
Jane kemudian kembali memilih baju untuk baby Ace beserta aksesorisnya seperti, topi, beannie, sarung tangan, kaos kaki, dan sepatu. Sesekali Jane juga mencoba beberapa topi atau beannie di kepala baby Ace dan setelah menurutnya cocok, barulah Jane memasukkannya di dalam keranjang belanja yang dibawa oleh Pak Kang. Jane kemudian berkeliling di toko tersebut untuk mencari barang lainnya sekaligus melihat - lihat barang yang belum dia punya namun yang sekiranya barang itu sangat penting untuk baby Ace, dan jika tidak terlalu penting maka Jane tidak akan membelinya.
Saat di bagian mainan pandangan mata Jane langsung tertuju kepada boneka berbentuk dinosaurus yang bewarna hijau. Karena terlihat sangat lucu akhirnya Jane membelinya yang kecil saja, dan harga boneka itu adalah 60 ribu (author juga punya boneka itu, yang dibeli di telaga sarangan dan harganya 60 ribu. Padahal harga awalnya sekitar 70 ribuan dan akhirnya harga terakhir 60 ribu setelah ditawar). Jane lalu membeli dua boneka itu untuk anaknya yang satunya, karena pasti dia akan iri jika dia tidak dibelikan boneka dinosaurus juga.
Anaknya yang satunya itu kalau sudah rewel pasti melebihi baby Ace, jadi mau tidak mau dia harus membeli dua boneka itu apalagi dinosaurus adalah kesukaannya. 1 jam kemudian setelah selesai berbelanja, Jane kemudian langsung pulang ke rumah karena dia sudah merasa lelah sekali. Selama diperjalanan Jane terus berbincang dengan Pak Kang mengenai beberapa jadwal pemotretannya yang akan dijalankan di minggu depan, karena Pak Kang sekarang jabatannya sudah naik menjadi asisten manager Jane. Namun meskipun begitu Pak Kang berkata bahwa dia tetap akan menjadi bodyguard Jane juga.
"Tidak apa - apa nyonya, besok saya yang akan menjaga baby Ace selama anda melakukan pemotretan."
"Benar tidak apa - apa Pak Kang? aku takut jika akan merepotkan Pak Kang."
"Itu sama sekali tidak merepotkan saya, apalagi saya sangat senang bermain bersama baby Ace."
"Apa sebaiknya aku menyewa pengasuh saja selama pemotretan?"
"Saran saya lebih baik tidak perlu nyonya, lagipula bukankah sedari awal anda menginginkan untuk merawat baby Ace sendiri tanpa pengasuh?"
"Benar sih Pak Kang, tapi kalau itu merepotkan kamu ya lebih baik aku menyewa pengasuh saja."
"Tidak nyonya, saya yang akan menjaga baby Ace selama anda melakukan pemotretan."
Jane menghela nafasnya.
"Hufftt baiklah Pak Kang namun jika kamu merasa kerepotan menjaga baby Ace, tolong beritahu aku."
"Baik nyonya."
Pak Kang masih terus mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah, dan saat diperjalanan Jane sepertinya melihat suaminya sedang berbincang berdua di sebuah cafe yang letaknya dekat dengan jalanan. Seketika Jane langsung merasa gelisah sekaligus ingin menghampiri mereka berdua untuk meminta penjelasan, akan tetapi Jane memilih untuk mengurungkan niatnya itu dan nanti akan menanyakannya setelah suaminya pulang ke rumah. Jane terus kepikiran mengenai siapa wanita itu dan sedang apa mereka berduaan di cafe, akan tetapi dia tidak bisa langsung melabrak mereka berdua sebelum mengetahui kebenarannya. Jane takut itu akan mempermalukan suaminya jika dia bertindak gegabah, apalagi jika kebenarannya tidak seperti yang dia fikirkan.
"Ada apa nyonya?" tanya Pak Kang yang melihat Jane tampak murung.
Jane langsung tersadar dari lamunannya.
"Tidak ada apa - apa Pak Kang, mmm tadi seperti sedang melihat Liam secara sekilas di sebuah cafe."
"Eh bukankah tuan sedang bekerja? apalagi jam makan siang telah usai."
