
Mereka berdua lalu tidur dengan membelakangi satu sama lain, dan Liam lebih memilih memeluk guling daripada istrinya karena tangan Liam sedang merasa pegal sekali. Entah kenapa tiba - tiba saja Jane tidak bisa tidur lebih awal, jadi dia membuka handphone miliknya dan saling bertukar pesan kepada Irene. Jane sangat asyik bertukar pesan kepada sahabatnya tersebut hingga secara tidak sadar dia tertawa dengan keras hingga membangunkan Liam yang sedang asyik bermimpi. Liam lalu menegur Jane agar tidak tertawa dengan keras saat malam hari karena itu mengganggunya yang sedang beristirahat. Jane lalu menutup mulutnya dan pergi ke balcony kamar untuk melanjutkan perbincangan bersama sahabatnya tersebut melalui pesan, sedangkan Liam melanjutkan tidur. Namun karena dia sedikit tidak merasa nyaman saat tidur menggunakan baju, akhirnya Liam melepas bajunya dan hanya menggunakan celana kolor kesayangannya itu saat tidur.
Sesekali Jane melirik ke arah Liam yang tengah tertidur nyenyak itu untuk memastikan apakah dirinya mengganggu suaminya kembali atau tidak. Bukannya apa - apa, Jane hanya tidak ingin membuat perdebatan dengan suaminya itu apalagi saat sedang pergi honeymoon. Jane kemudian mengambil sebotol air putih di meja samping ranjang Liam secara mengendap - ngendap agar tidak membangunkan singa yang tengah tertidur pulas. Tidak sengaja pandangan Jane beralih ke wajah tampan Liam itu, hingga membuatnya membeku walau hanya sekejap saja. Jika dilihat secara saksama wajah Liam justru lebih tampan saat dia tengah tertidur seperti ini, atau menurut Jane mungkin lebih terlihat sangat damai sekali.
Jane lalu kembali ke balcony kamar dan secara tidak terduga ada seseorang yang mengiriminya pesan, yaitu seorang pria yang dulunya merupakan orang yang disukai Jane secara diam - diam. Betapa terkejutnya Jane ketika mendapat pesan tersebut hingga membuat air putih itu menyembur dari mulutnya. Jane bingung apakah dia harus menjawab pesan tersebut atau tidak. Mungkin dia sedang bertanya kabar, begitu fikir Jane yang membuatnya justru menjawab pesan dari pria tersebut. Eh ternyata semakin lama pesan itu semakin berlanjut panjang dan membuat Jane lupa waktu. Saat tengah malam Liam kembali terbangun dan dia langsung duduk di tepi ranjang. Jane melirik punggung Liam yang lebar itu dan tentunya juga berotot terkena pancaran cahaya malam yang masuk melalui pintu balcony. Liam kemudian pergi ke kamar mandi, dan setelah itu dia menghampiri Jane yang sedang sibuk bermain handphone.
"Kok belum tidur jam segini sayang?" tanya Liam mengusap rambut Jane.
Jane langsung menyembunyikan handphone miliknya "ah itu, aku sedang tidak bisa tidur."
"Oh begitu, ini sudah larut malam lho besok kamu akan bangun terlambat jika sekarang belum tidur."
"Ya terserah aku dong!!"
"Eh kamu marah?" tanya Liam merasa terheran.
Jane lalu menghela nafasnya "aku tidurnya nanti saja, aku masih ada urusan."
Liam lalu jongkok di depan Jane "kenapa? aku ada salah ya?"
"Ti-tidak."
"Lalu kenapa kamu marah - marah heum?"
"Tidak kok tadi aku hanya kelepasan saja."
"Benarkah?"
"Iya Liam, eh maksudku hubby."
Liam lalu mengusap paha Jane "maaf ya kalau aku ada salah."
"Iya hubby, kamu tidur saja jangan tunggu aku."
"Oh ya sudah kalau begitu," ucap Liam saat berdiri.
"Iya."
Liam lalu berjalan ke ranjangnya dan tidur kembali. Sungguh Jane merasa tidak enak hati karena kelepasan membentak Liam karena hal sepele. Sekitar 30 menit kemudian Jane mematikan handphone miliknya dan menyusul Liam tidur. Saat di pagi harinya Liam yang sudah bangun lebih awal lalu membangunkan Jane yang masih tengah tertidur.
