
Setelah menerima pijatan dari istrinya, Liam langsung tertidur nyenyak bahkan sampai mendengkur. Jane hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya saat melihat suaminya yang tertidur dengan posisi masih tengkurap. Jane lalu membalikkan tubuh suaminya walaupun badannya sangat berat agar dia tidak mengalami sesak karena tertidur dengan posisi seperti itu, dan setelah itu dia menyelimuti tubuh suaminya itu. Sebelum dirinya tidur, Jane juga mencium pipi suaminya serta mengusap dahinya terlebih dahulu baru dia ikut tidur disampingnya. 2 hari kemudian saat di pagi hari, Jane sedang melakukan senam yoga di tepi kolam renang rumahnya dan entah mengapa tempat tersebut menjadi tempat favorite Jane untuk melakukan senang yoga dipagi hari setelah suaminya berangkat kerja. Setelah menikah Jane menjadi lebih giat berolahraga agar tubuhnya semakin bugar serta bentuk tubuhnya tetap ideal, karena jika tidak seperti itu nanti takutnya jika suaminya akan mudah tergoda dengan wanita lain apalagi suaminya itu sangat ganjen sekali.
Tidak lama kemudian handphone Jane berbunyi dan dia langsung bergegas untuk mengangkatnya. Selama kurang lebih 5 menit berbincang di telepon, Jane kemudian mematikannya dan langsung pergi ke kamarnya untuk bersiap - siap pergi. Sebelum pergi Jane menyempatkan untuk mengenakan riasan tipis di wajahnya agar terlihat semakin cantik, lalu dia pergi menuju ke sebuah restaurant yang sedikit jauh dari rumahnya dengan diantar oleh Pak Kang. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 50 menit akhirnya Jane telah sampai di restaurant tersebut dan langsung mengedarkan matanya untuk mencari seseorang yang ternyata dia duduk di meja pojok dekat jendela restaurant tersebut. Jane kemudian melangkahkan kedua kakinya menghampiri seseorang yang hendak dia temui di restaurant tersebut. Jane kemudian memeluknya begitu orang tersebut menyambut kedatangannya dengan hangat, Dia lalu duduk dan memanggil waiters untuk memesan minuman serta camilan sebagai teman berbincang dengan orang tersebut.
"Sudah sangat lama kita tidak bertemu nona Jane," ucapnya sembari tersenyum.
Jane berdecak.
"Ck bukankah aku sudah berkata untuk memanggilku dengan namaku saja dan bukannya dengan panggilan seperti itu Jolee?"
Jolee tertawa.
"Iya deh iya, tapi bagaimana jika aku memanggilmu dengan nyonya Robinson heum?" tanya Jolee sembari menaik - naikkan alisnya.
"Haiss sudahlah, panggil aku dengan namaku saja."
"Baik nona Jane, eh maksudku Jane hehe."
"Bagaimana kabarmu Jolee? kita sudah lama tidak bertemu dan mendengar kabarmu."
"Yah seperti yang kamu lihat, aku sehat dan baik - baik saja."
"Syukurlah jika seperti itu. Aku waktu itu ingin mengundangmu ke acara pesta pernikahanku namun kamu tidak bisa dihubungi sama sekali."
"Oh handphone aku rusak, jadi aku membeli yang baru serta mengganti nomor teleponku dan ini nomorku yang baru," ucap Jolee sembari menunjukkan handphone miliknya agar Jane menyimpan nomornya.
Jane kemudian mencatat nomor yang diberikan oleh Jolee tersebut.
"Sudah, dan aku akan mencobanya untuk mengirimimu pesan."
"Baiklah sudah masuk," ucap Jolee melihat ke arah layar handphone miliknya.
"Baguslah, jangan hilang - hilang lagi dariku!!"
Jolee tersenyum.
"Iya nona Jane hahaha. Mmmm bagaimana dengan kehidupanmu setelah menikah heum?"
Jane mengaduk minumannya.
"Yah begitulah, kadang merasa bahagia dan kadang tidak."
"Kenapa? apa si tuan muda itu sering menyakitimu?"
"Tidak, hanya saja terkadang merasa tidak tahan dengan sikap cueknya itu karena dia pria yang sangat cuek sekali." Jane lalu minum.
"Kamu harus berusaha untuk mencairkan pegunungan es itu dan jangan menyerah begitu saja, karena kalau kamu menyerah seperti itu kamu bukan seperti Jane yang aku kenal."
__ADS_1
"Iya, terima kasih atas semangatnya."
"Tetapi Liam tidak menyakitimu secara fisik bukan?"
