Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #173


__ADS_3

Liam kemudian bangkit dari ranjangnya dan langsung berlari mengejar Jane, sedangkan Ricko dan Dio hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua sejoli itu sembari meringis menatap nasib kejombloan mereka berdua. Lalu setelah itu mereka berdua keluar dari kamar Liam dan pergi ke rooftop hotel menyusul Chicko yang sedang bersantai di sana sembari merokok. Semua tamu undangan yang berasal dari jauh khususnya teman - teman dekat Liam tinggal di Korea Selatan selama 5 hari oleh karena itu mereka sedang menikmati liburan di Korea Selatan, maklum mumpung gratis dan kalaupun ke sana pakai biaya sendiri pasti akan mahal. Mereka berdua lalu ikut merokok dan memesan minuman. Disisi lain Liam dan Jane yang sedari tadi bermain kejar - kejaran sembari petak umpet, kemudian mengakhirinya karena kaki Liam sudah merasa pegal sekali.


Liam kemudian pergi ke restaurant untuk sarapan dan mengistirahatkan kakinya tersebut karena dokter menyarankan agar Liam tidak boleh terlalu lelah agar kondisinya tidak drop saat hari H acara pernikahannya, jadi mulai sekarang harus menjaga tubuhnya terutama kakinya. Walaupun Liam sekarang bisa berjalan dan berlari dengan normal namun saat terlalu kelelahan maka kakinya akan kembali sakit, rasanya seperti pegal namun bukan pegal biasa. Selesai menemani Liam sarapan Jane kemudian pergi menemani Rosie berjalan - jalan berkeliling Kota Seoul. Mereka berdua berwisata kuliner menikmati jajanan khas Korea yang karena Rosie merasa penasaran dengan rasanya setelah melihatnya di drakor maupun film. Jane hanya makan sedikit karena dia juga harus menjaga agar tubuhnya tetap ideal saat upacara pernikahannya dan dia juga ingin terlihat anggun mengenakan gaun pernikahannya nanti seperti seorang dewi.


Adik perempuan Liam lebih banyak makan daripada dirinya namun kenapa badannya tetap kurus serta pipinya tidak tembem? sedangkan dirinya yang sedikit makan justru pipinya seperti bakpao meletus? begitu fikir Jane setelah melihat porsi makan Rosie. Jane sebenarnya juga ingin mempunyai tubuh tinggi dan ramping seperti Rosie namun setelah Liam mengatakan bahwa dia sangat menggemaskan karena tubuh mungilnya tersebut membuat Jane tidak jadi merasa insecure terhadap Rosie. Karena para anak muda termasuk Liam dan Jane sedang menikmati masa libur mereka serta bermain - main di Korea Selatan, lain halnya dengan para orang tua khususnya keluarga Robinson dengan keluarga Kim yang tengah berdiskusi di ballroom hotel mengenai acara pernikahan kedua anak mereka yang akan diselenggarakan dalam kurun waktu 3 bulan mendatang. Disisi lain Liam yang sedang melamun di rooftop hotel tiba - tiba dikejutkan oleh Ricko yang memijit bahu Liam.


"Santaikan tubuhmu."


"Nah enak, ayo lebih kuat lagi."


"Karena aku lagi berbaik hati padamu maka aku akan memijitmu agar lebih relaks."


"Tumben, pasti ada maunya."


"Ayo clubbing di sekitar sini, tidak perlu yang terlalu mahal yang penting kita clubbing dibayari olehmu hehe."


Josh datang menghampiri mereka semua "ada apa ini rame - rame?"


"Aku meminta Liam untuk mengajak clubbing kami semua dengan dibayari olehnya," ucap Ricko menjelaskan.


"Ayo clubbing dan kali ini aku yang akan mentraktir kalian semua bagaimana?"


"Setuju!!!!" ucap mereka berempat secara kompak.


"Baguslah, kasihan Liam jika kalian memintanya untuk mentraktir karena dia sedang butuh banyak uang untuk pesta pernikahannya maka dari itu agar aku saja yang menggantikannya untuk mentraktir kalian."


"Bukankah daddy mu yang akan membayar semua biaya pernikahan kamu karena awalnya kan dia yang memintamu untuk menikah?" tanya Dio.


"Benar, tetapi setelah aku fikirkan lebih baik aku saja yang membayar semua biaya pernikahan karena sekarang aku yang menginginkan untuk menikah."


