
Liam lalu bergegas untuk mandi setelah Mr Robinson dan Rosie keluar dari kamarnya, sedangkan Mrs Robinson masih sibuk membersihkan kamar kosong karena sudah lama tidak dibersihkan jadi banyak debu yang menempel di setiap barang. Mrs Robinson kemudian mengambil semua baju di lemari tersebut untuk di cuci karena sudah lama sekali baju tersebut tidak disentuh bahkan sudah berdebu walaupun diletakkan di dalam lemari, namun samar - samar harum parfume itu masih menempel di baju tersebut saat Mrs Robinson mencoba mencium baunya. Mrs Robinson merasa sangat rindu sekali kepadanya karena sudah lama sekali tidak bertemu dengannya bahkan keberadaannya saja Mrs Robinson tidak mengetahuinya, dan baru sekarang Mrs Robinson mengetahui keberadaannya melalui orang suruhannya. Alasan mengapa kamar itu selalu ditutup dan dikunci dengan rapat karena Mrs Robinson selalu menangis saat melihat kamar tersebut hingga Mr Robinson memutuskan untuk melarang istrinya tersebut lewat maupun masuk ke dalam kamar tersebut. Hanya kunci kamar tersebut yang dipegang oleh Mr Robinson sedangkan kunci ruangan lainnya dipegang oleh istrinya, hal itu bertujuan karena Mr Robinson tidak ingin jika istrinya terlalu larut dalam kesedihan hingga berakibat pada anak - anaknya juga.
Baru tadi malam Mr Robinson memberikan kunci kamar itu kepada istrinya karena menurutnya keadaan istrinya itu sekarang sudah jauh lebih baik daripada yang dulu. Setelah membersihkan semuanya Mrs Robinson lalu mengganti sprei ranjang kamar tersebut dengan yang baru. Saat semuanya sudah beres Mrs Robinson kemudian pindah ke kamar Liam dan saat sedang membersihkan bagian bawah ranjang, Mrs Robinson menemukan sebuah kanvas yang tergeletak di bawah ranjang dengan ditutupi oleh sebuah kain. Mrs Robinson kemudian mengambil kanvas tersebut dan membuka kain penutup yang menutupi kanvas. Mrs Robinson kemudian tersenyum setelah melihat gambar yang berada di kanvas tersebut dan ternyata itu lukisan wajah Jane yang sangat cantik dengan senyuman manisnya. Mrs Robinson kemudian menempelkan lukisan itu di dinding kamar Liam dengan senyuman yang bangga karena anaknya tersebut bisa melukis dengan sangat bagus seperti pelukis terkenal Pablo Picasso dan Leonardo Da Vinci. Mrs Robinson lalu beristirahat sebentar sembari mengamati lukisan - lukisan yang dibuat oleh putranya tersebut. Kebanyakan lukisan tersebut dipajang di dinding kamarnya, namun ada juga yang di letakkan berjejer di lantai dengan ditutupi oleh kain putih agar tidak berdebu. Mr Robinson lalu kembali pergi mencari istrinya yang tadi sedang membersihkan kamar anak - anaknya untuk mencari peralatan golf miliknya.
"Hon?" panggil Mr Robinson sembari memeluk istrinya dengan manja dari belakang.
Mrs Robinson langsung membalikkan badannya "ada apa hon?"
"Sedang melihat apa sampai seperti itu hon?"
"Aku sedang melihat lukisan hasil karya putramu."
"Mana?"
"Itu," ucap Mrs Robinson sembari menunjuk kebelakang.
Mr Robinson terkejut "hah, apakah benar itu hasil karya Liam putra kita?" tanya Mr Robinson merasa tidak percaya.
Mrs Robinson mengangguk sembari tersenyum "iya benar hon, bagus bukan?"
"Aku fikir dia membeli semua lukisan ini."
"Tidak hon, Liam yang melukisnya sendiri dengan tangannya."
"Kenapa aku tidak tau jika dia pintar melukis seperti ini?"
"Karena kamu jarang memperhatikan apa yang dilakukan oleh putramu itu padahal dia sangat membutuhkan perhatianmu," ucap Mrs Robinson sembari mengusap pipi suaminya itu.
"Kamu benar hon," ucap Mr Robinson sembari menunjukkan wajah penyesalannya.
"Ya sudah kalau begitu aku ingin bersih - bersih ke kamar Rosie."
"Di kamar Liam sudah?"
"Sudah hon."
Mrs Robinson lalu melangkah pergi keluar dari kamar Liam namun Mr Robinson mencegahnya pergi "hon, tunggu sebentar!"
