
Liam lalu mentransfer sejumlah uang ke rekening Rosie, dan setelah itu dia pergi ke kamarnya untuk mandi. Jane duduk bersantai di sofa dekat balcony kamarnya sembari menunggu Liam selesai mandi, tapi ternyata Jane lupa memberikan handuk untuk Liam dan dia lalu pergi ke kamar mandi untuk memberikan handuk tersebut. Namun bukannya langsung bisa keluar, justru tangan Jane ditahan oleh Liam agar tidak dapat keluar dari kamar mandi. Dengan raut wajah yang terlihat pasrah akhirnya Jane menuruti kemauan Liam yang meminta dia untuk dipijat kepalanya sembari berendam air hangat di bathtub. Saat Liam mulai ketiduran, Jane justru pergi meninggalkan Liam untuk kabur dari cengkramannya. Jane takut jika nanti dia akan susah berjalan lagi jika dia tidak cepat - cepat pergi dari kamar mandi, apalagi saat naganya itu sudah bangun.
"Nyonya kenapa tertawa seperti itu?" tanya bi Iyem.
"Aku berhasil melepaskan dari cengkraman singa."
"Maksud nyonya, tuan?" tanya bibi merasa penasaran.
Jane mengangguk "iya bi, oh ya bi nanti masak apa untuk makan malam?"
"Nyonya ingin makan apa? nanti saya masaknya sesuai request nyonya."
Jane berfikir sejenak "aku ingin sesuatu yang berkuah, nanti kalau Liam biar aku tanyakan saja setelah dia bangun."
"Bangun? apa sebenarnya nyonya memberikan obat tidur kepada tuan?" tanya bibi dengan bercanda.
Jane tertawa "tidak bi, mana mungkin aku memberikan suamiku sebuah obat tidur."
Bibi ikut tertawa "siapa tau nyonya, secara dari dulu kan nyonya dengan tuan itu musuhan."
"Tidak bi, sekarang kita tidak musuhan kok tetapi saling cinta dan saling menyayangi satu sama lain."
"Syukurlah kalau seperti itu," ucap bibi merasa lega.
"Ayo bi, kita memasak untuk makan malam!"
"Baik nyonya, mari."
Jane kemudian mulai memasak makan malam bersama Bi Iyem serta Bi Melati. Namun karena Liam waktu itu berkata kepada bibi jika jangan izinkan Jane untuk memasak, akhirnya Jane hanya memperhatikannya saja walaupun terkadang dia mencuri - curi untuk membantu bibi memasak. Sebenarnya Jane bisa saja duduk diam memperhatikan bibi seperti biasa namun karena Jane merasa tidak enak kepada bibi akhirnya dia selalu ingin membantu bibi, apalagi mengingat jika Bi Iyem sudah menjadi pengasuh Liam sejak dia beranjak remaja. Tadi malam Liam juga berkata bahwa dia sudah menganggap Bi Iyem seperti ibunya sendiri, maka dari itu dia menjadi tidak enak jika selalu merepotkan Bi Iyem.
Disisi lain Liam yang terbangun dari tidurnya seketika dia merasa terkejut karena ternyata dia masih berendam di bathtub. Liam lalu membilas tubuhnya dengan cepat dan langsung berpakaian. Saat hendak pergi ke ruang tengah mencari Jane, tiba - tiba saja handphone Jane berbunyi. Sejak tadi handphone tersebut ditinggalkan oleh Jane di atas meja samping ranjangnya. Karena Liam merasa penasaran, dia lalu mengangkat telepon tersebut yang ternyata suaranya adalah seorang pria. Buru - buru Liam langsung mematikannya saat pria tersebut mengatakan sebuah kalimat yang menurutnya terasa janggal jika itu hanya sebagai seorang temannya saja. Tidak hanya itu saja, Liam juga menghapus history panggilan dari handphone Jane. Setelah itu dia pergi ke bawah untuk makan malam namun saat dia berjalan menuruni tangga.
"Aku setelah ini akan pergi keluar," ucapnya datar.
"Pergi kemana?" tanya Jane.
"Biasa, ke cafe atau mungkin pergi clubbing."
Jane menghela nafasnya "baiklah, tetapi jangan pulang terlalu larut malam."
__ADS_1
"Ya, lagipula aku juga akan pulang pagi kok."
Jane berteriak "yak Liam, bukan seperti itu konsepnya sayangku."
"Lah bagaimana sih? tadi katanya tidak boleh pulang terlalu larut malam, berarti aku pulangnya saat pagi buta dong?"
