Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #165


__ADS_3

Mereka berdua lalu duduk berdekatan dan mereka mulai berbincang. Pertemuan antara kedua keluarga besar itu akan membicarakan serta membahas mengenai acara pertunangan untuk Liam dengan Jane. Kedua keluarga itu memulai dengan pembahasan mengenai berapa banyak tamu undangan dan siapa saja yang akan mereka undang. Karena ini hanya acara pertunangan saja, Liam meminta agar keluarga inti dan kerabat dekat saja yang mereka undang namun Jane menambahkan agar sahabat dekatnya juga masuk dalam daftar list tamu undangan. Dengan berfikir cepat Liam langsung menyetujui Jane, mereka berdua lalu menulis sahabat dekat yang masuk ke dalam list. Liam menginginkan Ricko, Dio dan juga Chicko masuk ke dalam list sedangkan Jane memilih Irene karena menurutnya hanya Irene saja yang sangat dekat dengannya. Liam juga menambahkan agar dia saja yang memfasilitasi tiket serta penginapan untuk sahabat dekatnya itu.


Pembahasan kedua mengenai hari pertunangan serta tempat diselenggarakan acara pertunangan itu. Karena acara pertunangan itu akan diselenggarakan di Korea Selatan Liam kemudian meminta dari pihak Jane untuk memberinya saran tempat yang memiliki view yang bagus karena mereka berdua menginginkan acara tersebut diselenggarakan di luar ruangan alias outdoor. Setelah sedikit lama berfikir akhirnya Mr Kim memberikan saran agar acara pertunangan tersebut dilakukan di hotel milik keluarga Robinson saja karena menurutnya tempatnya juga bagus dan hotelnya juga sudah berbintang 4. Grandpa Robinson langsung menyetujui saran dari Mr Kim dan beliau mengambil handphone miliknya untuk menghubungi hotel miliknya tersebut untuk menanyakan apakah sekitar tanggal 10 Juli sudah ada jadwal atau belum.


Pihak receptionist hotel tersebut mengatakan bahwa tidak ada jadwal di tanggal yang diminta. Grandpa Robinson langsung mengatakan bahwa dia akan membooking seluruh kamar hotel dari mulai tanggal 8 Juli. Setelah itu mereka semua kembali melanjutkan perbincangan mengenai hidangan, susunan acara serta dresscode yang akan mereka kenakan termasuk para tamu undangan. Grandma Robinson memanggil seseorang yang berasal dari toko perhiasan ternama untuk membuatkan cincin pertunangan sesuai keinginan mereka berdua. Sekarang tinggal mereka berdua yang memilih design cincin pertunangan, sedangkan yang lain sedang berbincang - bincang ringan. Liam sudah selesai memilih dan sekarang tinggal Jane yang masih bimbang dengan pilihannya. Liam kemudian memilihkan Jane sebuah cincin dengan permata yang berwarna biru.


Jane kemudian berbisik kepada Liam "grandma kamu cantik dan awet muda."


Liam terkekeh "benarkah?"


"Iya tetapi aku takut?"


"Takut kenapa?" tanya Liam berbisik.


"Takut jika aku dimarahi, karena aku lihat sepertinya grandma sangat tegas sekali orangnya."


"Dia memang tegas tetapi selagi kamu tidak melakukan kesalahan yang fatal, dia akan bersikap sangat baik kepadamu."


Jane mengangguk "oh begitu."


"Jane," ucap grandma Robinson memanggil Jane.


Jane langsung menelan ludahnya "iya?"


"Kemari!" perintahnya.


Jane lalu berdiri dan duduk di dekat grandma Robinson "ada apa grandma?"


"Sudah berapa lama kamu mengenal Liam?"


"Sekitar satu tahunan, grandma."


Mendengar calon tunangannya tersebut gugup, Liam hanya terkekeh sembari tersenyum nakal menatap ke arah Jane. Grandma Robinson lalu menyeruput teh hangat miliknya setelah mendengar jawaban dari Jane.


"Masih terbilang sebentar untuk memutuskan ke jenjang yang lebih serius, umurmu satu tahun di atas Liam ya?"


"Iya grandma," ucap Jane merasa deg - degan karena dia takut jika membuat kesalahan dan berujung tidak mendapat restu dari grandma Robinson.


Liam pernah berkata jika restu dari grandma nya sangat berpengaruh untuknya jadi bagaimanapun caranya dia harus berusaha lebih untuk mendapatkan hati grandma nya daripada hati mommy nya. Beberapa kali Jane menatap Liam untuk meminta bantuannya namun karena Liam pria yang sangat usil, jadi dia berpura - pura tidak mengerti apa yang diinginkan oleh Jane. Liam justru menyibukkan diri untuk memakan semua berbagai kue yang disediakan oleh Mrs Kim.


