
Mereka sangat bahagia berjalan - jalan bersama di Malioboro sembari berbincang. Selain itu Jane sangat bersyukur bisa bertemu dengan sahabatnya yang dia kira tidak bakal menemukannya karena mereka hilang kontak dan tak pernah bertemu lagi setelah Jane pindah ke Korea Selatan. Setelah lelah berkeliling Malioboro, mereka berdua memutuskan untuk duduk sebentar di kursi dan kembali melanjutkan perbincangan mereka, dan Jolee pergi membeli minuman di warung terdekat.
Jolee memberikan minuman untuk Jane "ini untukmu." Lalu dia duduk di samping Jane.
Tersenyum sembari menerima minuman itu "terima kasih Jolee."
"Sama - sama. Eh menurut kamu Liam itu orangnya bagaimana?"
"Menurut aku sih dia pria yang baik hati walaupun terkadang menyebalkan."
"Apakah hanya itu?"
"Maksud kamu?"
"Apakah dia tidak tampan?"
"Ya sedikit."
Jolee hanya tertawa mendengar jawaban dari Jane, setelah itu mereka berdua memutuskan untuk pulang, dan Jolee mengantarkan Jane pulang sampai ke rumahnya. Sesampainya di rumah Jane, Jolee langsung berpamitan pulang karena sudah malam. Jane hanya mengangguk dan melambaikan tangannya kepada Jolee. Setelah menatap mobil Jolee yang semakin menjauh dari pandangannya, Jane langsung masuk ke rumahnya. Melihat putrinya sudah pulang, Mrs Kim langsung menyambut anaknya tersebut dan mengajaknya untuk makan malam tetapi Jane mengatakan kepada Mrs Kim jika dia ingin mandi terlebih dahulu. Mrs Kim hanya mengangguk dan Jane pergi membawa semua belanjaannya ke kamarnya.
Sesampai di kamarnya, Jane lalu meletakkan semua barangnya di sofa kamarnya dan pergi mandi. Jane mulai menghidupkan kran air dan berendam di bathtub nya sembari memikirkan sesuatu. Sebenarnya semenjak dia tinggal bersama di unit apartement milik Liam, Jane terus - menerus memikirkan Liam apalagi sewaktu Liam menolongnya dari bunuh diri dan merawatnya dengan sangat perhatian bahkan Liam selalu memberikan apa yang dia inginkan.
Jane jadi berfikir ingin menerima perjodohan tersebut tetapi di sisi lain Jane masih takut jika dia menikah pasti Liam akan melarangnya menjadi model dan Liam akan mengajaknya tinggal di Indonesia. Jane juga takut jika dia menjadi jarang bertemu sahabatnya yang berada di Korea. Pokoknya Jane berendam di bathtub sembari memikirkan banyak hal dan menyangka semua hal walaupun belum tentu akan begitu kejadiannya, seperti cenayang dan orang yang sok tau. Selesai mandi dan berpakaian, Jane langsung turun ke bawah untuk makan malam.
"Tadi pergi dengan siapa Jane?" tanya Mrs Kim.
"Eomma ingat dengan Jolee?"
"Jolee siapa?"
"Jolee sahabat aku dulu eomma."
Mrs Kim lalu mengingat - ingat siapa sih Jolee itu "oh Jolee yang tomboy itu?"
"Nah iya, tadi aku pergi dengannya."
"Oh begitu. Apakah dia masih tomboy seperti dulu?"
__ADS_1
"Masih eomma, tapi dia sekarang katanya jadi manajer di restaurant ternama."
"Wah hebat sekali dia, sudah sukses sekarang."
"Iya, bahkan tadi dia mentraktirku di cafe dan Malioboro."
"Oh begitu."
Beberapa hari kemudian, Josh sudah berada di garasi rumahnya dan memarkirkan mobilnya. Josh lalu mengambil barang - barangnya dan berjalan menuju pintu utama rumahnya. Sesampainya di teras rumahnya, Josh kemudian meletakkan barang - barangnya dan duduk sebentar di teras rumahnya. Tidak lama kemudian, Mr Kim membuka pintu dan keluar dari rumahnya.
Mr Kim terkejut melihat Josh sudah berada di teras rumahnya "lho sudah pulang kamu?"
"Sudah dong appa."
"Kenapa tidak langsung masuk ke dalam rumah? itu adik dan eomma sudah menunggumu pulang."
"Sebentar appa, aku lelah sekali."
"Terserah, pak Kang dimana?"
