Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #289


__ADS_3

Jane kemudian menindih tubuh Liam dan mencium bibirnya sekilas sembari memegang pipi Liam yang mulai memerah karena merasa senang. Bibir Liam terasa sekali bau alkoholnya karena dia meminum lumayan banyak, hingga membuat Jane kembali mengingat - ingat berapa jumlah alkohol yang tadi Liam minum. Jane mengira - ngira mungkin sekitar 5-10 gelas atau mungkin kurang dari 10 karena Liam tidak terlihat begitu mabuk serta masih setengah sadar, walaupun dia tadi terlihat sangat gila karena perbuatannya hampir diluar batas. Untung saja Jane hanya minum sekitar 2 gelas saja sehingga dia bisa sedikit mengontrol Liam agar tidak terjadi hal - hal yang tidak diinginkan. Liam sangat keterlaluan karena hampir saja dia menel*njangi Jane di depan teman - temannya karena tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


Rasanya Jane ingin menonjok wajah Liam itu namun seketika niatnya dia urungkan karena saat melihat wajah Liam, dia menjadi merasa tidak tega kepadanya. Saat Jane melihat Liam menatap dengan wajah polosnya itu sembari matanya berkedip - kedip karena merasa bingung mengapa Jane terdiam seperti itu. Jane kemudian duduk dengan bersandar di headboard ranjangnya menatap gorden pintu balcony kamarnya yang bergerak - gerak karena tertiup angin, sehingga Jane menyadari bahwa pintu balcony kamarnya belum tertutup sempurna. Jane lalu pergi untuk menutup serta mengunci pintu balcony kamarnya, sedangkan Liam hanya terus mengamati kegiatan Jane di dalam kamar. Liam kemudian mengambil sebuah permen dari dalam lacinya dan memakannya hingga membuat Jane sangat bertanya - tanya mengapa suaminya itu memakan permen di malam hari, padahal sebelumnya Liam tidak pernah memakan permen di malam hari.


"Tumben sekali memakan permen di malam hari, kenapa?" tanya Jane sedikit sinis.


"Aku fikir kamu tidak suka bau mulutku karena habis minum alkohol sehingga kamu hanya menciumku dengan durasi yang pendek, jadi aku memutuskan untuk memakan permen agar tidak bau alkohol lagi."


"Hhhh aku benci denganmu."


"maaf," ucapnya kemudian dia pindah ke sofa.


Liam lalu melepas bajunya serta celana panjangnya dan berbaring di atas sofa.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Jane.


"Tidur di sofa."


"Kenapa begitu?"


"Tadi kamu mengatakan jika kamu membenciku, jadi aku akan tidur di sofa saja malam ini agar kamu tidak semakin benci kepadaku."


"Dasar bodoh, bukan begitu maksudku."


"Lalu?"


"Kemarilah nak, kemari!!" teriak Jane yang sudah mulai geram dengan Liam.


"Ada apa?"


"Tidurlah di sampingku."


"Okay."


"Hufftt dia terlihat sangat bodoh saat sedang mabuk," gumam Jane.


"Kenapa?" tanya Liam menatap Jane.


"Tidak ada."


"Oh. Mmm mana jatahku malam ini?"

__ADS_1


Jane lalu memalingkan wajahnya.


"Jatah apa?" tanya Jane pura - pura tidak mengerti maksud Liam.


"Kamu belum membayarku atas semua kerja kerasku."


"Memangnya aku harus membayarmu? bukankah kamu ini suamiku dan aku ini istrimu, masa perhitungan sekali dengan istrinya."


"Karena aku suamimu jadi aku ingin meminta jatah suami."


"Tidak ada jatah untukmu malam ini, aku sedang lelah!!"


"Oh baiklah."


"Sudah, tidur saja sana!!"


Liam mengangguk. Beberapa menit kemudian Jane sudah tertidur pulas, dan begitu juga dengan Liam. Namun tiba - tiba saja Liam menghubungi Ricko dan mengatakan jika dia rindu dengannya serta ingin bermain game dengannya. Liam kemudian pergi ke rumah Ricko untuk bermain game karena dia tidak bisa kembali tidur, dan juga karena Ricko sudah mempunyai DVD PS yang ingin dibelinya namun tidak jadi karena uangnya telah dipakai untuk mengadakan pesta BBQ.