"Baby J bangun, ayo kita jadi jalan - jalan tidak?" tanya Liam dengan antusias.
"Nngg aku masih mengantuk, nanti saja ya hubby?"
"Oh ya sudah."
__ADS_1
"Hmmm."
Liam lalu melihat handphone milik Jane "ini pasti kamu lupa mengisi baterai handphone kan? biar aku yang mengisinya," ucap Liam mengambil handphone Jane.
Jane lalu bangun dan merebut handphone miliknya dari tangan Liam "eh biar aku saja yang mengisinya."
"Memangnya kenapa sayang? sudah kamu tidur saja, biar aku yang mengisikannya."
"Tidak perlu!!"
"Oh ya sudah."
Jane lalu kembali tidur, sedangkan Liam pergi ke balcony untuk meregangkan tubuhnya sembari pemanasan.
"Hubby, kemari!" panggil Jane.
"Ada apa baby J?" tanya Liam saat menghampiri Jane.
"Ayo kita pulang saja."
"Ke Indonesia?" tanya Liam terkejut.
Jane mengangguk "heem."
"Tidak."
"Lalu? cerita dong apa alasannya," ucap Liam menggendong Jane ke pelukannya.
Tiba - tiba handphone Jane menyala karena ada pesan masuk, dan Liam langsung mengambil handphone Jane tersebut.
"Ini siapa yang mengirimi kamu pesan seperti ini?"
"Teman," jawab Jane singkat.
"Teman tapi pesannya yang dikirimkan seperti ini?"
"Dia memang selalu seperti itu karena kita teman dekat, hubby."
"Oh begitu rupanya."
"Hubby, ayo kita jalan - jalan lagi."
"Iya, tapi mandi dulu."
"Okay. Eh katanya kamu ingin melukis pegunungan, kok tidak jadi?"
__ADS_1
"Nanti saja aku melukisnya."
"Oh baiklah."
Sebelum pergi Liam sudah menyiapkan tas ransel yang berisi perlatan melukisnya, mulai dari kuas berbagai nomor, cat acrylic, kanvas, pensil, penghapus, dan lain - lain. Setelah itu mereka langsung berangkat menuju ke pegunungan Allmendhubel. Sesampainya disana Liam membantu Jane mengambil fotonya terlebih dahulu, baru setelah itu Liam mulai melukis. Sembari menunggu Liam selesai melukis, Jane berjalan - jalan di sekitar area itu namun tidak terlalu jauh karena Liam sudah memperingatkan Jane agar tidak terlalu jauh darinya (kalau hilang bisa repot). Jane mengarahkan lensa kameranya ke arah Liam yang sedang fokus melukis untuk mengambil foto serta vidionya sebagai kenang - kenangan.
"Hubby, lihat sini."
Liam menoleh ke arah Jane "kenapa?"
Jane lalu melihat lukisan Liam yang baru jadi 40% "wow lukisanmu sangat indah, nanti dipasang di ruang tengah rumah kita ya?"
"Sekalian saja semua foto yang kamu ambil dipasang di seluruh rumah seperti wallpaper," ucap Liam mengejek.
"Hubby," ucap Jane dengan cemberut.
Liam tertawa "aku hanya bercanda sayang."
"Mmm hubby, ajari aku melukis yang bagus seperti milik hubby."
"Kalau baru pemula terus langsung minta hasilnya yang bagus itu sulit."
"Jadi?"
"Duduk sini dan coba pegang kuas ini!"
"Sudah, lalu?"
Liam lalu menggenggam tangan Jane dan mengarahkan kuas tersebut ke kanvasnya "nah pelan saja, rileks."
"Na-nanti kalau jadi jelek gara - gara aku bagaimana hubby?" tanya Jane merasa khawatir.
Liam tersenyum "sudah tenang saja, kalau kamu berfikir hasilnya bagus pasti akan bagus juga. Semua itu tergantung bagaimana pola pikirmu sayang."
Jane menghela nafasnya "baiklah."
Liam kembali mengarahkan tangan Jane untuk melukis kembali, dan dia mengarahkannya secara perlahan - lahan agar tidak keluar dari garis. Karena suasananya yang hening, Liam menjadi gugup apalagi saat nafasnya berhembus di leher Jane.
"Kamu sangat cantik," gumam Liam.
"Kamu bilang apa hubby?"
"Mmm aku tidak bilang apa - apa kok."
"Oh."
__ADS_1