"I don't know. Ya sudah, aku mau masuk dulu."
Josh lalu mengambil barang - barangnya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Mrs Kim yang melihat Josh pulang lalu menyapanya. "bagaimana campingnya Josh? seru tidak?"
Josh lalu menghampiri Mrs Kim "sangat seru eomma."
"Oppa menyebalkan tidak mau mengajakku," ucap Jane dengan wajah yang cemberut.
"Aku tidak mau mengajakmu karena pasti nanti kamu akan merepotkanku. Eh eomma tau tidak?"
"Apa?"
"Liam mendapatkan jodoh lho disana hahaha."
"Masa sih?"
"Iya eomma, bagus kan? daripada Liam di beri harapan palsu terus dengan wanita yang belum bisa move on, ya sudah aku jodohkan saja dia dengan salah satu wanita yang menyukainya."
"Benar juga kamu Josh, bagusnya kita memberi kado apa ya untuk pernikahan Liam?"
__ADS_1
Josh berfikir sejenak "nanti kita tanya appa saja."
"Nah benar sekali kamu."
Mrs Kim dan Josh langsung melirik ke arah Jane yang sedang sibuk bermain dengan handphone nya. Mereka berdua juga berusaha menahan untuk tertawa karena melihat ekspresi Jane yang berubah menjadi masam. Mrs Kim kemudian mengedipkan sebelah matanya untuk memberi isyarat kepada Josh.
Josh mulai kembali membuka suara "eh eomma tau tidak kalau waktu di puncak gunung, Liam langsung melamar wanita itu dengan sangat romantis uhh."
Mrs Kim pura - pura terkejut mendengar ucapan dari Josh "benarkah? wah beruntung sekali wanita itu."
"Iya lah eomma. Eh Jane, kamu tidak ingin memberi selamat kepada Liam?"
"Cih untuk apa? membuang - buang waktu saja," ucapnya dengan wajah sinis.
"Hei bukankah dia temanmu?"
Mrs Kim menyela ucapan Josh "bukan teman Josh, tapi katanya musuh bebuyutan."
"Benar juga yang eomma katakan, mereka berdua kan bermusuhan."
Jane sudah tidak tahan dengan pembicaraan mereka berdua, lalu Jane berdiri dari tempat duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan Mrs Kim dan Josh. Tanpa mengganti bajunya, Jane langsung berlari keluar rumah dan mencari pak Kang. Sesampainya di depan rumah, Jane melihat pak Kang sedang bersama Mr Kim, tanpa basa basi Jane langsung menarik tangan pak Kang yang sedang berbincang dengan appa nya tersebut. Mr Kim merasa bingung dengan tingkah laku anaknya, apalagi pak Kang yang tangannya langsung ditarik begitu saja oleh Jane.
"Maaf, nona mau mengajak saya kemana ya kalau saya boleh tau?"
"Cepat siapkan mobil ! kita ke rumah Liam."
"Tapi saya sedang berbincang dengan tuan, nona."
Jane lalu memutar bola matanya "apakah saya peduli? cepat siapkan mobil!" ucapnya dengan penuh penekanan.
Mr Kim lalu menghampiri Jane dan pak Kang "ada apa ini Jane? kamu main tarik orang sembarangan saja."
"Appa diam saja! pak Kang cepat siapkan mobil!"
Pak Kang lalu melirik Mr Kim untuk meminta persetujuannya, lalu Mr Kim mengangguk dan meminta pak Kang untuk mengantarkan Jane, menurutnya itu lebih baik daripada melihat dan mendengarkan Jane marah - marah jika keinginannya tidak bisa dipenuhi. Pak Kang lalu pergi mengambil mobil dengan secepat mungkin karena dia sangat takut terkena semprot Jane jika Jane menunggu lama dan marah - marah.
Sepertinya inti kekuasaan tertinggi di keluarga Kim berada di tangan Jane Charlotte Kim, jika Jane sudah berbicara atau memutuskan sesuatu maka keputusannya itu harus di setujui oleh semua orang termasuk Mr dan Mrs Kim. Oleh karena itu jika Jane berada di Korea dan mengunjungi perusahaan pasti para jantung karyawan berdetak tidak karuan, apalagi jika Jane sudah memanggil salah satu karyawan ke ruangannya, pasti karyawan itu jantungnya dag dig dug karena Jane sangat menyeramkan jika sudah marah - marah.
Note: Jangan lupa like episode ini ya, agar terus berlanjut 😊
__ADS_1