"Tidak namun sakitnya berada disini," ucap Jane memegang dadanya.
"Aku yakin semakin lama nanti dia akan menjadi sangat bucin kepadamu."
"Sepertinya begitu, karena akhir - akhir ini sikapnya sangat manis sekali walaupun ucapannya terkadang juga terdengar sangat tajam sampai menusuk ke ulu hati."
Jolee lalu menepuk - nepuk bahu Jane.
"Sabar saja, nanti kesabaranmu itu akan berbuah manis."
"Iya. Eh kamu masih ingat si Mike tidak?" tanyanya tiba - tiba.
Jolee berfikir sejenak.
"Oh Mike yang dulu kamu sukai itu ya?"
"Ssttt jangan keras - keras."
"Eh kamu juga berada di sini juga Jane?" tanya Liam tiba - tiba sembari menepuk punggungnya.
Jane terkejut.
"Aku sedang ada meeting dengan klien ku."
"Oh begitu, eh hubby kenalkan ini Jolee teman lamaku."
Liam lalu menjabat tangan Jolee.
"Liam, suaminya Jane."
"Jolee," ucapnya membalas jabatan tangan Liam.
"Kalau begitu aku tinggal ya? sudah ditunggu oleh klien."
"Okay hubby."
Setelah Liam pergi Jolee kemudian berbisik di telinga Jane.
"Uhhh baru berjabat tangan dengannya saja sudah membuat tubuhku menggigil kedinginan, bagaimana denganmu yang setiap hari tinggal dengannya."
Jane tertawa kecil
"Bukan seperti itu konsepnya Jolee."
__ADS_1
"Aku akui dia memang tampan melebihi Kyle namun dia pria yang cuek, dan sepertinya kamu juga harus merasa beruntung karena tadi dia sempat menegurmu terlebih dahulu serta memperkenalkan dirinya sendiri sebagai suamimu yang artinya dia juga menganggapmu sebagai istrinya."
"Iya juga sih."
"Eh bagaimana dengan Mike tadi?"
"Dia waktu itu tiba - tiba menghubungiku saat aku sedang honeymoon di Swiss."
Jolee terkejut "apa? bagaimana bisa?"
"Aku juga tidak tau, dia tiba - tiba menghubungiku dan akhirnya kami berdua sering berkirim pesan satu sama lain."
"Wait, please kamu jangan sampai tiba - tiba berbalik arah mengejarnya lagi seperti dulu apalagi sampai kamu meninggalkan Liam yang tampan nan kaya itu."
"Iya, aku tidak mungkin meninggalkan Liam demi dia."
"Bagus, kamu harus ingat bagaimana dia mencampakkanmu waktu itu."
Mereka berdua terus asyik berbincang sampai - sampai Liam merasa penasaran dengan perbincangan mereka berdua karena dia duduk tidak jauh dari tempat Jane duduk. Liam menjadi sedikit tidak fokus dengan meeting yang sedang dilakukannya karena matanya sering melirik ke arah Jane yang sedang berbincang dengan temannya itu. Saat Jane maupun Jolee menatap ke arah Liam, dia selalu berusaha untuk mengalihkan pandangannya dan kembali fokus kepada kliennya. Hal itu membuat mereka berdua sesekali tertawa kecil menertawakan tingkah Liam tersebut. Beberapa jam kemudian saat sore hari Liam telah pulang ke rumah dan langsung memeluk tubuh Jane daei belakang saat dia sedang mengenakan anting - antingnya.
"Mmm kamu sudah wangi sekali, pasti baru selesai mandi ya?" tanya Liam sembari menciumi leher Jane.
"Iya hubby," jawab Jane sembari mengenakan antingnya.
"Kamu tadi membicarakan apa saja, kok terlihat sangat asyik sekali heum?"
"Rahasia," ucapnya tersenyum.
"Uhh menyebalkan sekali."
"Hubby, sudah jangan menciumi leherku terus karena aku merasa geli."
Bukannya langsung berhenti namun Liam malah terus menciumi leher Jane.
"Mmm aku sangat menyukainya." Liam langsung membalikkan tubuh Jane.
"Hubby, mandi dulu."
"Tidak mau!!"
"Eh, ayo mandi dulu baru setelah itu kamu bebas melakukan apa saja."
Liam justru semakin menarik tubuh Jane kepelukannya.
"Kamu sangat cantik sekali," ucap Liam mengusap pipi Jane.
"Mandi dulu, aku tidak mau jika kamu tidak mandi terlebih dahulu!"
__ADS_1
"Iya."