
Sejujurnya Liam sangat rindu dengan masakan Jane namun Liam tidak ingin jika Jane sampai kelelahan, jadinya sekarang yang mengerjakan tugas rumah tangga termasuk memasak adalah bibi atau dirinya saat sedang libur kerja. Liam juga berfikir jika tumben sekali Jane mau nurut kepadanya, biasanya dia selalu saja keras kepala dan tidak mau menuruti setiap yang dia ucapkan. Sebenarnya mereka berdua pasangan paling keras kepala di dunia karena dua- duanya merupakan seseorang yang sangat keras kepala serta sedikit pembangkan, dan mudah - mudahan saja anak mereka berdua tidak keras kepala seperti kedua orang tuanya. Setelah makan siang Liam lalu mengajak Jane untuk pergi ke kediaman Mr Kim karena Liam ada janjian ingin bermain PS bersama Josh. Jane langsung mengiyakan ajakan suaminya itu tanpa memikirkan serta mengetahui maksud terselubung suaminya.
Liam mengendarai mobil miliknya menuju ke kediaman Mr Kim dan sesampainya di sana Liam langsung bergegas menuju ke kamar Josh. Ternyata disana sudah ada teman - temannya yang sedang bermain game bersama namun tanpa Ricko. Saat ini Liam hanya bisa melihat mereka bermain game karena dia harus menunggu mereka menyelesaikan permainannya terlebih dahulu, baru setelah itu dia bisa ikut bermain bersama mereka. Eh namun tiba - tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar Josh, dan saat dibuka ternyata Ricko yang datang terlambat karena harus mengantar istrinya pergi ke supermarket terlebih dahulu. Sekarang istrinya sedang berada di ruang tengah rumah Josh bersama Jane dan kedua orang tua Jane. Mr dan Mrs Kim sesekali bermain - main bersama Ibra, anaknya Ricko sehingga Ricko bisa menghabiskan waktu bersama teman - temannya bermain game.
"Jadi sekarang kamu membawa anak dan istrimu juga kemari?" tanya Josh sembari memainkan game di handphone miliknya.
"Tentu saja," jawab Ricko.
"Oh aku fikir kamu tadi mengantarnya ke rumah kakek dan neneknya karena biasanya setiap hari Minggu selalu begitu."
"Tidak juga, terkadang kami berdua juga pergi berekreasi dan sekarang aku mengajak mereka berdua kemari karena Jane yang mengajak Gita ke rumahnya."
"Oh begitu."
"Li, kapan anakmu itu lahir? katanya ingin di adu dengan anak Ricko?" tanya Dio.
"Sabarlah bego, yakali kelahiran seseorang bisa dipercepat dan diperlambat."
"Dasar Dio fikirannya diluar nalar hahaha," ucap Chicko mengejek Dio.
"Tetapi kenapa waktu itu ada artis yang lahirnya bisa disesuaikan dengan tanggal cantik ya?" tanya Dio penasaran.
"Bisa saja mereka operasi caesar."
"Benar kata Ricko, tetapi bukankah itu ada juga yang bisa berpotensi membahayakan janin jika dilahirkan secara paksa?"
"Entahlah aku juga tidak tahu sih mungkin saja itu sudah siap untuk dilahirkan," ucap Liam bingung.
"Haiss kenapa kalian malah jadi membahas hal seperti ini?" tanya Chicko bingung.
"Iya juga ya, aneh sekali hahaha."
"Lebih baik kita melanjutkan permainan saja."
"Aku setuju dengan ucapan Chicko."
Mereka berlima langsung melanjutkan permainan.
"Anakmu sudah bisa berlari belum?" tanya Liam
"Belum bego, anakku itu baru lahir sekitar semingguan masa sudah bisa berlari."
__ADS_1
"Ya siapa tahu kamu langsung mengajarinya berlari karena kamu ingin jika anakmu nanti bisa jadi pesepakbola yang handal seperti Messi ataupun Ronaldo."
Ricko merasa geram dengan Liam.
"Ya tapi bukan seperti itulah caranya hih."
Liam justru tertawa.
"Iya sih hahaha."
"Kamu jadinya mau memakai apa Li?" tanya Dio.
"Aku memakai hero penjaga seperti biasanya."
"Ya sudah, kalau begitu aku tidak jadi memakainya."
