
Jane pergi ke dapur meninggalkan Liam yang duduk termenung di ruang tengah. Liam kemudian mengambil barang - barang miliknya dan membawa ke kamarnya. Lalu setelah itu Liam pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Liam membuka kran shower dan berdiri di bawahnya membiarkan semua air itu membasahi tubuhnya. Liam termenung sembari merasakan setiap tetesan air yang membasahi seluruh tubuhnya secara perlahan. Perasaannya sangat bingung dan dia harus bagaimana agar tidak menyakiti perasaan salah satu dari mereka. Siapakah yang harus dia pilih atau dia tidak akan memilih salah satu dari mereka dan kembali berpegang teguh pada pilihannya dulu, yaitu untuk melajang seumur hidupnya. Sepertinya sekarang dia mulai benci terhadap dirinya sendiri karena kelakuan buruknya itu yang mengakibatkan seseorang merasa sakit hati.
Liam kemudian duduk di bawah shower yang masih mengalir tersebut hingga tidak tersadar bahwa air matanya mulai menetes. Yang dipikirkan oleh semua orang itu memang benar jika dia adalah pria yang lemah karena dia selalu menangis dalam diam ketika menghadapi suatu masalah. Dia bukan pria yang kuat seperti pria lainnya yang mungkin tidak akan menangis menghadapi suatu masalah yang masih terbilang sepele ini. Jane yang selesai memasak lalu menghampiri kamar Liam dan mengetuk pintunya untuk memberitahu jika makanannya sudah siap, namun Jane tidak mendapat balasan dari Liam dari dalam kamarnya. Jane yang mendapati jika pintu kamar Liam tidak terkunci lalu membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam kamar. Terdengar suara dari shower yang masih menyala, jadi Jane mengetuk pintu kamar mandi Liam dan berteriak memberitahunya jika makanannya sudah siap. Setelah itu Jane kembali ke ruang makan untuk menunggu Liam, sedangkan Liam yang mendengar suara Jane lalu buru - buru menyelesaikan mandinya dan pergi ke ruang makan.
Liam berusaha untuk menyembunyikan semuanya dan terlihat tidak terjadi apa - apa di depan Jane agar Jane tidak mengejeknya sebagai pria yang lemah. Liam lalu menghampiri Jane dan duduk di kursinya, sedangkan Jane menyiapkan makanan di piring Liam lalu duduk di depannya. Jane duduk menemani Liam makan malam sembari menatapnya yang sedang menikmati makanannya dengan tenang. Suasana saat itu begitu hening karena Liam tidak mengeluarkan sepatah kata apapun dari mulutnya, mungkin hanya terdengar suara dari air aquarium saja yang terdengar. Jane berfikir jika tidak biasanya Liam menjadi pendiam seperti ini karena Liam selalu banyak bicara ketika bersamanya. Jane juga memperhatikan jika Liam lebih sering mengusap dahinya dan tiba - tiba wajahnya menjadi merah apalagi di bagian matanya. Jane kemudian duduk mendekat kepada Liam untuk memastikan apakah dia baik - baik saja atau tidak.
"Kamu sakit Li?" tanya Jane penuh perhatian.
Seketika lamunan Liam menjadi buyar "ah apa?"
Jane kembali mengulangi pertanyaannya "kamu sedang sakit?"
"Tidak, aku baik - baik saja kok Jane."
"Kalau kamu baik - baik saja mengapa wajahmu menjadi merah dan kamu sering mengusap dahimu?"
"Ini hanya merasa gatal saja karena di gigit semut. Ah aku sudah selesai dan terima kasih untuk makanannya," ucap Liam mengalihkan pembicaraan.
"Kamu pasti lagi menyembunyikan sesuatu dariku kan?"
Liam memperlihatkan senyuman tipisnya "aku tidak menyembunyikan sesuatu darimu."
"Jangan berbohong padaku Liam."
"Ah aku ingin menonton acara televisi kesukaanku." Liam lalu pergi ke ruang tengah meninggalkan Jane.
Jane kemudian membereskan piring Liam dan mencucinya, lalu setelah itu dia menghampiri Liam dengan membawakan segelas susu untuknya "ini minumlah, tenang saja ini manis kok."
"Terima kasih." Liam lalu meminum susu itu dan meletakkan gelasnya di atas meja.
__ADS_1
"Sepertinya kamu sangat menikmati liburanmu bukan?" tanya Jane memulai percakapan.
