
Sesampainya di Apartement Liam langsung melepas jas nya dan tidur karena merasa sangat lelah. Sedangkan si Jane langsung memberi makan Kiko terlebih dahulu baru kemudian dia menghapus make up nya dan mengganti bajunya. Jane berbaring di ranjangnya dan menonton acara televisi kesukaannya. Ketika sore menjelang, Jane memesan makanan dan pergi ke kamar Liam untuk membangunkannya. Jane kemudian duduk di tepi ranjang Liam dan menatap wajah Liam dengan rasa kasihan karena dia teringat oleh cerita salah satu teman Liam tadi saat di acara reuni.
Jane merasa tidak tega membangunkan Liam saat sedang tertidur pulas, akhirnya Jane hanya diam dan melihat isi kamar Liam beserta buku - buku koleksi Liam. Ketika Jane sedang membuka salah satu buku milik Liam, ada sebuah foto yang terjatuh dari buku tersebut dan kemudian di ambil oleh Jane. Jane mengamati foto tersebut dan ada tulisan Natalie di bagian belakang foto tersebut. Ketika Jane sedang sibuk mengamati foto Liam bersama seorang wanita, tiba - tiba handphone Liam berdering dan Jane langsung menghampiri Liam untuk membangunkannya.
Jane kembali duduk di tepi ranjang Liam dan mulai membangunkannya "Chicken bangun ada telepon."
(Matanya masih terpejam dengan suara parau) "kamu aja yang mengangkatnya, aku masih mengantuk."
"Dasar Chicken."
Jane kemudian mengambil handphone Liam yang berada di atas meja samping ranjang Liam.
(On telepon)
"Iya halo tante ada apa?"
"Eh Jane? saya salah nomor ya?"
"Tidak tante ini benar nomornya Liam, dan dia sedang tertidur tante jadi aku yang mengangkat teleponnya. Ada hal penting yang ingin tante bicarakan dengan Liam? biar aku bangunkan."
"Kok Liam bisa tertidur di tempat kamu Jane?"
Panik gak? panik gak? paniklah masa enggak
Seketika Jane merasa panik terhadap pertanyaan dari Mrs. Robinson "ah itu tante tadi Liam mengajak ku pergi ke acara reuni nya dan dia beristirahat di sini, eh tapi ketiduran begitu tante hehe."
"Oh begitu, baiklah. Kalau misalnya Liam berbuat nakal atau macam - macam dengan kamu, pukul aja tidak apa - apa atau kamu bisa bilang ke tante biar Liam tante pukuli nanti."
"Oke tante hahaha. Oh iya, tadi apa yang tante ingin sampaikan kepada Liam?"
"Nanti bilang saja kepada Liam kalau daddy menyuruhnya untuk pulang ke rumah karena dari kemarin dia tidak pulang ke rumah."
"Baik tante, nanti saya sampaikan kepada Liam."
"Terima kasih Jane."
"Sama - sama tante."
Setelah selesai mengangkat telepon, kemudian Jane membangunkan Liam secara paksa. Akhirnya selama benerapa menit Jane berusaha membangunkan nya, Liam terbangun dari tidurnya lalu duduk di atas ranjangnya. Setelah itu Jane menyuruh Liam untuk mandi dan pergi menyusulnya ke ruang makan.
Sembari menyantap makanannya "gara - gara kamu aku tadi hampir saja mati."
"Memangnya kenapa? apa mommy aku bertanya yang aneh - aneh dan mencurigai kita?"
__ADS_1
"Cuma bertanya saja kok kamu bisa tertidur di tempatku dan kamu di suruh pulang oleh daddy kamu karena dari kemarin tidak pulang, udah begitu. Aku harap mommy kamu tidak merasa curiga."
"Oh begitu. Ya mudah - mudahan saja tidak."
"Mmm Chicken tadi saat di acar reuni aku mendengar semua wanita membicarakanmu."
