Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #321


__ADS_3

Liam kemudian duduk di samping Jane dan mengusap perutnya dengan penuh cinta kasih. Liam berbincang dengan Jane dan kedua orang tua Jane sebentar sebelum akhirnya dia pergi untuk menjawab telepon karena handphonenya berbunyi. Setelah menyelesaikan pembicaraannya di telepon Liam lalu berpamitan pergi karena ada urusan diluar sebentar, sedangkan Jane masih tetap tinggal di rumah kedua orang tuanya. Liam pergi mengendarai mobilnya menuju ke sebuah tempat yang sudah dikirimkan oleh Yeji melalui pesan. Kalau bukan karena ingin membantunya mengerjakan tugas kelulusannya serta mendapat uang, mana mungkin Liam bersedia untuk pergi serta merelakan waktu di hari liburnya bersama istrinya tercinta apalagi istrinya itu sedang mengandung.


Sesampainya disana Liam langsung memarkirkan mobilnya di dalam garasi kantor kecilnya, dan memasuki kantor tersebut. Di dalam kantor tersebut terdapat beberapa manekin serta gulungan kain yang beraneka macam. Tidak lupa disana juga terdapat beberapa mesing jahit, mesin bordir, mesin press, mesin sablon, dan lain sebagainya. Yeji yang keluar dari kamarnya langsung menyapa Liam, dan setelah itu dia mengajak Liam untuk berkeliling serta memperkenalkannya kepada anggota timnya. Walaupun Liam nantinya hanya akan menjadi modelnya namun Yeji tetap ingin Liam mengetahui beberapa ruangan serta peralatan di kantor tersebut, termasuk kamar pribadi Yeji yang digunakannya untuk beristirahat.


Rata - rata anggota timnya adalah seorang pria bahkan mungkin semua adalah pria dan hanya dia perempuannya. Liam lalu duduk di sofa sembari menunggu mereka selesai berdiskusi di ruangan pribadi Yeji. Tidak lama kemudian Yeji menghampiri Liam dan beberapa orang lainnya mengambil sesuatu di ruangannya masing - masing. Setelah itu ada dua orang yang keluar dari ruangannya dan langsung meminta Liam untuk melepaskan pakaiannya. Liam langsung menolaknya dengan tegas, kemudian Yeji memberikan Liam beberapa pakaian dan memintanya untuk berganti pakaian di ruangan pribadi Yeji. Sekitar 10 menit kemudian Liam lalu keluar dengan mengenakan pakaian yang sudah dirancang oleh Yeji sendiri.


"Woahh kamu terlihat sangat tampan sekali," ucap Yeji merasa terpesona dengan ketampanan Liam yang meningkat setelah mengenakan pakaian rancangannya.


"Akan lebih tampan jika dia mencukur kumisnya," ucap salah satu partner Yeji.


"Benar, mari kita cukur kumisnya!" teriak Yeji.


Seketika Liam langsung berteriak sembari memegang kumisnya.


"Tidak boleh!!! kalian semua tidak boleh menyentuh kumisku apalagi mencukurnya."


"Kenapa begitu?" tanya Yeji.


"Hanya istriku yang boleh mencukurnya."


"Hmm baiklah jika seperti itu."


"Tetapi bukankah akan lebih bagus jika wajahnya bersih?" tanya partnernya kepada Yeji.


"Jika kita menggunakan tema kerajaan pasti akan lebih bagus jika dia memiliki kumis agar semakin terlihat gagah, bukankah begitu?"


Partner Yeji lalu berfikir sejenak dan setelah itu mengangguk setuju.


"Benar juga, baiklah kami tidak akan mencukur kumismu itu."


"Nah begitu dong," ucap Liam.


Yeji langsung memukul partnernya itu.


"Hei aku sudah bersusah payah untuk membujuknya, jadi jangan sampai kamu mengacaukan rencana kita atau membuat kita gagal dalam tugas kelulusan kita!"


"Oh baik, maafkan aku."


"Okay Liam, mari kita melakukan pemotretan perdana kita hehe."


"Baiklah."

__ADS_1


Liam lalu berdiri di belakang background serta beberapa properti pendukung lainnya. Yeji lalu mengarahkan pose Liam karena Liam masih agak sedikit kaku, mungkin karena ini pertama kalinya untuk Liam melakukan suatu pekerjaan yang sering dilakukan oleh istrinya. Sekarang Liam menyadari bahwa pekerjaan yang selama ini mungkin dianggap remeh oleh dirinya, merupakan pekerjaan tersulit yang dilakukan olehnya. Sebuah pekerjaan yang hanya berpose saja namun ternyata ini sangat sulit dan butuh beberapa menit untuk beradaptasi serta bisa berpose sesuai yang diinginkan oleh photografer.


