
Mereka berdua telah sampai di sebuah danau Zurich. Airnya sangat jernih dan terdapat angsa - angsa yang sedang berenang disana. Warna bulu angsa itu bewarna putih bersih sehingga membuat Liam ingin sekali menangkapnya untuk dibawa pulang sebagai hewan peliharaan. Di danau tersebut juga terdapat pegunungan yang juga tak kalah indahnya dari danau tersebutm. Liam lalu berinisiatif untuk mengajak Jane berkeliling danau dengan menggunakan kapal sewaan. Liam langsung berlari mendahului Jane untuk menaiki kapal tersebut karena dia merasa tidak sabar untuk menaiki kapal tersebut. Sudah lama Liam tidak naik kapal semenjak dia tinggal di Indonesia dan sibuk dengan pekerjaannya karena dia selalu berangkat pagi pulang malam. Terakhir dia naik kapal saat dia berusia sekitar 17 tahun, saat dia sedang mencoba kapal pesiar baru miliknya yang merupakan hadiah ulang tahun sweet seventeennya dari grandpa dan grandma Liam.
Setelah itu dia tidak pernah lagi naik kapal karena lebih suka bermain game di rumah. Jane memegang erat tangan Liam saat dia naik ke kapal karena takut jatuh, apalagi kapalnya sedikit bergoyang - goyang dombret karena air danau yang tertiup angin. Mereka berdua sangat menikmati pemandangan alam yang tersaji di danau tersebut sembari bercanda ria bersama. Cuaca di sana sedang panas dan untung saja Jane sudah memakaikan Liam sunscreen karena dia takut jika kulit suaminya itu akan gosong saat terkena sinar matahari, apalagi Liam orangnya sangat susah jika diminta untuk memakai sunscreen. Tidak lupa Jane juga sudah membawa topi pantai untuknya serta topi baseball milik Liam di dalam tasnya, jadi sementara sudah aman untuk berwisata di ruang terbuka. Jane melamun sembari memperhatikan rambut Liam yang tertiup angin tersebut.
"Hoyyy!!" teriak Liam mengejutkan Jane.
"Kenapa sih hubby? kaget aku."
"Habisnya ditengah danau begini malah melamun, awas lho nanti kesurupan."
Jane memukul Liam "jangan berbicara seperti itu dong, nanti kalau aku benar - benar kesurupan bagaimana?"
"Nanti kalau kamu kesurupan kan aku akan menceburkanmu ke dalam danau, supaya kamu bisa langsung sadar."
Jane lalu mendekati Liam untuk berusaha mencekiknya "dasar suami kurangajar."
"Eh mau ngapain?" tanya Liam menghindar.
Karena tingkah mereka berdua, kapal tersebut menjadi bergoyang lebih kencang hingga membuat mereka berdua kehilangan keseimbangannya dan terjatuh. Namun untung mereka berdua hanya terjatuh di dalam kapal saja, coba kalau jatuhnya ke danau pasti akan membuat repot tim SAR disana. Jane terjatuh dengan posisi menindih badan Liam hingga membuat tulang di punggung Liam rasanya seperti mau patah.
"Kalian tidak apa - apa?" tanya nahkoda kapal itu.
"Tidak apa - apa," ucap Jane berdiri.
Dia menghela nafasnya lega "hufftt syukurlah, tolong kalian berdua duduk dengan tenang!!"
"Baik. Maafkan kami berdua."
"Iya." Nahkoda itu lalu kembali mengemudikan kapalnya.
Jane lalu membantu Liam berdiri "ayo berdirilah!!"
"Aduh sakitnya."
"Masa sih? perasaan aku tidak terlalu sakit, malah rasanya seperti terjatuh di atas kasur."
"Karena kamu jatuhnya di atas tubuhku, bego."
Jane lalu cemberut "sama istrinya kok dikatain bego."
"Karena kamu memang bego, coba kalau kamu tidak membuat ulah pasti kita tidak akan terjatuh seperti ini."
"Iya maaf aku memang bego," ucap Jane ketus.
Liam berdecih "cih, begitu saja langsung badmood."
"Habisnya kamu juga bikin aku kesal."
__ADS_1
"Hei harusnya aku yang marah, bukan kamu."
"Bodo amat."
Setelah kapal menepi, mereka berdua lalu turun dari kapal tersebut dan berjalan - jalan di sekitar danau sembari kembali melihat angsa - angsa berenang.