"Sudah kuduga."
"Jadi aku ingin mendengar yang lebih detail dari kamu langsung soal masa lalu kamu sampai kamu menjadi sedikit trauma begini, ya jika kamu berkenan menceritakannya kepadaku."
Liam terdiam sejenak lalu tersenyum kepada Jane "oke aku akan menceritakannya kepadamu, tapi yang aku ingat saja ya?"
"Oke baiklah."
"Jadi sebenarnya dulu saat aku masih kuliah, aku berpacaran dengan Nika sekitar 2 atau 3 tahunan. Tetapi menuju akhir kuliah tiba - tiba aku mendapat kabar dari si Ricko kalau Nika itu selingkuh. Aku marah dong waktu itu, dan aku langsung meminta putus dari dia, tapi setelah putus itu sepertinya Nika belum bisa move on dari aku dan mungkin saja pacarnya yang baru mengetahui tentang aku dan Nika. Nah Pada malam hari aku di serang dan di pukuli oleh pacar dan teman - teman pacarnya. Untung saja ada yang menolongku dan membawaku ke rumah sakit."
"Kok bisa begitu ya? memang kurang ajar orang itu. Eh tapi yang menganiaya kamu itu yang datang bersama Nika di acara reuni tadi?"
"Sepertinya bukan sih karena wajah dan postur tubuhnya berbeda dari yang aku lihat di malam kejadian waktu itu."
"Memangnya kamu tidak melihat dengan jelas seperti apa wajah dan postur tubuh yang melukaimu?"
"Tentu tidak, karena mereka semua memakai penutup wajah dan kejadian itu secara tiba - tiba jadi aku tidak mempunyai waktu untuk melihatnya secara jelas."
"Terus saat itu kamu bagaimana? apa kamu tidak melawan mereka?"
"Oh begitu. Apakah ada yang mereka ucapkan kepadamu saat itu?"
"Aku hanya mendengar gara - gara pria sepertimu, Nika sampai memutuskanku dan memilih mengejarmu kembali. Setelah itu aku pingsan, dan tiba - tiba bangun sudah ada di rumah sakit bersama daddy, mommy, dan Rosie."
"Tetapi bukankah mereka bilang jika kamu mengalami koma setelah itu?"
"Iya sadar, tiba - tiba aku merasakan sakit kepala dan seketika aku bisa melihat tubuhku yang tertidur di ranjang rumah sakit dengan perban dikepala dan kakiku, beserta wajahku yang luka - luka."
"Maksud kamu, roh kamu keluar begitu?"
"Iya, dan aku merasa bingung dan bertanya - tanya, apakah aku sedang membelah diri seperti amoeba atau ini benar rohku yang keluar seperti di dalam komik dan cerita anime."
"Kamu ingat aktivitas apa saja yang kamu lakukan dengan roh kamu?"
"Tidak, tapi waktu aku bangun Rosie bilang jika aku sudah tertidur di ranjang ini selama 3 bulan."
"What? 3 bulan? lama sekali."
"Ini masih mending 3 bulan, ada orang yang katanya koma selama beberapa tahun. Terus setelah itu aku ikut pergi ke Sydney bersama orang tua aku dan memilih untuk tidak mempunyai urusan lagi dengan wanita dan permasalahan yang menyangkut wanita kecuali dengan Rosie."
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu ikut masuk ke dalam urusanku sampai wajah kamu babak belur karena bertengkar dengan Kyle?"
"Itu aku juga tidak tau kenapa bisa begitu, seperti takdir Tuhan yang dengan sengaja mengirimku untuk masuk ke dalam permasalahnmu dengan si Kyle itu. Tapi yang terpenting semoga saja Tuhan tidak menjadikan aku sebagai jodoh kamu."
Jane kemudian memukul kepala Liam "dasar Chicken. Eh tapi ketika aku melihat novel kamu tadi kok ada sebuah foto kamu dan wanita yang jatuh dari novelmu, memangnya dia siapa? kekasihmu?"