"Kenapa kamu tidak memakai armor darah saja Li? padahal kamu lebih keren memakai hero tersebut karena satu - satunya harapan team kita," ucap Chicko menyela pembicaraan mereka.
"Iya nih benar juga, cepat kamu memakai hero itu saja!!"
"Haiss kenapa kalian memaksaku?"
"Karena hero tersebut bisa menyembuhkan dirinya sendiri."
"Nah begitu dong," ucap mereka serempak.
Mereka semua lalu memainkan permainan tersebut dan bersaing dengan sangat sengit untuk mendapatkan jumlah kill masing - masing di setiap team. Awalnya Liam hanya santai saja karena teamnya sudah memenangkan babak pertama walaupun tadi pertandingannya lumayan sengit karena team lawan sudah berhasil menancapkan inti bintang. Untung saja ada Liam yang bisa menyelinap masuk ke dalam base untuk mencabut inti bintang tersebut dan dilindungi oleh rekan - rekannya yang masih hidup.
Babak kedua telah dimulai dan Liam masih saja bermain dengan santai namun teman - temannya hanya bisa diam karena mereka tahu bahwa Liam sedang mengamati permainan serta pergerakan dari team lawan. Dugaan mereka memang benar, ternyata mereka telah memenangkan babak kedua karena Liam bisa menyelinap dari belakang lawan. Saat lawan sibuk bertarung dengan anggota teamnya, disaat itulah Liam menghabisinya dari belakang. Liam memang sangat licik serta mampu mengetahui tempat favorite lawan untuk bersembunyi. Namun sayang saat babak ketiga lawan berhasil mengalahkan mereka karena Liam mati terlebih dahulu, dan sepertinya lawan telah mengetahui hal tersebut jadi mereka selalu membuntuti Liam.
"Ah sialan kita kalah 2 babak dan sekarang sudah seri," ucap Dio kesal.
"Sorry mereka tiba - tiba selalu mengincar diriku," ucap Liam menggaruk rambutnya.
"Sepertinya Liam harus ditemani oleh 2 orang agar Liam tidak mati terlebih dahulu," ucap Ricko menyarankan.
"Lebih baik kamu dan Chicko saja yang menemani Liam," ucap Dio menyarankan juga.
"Benar tuh, duet Liam dengan Ricko memang keren."
"Iyalah kan chemistery nya sudah terpampang nyata hahaha," ucap Liam penuh percaya diri.
__ADS_1
"Hahaha semua orang juga sepertinya tahu jika aku dan Liam seperti orang pacaran."
"Benar aku fikir kalian berdua akan menikah, eh ternyata malah menikah dengan orang lain."
Mereka semua langsung tertawa. Disisi lain Jane sedang berbincang bersama Gita dan juga kedua orang tuanya.
"Kenapa mereka semua betah sekali ada di kamar ya?" tanya Mr Kim penasaran.
"Mereka semua kalau sudah bermain game pasti akan betah dikamar walaupun kamarnya roboh om," ucap Gita bercanda.
Mereka tertawa mendengar ucapan Gita.
"Benar yang dikatakan oleh Gita, appa. Mereka semua kalau sudah bermain game pasti tahan lapar dan haus, tetapi tidak bisa menahan ucapan mereka."
"Benar, selalu saja berteriak serta bertingkah aneh maka dari itu aku kan sudah pernah bilang jika lebih baik Josh diselamatkan saja daripada menjadi seperti mereka."
"Hahaha tidak apa - apa, oppa berkata lebih senang bermain bersama mereka."
"Nanti Josh akan bertingkah aneh seperti mereka berempat."
"Biarkanlah saja hahaha."
Tidak lama kemudian Ricko datang menghampiri Gita.
"Ululuh papa kangen denganmu Ibra."
"Hmmm aku fikir kamu sudah lupa jika mempunyai seorang anak."
"Hahaha mana mungkin aku lupa."
"Yang satu sudah keluar, pasti yang lain juga akan keluar juga."
"Benar Jane, sebentar lagi pasti akan...."
Belum selesai berbicara tiba - tiba saja Liam keluar dari kamar dan menghampiri Jane.
"Hehe Jane."
"Nah kan nih contohnya," ucap Gita.
"Kenapa cengar cengir begitu?" tanya Jane.
__ADS_1
"Tidak apa - apa."