"Ada apa lagi hon?"
"Aku tadi ingin bertanya dimana kamu menyimpan peralatan golf milikku?"
"Ada di gudang, cari saja disana."
"Okay hon, thank you."
__ADS_1
"My pleasure.
Mr Robinson kemudian pergi ke gudang untuk mencari peralatan golf miliknya. Rosie yang mendengar suara berisik di gudang kemudian mendekatinya sembari membawa satu cup ice cream miliknya. "Daddy sedang apa?"
"Aku sedang mencari peralatan golf milikku," ucap Mr Robinson sembari masih terus mencari keberadaan peralatan golf miliknya.
"Dad?"
"Kamu keluar saja sayang, disini banyak debu nanti kamu batuk."
Rosie lalu mengangkat sebuah tas yang berada di samping dia berdiri dan menunjukkannya kepada Mr Robinson "dad, ini apa?"
Mr Robinson kemudian menoleh ke belakang "ah iya itu yang daddy cari sedari tadi."
"Ini dad."
"Sini kemarikan! aduh ini berat sayang kamu tidak perlu sampai mengangkatnya seperti ini."
"Padahal daritadi tas ini berada di sini, kenapa daddy tidak melihatnya sama sekali?"
"Perasaan tadi tidak ada."
"Daddy kebiasaan seperti itu."
"Your welcome dad."
"Rosie."
"Ya dad?"
"Nanti temani daddy ke villa."
"Okay dad."
Setelah bersiap - siap Mr Robinson kemudian pergi ke villa utara bersama dengan Rosie untuk bermain golf sembari memeriksa keadaan di sana. Sesampainya di sana Mr Robinson dan Rosie langsung pergi ke lapangan golf yang berada di belakang villa mereka. Disisi lain Liam yang tadi pagi sedang bermain ke rumah Jane tiba - tiba merasa bosan jika terus bermain game bersama Josh dikarenakan Jane sedang pergi berbelanja. Liam kemudian membaringkan tubuhnya di atas sofa sembari menunggu Jane pulang. 1 jam kemudian Jane terkejut mendapati Liam yang sedang tertidur pulas di sofa ruang tamu rumahnya.
"Sejak kapan dia tertidur di sini?" tanya Jane kepada Josh.
Josh meminum air es miliknya "sejak 1 jam yang lalu, dia sepertinya kelelahan bermain game jadi dia memilih untuk tidur tetapi dia ini sedang tertidur atau sedang mati suri?"
"Memangnya kenapa?"
"Sejak tadi aku mencoba membangunkannya namun dia tidak bangun."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya, coba saja jika kamu tidak percaya."
Jane lalu mencoba membangunkan Liam sembari menoel - noel pipinya "Li, bangun! aku sudah pulang."
"Aku bilang juga apa."
Jane lalu mendekatkan kepalanya ke dada Liam "tetapi masih ada detak jantungnya."
"Mungkin sebentar lagi detak jantungnya berhenti," ucap Josh sembari mengaduk air es nya.
"Yak oppa!"
Liam kemudian terbangun ketika mendengar suara gesekan antara es batu dengan gelas "aku ingin es."
"Ini minumlah! aku kira kamu sudah meninggal karena kelelahan bermain game," ucap Josh saat memberikan segelas air es kepada Liam.
"Aku begini karena kekurangan asupan es, cuacanya panas sekali dan kamu tidak memberiku es."
"Kenapa tadi tidak minta?" tanya Jane.
"Oppa kamu pelit, eh sejak kapan kamu berada di sini?"
Jane lalu mencubit perut Josh "kamu ini,"
Josh berteriak kesakitan " awww sakit Jane, aku fikir kamu tidak haus jadinya aku tidak menawarkan minuman."
Jane lalu mengejek Josh "pantas saja kamu tidak mempunyai teman, dasar pelit."
"Aku punya banyak teman sekarang, benar kan Liam?"
"Tidak," jawab Liam ketus.
"Hei, kamu ini temanku atau bukan sih?"
"Bukan, sekarang kita musuhan."
Josh kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya "baiklah kalau begitu, aku tidak akan mengizinkan kamu untuk mendekati Jane."
"Bodo amat."
Josh lalu menarik tangan kanan Jane "jangan dekati musuhku."
Liam langsung menarik tangan kiri Jane "jangan dengarkan oppa mu yang pelit itu."
"Astaga sepertinya aku akan begini setiap hari jika aku jadi menikah dengan Liam," gumam Jane pasrah sembari mendengarkan perdebatan mereka berdua.
__ADS_1