"Tidak boleh, lagipula kamu besok juga kerja sayang."
"Ya sudah jam 1 aku sudah sampai rumah," ucap Liam saat duduk di kursi.
"Jam 12 malam harus sudah sampai di rumah."
"Ya sudah iya."
Setelah negosiasi mereka berdua selesai, Jane kemudian menyajikan hidangan makan malam di piring Liam dan memberikannya kepada Liam. Saat Jane sibuk menyajikan hidangan makan malam, justru tangan Liam malah sibuk memegang pantat Jane. Berulang kali Jane memperingatkan Liam serta menyingkirkan tangan usilnya tersebut namun tetap saja Liam terus menjahili Jane.
"Hubby, jangan jahil."
Liam tersenyum nakal "pantatmu itu sangat kenyal sekali hehe, rasanya aku ingin sekali memakannya nanti malam."
"Ssttt diam," ucap Jane merasa malu.
"Wohoo presdir kita telah sampai," sapa Dio.
Ricko langsung menepuk bahu Liam "congrats my brother."
"Thanks," jawab Liam sembari tersenyum.
"Bagaimana, enak tidak menikah? lalu setelah menikah justru malah naik jabatan menjadi presdir."
Liam tertawa "enaknya double, kalau aku tahu akan seperti ini pasti aku sudah melakukannya dari dulu dan tidak perlu drama - drama melajang seumur hidupku."
"Istrimu sangat sexy sekali bukan? pasti lebih enak dong, makanya kamu semakin betah dirumah sekarang."
"Tidak juga Chic, dia itu cerewet sekali sampai.kepalaku terasa sangat pusing."
"Ah jangan pusing - pusing, nikmati saja yang enak - enak."
Dio tertawa "ucapan Chicko ada benarnya juga, kamu tidak perlu pusing selagi istrimu itu masih cerewet namun..."
__ADS_1
"Namun apa Dio?" tanya Liam penasaran.
"Namun kamu patut merasa curiga saat istrimu itu berubah tidak menjadi cerewet seperti biasanya."
"Kenapa begitu?"
"Biasanya kalau sudah seperti itu istrimu pasti sudah merasa lelah denganmu, dan yang lebih parah lagi mungkin dia juga sudah mempunyai penggantimu alias simpanan."
Ricko memukul Dio "sstt jangan seperti itu, kasihan dia baru menikah malah sudah dibuat overthinking olehmu."
Chicko tertawa "hahaha Dio ini jangan begitu, lebih baik sekarang kita berpesta bersama merayakan kenaikan jabatan Liam."
"Eh Josh kemana?" tanya Liam.
"Dia ada urusan, jadi tidak bisa ikut."
"Oh."
Malam semakin larut dan mereka semakin menikmati pestanya. Bahkan Semakin lama Liam juga sudah mulai mabuk berat hingga membuat Ricko selalu berada di samping Liam untuk menjaganya agar dia tidak berbuat onar di lounge tersebut. Jam sudah nenunjukkan pukul 12 malam dan Ricko langsung menarik Liam serta teman - temannya untuk pulang karena jam - jam tersebut sangat rawan sekali. Karena kondisi Liam yang tidak memungkinkan, akhirnya Ricko mengantarkan Liam pulang ke rumah. Ricko lalu memapah Liam masuk ke dalam rumahnya dengan dibantu oleh Pak Kang.
"Jane, ini Liam sudah sangat mabuk."
"Ya sudah, tolong antarkan ke kamarnya ya Ric? terima kasih sebelumnya."
"Tidak masalah Jane."
Ricko lalu menidurkan Liam di atas ranjangnya dan setelah itu dia berpamitan pulang. Jane lalu menggantikan pakaian Liam dan melepaskan sepatunya.
"Kamu ini selalu saja seperti ini jika sudah menyentuh alkohol." Jane berbaring di samping Liam namun tiba - tiba Liam memeluknya.
"Kamu sangat cantik, dan aku ingin membuatmu menjadi milikku sepenuhnya."
"Ha?"
Liam lalu menindih tubuh Jane dan langsung mengulum bibir Jane "mmm strawberry." Setelah itu Liam menanggalkan semua pakaiannya.
"Hubby, sudah malam ayo tidur."
"Tidak mau, aku menginginkan dirimu." Liam lalu menanggalkan pakaian Jane juga secara perlahan dan menyerangnya secara ganas.
__ADS_1
"Hubby."