Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #231


__ADS_3

Karena mulut Liam sudah lelah untuk berbicara, dia kemudian ikut berbaring di sofa dan membuka handphone miliknya. Ternyata saat dibuka terdapat banyak pesan dari Jane yang menanyakan keberadaan dirinya sekarang, akan tetapi karena Liam sedang malas dengan Jane alhasil dia tidak membukanya apalagi menjawabnya. Liam kemudian mematikan handphonenya tersebut dan meletakannya di atas meja, lalu dia kembali meminum kopinya. Liam lalu meletakkan kepalanya di perut Ricko dan kembali bercerita kepadanya. Dio dan Chicko kemudian mendekat kepada mereka berdua untuk mendengarkan cerita Liam kembali mengenai suasana keempat negara yang dikunjunginya belum lama ini yaitu Paris, Swiss, Santorini - Yunani, dan Hawaii. Liam juga memberitahu mereka bahwa setiap negara tersebut mempunyai daya tariknya masing - masing. Tidak terasa sudah sangat larut malam dan mereka berempat masih saja berbincang serta bercerita mengenai banyak hal. Karena terlalu asyik mendengarkan cerita dari teman - temannya tersebut, Dio sampai ketiduran hingga membuat mereka bertiga tersenyum jahil.


Mereka bertiga bisa sangat leluasa bermain di rumah Ricko karena kebetulan orang tua Ricko sedang berada di luar kota, jadi tidak masalah sampai kapan mereka akan berada di rumahnya dan yang terpenting jangan sampai mengganggu tetangga sekitar. Ricko kemudian menyalakan televisi untuk menonton pertandingan sepak bola bersama teman - temannya itu, karena memang sebenarnya tujuan mereka berada di rumah Ricko hanya untuk menonton bola bersama. Padahal mereka bertiga lebih menginginkan menonton bersama di rumah Liam karena dia memiliki televisi yang lebih besar. Namun Liam bingung meminta izin kepada macan betinanya itu apalagi sekarang Nat masih berada di rumahnya, jadi Liam belum berani menerima tamu karena dia takut akan menimbulkan kecurigaan serta pertanyaan di otak mereka jika mereka melihat Nat disana. Tiba - tiba saja saat berada di tengah - tengah pertandingan, terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah Ricko. Karena mereka mengira jika mobil tersebut adalah milik orang tua Ricko, lalu Chicko bergegas membangunkan Dio dan mereka berempat membereskan ruang tengah di rumah tersebut karena terlihat sangat berantakan akibat ulah mereka. Lalu mereka kembali menonton bola untuk menutupi rasa gugup mereka jika orang tua Ricko masuk ke dalam rumah.


"Katanya besok lusa orang tuamu baru pulang, kenapa sekarang mereka sudah pulang?" tanya Dio sembari menguap.


"Aku juga tidak tau, mungkin urusannya sudah selesai lebih awal jadi mereka memutuskan untuk pulang lebih awal juga."


"Untung saja kita bisa bersih - bersih dengan cepat jadi kita tidak akan masuk ke daftar hitam di catatan orang tuamu," ucap Liam bernafas dengan lega.


Chicko mengunyah gorengannya.


"Iya benar Ric."


"Kalian juga sih mengapa harus ada acara mengacak - ngacak ruang tengah rumahku?" tanya Ricko ketus.


"Ya kami juga tidak bermaksud begitu karena tangan kami yang melakukannya," ucap Dio tanpa dosa.


Ricko mengumpat.


"Sialan."


"Eh tapi anehnya mengapa mereka tidak langsung masuk ke rumah ya?" tanya Liam merasa curiga.


Mereka bertiga berfikir sejenak.


"Iya benar."


"Mungkin sedang mengambil koper di bagasi," jawab Ricko santai.


Chicko mengangguk.


"Benar juga, siapa tau orang tuamu membawakan buah tangan untuk kita semua hehe."


Dio tertawa.


"Hahaha benar."


*Tok tok tok* suara pintu diketuk.


Ricko lalu berjalan untuk membukakan pintu.


"Eh."

__ADS_1


"Liam ayo pulang!! sudah jam berapa ini!!"


