Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #305


__ADS_3

Mereka berempat lalu melihat kedua bumil itu berjalan menuju ke meja pojok dekat jendela cafe tersebut, entah apa alasannya mereka berdua lebih memilih duduk sendiri daripada bergabung di meja mereka berempat. Mungkin mereka berdua menginginkan duduk di mejanya sendiri karena lebih leluasa untuk berbincang satu sama lain jika mereka berdua membicarakan masalah mengenai wanita. Setelah itu mereka berempat kembali berbincang satu sama lain dan Ricko mengungkapkan rasa irinya ketika Liam mendapat ciuman dari istrinya, sedangkan dirinya mendapat rasa sakit di hidungnya karena cubitan dari istrinya. Teman - temannya langsung menertawakan Ricko dan bahkan sampai ada yang mengatakan bahwa sebenarnya Gita mempunyai dendam pribadi dengan dirinya.


Setelah itu mereka kembali melanjutkan permainan dan kali ini mereka berempat bermain uno stacko. Mereka masing - masing mengatur strategy agar dapat memenangkan permainan. Liam kemudian pergi memesan minuman kembali dan tiba - tiba saja terlintas sebuah ide di fikirannya jika dia ingin mendirikan sebuah cafe, akan tetapi itu masih rencananya di masa depan karena kalau sekarang dia masih fokus mengumpulkan uang untuk biaya persalinan istrinya. Biayanya terhitung lumayan mahal dan belum lagi perintilan - perintilan lainnya seperti pakaian, susu, alat makan, mainan, renovasi kamar, dan lain sebagainya. Memikirkannya saja sudah membuat kepala Liam hampir terbelah menjadi beberapa bagian seperti amoeba yang sukanya membelah diri untuk berkembang biak.


"Kenapa tiba - tiba melamun seperti itu Li?" tanya Chicko.


"Jika difikir - fikir biaya persalinan dan lain sebagainya sangat mahal dan belum lagi jika sudah sekolah, benar bukan?"


"Benar belum lagi biaya masuk unniversitas saja sudah sangat mahal bahkan saat masuk sekolah dari mulai TK sampai SMA juga sudah sangat mahal, belum lagi jika menyekolahkan di sekolah yang terbilang bergengsi."


Ricko lalu meminum lemon tea miliknya.


"Aku juga baru terfikir mengenai semua hal seperti itu."


"Kalau difikir - fikir sih lebih baik tidak perlu difikirkan sih," ucap Dio bercanda.


"Inginnya sih begitu namun kalau tidak difikirkan nanti akan jadi apa?" tanya Liam lemas.


"Orang tuamu kaya raya jadi masih bisa tenang coba kalau aku, hadehh pasti lebih memilih b*ndir."


"Hei tidak baik berkata seperti itu," ucap Ricko mencoba menyadarkan Dio.


Dio justru malah tertawa.


"Hahaha aku hanya bercanda. Yah jika difikirkan memang rumit sih namun pasti akan ada jalannya sendiri, maksudku pasti selalu akan ada rezekinya yang datang entah dari mana."


"Tumben sekali kamu menjadi bijak seperti ini," ucap Chicko menyindir Dio.


"Aku memang bijak dari dulu namun sekarang aku sudah terbiasa bersikap bodoh untuk mengibur kalian, terutama menghibur bapak - bapak yang sedang pusing alias kalian berdua hahaha."


"Bukan bapak - bapak lah anjir," protes Liam.


"Lah bukannya nanti kamu juga jadi bapak - bapak?" tanya Chicko.


"Bukan bapak - bapak namun hot daddy hahaha," ucapnya merasa percaya diri.


Dio langsung mencibir ucapan Liam.

__ADS_1


"Dih najiss."


"Hmmm entah mengapa rasanya aku ingin membuat cafe sendiri untuk nongkrong bersama, jadi tidak pelry takut diusir jika terlalu lama disini."


Ricko menepuk punggung Liam.


"Lah kenapa pembicaraan jadi ke arah sana? kamu ini sebenarnya sedang kesambet apa sih?"


"Biasa, Liam kalau tiba - tiba pembicaraannya tidak nyambung seperti itu pasti sistemnya sedang konslet."


