
Jane kemudian mulai memakan satu potong martabak manis yang dibawakan oleh Liam tadi, sedangkan Liam kembali meminum jus alpukat buatan Jane sembari bermain game online bersama dengan teman - temannya. Dio dan Chicko sudah datang ke rumah Josh, sekarang mereka mulai bermain game online bersama sembari memakan martabak. Saat Dio bertanya kepada Josh tentang keberadaan Liam sekarang, Josh hanya menjawab jika Liam sedang ada urusan di atas. Sebenarnya Josh ingin menjawab yang sejujurnya namun Ricko sudah memberi isyarat kepada Josh untuk tidak mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Ricko sangat paham jika Liam belum ingin mengungkapkan kepada Dio dan Chicko jika dia sedang ingin mendekati Jane, adiknya Josh apalagi itu juga belum pasti apakah Jane tiba - tiba berubah pikiran untuk menerimanya atau tidak. Ricko juga tau jika Liam masih sedikit trauma tentang kejadiannya di masa lalu, jadi sebenarnya walaupun Liam tidak memintanya untuk merahasiakan rencananya Ricko pasti tetap merahasiakannya. Hati Liam sangat sulit ditebak dan terkadang apa yang dia bicarakan bisa sangat berbeda dari kenyataannya hingga membutuhkan kepekaan yang sangat tinggi untuk benar - benar bisa memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh Liam. Sebagai contohnya Liam sering kali berkata bahwa dia baik - baik saja namun sebenarnya kondisi dia sedang tidak baik - baik saja. Liam sangat pandai menyembunyikan apa yang dia rasakan, dia bisa bersikap baik di depan semua orang namun sebenarnya di dalam hati dan fikirannya sedang tidak baik - baik saja. Ricko juga takut jika hal yang dulu menimpa Liam akan terulang kembali, jadi Ricko memilih untuk diam seperti tidak tau apa yang sebenarnya terjadi demi melindungi Liam. Jafi Ricko selalu mengalihkan pembicaraan atau mengganti topik pembicaraan saat Dio dan Chiko terus menanyakan keberadaan Liam yang sebenarnya. Josh juga turut membantu Ricko untuk melakukan hal tersebut karena berulang kali Ricko memberi isyarat kepada Josh agar dia membantunya.
Di sisi lain Liam yang sudah mulai merasa pegal kemudian dia berbaring di atas ranjang milik Jane dengan meletakkan kepalanya di pangkuan Jane sebagai bantal. Jane hanya diam memperhatikan Liam bermain game bersama dengan teman - temannya sembari memainkan rambut Liam. Jane yang mulai merasa bosan lalu memutuskan untuk menghidupkan televisi dan menonton acara kesukaannya sembari terus memainkan rambut Liam yang sudah mulai memanjang kembali. Jane kemudian memindahkan kepala Liam ke atas bantal karena dia ingin pergi turun kebawah untuk mengambil air minum, sedangkan Liam masih sibuk dan fokus bermain game online bersama dengan teman - temannya. Setelah kembali ke kamarnya Jane lalu menggelengkan kepalanya saat mengetahui jika mata Liam masih tertuju kepada layar handphone miliknya karena bermain game online. Jane lalu meletakkan segelas air minum di atas meja dan kembali duduk di samping Liam sembari memainkan rambutnya kembali. Liam kemudian memindahkan kepalanya di pangkuan Jane dengan mata yang masih tertuju kepada layar handphone miliknya itu. Melihat hal tersebut Jane mulai terfikirkan sebuah ide untuk mengerjai Liam. Dia lalu menutup mata Liam yang tengah fokus bermain game online itu agar Liam bisa berhenti bermain untuk sejenak dan mengistirahatkan matanya yang mulai terlihat lelah.
"Apa yang kamu lakukan Kitten?" tanya Liam dengan matanya yang masih ditutup menggunakan tangan Jane.
"Berhentilah sejenak! matamu sudah terlihat sangat lelah agar matamu tidak rabun."
"Mataku sudah rabun."
"Benarkah? tetapi aku tidak pernah melihatmu memakai kacamata."
"Kamu pernah melihatku memakainya saat berada di kantor waktu itu, apa kamu lupa?"
"Kurasa iya, sekarang katakan kepadaku kamu rabun berapa?"
"Kurasa satu, aku sudah lama tidak memeriksanya ke dokter karena aku selalu sibuk."