"Liam dari kecil sangat dekat sekali dengan grandma oleh karena itu grandma sangat mengenal bagaimana sifat Liam. Jadi jika suatu saat Liam menjahilimu atau berbuat nakal padamu, cubit saja perutnya yang berbentuk kotak - kotak itu."


"Kenapa grandma mengajari Jane hal seperti itu?" tanya Liam protes.


"Karena kamu sangat jahil sekali Liam, dan awas saja jika kamu menjahili cucu menantu grandma."

__ADS_1


"Aku tidak seperti yang grandma fikirkan."


"Kalau tidak seperti itu kenapa kamu selalu menjahili adikmu itu sampai menangis heum?"


"Ak-aku tidak pernah menjahili Rosie."


"Bohong! kamu itu sangat menyebalkan sekali Liam, aku akan bersekongkol dengan eonni untuk membalaskan semuanya yang telah kamu perbuat kepadaku."


"Coba saja kalau berani," ucap Liam menantang.


"Dari dulu kan eonni selalu berada di team aku hahahaha," ucap Rosie tertawa jahat.


"Dasarnya aja kamu yang cengeng, sedikit - sedikit menangis."


"Grandma, Liam nakal."


"Cih tukang ngadu."


"Liam ih mulai lagi jahilnya," ucap grandma Robinson sembari menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak berbuat apa - apa kok."


Grandma Robinson lalu berbisik kepada Jane "jadi selalu ingat pesan grandma tadi setiap Liam berbuat nakal kepadamu!"


Setelah perbincangan tersebut diakhiri, keluarga Robinson langsung pulang ke villa yang sudah mereka beli, dan sebelum pulang Mr Robinson bertanya kepada Liam "kamu mau ikut pulang bersama kami?"


"Aku ingin mengambil barang - barangku terlebih dahulu lalu pergi bersama dengan Jane."


"Ya sudah kalau begitu, awas saja kalau sampai macam - macam!"


"Iya dad, aku janji tidak akan macam - macam kok."


"Aku pegang janjimu."


"Okay."


Selesai mengambil barang - barang miliknya Liam kemudian ikut Jane pergi ke rumah pribadinya. Sesampainya di sana dia lalu merebahkan tubuhnya di sofa "ah ternyata banyak berfikir sangat melelahkan juga."


"Kamu benar, mau minum apa?"


"Es yang segar."


"Okay."


Liam kemudian melepaskan sepatunya dan kembali merebahkan tubuhnya "aku akan tidur sebentar, kalau ingin pergi kunci saja pintunya."

__ADS_1


Jane lalu datang menghampiri Liam sembari memberikan segelas es sirup marjonos "minumlah dulu lalu setelah itu tidur saja dikamar, jangan disofa."


"Kenapa memangnya?"


"Nanti badanmu sakit, tidur di kamar dengan benar agar tidak sakit."


"Baiklah, tetapi pijat dulu badanku."


"Iya, ayo!" ucap Jane mengajak Liam.


Sesampainya di kamar Liam kemudian melepas bajunya dan membiarkan Jane memijat tubuhnya agar lebih rileks.


"Memang benar?" tanya Jane sembari memijat Liam.


"Benar apa?"


"Kamu akan menikahiku?"


"Benar dong sayangku cintaku, masa aku bercanda."


"Siapa tau kamu berniat ingin menjahiliku."


"Tidak mungkin aku menjahilimu, lagipula tadi grandma dan grandpa kan juga datang jauh - jauh dari Aussie hanya untuk membahas pertunangan kita masa aku berniat untuk menjahilimu."


"Oh benar juga."


Liam lalu membalikkan tubuhnya "apa kamu masih ragu denganku?"


Jane menggeleng "tidak kok, hanya saja sepertinya ada yang mengganjal di hatiku."


"Apa itu? lebih baik katakan saja sebelum semuanya lebih jauh."


"Besok saja, aku juga lelah."


Liam kemudian memeluk Jane "kemarilah, aku ingin menciummu."


Jane memeluk Liam "kapan aku bisa memilikimu seutuhnya?"


Liam mencium leher Jane "sebentar lagi, memangnya kenapa?"


"Nggg, aku sudah tidak sabar."


Liam tertawa "kenapa?"


"Geli."

__ADS_1


__ADS_2