
Liam lalu menggigit leher Jane hingga menimbulkan bekas bewarna ungu kebiruan dan terus menjelajahi setiap inchi tubuh Jane. Sebenarnya Liam melakukan hal tersebut karena melampiaskan rasa kesalnya kepada Jane selama beberapa hari ini saat dia memgetahui bahwa ada seseorang yang sedang mendekati Jane dan ingin mengusik kehidupan rumah tangganya itu. Liam mengetahuinya sejak mereka berdua liburan honeymoon ke Swiss, dan semenjak itu gelagat Jane semakin aneh. Entah hanya perasaannya saja ataukah memang sebenarnya ada hal lain namun Liam tetap saja harus waspada agar rumah tangganya bisa terhindar dari orang ketiga. Begitu selesai Liam langsung mencium kening Jane dan berbaring di sampingnya sembari mengatur nafasnya. Jane lalu menarik selimutnya untuk menyelimuti Liam dan mengusap keringat Liam dengan menggunakan tissue. Jane duduk bersandar di headboard ranjangnya untuk minum sembari memikirkan kejadian yang baru saja terjadi dan tubuhnya terasa lelah sekali.
Jane mengusap pipi Liam yang sedang tertidur sembari menciumnya, lalu setelah itu dia ikut tertidur dengan memeluk Liam. Keesokan harinya Jane yang baru saja bangun tidur, dia langsung pergi untuk mandi. Selesai mandi Jane kemudian membangunkan Liam yang masih tertidur nyenyak, dan suara lembut memanggil namanya itu masuk ke dalam telinga Liam yang membuatnya langsung terbangun. Setelah itu Jane membantu Liam bersiap sebelum suaminya itu pergi ke kantor seperti layaknya kegiatan seorang istri pada umumnya. Liam lalu berpamitan kepada istrinya dan mencium keningnya sesaat sebelum dia pergi ke kantor, dan Jane melemparkan senyuman manisnya saat suaminya itu hendak pergi ke kantor. Karena Jane belum ada jadwal photoshoot, jadinya Jane hanya dirumah saja sembari mengistirahatkan tubuhnya setelah semalaman digempur oleh Liam, suaminya. Saat sore hari pukul 3 tiba - tiba saja ada yang mengetuk pintu rumahnya, mendengar ketukan pintu tersebut Jane langsung menghampirinya untuk melihat siapa yang datang bertamu.
"Ya?" tanya Jane saat membuka pintunya.
"Maaf nyonya, dia bersikeras menerobos masuk untuk bertemu dengan tuan," ucap Pak Kang menjelaskan.
"Ada perlu apa ya dengan suami saya?" tanya Jane sembari memperhatikan orang tersebut.
Dia seorang wanita yang memiliki umur kisaran 26 tahun an, sama seperti Liam. Gayanya sangat fashionable sekali seperti seorang yang bekerja dalam industri film (mungkin) dan sepertinya Jane pernah melihat wanita itu namun Jane tidak ingat dimana dia pernah melihat wanita tersebut.
"Suami?" tanya wanita tersebut.
"Iya, Liam itu suami saya dan ada perlu apa anda mencari suami saya?"
"Aku Nat, kekasih Liam."
Setelah wanita tersebut menyebut namanya, Jane baru teringat jika dia pernah melihat wanita tersebut di galeri handphone Liam. Tepatnya di sebuah galeri handphone milik Liam yang letak file nya tersembunyi, dan pernyataan wanita tersebut membuat Jane merasa terkejut bagaikan petir yang menyambar di siang hari. Seseorang yang selalu Jane takuti akhirnya datang juga ke rumahnya dan bahkan sekarang dia sedang berhadapan dengannya.
"Baiklah mari masuk dulu," ucap Jane berusaha tenang.
Nat lalu berjalan mengikuti Jane sembari menarik koper miliknya "wah wah rumah Liam sangat bagus dan mewah sekali, seperti sebuah villa miliknya yang berada di tepi pantai Aussie."
Dalam hati Jane merasa sangat kesal sekali setelah mendengar pernyataan dari Nat tersebut, dan dia lalu duduk di sofa "silahkan duduk!"
__ADS_1
"Terima kasih."
"Bi Melati, tolong buatkan minum untuknya ya?"