Jane menghela nafasnya "besok periksalah ke dokter mata dan jangan sering bermain game atau memainkan handphone kamu sembari berbaring tiduran," ucap Jane sembari masih menutup mata Liam.
"Baiklah aku akan ke dokter lain kali jika aku sedang tidak sibuk."
"Hei jangan seperti itu, pokoknya besok kamu harus pergi ke dokter mata atau aku sendiri yang akan menyeretmu ke dokter mata seperti aku menyeretmu ke salon waktu itu."
"Kenapa kamu akhir - akhir ini menjadi sangat peduli kepadaku?"
"Karena kamu sekarang menjadi sahabatku Chicken, jadi otomatis aku akan sangat peduli kepadamu apalagi tentang kesehatanmu."
"Sekali lagi kamu membohongiku."
__ADS_1
"Aku tidak membohongimu Liam, kapan aku membohongimu?"
"Kamu sering membohongiku tentang bagaimana sebenarnya perasaanmu kepadaku."
Jane kemudian mencium pipi Liam saat tangannya masih menutup mata Liam "sudah jangan membahasnya lagi, dan makanlah martabak yang ada di atas meja itu!"
"Apa tadi kamu mencium pipiku?"
Kemudian Jane melepaskan tangannya yang menutup mata Liam "tidak."
"Kamu membohongiku lagi."
Jane terus menyangkalnya "sudah aku katakan kepadamu jika aku tidak membohongimu Liam, bagaimana kamu bisa mengira jika aku mencium pipimu tadi?"
"Rasanya sama seperti waktu pertama kali kamu mencium pipiku waktu itu, lagipula aku juga bisa merasakan rambutmu yang menyentuh wajahku meski kamu menutup mataku."
"Mungkin hanya perasaanmu saja."
Jane tertawa karena merasa geli "baiklah aku mengakuinya, sekarang lepaskan aku!"
"Baiklah aku akan kebawah menemui teman - temanku dan tidurlah."
"Selamat malam Liam."
"Selamat malam dan semoga mimpi indah."
Liam lalu turun dari ranjang Jane, namun saat hendak pergi Liam kemudian kembali menghampiri Jane yang bersiap ingin tidur. Liam kembali ke mode manjanya dan ingin terus bersama dengan Jane. Liam memeluk Jane dari samping dengan sangat erat seperti tidak ingin berpisah darinya. Liam terus memeluk Jane seperti anak koala yang tidak ingin lepas dari induknya hingga membuat Jane tertawa melihat tingkah Liam yang sangat manja saat bersama denganya. Jane lalu melepas pelukan Liam dan memintanya untuk turun ke bawah menemui teman - temannya karena Jane juga sudah mengantuk dan ingin segera tidur. Liam kemudian menuruti perintah Jane dan turun ke bawah dengan membawa sisa martabak dan gelas bekas jus alpukatnya.
"Itu Liam dari atas," ucap Josh yang melihat kehadiran Liam di ruang tengah.
__ADS_1
"Udah Li?" tanya Ricko.
"Udah kok, lagipula dia juga sudah mengantuk ingin segera tidur."
"Liam ada urusan apa di atas dan dengan siapa?" tanya Dio merasa penasaran.
Liam lalu duduk di samping Ricko "urusan bisnis."
Chicko menatap Liam dengan tajam "bisnis apa bisnis nih Li?"
"Sukanya ingin tau saja urusan orang," jawab Liam ketus.
"Eh Josh katanya kamu mempunyai adik perempuan, lalu mana adikmu? siapa tau aku bisa berjodoh dengannya."
Liam yang sedang minum seketika tersedak dan menyemburkan minumannya itu "kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Liam merasa kesal.
Dio merasa heran dengan tingkah Liam "aku kan hanya bercanda saja, kenapa dibawa serius?"
Josh kemudian berusaha melerai mereka berdua "sudah jangan berdebat. Adikku sedang berada di Korea."
Dio mengangguk paham "oh begitu."
Liam kemudian berdiri "aku ingin pulang karena tiba - tiba suasana hatiku sedang buruk, kita lanjutkan lain kali saja." Liam kemudian pergi meninggalkan rumah Josh hingga membuat teman - temannya merasa keheranan.
"Gara - gara kamu sih Dio."
"Tidak biasanya Liam seperti itu."
"Mungkin Liam sedang lelah," ucap Ricko.
__ADS_1
"Ya tapi," ucapan Dio terpotong.
Josh lalu menepuk bahu Dio "sudah, mari kita lanjutkan saja."