
Liam lalu memakai sepatu pemberian Jane tersebut dengan hati yang gembira, dan setelah itu dia berpamitan terlebih dahulu kepada Jane sebelum berangkat ke lapangan futsal. Tidak lupa Liam membawa tas ransel kecil untuk meletakkan handphone, dompet, sandal, handuk kecil, dan juga botol minuman yang telah disiapkan oleh Jane sebelumnya. Liam mengendarai motor sport miliknya untuk menuju ke lapangan futsal namun sebelumnya mereka berkumpul di sebuah pom bensin karena berada di tengah - tengah. Sesampainya di sana sudah ada Dio dan Chicko yang menunggu kedatangan anggota lainnya. Liam lalu mengisi bensinnya dengan full tank untuk menghindari motornya mogok dijalan karena kehabisan bensin.
Setelah Ricko, Josh, dan Lian datang mereka semua langsung berangkat menuju ke lapangan futsal bersama - sama. Sesampainya di lapangan futsal tersebut seperti biasa, masih sepi karena pada ngaret alias suka terlambat. Sembari menunggu lawan datang, mereka semua lalu melakukan pemanasan terlebih dahulu agar otot - ototnya tidak kaku serta untuk menghindari cidera. Liam hanya melakukan pemanasan ringan di tempat, berbeda dengan teman - temannya yang memilih untuk berlari mengelilingi lapangan 2 kali putaran. Liam malas sekali melakukan hal tersebut karena nanti juga dia akan lari mengelilingi lapangan untuk mengejar bola (dasar pemalas). Saat ditanya oleh Ricko mengapa dia tidak ikut berlari mengelilingi lapangan, jawaban Liam adalah bahwa dia sedang menghemat energi untuk bertanding nanti, serta agar permainanya lebih maksimal.
Liam itu orangnya mudah sekali merasa lelah sehingga dia tidak melakukan pemanasan seperti teman - temannya yang berlari mengelilingi lapangan. Tidak lama kemudian team lawan telah tiba di lapangan dan menyapa mereka semua, lalu setelah itu mereka melakukan pemanasan sebentar dan team Liam hanya duduk di bench sembari berbincang mengenai strategy team mereka. Ada salah satu pemain lawan yang sedari memperhatikan Liam dan Lian seperti seseorang yang sedang mengincarnya karena ada dendam pribadi. Liam lalu mendengar bahwa mereka sudah sedikit pesimis karena melihat postur tubuh Liam yang sangat tinggi dan besar, padahal itu futsal dan bukannya basket. Jika basket mungkin saja Liam akan terlihat lebih unggul karena postur tubuhnya namun itu futsal, yang justru pemain berbadan kecillah yang harus ditakuti karena biasanya mereka berlari sangat cepat.
"Ayo kita mulai sekarang pertandingannya," ucap teman Dio saat menghampiri Dio.
"Ayo," ucap Dio.
Mereka semua lalu memulai pertandingan tersebut dan team Liam memilih bola saat pelemparan koin.
"Ric passing kemari," ucap Liam sembari berlari menuju ke arah kotak pinalty.
Ricko lalu memberikan bola tersebut kepada Liam setelah melihat sebuah peluang.
*Duk.*
"Ini," ucap Ricko.
Setelah menerima bola dari Ricko, Liam lalu berlari membawa bola tersebut dan sedang melihat anggota pemainnya yang lain namun dengan cepat ada seseorang pemain lawan yang langsung menghentikan Liam dengan berusaha mentackle kaki Liam.
"Aduh," ucap Liam.
"Ah sialan," ucapnya mengumpat karena tidak berhasil mencegah Liam.
"Chicko!!" teriak Liam.
Liam mengoper ke arah Chicko dan untungnya Chicko bisa menerimanya dengan baik hingga menciptakan sebuah goal untuk teammya.
"Goall!!" teriak mereka semua bersamaan dan langsung melakukan selebrasi.
Permainan berlanjut dan permainannya semakin sengit karena pemain lawan terus saja bermain kasar hingga membuat beberapa pemain dari team Liam merasa kewalahan. Lian dan Chicko juga sempat terjauh karena serangan dari team lawan. Babak pertama telah usai dan mereka sedang beristirahat.
"Wuihh keren jersey yang kamu pakai ini Li," ucap Dio.
"Iya dong, tulisannya Liam G."
__ADS_1
"Kamu membuatnya sendiri?"
