
Mereka terus berbincang satu sama lain dan setelah itu mereka berdua kembali ke kantor karena jam makan siang sudah hampir habis, lagipula masih ada banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Sesampainya di kantor Liam langsung duduk di kursinya dan mengetik mengenai beberapa hal serta mempelajari beberapa berkas dokumen yang belum sempat dia sentuh sama sekali. Liam kemudian memanggil Yunna untuk masuk ke dalam ruangannya, dan dengan cepat Yunan langsung masuk ke dalam ruangan Liam untuk membantu Liam menjelaskan beberapa hal yang menurutnya sangat sulit dipahami karena susunan katanya yang terlalu belibet. Liam kemudian meminta Yunna untuk memperbaikinya dan tiba - tiba saja telepon di ruangannya berdering.
Dengan cepat Liam langsung mengangkatnya dan ternyata dia diminta untuk menghadap Mr Robinson di ruangannya. Liam lalu meninggalkan Yunna di ruangannya sendirian dan pergi ke ruangan Mr Robinson. Yunna lalu meraih sebuah figura foto yang berada di atas meja kerja Liam. Ternyata itu adalah foto Liam bersama dengan Jane saat mereka berdua sedang berlibur di negara Swiss. Yunna memandangi foto tersebut dan merasa senang karena Liam sudah bahagia bersama wanita lain, bukan hanya terus terpaku kepada dirinya sendiri. Dahulu Yunna menolak Liam karena kasta mereka berdua yang berbeda jauh, selain itu karena Liam telah lebih dulu dekat dengan Jane dan dijodohkan oleh kedua orang tua mereka sehingga Yunna hanya bisa mengikhlaskan Liam untuk Jane.
Andai saja dulu Yunna lebih berani pasti sekarang foto yang dipajang di meja kerja Liam pasti foto Liam dan juga dirinya. Disisi lain Liam lalu duduk di sofa begitu dia sampai di ruangan Mr Robinson, dan kemudian mendengarkan semua penjelasan yang Mr Robinson sampaikan kepadanya. Sekitar 30 menit kemudian Liam telah keluar dari ruangan Mr Robinson dan berjalan kembali ke ruangannya. Liam melanjutkan pekerjaannya dengan dibantu oleh Yunna, dan mereka berdua mengerjakannya sembari sesekali berbincang mengenai beberapa hal. Beberapa jam kemudian sudah waktunya jam pulang kantor, Liam lalu bergegas untuk pulang karena dia sudah merasa rindu sekali dengan Jane.
"Sayang aku pulang!" teriak Liam sembari menenteng tas kerjanya.
"Iya hubby selamat datang, aku sudah membuatkan kamu teh hangat untuk melepas rasa lelahmu."
Liam kemudian memeluk Jane dengan sangat erat.
"Mmmhh aku sangat merindukanmu, my baby girl."
"Aku juga hubby."
"Eh baby Ace kemana?" tanya Liam sembari melihat sekeliling rumahnya.
"Baby Ace sedang di atas, tadi setelah mandi dan aku beri susu eh dia malah kembali tidur."
"Oh begitu, padahal aku sangat merindukannya juga."
"Mungkin jam 6 sore dia sudah bangun."
"Bagaimana kamu bisa mengetahuimya?" tanya Liam merasa terheran.
"Dia selalu seperti itu hubby."
"Oh begitu."
Jane lalu merebut tas Liam dan menggandeng Liam menuju ke sofa. Setelah itu Jane meletakkan tas Liam ke dalam kamarnya sembari melihat sebentar baby Ace yang tengah tertidur. Tidak lama kemudian Jane kembali ke ruang tengah untuk menemani Liam meminum teh buatannya.
"Ah sangat nikmat sekali," ucap Liam setelah menyeruput teh tersebut.
"Sini aku pijat bahumu, hubby."
"Eh tidak perlu sayang, bukankah seharusnya aku yang memijat bahumu karena kamu lebih lelah dariku?"
"Tidak hubby, justru aku yang harusnya memijat bahumu karena kamu telah bekerja keras mencari uang untuk mencukupi kebutuhan kami berdua."
"Tidak juga."
Jane kemudian menarik bahu Liam.
__ADS_1
"Ssttt sudah sini aku pijat bahumu."
"Ya sudah."
Jane kemudian memijat bahu Liam secara perlahan sembari berbincang ringan dengannya.
"Mmm kenapa kamu menolak saat aku ingin menciummu?" tanya Liam.