Liam lalu bersandar di pagar "masih marah?"
"Tidak tau," ucap Jane mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Liam tertawa kecil, lalu dia memeluk istrinya itu "sudah jangan marah, maafkan aku."
"Hmmm."
"Ayo kita cari yang jual souvenir di sekitar sini, bagaimana?"
"Ya udah iya."
"Sedari tadi kamu memakai kacamata hitam terus, aku jadi tidak bisa melihat wajah imutmu itu."
"Disini panas, terlalu silau jika kacamatanya di lepas."
"Oh begitu."
Jane lalu mengambil sebuah topi dari tasnya, lalu dia memberikannya kepada Liam "ini pakailah!! cuacanya sudah semakin panas."
"Iya," ucap Jane menggandeng tangan Liam.
Mereka berdua lalu berjalan - jalan sembari mencari toko souvenir di sana. Saat siang hari mereka berdua lalu pergi ke sebuah restaurant di kota tua untuk makan siang. Mereka berdua lalu berjalan - jalan di sekitaran kota tua sembari mengambil beberapa gambar di sana begitu mereka berdua selesai makan siang. Mereka berdua juga mengunjungi gereja, botanical garden, dan melihat pemandangan kota Zurich dari sebuah bukit di Felsenegg dengan menaiki cable car (atau mungkin sejenis kereta gantung). Mereka berdua berfoto ria di sana dengan sangat bahagia, terutama Liam yang belum pernah sekalipun mengunjungi negara tersebut. Setelah puas berjalan - jalan dan mengunjungi beberapa tempat, mereka berdua lalu memutuskan untuk pulang ke hotel.
"Uahhh badanku terasa sangat lelah sekali apalagi setelah terjatuh tadi," ucap Liam merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Mendengar hal tersebut, Jane lalu menghampiri Liam di ranjang "sini, akan ku pijat badanmu."
"Eh tidak perlu."
"Tidak apa - apa hubby, lagipula kan ini juga salahku membuatmu terjatuh seperti tadi."
"Sudah tidak perlu, lagipula kan kamu juga lelah baby J."
"Kenapa kamu memanggilku dengan sebutan baby J?"
"Tidak tau, tiba - tiba saja aku suka memanggilmu dengan sebutan baby J atau hanya dengan J saja."
"Oh begitu."
"J, bagaimana kalau nanti malam kita melihat opera?"
__ADS_1
"Opera?"
"Iya, kamu setuju tidak?"
"Boleh deh, aku juga belum pernah melihatnya."
"Masa kamu belum pernah lihat?" tanya Liam merasa tidak percaya.
"Belum."
"Oh sama," ucap Liam datar.
Jane memukul tangan Liam "kamu ini, aku kira kamu sudah pernah menontonnya."
"Ihh kamu sukanya kok mukul sih? awas saja kalau lama kelamaan melakukan KDRT."
"Mmmm maaf hubby," ucap Jane memeluk Liam.
"Iya sayang," ucapnya mencium bibir Jane.
Jane lalu mengambil kamera miliknya "kamu ingin melihat hasil foto - foto kita tidak?" tanya Jane antusias.
"Iya boleh."
"Aku rencananya ingin mencetak beberapa foto kita satu negara satu foto lalu menempelkannya di dinding dekat tangga rumah kita dan di figuranya di tulis negara mana saat foto diambil foto itu, bagaimana hubby?"
Liam mengangguk "ide yang bagus, silahkan saja."
Jane mencium pipi Liam "terima kasih hubby."
"Iya sama - sama, lagipula bukankah itu rumahmu juga? jadi terserah saja kamu ingin bagaimana."
"Iya hubby."
Saat malam tiba mereka berdua telah bersiap untuk pergi ke gedung opera. Sekitar 2 jam kemudian pertunjukan telah selesai dan mereka berdua menyempatkan untuk berjalan - jalan sebentar di sekitar sana sebelum pulang ke hotel.
"Mari kita beristirahat lalu besok kita lanjutkan mengunjungi beberapa tempat lain," ucap Liam selesai mengganti bajunya.
"Iya hubby, good night and sweet dream."
"You too," ucap Liam mencium kening Jane.
"Kamu itu suami terbaikku."
Liam tersenyum "terima kasih."
"Sama - sama."
__ADS_1