


"Aneh sekali, jadi selama ini kamu?"


"Selama ini aku belum sepenuhnya mencintainya, yah walaupun aku selalu mengatakan kepadanya jika aku sangat mencintainya serta selalu melontarkan sebuah kalimat pujian untuknya."


Seketika Yunna merasa sangat terkejut mendengar pernyataan Liam.


"Sumpah Li, aku baru tahu jika kamu ini memang segila itu."

__ADS_1


"Why?"


"Bagaimana bisa kamu sudah melakukan itu semua dengan Jane bahkan sampai dia mengandung anakmu tapi ternyata kamu tidak benar - benar mencintainya."


"Aku masih sedang belajar untuk mencintainya."


"I-iya maksudku itu hhh, bagaimana bisa Li?"


"Aku juga tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi namun inilah kenyataannya dari dalam hatiku. A-aku hanya ingin menjadi seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, jadi aku akan melakukan apapun yang diperintahkan oleh orang tuaku."


Yunna menghela nafasnya kasar serta memegang dahinya.


"Menurutku caramu itu sudah benar dengan menuruti semua perintah orang tuamu, akan tetapi disisi lain kamu juga salah karena bisa - bisanya kamu berbuat seperti itu kepada Jane. Apakah kamu sadar jika Jane sudah sangat mencintaimu dan bahkan dia selalu menemanimu serta menghiburmu saat kamu hanya bisa duduk di kursi rodamu setelah setelah kecelakaan itu?"


"Iya aku sadar bahkan aku juga sadar jika aku sudah bersikap tidak adil dengannya, akan tetapi aku berusaha menebusnya dengan berusaha belajar untuk mencintainya."


"Aku akui kamu ini memang orang yang pintar bersandiwara ya ternyata hahaha," ucap Yunna menyindir Liam.


"Iya, tetapi aku bersandiwara demi kebaikan bersama."


"Haiss sama saja kalian berdua itu membuatku semakin pusing, lebih baik aku pergi saja lah!!"


"Hei tunggu!! pembicaraan kita belum selesai Liam!!" teriak Yunna.


"Ah semuanya sudah selesai!!"


"Haiss kamu ini selalu saja bersikap seperti anak kecil."


Liam langsung memakai helm miliknya dan mengendarai motornya dengan sangat cepat menuju ke sebuah tempat, dan mungkin lebih tepatnya menemukan sebuah tempat yang nyaman untuk melepaskan rasa lelahnya. Tiba - tiba saja ada sebuah mobil yang mengejutkannya hingga membuatnya mengerem mendadak dan tergelincir di jalan. Liam lalu cepat - cepat bangun dan mengambil motornya yang berada di dekatnya. Liam lalu kembali melanjutkan perjalanannya, dan saat melewati sebuah jembatan Liam lalu memutuskan untuk berhenti sebentar. Liam duduk di pagar tepi jembatan tersebut sembari menghisap rokoknya kembali. Tidak lama kemudian Liam mendapatkan telepon dari seseorang yang menanyakan keberadaannya, dan dengan malas Liam lalu memberitahu keberadaannya sekarang. Setelah itu Liam mematikan teleponnya dan kembali menghisap rokoknya. 30 menit kemudian ada seseorang yang menghampiri Liam.


"Ck sudah kubilang jangan suka nongkrong di pagar jembatan, karena kamu masih punya rumahku sebagai tempat singgah disaat kamu sedang stress."


"Cerewet," ucap Liam ketus.

__ADS_1


"Duduk di pagar jembatan disaat seperti ini tidak akan menyelesaikan masalahmu dan justru nanti akan semakin menambah masalah," ucapnya sembari bersandar di pagar jembatan dan menatap ke sungai yang tepat berada di bawahnya.


"Bodo amat."


"Ck dasar kepala batu, aku sampai merasa heran mengapa kamu sangat hobi sekali nongkrong di pagar jembatan ha?"


"Terserah aku, sudah sana pergi dan urus saja anakmu!"


"Sudah ada istriku yang membantuku mengurus anakku, sekarang aku sedang ingin mengurus teman baikku ini."


"Cih," ucapnya sembari meludah.


"Kakimu kenapa lagi itu?" tanyanya melihat ke dengkul Liam yang berdarah.


"Bukan urusanmu."


"Pasti kamu terjatuh karena kebut - kebutan lagi ya?"


Liam hanya terdiam.


"Diammu itu aku anggap iya. Bukankah sudah kubilang jangan kebut - kebutan lagi dengan menggunakan motormu itu."


"Hmm."


"Liam, kamu mendengarku tidak?"


"Iya aku dengar, sudahlah Ric lebih baik kamu pulang saja!"


"Aku akan pulang jika kamu juga pulang."


"Ya sudah aku pulang."


"Pulang ke rumahku saja jika kamu belum ingin pulang ke rumahmu."

__ADS_1


"Tidak, aku pulang ke rumahku saja."


"Ya sudah."


__ADS_2