
Liam kemudian memeluk tubuh mungil Jane tersebut serta mencium pipi chubby nya. Saat memeluk Jane, Liam merasa terheran mengapa dia bisa - bisanya sampai terpengaruh dengan orang lain dan menjadi tidak percaya kepada istrinya. Mungkin Liam bisa langsung percaya kepada Nat karena Liam sudah lama dekat dengannya, sehingga membuat Liam menelan mentah - mentah ucapan Nat tanpa memastikannya terlebih dahulu meskipun itu benar atau salah. Jane lalu melepaskan pelukan Liam dan meminta Liam untuk mandi, sedangkan dia akan pergi ke dapur untuk membuatkan Liam minuman. Jane melepas blazer yang tadi dia pakai dan meletakkan tas di atas meja, lalu setelah itu dia menguncir rambutnya karena merasa gerah. Jane tidak menyadari jika masih ada bekas hickey di lehernya walaupun masih samar - samar. Jane kemudian melangkahkan kakinya menuruni tangga dan saat sampai di ruang tengah, dia kemudian berhenti sebentar dan memicingkan mata kucingnya menatap Nat dengan sangat sinis.
Jane semakin kesal kepada Nat karena hampir saja dia berhasil menghasut Liam sehingga membuat suaminya itu salah paham dengannya, dan untung saja disetiap sudut rumah telah di pasang CCTV sehingga Jane dengan mudah memperlihatkan bukti bahwa semua perkataan Nat itu salah. Jane kembali melangkahkan kakinya menuju ke dapur dan menemui bibi yang sedang beberes dapur serta mengisi kulkas dengan bahan - bahan makanan. Jane mengambil segelas air putih dari dalam kulkas dan duduk di kursi sebentar untuk meminumnya. Setelah itu baru Jane membuatkan Liam secangkir coklat hangat, dan meminta Pak Kang untuk memindahkan tas belanjaan yang tersisa ke kamarnya karena itu merupakan barang - barang pribadinya serta milik suaminya. Jane yang membawa secangkir cokelat hangat lalu berjalan bersama Pak Kang menuju ke kamar utama. Pak Kang lalu meletakkan semua tas belanja itu di atas sofa kamar utama dan bergegas keluar dari kamar tersebut karena takut akan mengganggu jika dia berlama - lama di kamar tersebut. Saat Liam keluar dari kamar mandi, Jane lalu meletakkan cokelat hangat itu di atas meja samping sofa.
"Silahkan diminum hubby," ucapnya sembari tersenyum manis.
Liam mengusap rambut Jane "thank you baby girl."
"Iya, kalau begitu aku tinggal mandi sebentar."
"Okay." Liam kemudian menyeruput cokelat hangat tersebut sembari memperhatikan beberapa tas belanjaan yang tadi Jane beli.
"Hubby!!" teriak Jane dari dalam kamar mandi.
"Iya sebentar," ucap Liam sembari berjalan menghampiri kamar mandi.
"Hubby tolong ambilkan handukku yang tertinggal," ucap Jane manja.
Liam berdecak "ck kebiasaan."
"Hehe tolong ya?"
"Iya sayang."
Liam lalu pergi mengambil handuk dan memberikannya kepada Jane, setelah itu dia kembali duduk di sofa untuk meminum cokelat hangat buatan istri terkasihnya. Liam juga memainkan handphone miliknya untuk menonton vidio lucu di instamili. Tidak lama kemudian Jane yang telah selesai mandi lalu menghampiri meja riasnya untuk berdandan tipis - tipis saja dan menyisir rambutnya agar terlihat rapi. Terlihat bahwa resleting dress yang dipakai oleh istrinya itu belum sepenuhnya naik, dan sedari tadi istrinya juga berusaha untuk meraih resleting dress miliknya namun selalu saja tidak sampai. Hal itu membuat Liam merasa gemas saat memperhatikan istrinya yang selalu saja tidak sampai meraih resleting dress miliknya.
"Ck kemarilah dan aku yang akan menaikkan resleting dressmu, dari tadi selalu saja tidak bisa meraihnya hingga membuatku merasa gemas saja," ucap Liam sembari menaikkan resleting dress Jane secara perlahan.
