
Liam kemudian menyempatkan untuk berbincang sebentar dengan anggota keluarganya termasuk dengan Jane begitu dia selesai makan. Mr Robinson juga membicarakan tentang pertemuan para pengusaha yang tahun ini diadakan di Indonesia dan dia kemudian mengajak Liam untuk ikut sekali ini saja namun Liam menolaknya. Menurutnya pertemuan itu sangat membosankan dan lagipula dia merasa tidak cocok untuk berkumpul bersama mereka walaupun kasta dia sama seperti mereka semua, atau lebih tepatnya Liam merasa tidak nyaman jika berada di keramaian. Liam juga berfikir pasti nanti akan banyak orang yang akan bertanya kepadanya termasuk para penjilat yang berusaha mendekatinya apalagi jika mereka ingin menjodohkan putri mereka padanya, itu adalah hal yang sangat menyebalkan sekali untuk seorang Liam Gerard Robinson. Padahal Mr Robinson selalu membujuk Liam agar bersedia ikut ke pertemuan tersebut namun selalu saja dia menolaknya. Karena Mr Robinson terus membicarakan hal tersebut Liam kemudian langsung pergi ke dalam kamarnya untuk bermain bersama teman - temannya. Liam merasa kesal kepada Mr Robinson karena terus mendesaknya untuk ikut padahal niat awal dia tidak ingin menjadi pengusaha, namun karena ada suatu keadaan yang terjadi di keluarga itu lalu posisinya berubah dan Liam menjadi pewaris utama perusahaan keluarga Robinson. Karena hal itu juga Liam harus dipaksa lebih dewasa dan bijaksana oleh keadaan, bahkan sejak dia remaja Liam juga harus menjaga Rosie saat orang tuanya itu pergi ke Australia. Dahulu orang tua Liam hanya pulang ke Indonesia 6 bulan sekali dan hanya tinggal selama 5 hari di Indonesia, tetapi saat ada kejadian buruk yang menimpa Liam waktu itu membuat orang tua Liam memutuskan untuk pulang 1 bulan sekali dan tinggal di Indonesia rata - rata selama 2 mingguan.
Mereka tidak ingin kejadian sama yang menimpa anak - anaknya terulang kembali, apalagi perasaan Mrs Robinson yang menjadi sangat resah saat meninggalkan anak - anaknya tersebut dalam waktu yang lama seperti sebelumnya kejadian itu terjadi. Sejak kejadian tersebut Liam menjadi sangat pendiam dan memilih untuk memendam semua apa yang dia rasakan karena traumanya tersebut. Liam juga menjadi bolak balik pergi ke psikiater untuk membantunya menghilangkan trauma yang dia alami secara perlahan, dan Liam juga lebih sering memilih untuk menyendiri di kamarnya. Saat Liam tidak menunjukkan tanda - tanda bahwa dia membaik kemudian orang tuanya memutuskan untuk membawanya ke Australia dan mencari psikiater terbaik untuk menangani Liam. Saat Liam sudah lebih membaik dia memutuskan untuk sesekali pergi ke Indonesia mengunjungi adik kesayangannya tersebut, dan saat ini dia memutuskan untuk kembali tinggal di Indonesia. Walaupun begitu dia masih terbilang memiliki sifat sangat tertutup dan terkadang tidak bisa mengontrol emosinya. Terkadang Liam bisa menjadi sangat tempramental jika ada orang yang mengusiknya walaupun hanya karena hal - hal kecil saja. Itu yang membuat hubungannya dengan Mr Robinson menjadi sedikit merenggang apalagi dahulu mereka berdua pernah bertengkar hebat saat masih di Australia karena Mr Robinson memaksa Liam untuk selalu melakukan sesuatu yang dia inginkan, namun sekarang hubungan mereka berdua sudah jauh lebih membaik dengan sendirinya. Liam yang lebih suka kebebasan dan cenderung suka melakukan sesuatu apa pun yang dia inginkan, terkadang membuat Mr Robinson merasa sangat geram karena sulit mengaturnya sesuai dengan kehendaknya bahkan Mrs Robinson sampai menangis melihat mereka berdua bertengkar hebat saat itu hingga mereka berdua saling menodongkan pisau ke leher satu sama lain.
Liam kemudian membanting pintu kamarnya dan langsung berbaring di ranjangnya "sialan," ucapnya mengumpat.
"Kamu membuat kita merasa terkejut saja," ucap Dio menoleh ke arah Liam.
"Maaf, tadi aku ke bawa emosi jadi secara tidak sadar aku membanting pintu."
Ricko kemudian mendekati Liam "memangnya ada apa? kamu ribut dengan daddy kamu lagi Li?"