Jane ingin mengusap rambut Liam bagian belakang namun tangannya di cegah oleh Liam "tolong jangan mengusap rambutku yang bagian belakang karena aku tidak menyukainya."
"Oh baiklah, maaf."
"Lain kali jangan melakukan hal itu lagi," ucap Liam dengan tegas.
"Baiklah. Jadi kamu tidak mau bercerita kepadaku tentang liburanmu?"
"Aku sedang tidak ingin membahasnya, tolong jangan membanjiriku dengan pertanyaan tersebut."
Jane merasa jika perlakuan Liam sangat aneh semenjak perdebatannya tadi, apa mungkin Liam tersinggung dengan ucapannya atau dia sedang lelah saja sehingga dia bersikap seperti ini. "Berbaringlah di pangkuanku, aku akan memijat kepalamu karena aku tau jika kamu sedang lelah dan pusing."
Liam kemudian menuruti perkataan Jane dan mulai membaringkan tubuhnya di pangkuan Jane "apa yang kamu mau dariku, apa sebuah ceritaku di New York secara mendetail?"
"Tidak, aku hanya ingin memijatmu saja. Aku tau jika kamu tidak mau menceritakannya kepadaku jadi aku tidak akan bertanya hal itu lagi."
Jane kemudian memegang wajah Liam "hei kenapa kamu menjadi dingin begini, apa kamu tersinggung dengan ucapanku tadi?"
"Tidak, sudah aku katakan jika aku sedang lelah saja. Aku mau tidur saja."
Jane tersenyum "good night and sweet dream."
"You too."
Liam kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya dan bersiap untuk tidur karena kelelahan setelah perjalanan jauh, sedangkan Jane pergi ke dapur untuk membuat sebuah kue setelah mengetahui jika dalam beberapa jam ke depan dia akan berulang tahun. Kebetulan Jane juga sudah membeli bahan - bahan makanan untuk mengisi kulkas apartement yang sudah kosong. Jane membuat kue dengan penuh kasih sayang dan sepenuh hatinya karena Liam selama ini sudah baik kepadanya. Tidak lupa Jane juga menghias kue tersebut dengan cream yang dia buat dan membuat tulisan di atasnya. Setelah selesai membuat kue Jane lalu meletakkan kue tersebut ke dalam kulkas dan kemudian dia membereskan semua peralatan yang dia pakai. Jane kemudian masuk ke dalam kamar Liam untuk melihat apakah Liam sudah tertidur lelap atau belum. Tepat di jam 12 malam Jane kembali masuk ke dalam kamar Liam sembari membawa kue yang tadi dibuat olehnya dengan lilin yang menyala. Jane lalu mengusap rambut Liam untuk membangunkannya. Liam kemudian membuka matanya secara perlahan lalu mengucek kedua matanya dan terdengar Jane menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.
"Happy birthday my naughty Chicken, i wish you all the best."
Liam tersenyum "thank you my Kitten."
__ADS_1
"Make a wish terlebih dahulu sebelum kamu meniup lilinnya."
Liam lalu menyatukan kedua tangannya dan juga memejamkan matanya untuk mulai berdoa. Setelah itu Liam membuka matanya dan meniup semua lilin yang menyala. "Kok kamu tau hari ulang tahunku?"
Jane tersenyum "rahasia dong. Baiklah sekarang potong kuenya."
Liam memotong kue tersebut dan menyuapkan potontan pertama untuk Jane "potongan pertama untuk Kitten aku yang paling nakal."
"Kamu juga nakal Chicken," ucap Jane sembari mengunyah kue tersebut.
"Kamu yang nakal."
Jane lalu menyuapi kue berikutnya ke mulut Liam "nah sekarang gantian orang yang sedang berulang tahun yang memakannya, enak tidak?"
"Enak sekali."
"Tentu saja, aku yang membuatnya sendiri."
"Benarkah? kalau begitu aku harus menghabiskan kue ini."
"Baiklah habiskan. Ini sebuah kado dariku untukmu," ucap Jane sembari memberikan Liam sebuah kotak kecil.
"Apa ini?"
"Buka saja jika kamu ingin mengetahui isinya."
Liam lalu membuka kota tersebut "sebuah jam tangan?"
"Aku harap kamu menyukainya."
Liam lalu memeluk Jane "terima kasih, aku berjanji akan selalu memakainya."
__ADS_1
Jane mengusap rambut Liam sembari tersenyum "okay Li."