
Mendengar jawaban dingin dari putranya tersebut membuat Mr Robinson bertanya - tanya apakah putranya tersebut sedang mendapatkan masalah ataukah dia baru saja dimarahi oleh istrinya? jika diperhatikan sejak pagi memang putranya itu seperti tidak merasa bersemangat sama sekali. Mr Robinson sangat ingin bertanya kepadanya mengenai alasan mengapa dia terlihat berbeda, pasti putranya itu tidak akan menjawabnya karena sejak dahulu dia merupakan orang yang sedikit tertutup serta senang memendamnya sendirian. Entah apa yang membuat putranya itu lebih senang memendam semua permasalahnnya sendirian daripada menceritakannya kepada orang - orang terdekatnya termasuk dia sendiri yang merupakan daddy nya. Putranya itu memanglah sangat pemalu serta beberapa tahun belakang dia juga berubah menjadi seseorang yang pendiam, jadi dia jarang bercerita panjang lebar dan selalu mempunyai dunianya sendiri. Mungkin karena itulah mengapa daddy alias grandpa meminta kepada Mr Robinson untuk segera mencarikan Liam seorang calon istri dengan tujuan agar Liam bisa sedikit berubah dan tidak selamanya tenggelam dalam dunianya sendiri, apalagi setelah dia mendengar bahwa cucunya tersebut mengungkapkan jika dia memilih untuk hidup melajang seumur hidupnya.
Sejak saat itu Mr Robinson berusaha keras mencari seorang wanita yang baik untuk dikenalkan kepada putranya serta selalu mengajaknya untuk ikut ke pertemuan bisnis dengan harapan Liam bisa menemukan jodohnya, akan tetapi Liam selalu menolaknya dan memilih untuk pergi bermain game bersama teman - temannya. Mereka berdua hampir menyerah dan tiba - tiba saja Mr Robinson mengingat bahwa sahabat lamanya memiliki seorang anak perempuan. Mr Robinson langsung terbang ke Korea Selatan untuk menawarkan sebuah perjodohan dengan sahabat lamanya yaitu Mr Kim, dan ternyata Mr Kim langsung menyetujuinya lalu mereka berdua membuat kesepakatan untuk mengadakan pertemuan di sebuah villa milik keluarganya yang berada di Indonesia. Namun sebuah keajaiban datang karena ternyata Liam dan Jane sudah bertemu lebih awal dari perkiraan yang ternyata mereka berdua juga sudah mengenal satu sama lain. Itulah cerita awal mula mengapa Mr Robinson berniat menjodohkan Liam dengan Jane.
Mr Robinson terus menatap Liam yang sedang fokus membaca sebuah berkas dokumen hingga membuat Liam merasa Risih.
"Kenapa daddy terus menatapku seperti itu?" tanya Liam.
"Tidak ada, hanya saja aku sedang berfikir bahwa ternyata tidak terasa bahwa kamu sudah sangat besar."
"Daddy ingin meminta apa lagi kepadaku? daddy ingin aku menikah dengan Jane dan aku sudah melakukannya, sekarang apa lagi?"
"Daddy tidak minta apa - apa kok, daddy hanya meminta agar kamu selalu bahagia serta menjaga kesehatanmu."
"Iya dad, aku akan menjaga kesehatanku serta berusaha untuk menemukan kebahagiaanku sendiri."
"Nah itu baru putraku," ucap Mr Robinson tersenyum.
"Tetapi jika daddy meminta seorang cucu, maaf aku belum bisa mengabulkannya."
"Kenapa begitu?"
"Kami berdua ingin menundanya terlebih dahulu, yang niatnya selama setahun sekarang kami memutuskan untuk menundanya selama 6 bulan saja."
"Baguslah jika seperti itu."
"Iya dad, tiba - tiba Jane berubah fikiran dan mungkin sekitar 6 bulan lagi kami akan mengikuti program hamil."
"Bagus itu, sekalian saja cari dokter yang terbaik."
"Iya."
"Kalian berdua menginginkan anak laki - laki atau perempuan terlebih dahulu?"
"Menurut daddy bagaimana?"
"Terserah saja, daddy tidak masalah ingin laki - laki atau perempuan terlebih dahulu yang terpenting nanti semuanya sehat - sehat saja saat melahirkan. Menantu daddy sehat, serta cucu daddy juga sehat."
"Iya sih dad, tetapi Jane menginginkan anak laki - laki yang ketampanannya mirip denganku."
Mr Robinson tertawa.
"Pasti miriplah jika kalian berdua yang membuatnya sendiri, kalau nanti membuatnya dengan tetangga jadinya tidak mirip hahaha."