"Tidak semua kok Li, kamu hanya membayar 60% sedangkan sisanya biayanya dari keluargamu dan keluargaku karena semua acaranya full akan dilaksanakan di Korea."


"Kenapa begitu?" tanya Liam terheran.

__ADS_1


"Kasihan kamunya jika semua biaya dibebankan olehmu, lagipula kedua keluarga juga yang menginginkan pernikahan ini jadi semua biaya ditanggung oleh kedua keluarga."


Ricko merangkul Liam "benar itu, jadi jangan melamun lagi seperti tadi seolah kamu terlalu banyak beban kehidupan."


"Beban kehidupanku juga banyak anjir," ucap Liam cemberut.


"Tenang saja Li karena kami semua berdiri di belakangmu."


"Untuk apa?"


"Untuk makan - makan gratis," ucap Chicko bercanda.


"Sialan kalian semua."


"Ayo berenang!" ajak Dio.


Mereka semua langsung melepas baju serta celana panjangnya dan hanya menggunakan celana kolornya saja. Mereka langsung menceburkan diri ke dalam kolam renang yang airnya terlihat segar dan menggoda itu, mereka juga saling adu gaya berenang serta adu gaya melompat dari papan loncat kolam renang. Arthur yang baru saja datang ke kolam renang karena sehabis pergi menemani Jenia berbelanja, dia pun juga langsung melepas bajunya dan ikut berenang bersama mereka semua. Sungguh pagi itu kolam renang seperti kolam roti sobek karena rata - rata perut para pria itu berbentuk kotak - kotak (bukan kepala kotak seperti Adada). Liam lalu memilih untuk membaringkan tubuhnya di tepi kolam renang karena kulit tangannya sudah mati namun yang lain tetap berenang dan menunggangi pelampung besar berbentuk unicorn. Tiba saatnya makan siang dan mereka semua memilih agar para waiters mengantarkan hidangan makan siang di rooftop karena mereka malas pergi ke restaurant.


"Jam milikmu bagus Li, berapa harganya?" tanya Dio.


"Aku tawar harga 200 ribu bagaimana?"


"Ambil saja," ucap Liam sembari mengunyah makanannya.


"Yang benar?"


"Iya, tapi ambil hikmahnya saja."


Ekspresi Dio yang awalnya sumringah tiba - tiba langsung berubah cemberut "dasar kurang ajar, niat nawar malah diminta untuk ambil hikmahnya."


"Lagian terlihat jelas kalau jam ini jam mewah malah ditawar harga 200 ribu, mikirlah bodoh!!"


"Siapa tau kalau kamu mau memberikannya kepadaku."

__ADS_1


"Cihh tidak mau."


Pada malam hari sekitar jam 9 malam mereka semua alias para pria pergi clubbing di tempat milik kenalan Josh. Mereka semua bergembira menari di panggung sembari berkenalan dengan beberapa wanita di tempat tersebut. Suasana disana sangat ramai sekali dengan musik yang diputar dengan keras hampir memenuhi ruangan, sesekali para pengunjung juga berteriak untuk memeriahkan suasana. Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari dan mereka semua lalu pulang ke hotel. Liam yang setengah mabuk lalu mengendap - endap memasuki kamarnya karena takut membangunkan Jane.


"Oh hai selamat malam sayang," ucap Liam menyapa Jane.


"Malam? coba katakan sekarang jam berapa?"


"Mmmm jam 10 malam."


Jane kemudian mendekati Liam dan mencium aroma alkohol di tubuhnya "kamu mabuk ya?"


"Tidak, aku hanya minum sedikit saja kok."


"Berapa gelas?"


"2 gelas, tetapi aku meminumnya 10 kali hehe."


Jane menghela nafasnya "sudah aku duga."


"Kenapa?"


"Cepat ganti baju lalu sikat gigimu karena bau alkohol di tubuhmu sangat menyengat sekali!"


"Baiklah."


"Besok kita akan pergi." ucap Jane sembari menarik selimutnya.


"Kemana?"


"Ke wedding organizer."


"Iya." Liam kemudian mendekati Jane dan memeluknya.

__ADS_1


"Tidurlah yang nyenyak."


"Hmm." Setelah itu Liam mulai mendengkur karena kelelahan.


__ADS_2