"Ya begitulah."
Teman - teman Liam lalu menggelengkan kepala mereka secara serentak. "Memangnya daddy kamu kenapa lagi?" tanya Chicko.
"Dia terus memaksaku untuk ikut ke pertemuan para pengusaha nanti malam."
"Memangnya apa susahnya sih ikut? mungkin hanya sebentar saja, tidak mungkin sampai 7 hari 7 malam."
"Itu memang sebentar tetapi aku sangat malas jika harus menanggapi orang - orang yang selalu bertanya kepadaku termasuk para penjilat, Ric."
Dio kemudian menanggapi Liam dengan candaan "bagaimana kalau kita bawakan hadiah 1000 TNT seperti di game minecraft?"
Chicko lalu menyenggol lengan Dio "huss, jangan aneh - aneh deh Dio."
"Aku hanya bercanda saja, jangan menanggapi perkataanku itu dengan serius dasar kalian itu seperti kanebo kering."
"Apa hubungannya dengan kanebo kering?" tanya Liam dengan polos.
__ADS_1
"Hidup kalian kaku seperti kanebo kering karena tidak bisa diajak bercanda," jawab Dio sembari fokus memainkan game miliknya.
Liam menganggukkan kepalanya "oh jadi begitu artinya."
"Saranku lebih baik kamu ikut saja siapa tau kamu bisa bertemu dengan para wanita cantik dan bisa untuk cuci mata," ucap Dio.
"Apakah isi otakmu itu hanya para wanita cantik saja Dio?"
"Sepertinya begitu," ucap Chicko menertawakan Dio.
"Kalau memang begitu kalian ingin apa?" tanya Dio menantang mereka bertiga.
Liam lalu mendudukkan dirinya di atas ranjang "aku ingin mengambil otakmu lalu memasukkannya ke mesin cuci agar otakmu itu kembali bersih."
"Aku sih setuju," ucap Ricko menepuk bahu Liam.
Rosie kemudian masuk ke dalam kamar Liam untuk mengambil barang milik Jane yang tertinggal di kamar Liam "mana barangnya?" tanya Rosie tanpa basa basi.
"Milik eonni."
"Oh itu ada di laci ambil saja," ucap Liam sembari menunjuk ke arah laci yang berada di samping ranjangnya.
"Kamu sudah belajar, Rosie?" tanya Chicko secara tiba - tiba.
"Harusnya kamu tanya sudah makan belum sayang? mau makan apa? nah gitu," ucap Dio menyela pembicaraan mereka berdua.
Liam lalu menatap tajam ke arah Chicko dan Dio "tidak ada sayang - sayangan, adikku belum boleh pacaran."
"Tidak kok Liam hehe," ucap Chicko gugup.
__ADS_1
Rosie lalu menoleh ke arah Chicko dan menjawab pertanyaannya tadi "sudah, memangnya kenapa?"
"Tidak apa - apa sih. Besok aku lihat jawaban kamu ya?"
Rosie kemudian berteriak "tidak boleh, lebih baik kamu belajar saja dan jangan main game terus menerus."
"Besok pagi saja aku belajarnya, santai saja."
Liam langsung bertepuk tangan "wow sangat mengejutkan, inilah contoh mahasiswa teladan abad ini dan kamu harusnya mencontoh teman brengsek mu itu Rosie."
Rosie langsung memukul bahu Liam "kalau nilaiku jelek nanti daddy pasti akan marah besar kepadaku dan aku tidak akan diberi uang jajan lagi."
"Kan ada aku yang akan memberimu uang jajan setiap bulannya seperti biasanya," ucap Liam menepuk - nepuk dadanya.
Rosie lalu pergi untuk mengadu kepada Mr Robinson, dan setelah itu Mr Robinson mendatangi kamar Liam untuk menjewer telinganya. "Sudah daddy katakan jangan mengajari adikmu seperti itu."
"Ampun dad sakit, Chicko yang mengajari Rosie seperti itu."
Chicko lalu memohon kepada Mr Robinson "jangan om, saya tadi hanya bercanda kok."
Mr Robinson kemudian menghela nafasnya "dasar para anak laki - laki ini. Chicko, sekarang kamu ikut saya belajar bersama dengan Rosie dibawah!" Setelah itu Mr Robinson meninggalkan kamar Liam.
"Baik om," ucap Chicko pasrah.
"Dasar pengadu," ucap Liam merasa kesal.
"Biarin wlee," ucap Rosie sembari menjulurkan lidahnya.
"Awas aja kamu, aku tidak akan memberimu uang jajan."
__ADS_1
"Bodo amat."