"Baik nyonya," ucapnya sembari mengangguk lalu pergi ke dapur.
"Jadi, apa yang membuatmu datang kemari?" tanya Jane kembali.
"Itu masalah pribadi antara aku dengannya," ucap Nat ketus.
Jane mengusap matanya "Liam sekarang sudah menjadi suamiku otomatis urusan pribadinya itu juga menjadi urusanku juga sebagai istrinya."
"Istri? yakin dia menikahimu karena cinta? cih dasar wanita ini."
"Tentu saja dia mencintaiku, kalau tidak mengapa dia harus sampai rela datang ke Korea Selatan hanya untuk melamarku?" balasnya dengan rasa percaya diri.
Mental Jane sudah mulai sedikit menciut namun Jane harus bersikap tenang menghadapi wanita seperti Nat. Dia lalu mulai membalas ucapan Nat "kalau mommy nya sangat menginginkan aku untuk menjadi menantunya, berarti bukankah mommy nya ingin yang terbaik untuk putra kesayangannya itu? yah sudah jelas kan aku lebih baik dari kamu dimata mommy nya Liam?"
Nat semakin geram dengan ucapan Jane "walaupun begitu aku yang lebih mengerti Liam dengan sangat baik dibandingkan kamu, karena aku sudah lama mengenalnya hahaha."
Jane lalu mengambil handphone yang berada di atas meja dan menghubungi Liam "hubby, sedang sibuk tidak?"
"Lumayan, memangnya kenapa sayang?" tanya Liam melalui telepon.
"Ya sudah kalau begitu, tidak kenapa - kenapa kok."
__ADS_1
"Ya." Liam lalu menutup teleponnya.
Setelah menutup telepon dari istrinya itu, Liam kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun disisi lain perasaan Liam menjadi tidak tenang karena tidak biasanya istrinya itu menghubunginya saat sedang bekerja hanya untuk menanyakan hal seperti itu. Karena merasa sangat mengganjal, Liam kemudian memberesi barang - barangnya dan pergi ke ruangan Mr Robinson untuk izin pulang. Sesampainya dirumah, Liam merasa terkejut saat melihat Nat yang sekarang sudah duduk berbincang dengan istrinya. Untung saja istrinya dan Nat tidak menyuguhinya dengan pemandangan saling jambak - menjambak satu sama lainnya saat pulang kerja.
"Eh hubby, sudah pulang?" tanya Jane.
Liam duduk di samping Jane "iya sayang, habisnya kamu membuatku kepikiran terus maka dari itu aku memutuskan untuk pulang."
"Liam!! aku ini kamu anggap sebagai apa? kenapa kamu tidak menikahiku dan justru malah menikahi dia?"
Liam menghela nafasnya "aku sangat mencintainya, dan aku hanya mengganggapmu sebagai sahabat dekatku saja."
Nat mulai menangis "lalu bagaimana dengan hubungan kita berdua waktu itu? saat kamu sampai rela datang ke New York dan menemui orang tuaku?"
"Apa salah jika aku menemui orang tuamu hanya untuk memperkenalkan diri sebagai sahabat dekatmu? sejujurnya waktu aku menemuimu di New York itu aku sudah mulai mencintai Jane, dan sudah berencana untuk melamarnya. Namun karena Jane belum siap, jadi aku memutuskan untuk menundanya sampai Jane siap menerima lamaranku."
Nat lalu menghampiri Liam dan mencengkram kerah kemeja Liam "kamu sadar tidak, apa yang kamu lakukan ini sangat jahat!! tanpa sadar kamu sudah membuatku terus berharap kepadamu Liam, semua perhatianmu dan kebaikanmu itu telah membuatku merasa jika aku orang yang special untukmu namun ternyata semuanya salah," teriak Nat.
Jane memegang tangan Nat "lepaskan tanganmu dari kerah baju suamiku!!"
Liam tertunduk karena merasa bersalah "maafkan aku dan aku mengaku jika aku salah, seharusnya aku bisa lebih terus terang kepadamu agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti ini lagi."
"Dasar pria brengsek!!" teriak Nat.
"Berani - beraninya kamu mengatai suamiku seperti itu!!"
__ADS_1
"Jane sudah," ucap Liam menenangkan Jane.