"Tanganku pendek, jadi aku tidak bisa meraihnya."
Liam lalu memegang kedua bahu Jane "nah sekarang sudah beres."
"Terima kasih."
"Iya, kalau misalnya aku sedang tidak ada lalu siapa yang akan menaikkan resletingmu?"
__ADS_1
"Bibi, Pak Kang, atau tidak perlu dinaikkan saja resletingnya."
"Apa kamu tidak takut jika akan menjadi pusat perhatian semua orang bahkan nanti ada yang membuat berita jika kamu selalu tidak bisa menaikkan resleting baju?"
"Tidak."
"Dasar, suka sekali jika menjadi pusat perhatian."
"Aku sering sekali berhasil menjadi pusat perhatian banyak orang namun aku juga sering sekali gagal menjadi pusat perhatian suamiku," ucap Jane sembari memilih perhiasan yang akan dia pakai.
"Kamu sering sekali gagal mengambil perhatianku karena apa yang diinginkan oleh banyak orang bukan berarti aku menginginkannya juga, yang berarti keinginan banyak orang sangat berbeda jauh dengan keinginanku."
"Aku sekarang mendapat pelajaran baru di hari ke 50 setelah aku memutuskan untuk mulai belajar memahamimu saat menjadi istrimu yaitu, kamu ini suka sekali menjadi berbeda di antara beberapa banyak orang."
Liam tertawa "darimana kamu bisa sampai terfikir mengenai hal tersebut? sangat konyol sekali."
"Konyol di bagian mana?"
"Konyol dibagian saat kamu memutuskan untuk mulai memahamiku."
"Maksud kamu?"
"Ya seperti kamu ini, kamu dengan ringannya mengataiku konyol karena aku berkata bahwa selama ini aku belajar untuk memahamimu tanpa kamu tau apa yang aku rasakan selama ini."
"Memangnya apa yang kamu rasakan? kamu sudah jenuh denganku atau bagaimana?"
"Tidak, aku tidak merasa jenuh sama sekali namun aku semakin merasa tertantang untuk melelehkan seluruh gunung es yang ada pada dirimu itu."
"Terserah, tetapi jika kamu mulai jenuh kamu bisa pergi atau memintaku untuk mengantarkan kamu pulang ke rumah orang tuamu."
"Tidak perlu repot - repot mengantarku pulang saat aku mulai jenuh karena aku masih hafal dengan jalan pulang ke rumahku serta aku bisa pulang sendiri."
"Baguslah karena aku sangat menyukai wanita mandiri."
Jane kembali memilih perhiasan "mmm cocok yang mana ya dengan dress yang aku pakai sekarang?" tanya Jane bergumam.
__ADS_1
Liam lalu mengambil sebuah kalung "aku lebih suka kamu mengenakan kalung ini."
Jane lalu menyibakkan rambutnya dan membiarkan Liam memakaikan kalung tersebut di leher Jane "Sepertinya pilihanmu sangat bagus."
Liam memegang kedua bahu Jane kembali sembari menatap cermin "kamu terlihat lebih cantik menggunakan kalung ini."
"Aku selalu cantik memakai apapun."
"Mmm rambutmu juga akan terlihat indah jika diikat seperti ini karena tanda kepemilikanku terlihat jelas dilehermu," ucap Liam sembari mencengkram rambut Jane.
"Kamu ini."
"Besok jika sudah hilang aku akan membuatnya lagi."
"Jangan."
"Kenapa? kamu tidak suka dengan tanda kepemilikanku?"
"Bukan begitu, tetapi bukankah kamu bisa membuatnya dengan cara lain."
"Oh, kamu ingin baby sebagai tanda kepemilikan yang aku buat?"
"Besok saja ya hubby?"
"Iya, aku paham."
Liam kemudian pergi meninggalkan Jane untuk menonton televisi di ruang tengah bersama Nat, sedangkan Jane pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Eh ada kamu ternyata," ucap Nat.
"Iya Nat, bagaimana? betah tidak menginap disini?"
"Lumayan, tetapi sepi karena kamu lebih memilih berbincang dengan wanita lain."
"Aku akan meluangkan waktu untuk berbincang denganmu."
__ADS_1
"Baiklah."