
Liam kemudian duduk di kursinya untuk mencicipi mie ayam bakso yang dia beli serta menjadi bahan pertimbangan apakah menjadikannya sebagai tempat langganannya atau tidak. Saat mencicipi satu suapan memurut Liam ternyata sangat lezat apalagi baksonya yang sangat kenyal serta ada beberapa tetelannya di dalam bakso tersebut. Jane juga memberikan komentar yang sama dengan Liam, jadi suatu hari nanti jika dia sedang menginginkan mie ayam ataupun bakso mungkin dia akan kembali membelinya disana apalagi jarak tempatnya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Saat Liam sudah menghabiskan semangkuk mie ayam bakso itu, dia lalu membuka handphone miliknya untuk membalas beberapa pesan yang dikirimkan oleh teman - temannya termasuk Yeji.
Liam lalu menghela nafasnya setelah membaca pesan dari Yeji yang menginginkannya untuk datang hari ini karena dia ingin menunjukkan beberapa pakaian hasil rancangannya dengan tema yang berbeda dari bulan - bulan kemarin. Liam lalu membalas jika dia tidak bisa datang ke kantor Yeji sekarang karena ada beberapa urusan, dan mungkin besok baru dia bisa datang ke kantor. Setelah itu Liam meletakkan handphonenya di atas meja dan dia pergi ke mini bar untuk menata semua kue kering buatannya di dalam toples dan beberapa kue basah di dalam kotak plastik transparan untuk diletakkan di dalam kulkas. Namum sebelum itu dia memcicipi sebiji kue kering buatannya dan ternyata istrinya itu tidak berbohong karena kue tersebut benar - benar sangat lezat. Sebenarnya dia juga ingin mencicipi kue basahnya juga namun Liam menyisakan sedikit ruang di lambungnya untuk keadaan darurat seperti.......
"Hubby tolong habiskan mie ayam bakso milikku karena aku sudah kenyang," ucap Jane sembari meletakkan sendok dan garpunya di dalam mangkuk tersebut.
Ternyata Liam sudah bisa membaca beberapa kebiasaan istrinya itu dan untung saja Liam masih menyisakan sedikit ruang di lambungnya jika hal seperti ini terjadi.
"Tinggalkan saja disana sayang, aku nanti akan memakannya jika sudah selesai mengemas semua kue - kue ini."
"Okay hubby. Hahaha ternyata ini untungnya memiliki suami yang lambungnya besar."
Liam langsung berdecak.
"Ck karena kamu yang selalu seperti ini saat makan, aku jadi harus memperbanyak waktuku alias melebihi jam olahragaku untuk membakar semua kalori di tubuhku."
Jane hanya nyengir mendengar ocehan suaminya itu sembari dia mengemas semua kue buatannya.
"Hehe. Mmm hubby kenapa membuat kue dengan jumlah yang lumayan banyak?" tanya Jane penasaran.
"Aku hanya sedang ingin berbagi saja hehe. Tolong besok minta tolong Pak Kang untuk mengantarkan dua kotak ini di rumah mommy dan eomma ya."
"Siapp hubby."
"Ternyata ini sangat lezat, jadi aku ingin mereka juga mencicipi hasil uji coba yang tadi aku buat dan sisanya untuk kita berdua."
"Okay. Aku penasaran mengapa kamu sangat pintar sekali memasak?"
"Dahulu aku sering memperhatikan para chef pribadi di rumah saat aku masih kecil, lalu aku merasa tertarik untuk belajar memasak agar menjadi chef yang handal seperti mereka. Setelah itu aku sering sekali menyelinap secara sembunyi - sembunyi di dapur restaurant maupun di dapur hotel untuk belajar memasak dari para executive chef, dan akhirnya aku bisa menjadi seperti ini."
"Kenapa kamu melakukannya secara sembunyi - sembunyi?"
"Takut dimarahi oleh daddy dan pasti dia akan berkata jika memasak itu hanya untuk para wanita, padahal rata - rata semua executive chef di beberapa restaurant serta hotel merupakan para pria."
__ADS_1
"Iya juga sih."
"Aku dahulu juga pernah mengambil kelas jurusan tata boga namun hanya sebentar, dan itupun aku melakukannya sembari bekerja di perusahaan yang berada di Australia saat masih menjabat sebagai manager utama."