"Ya iya sih dad."
"Memangnya kamu ingin jika Jane membuatnya dengan tetangga?"
"Mana mungkin aku menginginkannya, daddy ini aneh - aneh saja."
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu kenapa kamu bingung?"
Liam menggaruk rambutnya.
"Aku juga tidak tau kenapa aku bisa bingung sampai seperti ini."
Mr Robinson menepuk bahu Liam sembari tertawa.
"Wajar saja karena itu pengalaman pertamamu bukan? daddy juga dahulu seperti itu kok, santai saja."
Mr Robinson lalu mendekat ke arah Liam dan menceritakan semuanya kepada putranya tersebut mengenai pengalaman - pengalamannya menjalani rumah tangga, serta beberapa tips yang sangat berguna untuk kedepannya. Walaupun terdengar sangat aneh serta canggung mengapa Mr Robinson bisa menceritakan hal seperti itu kepada Liam, tetapi Liam tetap mendengarkannya dengan saksama. Tidak hanya menceritakan dengan lisan saja namun Mr Robinson juga menggunakan gesture tangan agar lebih jelas. Tiba - tiba saja pintu ruangan Liam terbuka yang membuat Mr Robinson berhenti bercerita.
"Eh hon tumben sekali ke kantor, ada apa?" tanya Mr Robinson menghampiri istrinya.
"Aku sedang mengantar Lian untuk melihat - lihat area kantor karena besok dia sudah mulai bekerja disini."
"Oh begitu, baiklah."
"Hai mom," sapa Liam.
"Hai juga sayang, besok titip kakakmu ya."
"Siap mom."
"Nah Lian besok adikmu ini yang akan membantumu selama di kantor, jadi dengarkan setiap ucapan Liam dengan baik dan jangan membuatnya kecewa."
"Oh ya kalian berdua tadi sedang membicarakan apa sampai terlihat sangat serius sekali?" tanya Mrs Robinson merasa penasaran.
"Oh itu kami berdua sedang membicarakan sebuah bisnis, iya kan Liam?" tanya Mr Robinson sembari memyenggol tangan Liam.
"Eh iya mom," jawab Liam berbohong.
"Oh begitu. Oh ya Rosie semalam menginap di rumahmu ya?"
"Iya mom."
"Dia tidak mengganggu kalian berdua bukan?"
"Tidak mom, Rosie tidak pernah merepotkan Liam kok."
"Ya sudah kalau begitu, maaf ya?"
"Iya mom santai, katanya Jane juga senang karena sekarang mempunyai adik perempuan."
"Benarkah begitu?"
"Iya mom."
Setelah pembicaraan tersebut Mrs Robinson mengajak Lian untuk berkeliling gedung, sedangkan Mr Robinson melanjutkan perbincangan mengenai bisnis tadi bersama dengan Liam. Saat pukul 4 sore hari Liam sudah bersiap - siap untuk pulang ke rumah dan ternyata saat perjalanan pulang, jalan sangat padat sehingga Liam tidak bisa sampai di rumah dengan cepat. Sekitar 45 menit kemudian Liam telah sampai di rumah dan sudah disambut dengan senyuman manis istrinya. Beberapa jam kemudian setelah makan malam Liam langsung pergi ke kamarnya untuk bermain game. Namun tba - tiba saja pandangannya teralihkan oleh istrinya yang sedang duduk atas ranjang.
__ADS_1
"Kenapa hubby?" tanya Jane.
"Tidak apa - apa," jawab Liam sembari menghampiri Jane.
"Ayo sini aku akan mencukur kumismu."
Seketika Liam langsung berbalik arah.
"Tidak mau, cukur saja kumismu atau kalau perlu cukur saja rambutmu sampai botak."
Jane tertawa.
"Aku hanya bercanda hubby, sini dong aku sudah merasa rindu denganmu."
Liam lalu menghampiri Jane dan berbaring di pangkuannya.
"Kenapa sih kamu sangat ingin sekali mencukur kumisku?"
"Karena aku merasa geli dengan kumismu itu."
"Oh begitu."
"Eh tadi makan siang apa dengan Yunna?"
"Gado - gado."
"Oh."
"Kenapa Jane? kamu merasa cemburu dengan Yunna?"
"Sedikit, tetapi aku berusaha untuk percaya denganmu."
"Terima kasih sudah percaya denganku."
"Iya sayang."
"Jane, ayo besok kita jalan - jalan lagi."
"Kemana hubby?"
"Terserah Jane ingin pergi kemana."
"Iya hubby."
Liam bangkit dan mencium bibir Jane sekilas.
"I love you."
"I love you more."
__ADS_1