"Benar sih, mungkin aku yang salah lihat orang dan mana mungkin Liam sedang berduaan berbincang di sebuah cafe pada saat jam kerja."
__ADS_1
"Mmm bersama wanita lain?" tanya Pak Kang penasaran.
"Iya tadi aku melihat Liam sedang berbincang dengan seorang wanita di cafe."
"Mungkin tuan sedang bersama sekretarisnya, saya dengar bukankah mereka berdua sudah dekat layaknya kakak beradik?"
"Tetapi wanita yang tadi itu bukan Yunna, sekretarisnya."
"Lalu?"
"Tidak tahu."
"Oh mungkin temannya."
Jane menghela nafasnya kasar.
"Mungkin saja begitu, dan aku harap memang begitu."
"Apa kita putar balik saja jika nyonya ingin memastikannya? di cafe yang mana?" tanya Pak Kang bersiap - siap untuk putar balik.
"Oh baik nyonya."
Pak Kang lalu mengendarai mobilnya sampai di rumah, dan disisi lain saat ini Liam sedang berjalan santai menuju ke kantornya setelah pergi dari cafe. Memang Liam terkadang lebih memilih untuk jalan kaki jika tempat yang dia ingin tuju itu jaraknya dekat. Liam senang berjalan kaki karena dia ingin bersantai sembari menghirup udara segar di Kota Yogyakarta, sebuah kota tercintanya setelah Kota Sydney. Berbeda dengan di Korea Selatan, Liam lebih memilih untuk bersepeda kemanapun dia pergi bahkan saat pergi ke supermarket, karena kotanya sangat nyaman.
Jika dia sedang berada di Sydney, pasti dia akan mengendarai skateboard miliknya untuk berjalan - jalan santai saat sore hari. Menurut Liam semua itu tergantung dengan suasana kota serta suasana hatinya juga. Langitnya yang biru dengan dihiasi oleh beberapa awan putih, serta suasana kota yang tampak ramai karena orang melakukan aktivitasnya masing - masing membuat Liam semakin senang berjalan - jalan santai di kota tersebut. Meskipun sudah memasuki jam kantor namun Liam sekarang bebas berjalan - jalan karena semua pekerjaannya telah selesai.
"Hei Liam!!" panggil Mr Robinson.
"Ya dad, ada apa?" tanya Liam bingung.
"Tidak ada apa - apa, aku hanya sedang ingin mencarimu saja."
"Oh tumben sekali, aku fikir ada pekerjaan tambahan atau meeting dadakan."
"Haisss tidak, oh ya sedang apa kamu disini?" tanya Mr Robinson penasaran.
"Tadi aku baru saja bertemu dengan temanku untuk membahas sebuah bisnis dengannya, dan sekarang aku hanya ingin berjalan - jalan saja menikmati udara segar."
__ADS_1
"Bisnis apa?"
"Rahasia hehe."
Mr Robinson menepuk bahu Liam.
"Kamu ini wkwkwk."
"Hahaha besok saja kapan - kapan aku akan menceritakannya."
"Iya, mmm kemana kamu akan pergi sekarang?"
"Tidak pergi kemana - mana dad, aku hanya sedang berjalan - jalan saja kok."
"Oh aku kira kamu akan pergi ke tempat lain."
"Tidak dad."
"Bagaimana perkembangan cucuku?"
"Semuanya bagus, setiap pagi Jane selalu menjemurnya serta mengajaknya berjalan - jalan."
"Syukurlah jika seperti itu, kalau anaknya Ricko?"
"Anaknya Ricko juga sama, kemarin orang tua Ricko main ke rumah karena ingin melihat baby Ace."
"Benarkah?"
"Iya dad, daddy kan tahu sendiri kalau aku sudah seperti anak kedua mereka."
"Oh iya ya benar juga, Ricko kan anak tunggal."
"Iya dad. Mereka berkata bahwa sekarang rumahnya sepi karena Ricko sudah memilih tinggal sendiri, dan juga kita sekarang tempat kumpulnya ikut pindah juga."
"Benar sih, meskipun punya banyak anak juga akan tetap sama setelah mereka semua menikah."
"Iya dad."
__ADS_1