"Oh begitu, tetapi kamu keren sekali hubby."
"Terima kasih."
"Mmm tetapi sekarang jika diberi kesempatan untuk mendalami hal tersebut apakah kamu masih ingin belajar?"
"Aku mau dan pasti mau, tetapi mungkin sekarang ada hal yang lebih diprioritaskan daripada itu."
"Apa itu?"
"Bekerja serta menghabiskan waktuku untuk keluarga kecilku," ucap Liam dan setelah itu dia menghabiskan mie ayam milik Jane.
"Dahulu kamu kuliah jurusan apa?"
Jane menggaruk rambutnya.
"Kalau aku tidak kuliah bahkan tidak pernah merasakan bagaimana kehidupan menjadi seorang mahasiswi."
*Nom nom nom.*
"Kenapa begitu?"
"Sejak lulus junior high school, aku langsung fokus untuk menjadi seorang model dan sebenarnya aku ingin merasakan bagaimana indahnya saat prom night namun aku tidak pernah merasakannya sekali."
"Kenapa begitu?"
"Karena aku tidak sekolah di senior highschool."
"Bukan, maksudku mengapa kamu sangat ingin merasakan prom night? padahal menurutku itu hanya biasa - biasa saja, tidak ada yang istimewa sama sekali."
__ADS_1
"Semua orang mengatakan bahwa prom night akan menjadi suatu pengalaman yang indah dikenang saat masa - masa sekolah, apalagi saat kita bisa berdansa di lantai dansa dengan seseorang yang kita sukai saat berada di bangku sekolah."
"Oh begitu."
"Ceritakan padaku apakah benar seperti yang orang lain katakan?" tanya Jane dengan mata yang berbinar - binar.
"Tidak juga, menurutku acara itu yang paling membosankan sekali dan membuatku merasa mengantuk."
Jane langsung cemberut.
"Hih sepertinya aku bertanya di orang yang salah," gerutu Jane.
Liam langsung tertawa terbahak - bahak, dan setelah itu dia membawa semua mangkuk bekas mie ayam tersebut ke wastafle dapur untuk dicuci. Liam mencuci semuanya sembari sesekali dia memperhatikan Jane yang kelihatannya tampak kecewa dengan jawaban dari Liam tadi mengenai prom night. Setelah semuanya beres Liam langsung berpatroli didalam rumahnya untuk mengunci semua jendela, pintu dan juga mematikan semua lampu yang masih menyala. Setelah itu dia pergi ke kamarnya dan mendapati bahwa istrinya itu sedang menonton film sembari berbaring di atas ranjangnya. Liam merasa menyesal mengapa dia tadi menjawab pertanyaan Jane seperti itu padahal Jane benar - benar ingin mengetahui bagaimana prom night itu. Awalnya Liam menjawab seperti itu agar Jane tidak merasa menyesal karena tidak melanjutkan sekolahnya namun sekarang dia justru yang merasa menyesal karena telah menjawabnya dengan jawaban seperti itu. Liam lalu mendekati Jane untuk mencium lehernya, dan kemudian Jane meletakkan tangan Liam di atas perutnya.
"Maaf karena aku sudah cengengesan saat menjawab pertanyaanmu tadi padahal kamu merasa sangat penasaran," ucap Liam mengusap perut Jane.
"Iya tidak apa - apa hubby."
"Aku hanya tidak ingin menyesal karena telah memilih jalan hidupmu sendiri menjadi seorang model, karena buktinya kamu bisa sangat sukses menjadi seorang model terkenal yang dikenal di seluruh dunia."
"Iya hubby."
"Kamu lebih keren daripada aku, dan juga uangmu lebih banyak daripada milikku hehe."
"Apa itu sebabnya kamu tidak ingin menandatangi perjanjian pra-nikah kita heum?" tanya Jane menatap Liam.
"Tidak juga, kalaupun misalnya amit - amit kita bercerai pasti aku akan pergi dari rumah ini tanpa membawa apapun dan bahkan kalau perlu bugil sekalian."
Jane tertawa.
"Hahaha sudah hubby, mari kita tidur."
"Okay," ucap Liam mengecup kening Jane.
__ADS_1