"Tidak tau, lupa karena sudah lama tidak memakainya."
"Kalau sepatu ini?" tanya Josh.
"Ini pemberian dari adikmu hahaha, awalnya aku fikir dia tidak akan mengizinkan aku untuk pergi main futsal namun ternyata dia hanya ingin memberikan sepatu ini untukku."
"Jelas dong, karena aku sudah berkata kepadanya agar mengizinkan kamu untuk pergi main futsal."
Liam lalu merangkul Josh "thanks brother hahaha."
"Lama tidak bertemu denganmu Lian, sehat - sehat kan?"
"Iya Ric, aku sehat kok."
"Kamu sedang banyak fikiran kah, kok kelihatannya kurus sekali?"
"Tidak juga hehe, hanya saja porsi makanku sedikit berkurang."
"Oh begitu, kapan - kapan ikut workout dengan kita dan kamu bisa belajar dari Liam juga agar tubuhmu tidak terlalu kurus seperti ini."
"Rasanya aku ingin mendandani kalian dengan celana pendek dan baju tanpa lengan yang bewarna kuning serta biru."
"Hahaha jadi Upin Ipin dong Ric kalau seperti itu?"
"Memang iya hahaha."
"Eh kak Rosnya juga ada."
"Siapa?"
"Rosie hahaha."
Ricko tertawa.
"Benar juga sih hahaha."
__ADS_1
"Liam," ucap Lian memanggil adiknya.
"Ya?" tanya Liam menoleh ke arah Lian.
"Kata Ricko, dia ingin mendandani kita sebagai Upin Ipin dan Rosie sebagai Kak Ros."
Liam tertawa.
"Hahaha boleh juga sih cosplay jadi bocah botak."
"Hei guyss mari kita menyusun strategy kembali," ucap Dio berbisik.
Liam lalu mendekat.
"Benar juga ucapan Dio, mereka sudah mulai bermain sangat kasar seperti pertandingan ini ada hadiahnya saja hahaha."
"Iya benar kasar sekali seperti minta dipatahkan saja kakinya," ucap Lian. (Memang kakak beradik ini kalau berbicara asal njeplak saja hahaha, maklum daddy nya juga seperti itu).
Mereka menyusun strategy agar memenangkan pertandingan apalagi score nya sekarang 1-0, dan juga menyusun strategy agar kaki mereka tidak patah karena perbuatan mereka yang bermain sangat kasar sekali. Babak kedua telah dimulai dan mereka siap menjalankan strategy yang telah dibuat dengan mengandalkan passing dari pemain se teamnya. Cara itu sedikit efektif agar lawan tidak selalu mengunci satu orang saja dan ternyata benar saja, mereka berhasil mencetak score kembali menjadi 2-0 dari tendangan Liam dengan Lian. Mereka berdua bisa menendang bola tersebut secara bersamaan seperti di film Captain Tsubasa. Namum beberapa menit kemudian lawan berhasil mencetak goal karena Josh yang kecolongan. Disisi lain Jane sedang berbincang dengan Mrs Kim di rumahnya karena Mrs Kim ingin mengunjungi putrinya yang sedang hamil tua.
"Liam kemana sayang?" tanya Mrs Kim.
"Liam sedang futsal bersama teman - temannya dan juga dengan oppa."
"Oh iya ya eomma lupa kalau oppa kamu itu satu geng dengan Liam juga."
"Iya eomma, kemarin oppa menghubungiku dan meminta untuk mengizinkan Liam bermain futsal."
"Memangnya selama ini kamu sering tidak mengizinkan Liam untuk pergi bermain?"
"Tergantung suasana hati sih eomma, kalau sedang tidak baik pasti aku tidak akan mengizinkan dia untuk pergi dan begitupun sebaliknya."
"Oh begitu, saran eomma sih jangan terlalu sering mengekang seorang pria apalagi berhubungan dengan teman - temannya dan juga umurnya masih terbilang muda sehingga rasa ingin bermainnya masih tinggi."
"Iya eomma, aku juga tidak terlalu sering seperti itu kok hanya terkadang saja."
"Eomma hanya takut jika kamu selalu seperti itu maka Liam akan berpaling dengan yang lain serta mencari seseorang yang menurutnya lebih nyaman, apalagi tahu sendiri jika Liam orangnya bosenan."
__ADS_1
"Iya eomma."