
Dengan wajah terpaksa Chicko lalu ikut Mr Robinson turun untuk belajar bersama dengannya dan Rosie. Liam kemudian mengusap telinganya yang memerah karena dijewer oleh Mr Robinson, sedangkan teman - temannya yang lain menertawakan Chicko. Setelah itu Liam bersama teman - temannya pergi untuk mengintip Chicko dari tangga dekat kamar Liam, mereka hanya tersenyum menertawakan Chicko saat melihat tingkah Chicko yang sedikit kebingungan ketika diberi pertanyaan oleh Mr Robinson tentang kisi - kisi ujian untuk besok. Chicko kemudian beberapa kali menyenggol lengan Rosie untuk meminta bantuan namun Rosie tidak menanggapinya dan hanya diam saja. Mr Robinson kemudian memukul meja dengan keras karena Chicko tidak menjawab pertanyaannya, sedangkan Chicko hanya menunduk saja karena takut kepada Mr Robinson. Kemudian Chicko diberi hukuman oleh Mr Robinson untuk membaca semua materi dan menghafalkannya. Melihat hal tersebut Liam beserta teman - temannya hanya tertawa melihat tingkah Chicko dari atas. Tidak terasa hari sudah menjelang sore, teman - teman Liam kemudian berpamitan untuk pulang ke rumah masing - masing.
Liam berfikir jika Jane sudah pulang namun ternyata dia belum pulang, lalu Liam menggandeng tangan Jane dan mengajak Jane ke dalam kamarnya. Sesampainya di kamar Liam kemudian Jane meletakkan tas beserta handphone miliknya dan duduk di tepi ranjang Liam. Sekarang saatnya Liam bermanja ria dengan Jane tanpa gangguan dari teman - temannya. Liam mulai menghidupkan televisi di kamarnya untuk menonton spongebob dan kemudian dia berbaring di atas ranjangnya. Jane hanya duduk di samping Liam sembari memainkan rambut Liam, entah mengapa Jane akhir - akhir ini suka sekali memainkan rambut Liam namun Jane tidak berani menyentuh bagian belakang kepala Liam setelah ditegur oleh Liam waktu itu. Rasanya aneh sekali hanya bagian itu yang tidak diperbolehkan untuk di sentuh jika tidak ada hal yang di sembunyikan. Semakin lama secara tidak sadar tangan Liam mulai memeluk pinggul Jane dari samping seperti biasanya hingga membuat jantung Jane berdebar - debar dengan sangat cepat. Liam mulai tertidur dengan sendirinya, dan Jane lalu menyelimuti tubuh Liam tanpa melepaskan tangan Liam dari pinggulnya. Tiba - tiba Mr Robinson masuk ke dalam kamar Liam dan berteriak hingga membuat Liam terbangun.
"Apa yang kamu lakukan Liam!" teriak Mr Robinson.
"Memangnya apa yang aku lakukan? aku tidak melakukan apapun," jawab Liam dengan matanya yang masih mengantuk.
Mr Robinson kemudian menunjuk sesuatu "tangan kamu sedang apa?"
Liam lalu mengangkat tangan kirinya "tidak melakukan apapun."
"Yang satunya!"
Liam berganti mengangkat tangan kanannya "ini juga tidak melakukan apapun."
"Dua - duanya diangkat ke atas!"
Liam mengangkat kedua tangannya ke atas "ini sudah, puas?"
Mr Robinson mengangguk "awas saja jika melewati batas, akan aku penggal kepalamu."
"Tidak akan dad."
"Jane, jangan mau tergoda rayuan anak nakal itu dan lagipula Liam juga sangat jorok karena selalu mandi sehari sekali," ucap Mr Robinson bercanda.
"Aku mandi sehari sekali hanya waktu akhir pekan dan hari libur saja karena memghemat air itu bagus."
"Dasar jorok."
"Dad, hentikanlah!"
"Awas saja jika kamu berbuat yang melewati batas, aku akan kembali mengirimmu ke Australia jika kamu berani berbuat seperti itu."
"Iya dad, Liam janji."
__ADS_1
"Baiklah." Mr Robinson kemudian pergi meninggalkan mereka berdua, sedangkan Jane hanya tertawa kecil melihat tingkah bapak dan anak itu.
Liam beralih melihat Jane dengan sinis "kenapa tertawa?"
"Tidak ada, hanya saja aku terkejut saat tadi daddy kamu menggrebek kita berdua dan lagipula tangan kamu juga nakal sekali."
"Tanganku bergerak dengan sendirinya."
"Kebiasaan sih, ingatlah kita sedang berada di rumahmu dan bukan di apartementmu!"
"Habisnya kamu juga diam saja, jadinya aku fikir kamu mengizinkan tanganku untuk memeluk pinggulmu terus jadi kebiasaan deh."