"Tumben kamu ke rumahku jam 2 malam, apa tidak dimarahi oleh Jane?"


Liam menggelengkan kepalanya sembari jari - jarinya menekan tombol di stick PS.


"Dia sedang benci denganku, jadi dia tidak mungkin mencariku."


"Karena aku menagih imbalanku saat aku membantunya untuk mengadakan pesta BBQ, padahal waktu sore tadi dia sudah sepakat jika dia akan memberiku imbalan sesuai dengan yang aku inginkan."


"Imbalan apa? eh jangan bilang imbalan yang kamu inginkan itu adalah ehem?"


Liam mengangguk.


"Dugaanmu benar hahaha."


"Sialan, ternyata teman dekatku sekarang menjadi seperti ini astaga."


Liam tertawa.


"Tidak apa - apa, lagipula dia sudah sah menjadi istriku."


"Benar juga," ucap Ricko mengangguk karena menyutujui ucapan Liam.


"Mmm aku kemarin ingin beli game ini namun tidak jadi, ahhh aku jadi menyesal karena ternyata game ini sangat seru."

__ADS_1


"Kenapa tidak jadi beli? bukankah kamu pasti jadi yang nomor satu ketika ada game keluaran terbaru?"


"Uangku kepakai untuk acara Jane."


"Ya sudah sabar, besok beli."


"Okay."


Ricko sangat hafal bahwa setiap Liam ingin membeli vidio game pasti dia akan menabung terlebih dahulu dan tidak mencampurkan antara uang untuk kebutuhan rumah tangga atau kebutuhan pribadi dengan uang untuk menuruti hobinya. Jadi setiap ada game terbaru yang akan rilis pasti Liam akan menabung terlebih dahulu untuk membelinya, walaupun Liam sangat kaya raya akan tetapi dia orang yang sangat giat menabung dan uang tabungan untuk menuruti hobinya adalah termasuk uang darurat. Liam sangat disiplin mengatur keuangannya perbulan untuk jajan sehingga bisa menabung.


Mungkin saja tabungan Liam belum sepenuhnya pulih setelah membangun rumah serta untuk biaya acara pernikahannya yang sangat mewah, jadi bisa saja Liam sedang berusaha untuk menabung kembali. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 3 pagi, lalu mereka berdua memutuskan untuk tidur karena besok adalah hari yang penting karena Ricko akan melamar pujaan hatinya. Keesokan harinya Ricko bangun lebih awal dari Liam karena dia akan melaksanakan sholat subuh serta berdoa kepada Tuhan agar minta diberi kelancaran untuk acaranya hari ini. Setelah sholat subuh Ricko menatap Liam yang tengah tertidur nyenyak, lalu setelah itu dia pergi membantu mama nya.


"Pagi Ric, biasanya saat weekend setelah sholat subuh kamu kembali tertidur."


"Iya mah, tapi kali ini aku sedang ingin membantu mamah untuk menyiapkan semuanya."


"Tidak perlu nak, lebih baik kamu istirahat saja."


"Hmm baiklah mah."


"Liam belum bangun?"


"Belum mah."


"Oh ya sudah biarkan saja dan jangan mengganggunya saat sedang tertidur nyenyak."


"Okay mah, kalau begitu Ricko kembali ke kamar ya?"


"Iya sayang," ucap mamah Ricko mengusap punggung anak tunggalnya itu.


Sesampainya di kamar, Ricko lalu membuka handphone miliknya dan menjawab pesan dari Jane yang menanyakan keberadaan Liam. Ricko juga berkirim pesan dengan Gita karena sudah saling merindukan satu sama lain. Tiba - tiba saja Ricko mendapati jika Liam sedang menangis di dalam tidurnya, dan Ricko lalu menenangkannya dengan santai karena dia sudah biasa mendapati Liam yang seperti itu.


"Eh kenapa aku bisa di kamarmu?" tanya Liam membuka matanya.


"Semalam kita bermain game dan kamu menginap di rumahku."


"Oh begitu," ucap Liam menggosok matanya.


"Ingin sarapan sekarang?"


"Tidak, nanti saja."

__ADS_1


"Okay."


__ADS_2