Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #355


__ADS_3

Satu minggu kemudian Liam sedang berkeliling kota sendirian dengan mengendarai motor sport Ducati miliknya, sekalian memanaskan mesinnya karena sudah lama dia tidak menggunakan motornya. Liam melajukan motornya itu dengan kecepatan yang tinggi karena jalanan lumayan sepi. Entahlah anak itu tidak pernah ada kapoknya alias merasa jera setelah mengalami kecelakaan beberapa kali hingga menyebabkan kakinya cidera dan lain - lain.


Dahulu karena kakinya sering cidera, oleh sebab itu Liam tidak bisa melakukan tugas yang berat atau melakukan pekerjaan yang membutuhkan kekuatan kakinya hampir 80%. Mungkin karena itu dia tidak bisa melanjutkan debutnya menjadi anggota boygrup baru di Kim Entertaiment. Liam dahulu pernah masuk trainee di agensi milik Mr Kim karena ingin mencari pengalaman apalagi Liam memiliki suara vokal serta visual wajah yang tampan. Namun semuanya itu langsung putus di tengah jalan karena Liam tidak bisa menari dance dengan baik seperti teman - temannya yang lain, oleh karena itu dia memilih mundur sebagai trainee padahal dia sudah masuk ke dalam kandidat calon trainee yang akan debut.


Liam merasa bahwa semuanya akan percuma saja karena meskipun dia berlatih dance setiap hari, dia tidak akan bisa seperti teman - temannya yang lain dan dia juga merasa bahwa penampilannya nanti justru akan merusak penampilan teman - temannya yang lain. Jadi saat dia memutuskan untuk mundur waktu itu, Mrs Robinson langsung menjemput Liam untuk pulang dan mendaftarkannya di sekolah swasta. Untung saja pada waktu itu bertepatan dengan telah dibukanya penerimaan calon siswa baru, jadi Liam tidak perlu repot - repot mengejar ketinggalan pelajaran.


Lalu pada saat itulah Liam bertemu dengan mereka bertiga yang sekarang menjadi teman dekatnya yaitu, Ricko, Chicko, dan Dio. Pada saat itu Liam langsung belajar dengan lebih giat serta kembali mengembangkan hobinya menggambar karena dia ingin menjadi komikus serta pelukis terkenal. Namun waktu itu Mr Robinson tidak setuju dan tetap menginginkan Liam untuk bekerja di perusahaannya saja, karena Mr Robinson mengetahui bahwa putra sulungnya tidak akan mampu mengurus perusahaan keluarga dengan baik oleh karena itu Mr Robinson mencoret Lian dari daftar pewaris utama.


*Ngung ngung.* Liam masih mengendarai motornya dengan sangat cepat dan tiba - tiba saja....


*Cittt!! grasak!!*


"Ah sialan," ucap Liam mengumpat.


"Mas tidak apa - apa?" tanya beberapa orang yang berlari menghampiri Liam untuk menolongnya.


"Tidak apa - apa pak," ucap Liam berdiri.


"Lain kali hati - hati ya mas, mengendarai motornya."


"Iya pak, maaf ya."


"Iya tidak apa - apa mas."


"Kalau begitu saya permisi pak."


"Baik mas, bisa ngangkat motornya?"


"Bisa kok pak, terima kasih."


"Iya mas."


Liam lalu mengangkat motornya dan kembali mengendarai motornya menuju ke sebuah tempat. Selama diperjalanan Liam merasa telah diikuti oleh seseorang, dan saat di jembatan sepi Liam lalu menghentikan motornya di tengah jalan. Liam lalu bersembunyi di dekat sana untuk menghadang seseorang yang sedari tadi membuntutinya. Saat orang itu berhenti dan keluar dari mobilnya, Liam langsung menyergapnya dari belakang dengan menodongkan sebuah belati mini di lehernya.


"Apa urusanmu membuntutiku?" tanya Liam menggertak orang itu.


"Ck apa kamu tidak mengenaliku heum?"


Liam langsung menjauhkan belati mini itu dari lehernya.


"Ah kamu ini Ric kenapa sih hobi sekali membuntutiku, apa kamu tidak mempunyai kegiatan lain?" tanya Liam memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Ckckck sudah berapa kali aku bilang jangan mengebut jika sedang berkendara, memangnya kamu tidak kapok alias jera apa sudah kecelakaan berkali - kali?"