Ternyata bukan orang tua Ricko yang datang, melainkan Jane dan Pak Kang yang datang ke rumah Ricko untuk menjemput Liam pulang karena sudah larut malam. Ricko yang berjalan di belakang Jane langsung menunjukkan gesture sedang meminta maaf kepada Liam karena dia yang telah memberitahu Jane bahwa Liam sedang berada di rumahnya karena Jane yang lebih dulu menghubunginya saat handphone Liam tidak bisa dihubungi, dan dia juga yang mengirimkan lokasi rumahnya kepada Jane. Dio dan Chicko hanya tersenyum sembari menahan tawa saat melihat sahabatnya itu sudah dijemput oleh istrinya, padahal dahulu dia yang selalu pulang paling akhir karena orang tuanya jarang mencarinya bahkan sampai menyusulnya seperti yang dilakukan oleh istrinya saat ini.


"Na-nanti, aku masih ingin menonton bola bersama teman - temanku."


"Pulang sekarang!!!"


"Tidak mau. Hei bantu aku dong please," ucap Liam memohon kepada teman - temannya.


"Jujur saja kami juga takut kepada istrimu," ucap Chicko berbisik.


"Ayo pulang hubby."


Dio lalu menepuk punggung Liam.


"Pulanglah, daripada nanti istrimu marah lho."


"Ya sudahlah," ucap Liam saat berdiri.


"Besok kita nonton bola lagi, sorry ya Li."


Liam menggaruk rambutnya.


"Iya hati - hati Li."


Liam lalu diminta masuk ke dalam mobil oleh Jane karena Jane yang akan menyetir, sedangkan Pak Kang yang mengendarai motor Liam karena takut jika Liam nanti akan kabur. Sepanjang perjalanan pulang Jane terus menceramahi Liam karena tingkahnya yang kekanakan itu, dan Liam hanya mendengarkan saja agar tidak menambah masalah jika dia berdebat dengan Jane.


"Kenapa sih kamu bersikap sangat kekanakan sekali?" tanya Jane sembari fokus menyetir.


"Aku tidak kekanakan, hanya saja aku sudah terbiasa seperti ini. Orang tuaku saja tidak pernah mencariku serta membebaskanku pulang ke rumah kapan saja, sedangkan kamu malah bersikap terlalu overprotective seperti strict parents saja."


"Itukan dulu, sekarang kamu itu suamiku dan aku ini istrimu maka dari itu aku mencarimu saat kamu pergi."


"Lalu apa hubungannya dengan itu? lagipula aku juga sudah besar, dan dengan kamu melakukan hal seperti ini hanya membuatku malu saja di depan teman - temanku."


Jane lalu menghentikan mobilnya dan menatap Liam dengan sangat dalam.


"Aku seperti ini karena aku sayang padamu Liam!!"


"Sayangmu itu berlebihan, aku kan sudah janji tidak akan macam - macam diluar sana apalagi sampai berselingkuh."


"Iya aku tau, aku bahkan sangat percaya kepadamu namun aku hanya khawatir kepadamu saat kamu tidak bisa dihubungi karena aku takut kehilanganmu lagi."

__ADS_1


Jane lalu kembali mengemudikan mobilnya dan secara perlahan dia mulai meneteskan air matanya hingga membuat Liam bertanya.


"Kamu kenapa?"


"Tidak apa - apa," ucap Jane mengusap air matanya.


"Sini biar aku saja yang mengendarainya jika kamu merasa lelah."


"Tidak perlu, aku tidak apa - apa kok."


Begitu sesampainya di rumah Jane langsung membaringkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut untuk menyembunyikan air matanya.


"Jane," panggil Liam.


"Hmmm."


"Kamu kenapa? iya aku minta maaf kepadamu karena telah membuatmu merasa khawatir kepadaku."


"Iya."


"Kamu menangis?"


"Tidak."


"Kamu bohong kan?" tanya Liam saat menarik selimut Jane.


"Iya aku bohong!! puas kamu?"


Liam lalu memeluk tubuh Jane "maaf Jane."


Jane mencium aroma tubuh Liam.


"Kamu tadi merokok ya?"


"Mmm iya, hanya sedikit kok."


"Bukankah dahulu aku sudah bilang jika aku tidak suka kamu merokok, lalu kenapa sekarang merokok?"


"Hanya karena ingin saja."


Jane menggelengkan kepalanya.


"Jangan merokok lagi, itu tidak bagus untuk kesehatanmu!"

__ADS_1


"Iya sayang."


__ADS_2