
Setelah makan malam, Rosie selalu mengikuti Jane kemanapun dia pergi bahkan saat dia sedang memberikan susu untuk baby Ace. Rosie masih merasa penasaran dengan pertanyaannya tadi karena ketiga kakaknya itu enggan menjawab pertanyaannya tadi. Ya iyalah mereka enggan menjawabnya kerena itu adalah pertanyaan yang sangat sensitif serta sangat privasi. Alasan Rosie masih polos karena dia sama sekali tidak pernah diberitahu mengenai hal tersebut, apalagi selama ini tontonannya hanyalah film kartun saja.
Meskipun sudah kuliah namun selama ini dia tidak pernah melakukan hal apapun yang aneh - aneh karena kedua orang tuanya yang sangat ketat, apalagi kedua kakak laki - lakinya juga sangat posesif sekali dengannya. Setiap pulang kuliah dia juga langsung pulang ke rumah untuk mengerjakan tugas, dan kalaupun diajak hangout pasti hanya ke mall ataupun ke cafe saja. Rosie adalah anak yang pintar meskipun dia hanya anak angkat keluarga Robinson, akan tetapi kepintarannya tidak jauh berbeda dengan kedua kakaknya.
Namun di antara mereka bertiga, tetap Liamlah yang paling pintar karena IQ nya yang paling tinggi dan bisa dikatakan bahwa dia anak yang genius. Rosie sangat memperhatikan Jane yang sedang mengurus baby Ace mulai dari mengganti popoknya, mengganti baju tidur, memberikan susu sembari menidurkannya, dan hal lainnya. Entah mengapa tiba - tiba Rosie sangat tertarik sekali melihat Jane yang seperti itu hingga membuat Jane merasa terheran.
"Baby Ace sangat lucu saat sedang tertidur," ucap Rosie memperhatikan wajah baby Ace.
"Iya, dia memang sangat lucu apalagi saat orang - orang mengatakan bahwa Ace ini adalah Liam 2.0 karena sangat mirip dengannya."
"Hahaha benar eonni, tetapi pipi chubby nya mirip sekali denganmu."
"Ya begitulah hufftt."
"Eonni juga sangat menggemaskan sehingga eonni menularkan virus menggemaskan kepada Liam."
"Menularkan bagaimana?" tanya Jane bingung.
"Dahulu Liam sangatlah kaku dan terlihat sangat menyeramkan seperti tukang pukul namun semenjak dia bersama eonni, tingkahnya menjadi sangatlah menggemaskan dan tidak seperti dulu lagi."
"Oh begitu."
"Sebenarnya eonni merasa bahagia tidak hidup dengan Liam?"
Jane berfikir sejenak.
"Terkadang aku merasa bahagia namun terkadang aku juga merasa tidak."
"Kenapa begitu?"
"Namanya juga hidup apalagi menjalani kehidupan rumah tangga, terkadang kita dibahagiakan dan terkadang kita juga dibuat sedih."
"Apa Liam menyakitimu sehingga membuatmu sedih?"
"Ya begitulah."
"Ayolah eonni, katakan padaku tidak apa - apa jika Liam sering membuatmu merasa sedih."
"Terkadang aku merasa tidak tahan dengan sikap Liam yang seperti itu serta kita berdua juga terkadang sering bertengkar karena perbedaan visi dan misi, meskipun begitu kita berdua berusaha untuk komunikasi dan meluruskan kesalahpahaman yang telah terjadi karena perbedaan visi dan misi."
"Maafkan sikap Liam yang terkadang membuatmu sedih ya? aku melihat bahwa ini semua tidaklah mudah karena mengingat jika kalian berdua awalnya bersama karena dijodohkan."
"Iya tidak apa - apa Rosie, meskipun begitu Liam tetaplah menjadi suami serta ayah yang baik untuk kita berdua. Liam sudah berusaha menjalankan kedua peran itu dengan baik, dan aku tetap akan mengapresiasi semua usahanya itu."
"Iya namun jika Liam membuatmu sedih maka katakan saja kepadaku, nanti aku akan memberinya pelajaran."
Jane tertawa.
__ADS_1
"Iya Rosie, terima kasih ya sudah menjadi sahabat sekaligus adik iparku yang baik."
"Iya eonni, terima kasih juga sudah menjadi kakak ipar yang baik dan yang selalu memberikan aku makanan lezat."