"Benar juga ucapan Chicko kan Liam selama ini adalah robot kekeke," ucap Dio menyetujui pernyataan Chicko.


Ricko menepuk - nepuk punggung Liam.


"Sebentar aku perbaiki dulu robotnya pasti ada kabel yang terputus."


Mereka bertiga langsung tertawa bersama. Disisi lain Jane dan Gita sedang asyik berbincang mengenai perubahan sikap suaminya masing - masing sembari memakan camilan yang tadi mereka pesan. Jane sesekali memperhatikan Liam yang sedang bercanda bersama teman - temannya di ujung karena letak meja mereka yang lumayan jauh seperti dari sabang sampai merauke. Jane sedang mendengarkan celotehan Gita yang menceritakan mengenai sikap Ricko. Menurut Gita sekarang Ricko menjadi sangat posesif namun dia masih bisa bersikap romantis serta selalu membawakan makanan saat pulang dari kerja.


"Terkadang dia sangat menyebalkan namun seketika berubah menjadi sangat romantis. Mmm apa semua itu karena hormon saat sedang mengandung?" tanya Gita kepada Jane.


Jane berfikir sejenak.


"Kamu tidak pernah mengalami hal - hal seperti itu saat tengah mengandung?"


"Aku pernah sih merasa seperti itu, akan tetapi sekarang sudah tidak terlalu."


"Kenapa begitu?"


"Aku tidak tau. Mungkin karena selama ini Liam sudah berusaha menunjukkan kepada semua orang bahwa dia memang bisa menjagaku serta merawatku saat tengah mengandung anaknya, jadi rasanya tidak adil saja jika aku merasa bahwa dia sangat menyebalkan."


"Mmm memangnya ada ya orang yang berfikir jika Liam tidak bisa menjaga serta merawatmu dengan baik?"


"Bukan berfikir tidak bisa namun lebih tepatnya meragukan Liam sih, dan itu adalah keluargaku sendiri huffttt."


"Benarkah?"


"Iya Gita, mereka masih sedikit meragukan Liam karena terkadang sifatnya yang kekanakan itu dan juga egonya masih terlalu tinggi."

__ADS_1


"Benar sih Liam memang seperti itu namun sebenarnya dia adalah pria yang bertanggung jawab, bukankah begitu?" tanya Gita meyakinkan Jane.


"Tentu saja, aku yakin mengenai hal tersebut."


"Usia kandungan kita selisih sekitar 5 bulan, dan aku berharap jika nanti mereka berdua akan berteman baik seperti Ricko dan Liam semacam 2.0."


Jane tertawa.


"Maksudmu Ricko dan Liam 2.0?"


"Benar."


"Itu pasti akan terlihat sangat menggemaskan sekali."


"Tentu saja hahaha."


Saat sore hari Jane yang sedang duduk di tepi kolam renang sembari menceburkan kakinya ke dalam air, tiba - tiba saja berfikir mengenai wajah anaknya itu. Jane merasa sangat penasaran sekali apakah wajahnya akan mirip sekali seperti Liam atau justru malah mirip seperti wajahnya. Jane mengusap perutnya sembari berbicara kepada perutnya mengenai banyak hal. Namun perbincangan tersebut seketika berhenti karena Liam menghampirinya dan langsung duduk di sampingnya. Setelah itu Liam mengusap perut Jane dan menyapa calon anaknya tersebut.


"Hai calon jagoan daddy, hari ini kamu ingin makan apa?"


"Hari ini aku ingin memakan sup ceker buatan bibi, daddy."


"Okay, aku akan memberitahu bibi. Mmm kenapa kamu sangat menyukai sup buatan bibi?"


"Karena sangat lezat apalagi jika ada ceker ayamnya."


"Padahal memakan sup rasanya seperti hanya meminum air karena tidak membuatku kenyang."


"Coba pakai nasi, pasti kamu akan kenyang hubby."


"Aku sudah memakai nasi namun tetap saja rasanya sup tersebut hanya lewat saja di perutku."


"Benarkah? wah kamu ini."


"Oleh sebab itu aku tidak terlalu suka memakan sup apalagi soto."


"Soto sapi enak, besok belikan aku soto ya hubby?"

__ADS_1


"Okay sayang."


__ADS_2