"Tidak, aku justru heran mengapa aku selalu saja selamat dari kecelakaan meskipun harus terbaring koma terlebih dahulu."


"Aku sudah berkali - kali mengatakan jika ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, kamu bisa langsung bercerita kepadaku!!"


"Iya Ric, sudahlah."


"Sudahlah apanya? tadi kamu saja sudah terjatuh seperti itu, ada yang luka tidak?" tanya Ricko khawatir.


"Tidak ada, mungkin hanya sebuah goresan kecil saja kok."


Ricko bernafas lega.


"Hah syukurlah jika seperti itu."


"Lagipula aku merasa heran kenapa kamu bisa selalu ada disaat aku seperti ini padahal aku tidak mengatakan apapun pada orang lain."


"Ikatan batin, kita sudah lama bersama sebagai seorang sahabat."


"Oh bisa jadi."


"Tidak ada apa - apa, mungkin hanya fikiranku saja yang sedang kacau."


"Lain kali jangan seperti ini lagi, ingat bahwa kamu sekarang sudah mempunyai seorang istri dan seorang anak!" ucap Ricko memperingatkan Liam.


"Iya Ric."


"Jangan iya, iya saja."


"Baik boss. Mmm kenapa kamu selalu bersikap seperti ini sih?"


"Semua kulakukan karena aku tidak ingin kehilangan sahabat baikku untuk yang kedua kalinya, rasanya tidak enak sekali saat ditinggal oleh seorang sahabat dekat."


"Dua kali?" tanya Liam penasaran.


"Dahulu aku mempunyai seorang sahabat baik dan tiba - tiba saja aku kehilangannya karena dia overdosis. Sebelum dia pergi, kami berdua sempat berbincang - bincang mengenai tujuan hidup kami dimasa depan namun ternyata dia malah pergi meninggalkan aku terlebih dahulu sebelum kita berdua mewujudkan mimpi kita masing - masing."


Liam lalu mengusap punggung Ricko.


"Yang sabar ya, maaf aku tidak mengetahuinya."

__ADS_1


"It's okay," ucap Ricko menepuk - nepuk dada bidang Liam.


"Kalau boleh tahu seperti apa dia dan mengapa dia overdosis?"


"Dia pria yang baik, dan selalu ceria di depan semua orang namun sebenarnya itu hanyalah sebuah kepura - puraan saja karena ternyata dia sedang berusaha untuk menyembunyikan rasa sedihnya serta depresinya."


"Oh begitu rupanya."


"Maka dari itu semenjak aku tahu jika kamu seperti ini, jadi aku selalu memintamu untuk bercerita kepadaku agar kamu tidak sepertinya. Jujur aku sangat takut jika harus kehilangan sahabatku lagi."


Liam lalu memeluk Ricko.


"Maaf, dan terima kasih sudah merasa peduli denganku."


"Iya Li, pokoknya kamu harus berjanji kepadaku untuk selalu menceritakan apapun hal yang membuat perasaanmu kacau."


"Pasti, aku berjanji."


Setelah itu mereka berdua bersandar di pagar pembatas jembatan sembari berbincang bersama dan kebetulan saja jembatan itu memang selalu sepi, jadi mereka berdua tidak akan terasa terganggu dengan kendaraan yang lewat. Liam lalu melihat sungai yang dibawah jembatan dan rasanya ingin sekali memancing disana, akan tetapi aliran di sungai tersebut lumayan deras jadi mungkin ikannya tidak ada.


"Aku menyayangimu," ucap Ricko secara tiba - tiba.


"Heum?" tanya Liam membalikkan tubuhnya dan menatap Ricko.


"Aku menyayangimu sebagai sahabatku."


"Oh kukira kamu menyayangiku lebih dari itu."


"Mana mungkin aku menyayangimu lebih dari itu apalagi kita berdua telah memiliki istri dan anak masing - masing, aku sangat mencintai istriku."


"Oh begitu."


"Kalau kamu pasti mencintai istrimu juga kan?"


"Tidak, aku mencintaimu."


Ricko langsung menatap Liam dengan sangat tajam.


"Jangan bercanda, aku tidak suka."


"Aku tidak bercanda," ucap Liam dengan wajah serius.

__ADS_1


__ADS_2