"Iya Rosie, oh ya bagaimana dengan kuliahmu?"
"Ya begitulah eonni namun berkat Liam semuanya menjadi mudah karena Liam selalu membantuku mengerjakan tugas kuliah."
"Oh baguslah jika seperti itu, dan sekarang sudah mempunyai pacar?"
Rosie menggeleng.
"Belum karena Liam tidak mengizinkan aku untuk berpacaran, akan tetapi aku sudah dekat dengan seseorang."
"Siapa itu?" tanya Jane penasaran.
"Dia kenalanku namun beda jurusan."
"Wah hebat."
"Tapi jangan beritahu Liam mengenai hal ini agar Liam tidak mencari orang itu."
"Iya santai saja. Oh ya tadi siang aku membuat kue dan aku letakkan di kulkas, kamu bisa memakannya saat sedang lapar di tengah malam."
"Sekarangpun aku akan memakannya eonni hehe."
"Kalau Liam?"
"Coba kamu tanyakan kepadanya, sepertinya Liam tidak begitu suka dengan kue itu."
"Siap eonni."
Rosie kemudian berjalan keluar untuk memgambil kue yang tadi dikatakan oleh Jane, akan tetapi sebelum itu dia bertanya kepada kakaknya itu apakah dia ingin meminta kue tersebut atau tidak namu dia tidak tahu keberadaan kakaknya. Rosie lalu memutuskan untuk pergi ke dapur dan memakan kue itu terlebih dahulu, dan dia juga menyisakan sepotong kue untuk Liam jika dia menginginkannya juga. Mata Rosie langsung berbinar - binar saat melihat sebuah kue cokelat di dalam kulkas dengan topping cokelat batangan yang menggoda di atasnya. Rosie lalu memakannya dengan sangat lahap dan tiba - tiba saja dia di kejutkan dengan kedatangan Liam di dekatnya.
"Sedang apa kamu malam - malam di dapur?" tanya Liam yang mengagetkan Rosie hingga menjatuhkan sendoknya.
"Haiss kamu ini mengagetkanku saja, aku ini sedang memakan kue."
"Wah kelihatannya sangat lezat sekali, aku juga menginginkannya."
"Itu dikulkas masih ada sepotong untukmu."
Liam langsung bergegas membuka pintu kulkas itu dan mengeluarkan sepotong kue cokelat. Setelah itu Liam juga memakannya dengan sangat lahap.
"Mmm rasanya sangat lezat sekali."
"Benar, dan ini merupakan kue buatan eonni."
__ADS_1
Liam langsung tersedak.
"Uhuk kamu tadi bilang apa?" tanya Liam sembari memegang lehernya.
"Kue ini adalah kue buatan eonni," ucap Rosie mengulangi ucapannya.
"Aku baru tahu jika Jane bisa membuat kue seenak ini," gumam Liam.
"Eonni memang sangat pintar, jadi jangan sia - siakan eonnie karena dia sudah merawatmu dengan sangat baik."
"Iya Rosie."
"Jangan sakiti eonni, jangan membuat eonni sedih, dan buatlah eonni merasa nyaman dengan perhatianmu."
"Iya bawel."
"Aku tidak suka dan tidak ingin memiliki kakak ipar yang baru, karena eonni Jane akan tetap selamanya menjadi kakak iparku yang aku sayangi."
"Iya."
Rosie lalu memukul Liam.
"Kamu ini selalu iya - iya saja. tidak ada jawaban lain apa?"
"Tidak ada, makanya aku hanya menjawab iya - iya saja."
"Tadi kamu habis darimana?" tanya Rosie sembari menyantap kue itu.
"Dari toilet karena ingin buang air."
"Oh pantas saja aku tidak menemukanmu."
"Memangnya ada apa?"
"Aku hanya ingin menawari kue ini karena tadi eonni berkata kepadaku jika untuk menawarimu kue ini terlebih dahulu sebelum aku memakannya."
"Oh begitu."
"Daddy dan mommy kapan pulang?"
"Tidak tahu, mungkin sekitar 2 minggu lagi, memangnya kenapa?"
"Aku sangat merindukan mereka berdua karena aku kesepian."
"Tenang saja, kan ada aku dan Jane yang akan menemanimu jadi kamu tidak akan kesepian lagi."
"Iya, terima kasih."
__ADS_1