
Tiba - tiba saja Rosie datang ke rumah sepulang dari Australia, dan dia langsung berteriak sembari memanyunkan bibirnya karena mengetahui orang tuanya serta kakaknya memakan ice cream tanpa dia. Rosie kemudian meletakkan semua koper serta tas miliknya di lantai lalu menghampiri mereka di ruang tamu. Mereka kaget sekaligus tertawa kecil melihat tingkah Rosie yang seperti anak kecil itu, lalu Liam menawarkan ice cream miliknya untuk dimakan bersama namun Rosie lebih memilih ice cream milik kakak iparnya itu. Jane lalu menyuapi Rosie dengan ice cream miliknya hingga Rosie merasa ketagihan. Rosie menyandarkan kepalanya di bahu Jane sembari memeluknya saat Jane menyuapi Rosie, dan dia terus bercerita mengenai teman - teman lamanya yang berada di Australia.
Liam kemudian berdiri dan mengambil semua koper serta tas milik Rosie yang berserakan di lantai dan membawanya ke dalam kamar Rosie. Liam dari dulu sudah terbiasa seperti itu karena saking sayangnya Liam kepada adiknya itu, bahkan dahulu sewaktu mereka masih kecil, setiap pagi Liam juga sering mengikat rambut adiknya itu dan membantunya menata bukunya ke dalam tas. Maka dari itu Liam mencari seorang istri yang bisa menyayanginya serta menyayangi adik dan kedua orang tuanya secara tulus, sehingga dia memilih Jane untuk menjadi istrinya karena Liam melihat sikapnya yang sangat tulus menyayangi Rosie seperti dirinya. Setelah membawa semua barang - barang Rosie ke dalam kamarnya, Liam kembali ke ruang tamu untuk berkumpul bersama dengan keluarganya sekaligus mendengarkan cerita menarik dari adiknya itu.
Karena hari semakin sore dan badannya sudah terasa lengket, Rosie kemudian pergi mandi. Begitupun juga dengan Mr Robinson yang juga pergi mandi karena ada janji temu dengan koleganya untuk bermain golf. Mr Robinson juga mengajak Liam untuk pergi bersamanya namun Liam menolak karena Liam merasa sangat bosan jika hanya bermain golf saja, apalagi nanti malam dia sudah ada janji untuk acara membakar daging alias BBQ an dirumahnya. Saat ini Liam sedang bersantai di ruang tamu sembari menungggu Ricko datang, dan tidak lama kemudian Ricko mencubit hidung Liam yang mancung itu saat sesampainya di rumah Liam.
"Jane kemana?" tanya Ricko saat duduk di sofa.
"Dia sedang mandi, eh mau minum apa?" tanya Liam.
"Yang biasa saja."
"Ya sudah ambil saja sendiri di kulkas."
"Okay." Ricko kemudian berjalan menuju ke dapur dan saat di dapur Ricko bertemu dengan Mrs Robinson.
"Eh Ricko, ada apa?"
"Itu tante biasa," ucap Ricko malu - malu.
"Mau ambil minum dan camilan?"
Ricko tertawa canggung "hehe iya tan."
"Ya sudah ambil saja, kenapa pakai malu - malu?"
"Terima kasih tan."
"Iya, kamu hanya datang sendiri?"
"Iya tan, yang lain sedang ada urusan."
"Oh begitu."
"Tante, nanti minta izin ya untuk pinjam halaman rumahnya sebentar karena ingin BBQ an bersama dengan teman - teman?"
"Iya pakai saja, alatnya ada di gudang kalau ingin dipakai nanti pergi dengan Liam untuk mengambilnya."
"Siap tante, terima kasih."
Mrs Robinson lalu menepuk - nepuk punggung Ricko "sama - sama Ricko, eh katanya Liam waktu itu kamu ingin bertunangan dengan Gita?"
"Tidak jadi tan."
"Kenapa? apa kalian berdua ada masalah?"
Ricko menengguk minumannya "ayahnya Gita belum sepenuhnya melepaskan putrinya itu karena masih mempunyai tanggungan adiknya."
__ADS_1
"Oh begitu rupanya."
"Padahal saya sudah mengajukan diri kepada ayahnya Gita untuk membantu membiayai adiknya Gita tetapi katanya tidak ingin merepotkan saya, begitu tante."
"Oh begitu, yang sabar saja Ric."
"Iya tante, kalau begitu saya permisi."
"Iya Ric."