"Kamu habis makan tongseng kambing, otomatis mulutmu pasti bau kambing."
Liam langsung tertawa mendengar pernyataan Jane.
"Tidak sayang, aku tadi sudah sikat gigi begitu sampai di kantor."
"Oh begitu."
"Sini dicoba terlebih dahulu jika kamu tidak percaya denganku."
"Dih memangnya aku wanita apaan kok dicoba - coba," ucap Jane sinis.
Liam membalikkan tubuhnya dan langsung mencium bibir Jane. Semakin lama Jane justru menikmati ciuman tersebut dan setelah itu Jane mengalungkan kedua tangannya ke leher Liam sembari sesekali mengusap rambutnya. Setelah itu Liam melepaskan ciumannya dan kembali meminum teh buatan istrinya itu.
"Apa kubilang, aku tidak berbohong bukan?"
"Sini peluk lagi," ucap Liam sembari merentangkan tangannya.
Dengan cepat Jane langsung memeluk Liam.
"Hubby kenapa suka memakan tongseng dan sate kambing?"
"Karena rasanya enak, apalagi jika tongsengnya banyak kubisnya wuihh semakin mantap."
"Jangan banyak - banyak makannya, awas kolesterol!" ucap Jane memperingatkan Liam.
"Iya sayang, aku juga tahu kok."
Setelah itu Liam pergi mandi sore, dan beberapa jam kemudian dia sedang berada di kamar baby Ace untuk bermain dengannya. Kebetulan baby Ace juga sudah bangun tidur sejak tadi, jadi Liam lebih semangat untuk mengajak baby Ace bermain. Jane lalu kembali memberi baby Ace susu serta menidurkannya saat dia sudah mulai menguap. Liam duduk di samping Jane dan menunggu Jane selesai menidurkan baby Ace sembari memainkan handphone miliknya. Setelah ditidurkan di ranjang bayi, mereka berdua lalu pergi ke kamar untuk tidur. Namun karena Liam masih belum mengantuk, dia lalu memilih untuk membaca bukunya sembari bersandar di headboard ranjangnya.
"Memangnya hubby tidak lelah?" tanya Jane bersandar di bahu Liam.
"Lelah kenapa sayang?" tanya Liam masih fokus membaca bukunya.
"Hubby sudah bekerja seharian namun saat malam hari bukannya untuk tidur malah memilih untuk membaca buku."
__ADS_1
"Aku sangat suka membaca buku apalagi buku tersebut isinya sangat menarik bagiku, pasti aku akan langsung membacanya seharian jika memiliki waktu senggang."
"Kalau begitu bisa berapa lembar sehari?" tanya Jane penasaran.
"Kadang 50 lembar sehari bahkan bisa lebih."
Sontak Jane merasa terkejut dengan jawaban Liam.
"Pantas saja mata kamu itu minus, karena seharian menatap layar komputer dan malam harinya membaca buku jadi matamu itu sangat lelah hingga tidak kuat lagi mengikuti ambismu yang ekstrem."
Liam tertawa.
"Aku tidak ambis namun aku menjadikan membaca buku dan bekerja sebagai salah satu hobiku."
"Aneh sekali," ucap Jane mencibir Liam.
Liam lalu menutup bukunya dan meletakannya di meja samping ranjangnya.
"Jika sudah seperti ini pasti kamu sedang ingin dimanja bukan?" tanya Liam berusaha menebak.
"Ya begitulah," ucap Jane memanyunkan bibirnya.
"Jangan seperti itu bibirnya, nanti aku akan menciummu jika kamu seperti itu."
Jane malah semakin memanyunkan bibirnya, dan kemudian Liam membawa Jane ke pangkuannya. Liam lalu mencium bibir Jane sekilas.
"Kenapa sekarang kamu sangat menempel sekali kepadaku heum?"
"Sejujurnya karena aku suka wangi tubuhmu, jadi itu membuatku ingin menempel terus kepadamu."
"Katanya dulu kamu ingin muntah saat melihat wajahmu yang tampan ini, tapi sekarang malah seperti ini."
"Tampan? hueekk najis, pede sekali anda."
"Oh ya sudah, turun dari pangkuanku."
"Aku hanya bercanda hubby."
Liam lalu menempelkan hidungnya yg mancung ke hidung Jane dan setelah itu kembali mencium bibir Jane.
"Kamu ini sangat menggemaskan sekali."
"Hehe."
__ADS_1