"Jangan pukul kepala aku dong, ini bagian yang sakit tau, dan jangan menyentuh barang - barang ku tanpa izin dariku."
"Oh sorry. Cepat sekalian aja ceritakan siapa wanita yang ada di foto itu?"
"Memangnya kenapa? kok sepertinya kamu penasaran sekali dengan wanita itu."
"Ya penasaran aja, sepertinya aku pernah melihatnya."
"Baiklah akan aku ceritakan sekalian. Dia itu Natalie, sahabat aku waktu di Sydney dan dia yang membantu aku sedikit demi sedikit melupakan kejadian itu. Tapi sepertinya dia sudah berada di New York."
"Aku berani bertaruh jika dia sebenarnya menyukaimu lebih dari seorang sahabat benar kan?"
"Sepertinya begitu, dan aku rasa aku mencintainya sebelum kembali ke Indonesia."
"Kalau begitu pergilah ke New York dan ungkapkan rasa cinta kamu dengannya, kalau perlu langsung ajak dia untuk menikah dan tinggal di Indonesia."
"Aku sering berbicara dengannya melalui telepon, tetapi sepertinya dia belum siap atau belum mau tinggal di Indonesia bersamaku."
"Oleh karena itu datangi dia ke New York dan ajaklah kembali untuk tinggal di Indonesia, siapa tau jika kamu datang kesana maka dia menganggapmu serius dengannya. Oh iya kamu harus merubah penampilanmu menjadi lebih keren agar dia tidak malu mempunyai kekasih sepertimu."
"Sepertinya begitu, aku akan pergi minggu depan selama seminggu dan terbang ke New York untuk menghampirinya. Eh kamu bilang apa tadi? tidak keren? aku ini sudah tampan dan keren jadi tidak perlu merubah penampilanku."
"Apa kamu tidak bercermin? lihatlah dirimu, rambut kamu sudah panjang, gaya berpakaian kamu tidak menarik, dan kumis mu itu tidak kamu cukur, aku saja muak melihat wajah dan penampilanmu yang tidak terawat seperti itu."
"Mentang - mentang kamu ini model, terus kamu seenaknya mengkritik soal penampilan dan gaya aku."
"Kamu ini kepala batu sekali sih, ya sudah kalau tidak mau mendengarkan saran aku."
"Sudahlah aku mau pulang sebelum daddy semakin marah kepadaku, dan membuat mommy semakin curiga terhadap kita berdua. Jaga rahasia ya? kalau aku selama ini membiayai kehidupanmu dan soal apartement ini?"
"Iya tenang saja pasti aku akan menjaga rahasia kita, dan terima kasih banyak karena kamu sudah mau menjaga aku dan memenuhi kebutuhan hidup aku."
"Sama - sama. Kalau begitu aku pulang dulu, jaga Kiko juga karena dia sekarang juga menjadi anak aku."
"Iya pasti, hati - hati dijalan."
"Oke."
Setelah itu Liam mengambil jacket dan barang - barangnya lalu pergi pulang ke rumahnya. Sedangkan Jane merasa bingung karena Jane merasa senang jika Liam mulai ingin menikah tetapi di sisi lain hati dia merasa sedikit sakit ketika dengan antusias Liam menceritakan tentang Natalie. Jane merasa jika kebenciannya terhadap Liam mulai berkurang dan mulai merasa nyaman terhadap perlakuan Liam selama ini. Jane terus bertanya - tanya tentang apa yang dirasakannya akhir - akhir ini kepada Liam. Jane ingin mencegah Liam pergi ke New York tetapi sadar jika dia bukan siapa - siapa melainkan hanya seorang musuh bagi Liam. Mungkin Liam akan bahagia jika dia bisa bersama dengan Natalie, fikirnya.
__ADS_1
Note : Jangan lupa like, komen, dan jadikan favorite ☺