"Eh bagaimana tan? Liam sudah sembuh nakalnya atau belum setelah menikah?" tanya Ricko jahil.
Mrs Robinson tertawa "hahaha kamu ini bisa aja Ric."
"Saya penasaran saja sih tan," ucap Ricko ikut tertawa.
"Belum terlihat jelas sih Ric, tetapi sepertinya sudah mulai akan sembuh."
Ricko semakin tertawa "wah berarti Jane hebat sekali dong tan? nanti Jane disuruh lebih intens tan biar Liam semakin sembuh nakalnya."
"Hahaha iya Ric, grandmanya Liam juga sudah meminta Jane untuk membuat dia sembuh dari nakalnya."
"Bagus itu tan."
"Sedang apa mom, kok sepertinya perbincangannya sangat asyik sekali?" tanya Liam.
"Okay mom. Ayo Ric," ucap Liam merangkul Ricko.
Liam dan Ricko lalu berjalan menuju ke gudang belakang rumah. Liam kemudian membuka pintu gudang begitu dia sampai di sana, dan mereka berdua lalu mencari - cari dimana letak alat panggangan daging yang mereka maksud namun tiba - tiba saja jari kelingking Liam disengat lebah saat Liam ingin mengambil alat panggangan tersebut.
"Aduhh, lebah sialan!!" teriak Liam.
Ricko tertawa "halah hanya disengat lebah saja sampai segitunya."
"Sakit bodoh, sini tanganmu agar disengat lebah juga!!"
"Dih tidak mau."
"Nah itu tidak mau." Liam lalu berlari menemui Mrs Robinson di ruang tengah.
"Kenapa lari - lari seperti itu sayang?" tanya Mrs Robinson.
"Aku disengat lebah mom."
"Kemarilah! akan aku obati," ucap Jane.
"Jangan ditekan - tekan seperti itu, sakit!!"
__ADS_1
"Iya tidak kok."
"Aaaa sakit."
"Ih lebay sekali," ucap Jane memutar bola matanya.
Ricko tertawa dengan keras "iya nih, badan gede doang tapi giliran di sengat lebah saja sampai segitunya."
"Diam bodoh!!"
"Ssstt diam, mau aku olesi pakai minyak mulutmu?" tanya Jane membungkam mulut Liam.
"Hmmm."
Liam kemudian pergi mandi karena Jane yang menyuruhnya, sedangkan Ricko masih menunggu Liam selesai mandi diruang tengah karena setelah ini mereka berdua yang bertugas mencari bahan - bahan untuk acara BBQ an mereka. Tugas Chicko dan Dio adalah menyiapkan peralatannya termasuk mengeluarkan alat panggangan tadi yang tidak jadi dikeluarkan oleh Liam karena tersengat lebah. Saat hendak pergi tiba - tiba saja Jane ingin ikut dan mau tidak mau Liam harus membiarkan Jane ikut, karena kalau tidak nanti Jane akan marah kepada Liam. Setelah selesai membeli semua bahan - bahannya, mereka bertiga lalu kembali ke rumah Liam dan mulai membuat bumbunya. Lalu setelah itu mereka semua mulai memanggang dagingnya serta menikmatinya. Kurang lebih 3 jam kemudian acara mereka sudah selesai sehingga mereka semua mulai membereskan semua peralatannya dan setelah itu pulang ke rumah masih - masing.
"Hubby jangan lupa kunci pintu kamarnya," ucap Jane sembari membersihkan ranjang dan merapikan bantalnya sebelum tidur.
"Iya sudah kok."
"Langsung tidur, jangan bermain game!!"
"Ini botol berisi air putih untukmu," ucap Liam sembari meletakkan botol itu di atas meja samping ranjang.
"Terima kasih hubby."
"Iya, aku main satu match dulu boleh?"
Jane menghela nafasnya "ya sudah, tapi janji hanya satu match saja?"
"Iya janji."
"Ya sudah sana main, aku ingin tidur."
"Okay sayang," ucap Liam mencium Jane.
*1 jam kemudian*
"Hoamm, akhirnya menang juga, saatnya tidur." Liam kemudian memeluk Jane yang tengah tertidur.
"Ada apa hubby?"
Liam menunjuk dada Jane "aku ingin itu," ucapnya manja.
"Sekarang sudah mulai berani ya?" tanya Jane menanggalkan piyamanya.
"Hehe, boleh kan?"
__ADS_1
"Iya boleh, sini."