"Good, sekarang keluarkan ekspresi datarmu atau lebih baik ekspresi yang seakan - akan kamu sedang mengancam musuhmu!!" teriak Yeji.


Liam menggaruk rambutnya karena merasa bingung.


"Seperti ini?" tanya Liam.


"Yak seperti itu bagus, tahan sebentar."


*Jepret.* photografer itu lalu memotret Liam dan langsung menunjukkan hasil jepretannya kepada Yeji.


"Kita istirahat sebentar Li," ucap Yeji.


"Sudah lumayan bagus," ucap photografer tersebut.


"Benar, dia sudah mulai bisa menyesuaikan diri."


"Darimana kamu mendapatkannya?"


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya di cafe, dan harus berusaha mati - matian untuk membujuknya agar bersedia menjadi modelku."


"Baiklah."


"Maaf aku belum terbiasa," ucap Liam saat Yeji menghampirinya.


Yeji lalu memberikan Liam sebotol air dingin.


"Minumlah! tidak apa - apa Li, walaupun ini merupakan yang pertama bagimu namun hasilnya sudah sangat baik."


"Benarkah?" tanya Liam setelah minum.


"Iya Li, nanti aku ingin memakaikanmu beberapa set pakaian lagi."


"Baiklah."


"Sekarang istirahat saja dulu."


"Disini terlalu panas, bolehkan aku meminta kipas untuk mendinginkan tubuhku?"


"Okay sebentar."

__ADS_1


Yeji lalu mengambil sebuah kipas portable dari kamarnya dan langsung mengarahkannya di badan Liam. Karena dirasa kurang puas, Liam lalu memegang tangan Yeji dan mengarahkannya di lehernya agar tidak merasa panas. Seketika jantung Yeji merasa tidak karuan karena dia melihat dada Liam yang terlihat sangat bidang serta bagus. Namun Yeji harus menahannya karena Liam merupakan suami orang, mmm tetapi tidak apa - apa juga jika misalnya mau dengan dirinya, secara kucing walaupun sudah kenyang tapi ketika diberi ikan asin dia tetap akan memakannya.


Beberapa jam kemudian Liam telah menyelesaikan urusannya dan sekarang sedang berada di perjalanan menuju ke rumahnya. Tadi Jane sudah dijemput oleh Pak Kang, dan sekarang dia sedang bersantai di ruang tengah menunggu Liam pulang. Saat ini sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, dan Liam masih berada di jalan karena letak kantor Yeji lumayan jauh dari rumahnya. Sesampainya di rumah Liam langsung disambut oleh istrinya, dan Liam kemudian mencium bibir Jane secara sekilas. Tidak lupa dia juga mengusap perut Jane dan berbincang kembali dengan janin yang dikandung oleh istrinya.


"Kamu sudah makan malam babe?" tanya Liam mengusap pipi Jane.


"Aku sudah makan malam hubby, kamu sudah makan malam?"


"Belum babe."


"Ya sudah kalau begitu makan dulu dan setelah itu mandi."


"Okay."


Jane lalu menyiapkan makanan yang tadi dipesannya secara online untuk dihangatkan kembali, dan setelah itu dia menyajikannya di atas piring Liam.


"Silahkan dimakan hubby, maaf aku menghangatkannya karena aku memesannya sejak tadi dan sudah dingin."


"Tidak apa - apa babe," ucap Liam tersenyum.


"Mmm kamu tadi habis darimana kok lama sekali?" tanya Jane tiba - tiba.


"Aku tadi ada urusan membantu temanku mengerjakan tugas."


"Tugas apa?"


"Tugas untuk kelulusannya," ucap Liam sembari menyantap hidangannya.


"Oh begitu."


Setelah itu Liam dan Jane pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


"Maaf ya aku jadi tidak bisa meluangkan waktu untukmu."


"Tidak apa - apa hubby."


Liam berbincang dengan perut Jane kembali.


"Maafkan daddy ya karena tadi daddy tidak bisa banyak berbincang denganmu." Setelah itu Liam mencium perut Jane.


"Tidak apa - apa daddy," ucap Jane dengan nada seperti anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2