Jane menggelengkan kepalanya "ya sudah sekarang kembalilah tidur!"
"Aku ingin pulang ke apartement saja," pinta Liam lirih sembari kembali memeluk pinggul Jane.
"Tapi kamu kan masih sakit Liam."
"Aku sudah sembuh kok, kan kamu tau sendiri jika badanku sudah tidak terlalu panas lagi seperti sebelumnya."
Jane berfikir sejenak, dan kemudian dia menghela nafasnya "nanti aku akan bilang kepada mommy kamu terlebih dahulu."
"Baiklah jika begitu."
"Ini semua gara - gara author laknat."
(Author) "apa salah dan dosaku Liam?."
Liam lalu beranjak dari tidurnya dan mengambil barang - barang pribadinya, sedangkan Jane hanya menunggu Liam selesai mengambil barang - barang miliknya. Lalu setelah itu mereka berdua berpamitan untuk pergi namun Mrs Robinson mencegahnya karena dia merasa khawatir kepada Liam jika Liam belum sepenuhnya pulih. Liam kemudian meminta bantuan kepada Jane untuk meyakinkan Mrs Robinson, dan Jane mulai meyakinkan Mrs Robinson jika dia yang akan mengendarai mobilnya. Setelah berfikir sejenak Mrs Robinson akhirnya mengizinkan Mereka berdua untuk pergi, dan menitipkan Liam karena dia tidak ingin kehilangan seorang putra lagi seperti dahulu. Jane mengangguk dan berjanji kepada Mrs Robinson untuk menjaga Liam karena kondisinya yang belum pulih sepenuhnya. Mereka berdua lalu pergi ke basement rumah keluarga Robinson untuk mengambil mobil, dan betapa terkejutnya Jane ketika melihat semua koleksi mobil milik keluarga Robinson yang terbilang mewah itu. Semuanya terparkir atau tersusun dengan rapi termasuk motor milik Liam yang sering dia kendarai. Jumlah semua kendaraan yang berada di basement rumah keluarga Robinson itu sekitar 20 dengan 1 motor milik Liam, itu membuat Jane seketika menjadi terdiam sejenak menatap semua kendaraan itu.
"Mobil mana yang ingin kamu kendarai?" tanya Liam menepuk bahu Jane.
Seketika lamunan Jane menjadi buyar "ha? apa?"
Liam berdecak "apa kamu sudah mulai tuli? pilihlah salah satu mobil yang ingin kamu kendarai untuk pulang ke apartement."
__ADS_1
Jane berteriak kepada Liam "aku tidak tuli."
"Lalu kenapa kamu tadi tidak mendengarku dan memintaku untuk mengulangi pertanyaanku?"
"Aku tadi melamun karena heran saja."
"Heran kenapa?" tanya Liam.
"Ternyata kamu lebih kaya dari dugaanku, pantas saja banyak wanita yang mengejar - ngejarmu. Tetapi kenapa penampilanmu biasa saja?"
Liam tertawa "aku bukan tipe orang yang memanfaatkan kekayaan orang tuaku secara berlebihan, aku ingin hidup seperti kebanyakan pria umum lainnya yang pergi mendaki gunung bersama teman - teman atau pergi bermain skateboard di taman."
"Kenapa begitu?"
"Karena aku ingin. Sudahlah, sekarang pilihlah mana yang ingin kamu kendarai."
"Sepertinya aku menyukai mobil yang bewarna merah menyala itu, apakah aku boleh mengendarainya?" tanya Jane berharap.
"Baiklah," ucapnya sembari menekan pin untuk membuka kotak tempat penyimpanan kunci kendaraan.
Mereka berdua lalu pergi ke apartement, dan sesampainya di unit apartement Liam langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya sembari mengidupkan televisi. Jane kemudian menghampiri Liam dan duduk di sampingnya "aku tadi takut sekali jika membuat mobilmu lecet."
Liam tertawa "tidak perlu takut, aku yang akan bertanggung jawab jika itu terjadi."
"keluargaku tidak sekaya keluargamu, tetapi kenapa orang tuamu sangat menginginkan aku menjadi menantunya?"
"Mungkin karena kamu cantik dan baik, maka dari itu mereka berdua menyukaimu."
Jane menggeleng "sepertinya karena aku putri dari sahabat mereka."
"Awalnya mereka tidak mengetahui jika kamu anak sahabatnya namun mereka menyambutmu dengan ramah, apalagi mommy seperti sudah merasa sangat cocok denganmu walaupun itu baru pertama kali kalian bertemu."
"Memangnya mommy kamu tidak biasanya seperti itu?"
Liam menggeleng "tidak, mommy selalu bersikap dingin saat bertemu dengan seseorang untuk pertama kalinya."
__ADS_1
"Oh begitu. Ya sudah aku pergi mandi terlebih dahulu lalu memasak untuk makan malam."
"Baiklah."