
Jane lalu mengambil sebuah liptint strawberry di atas meja samping ranjangnya dan mengoleskannya di bibirnya, sedangkan Liam malah pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Saat Liam sibuk pipis, Jane lalu menghampiri kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi dari luar agar Liam tidak bisa keluar kamar mandi. Bukannya merasa bersalah kepada suaminya namun Jane malah tertawa jahat dari luar, karena dengan cara itu suaminya bisa segera mandi tanpa harus ada drama - drama lagi. Habisnya Jane merasa kesal sekali jika suaminya itu susah sekali untuk mandi dan bahkan dia harus sampai mengeluarkan tenaga ekstra untuk membuat suaminya bisa segera mandi tanpa harus berkata "sebentar" atau "nanti." Beberapa kali Liam mencoba untuk membuka pintu kamar mandi namun selalu saja gagal, bahkan saat dia terpaksa mengeluarkan semua tenanganya untuk membuka kunci pintu tersebut hasilnya juga tetap sama. Jane lalu berteriak dari luar bahwa dia akan membuka pintu tersebut saat Liam sudah selesai mandi dengan bersih. Liam berteriak frustasi sembari menggedor - nggedor pintu kamar mandi hingga membuat engsel pintunya hampir lepas.
Jane masih saja terus tertawa dan tidak ada sedikitpun rasa takut di dalam dirinya saat mengetahui bahwa suaminya itu sudah merasa sangat emosi karena tingkah lakunya. Namun justru dia malah pergi ke meja riasanya untuk berdandan sembari mendengar ocehan dari Liam. Dengan santai Jane memilih warna cat kuku yang ingin dia gunakan dan bersenandung ria karena dia bisa terbebas dari gangguan Liam walaupun hanya sebentar saja. Memang harusnya sekali - kali Jane memperlakukan Liam seperti itu agar dia bisa mandi dengan tepat waktu serta memberinya pelajaran karena akhir - akhir ini dia banyak membuat onar dengan dirinya. Liam belum tau saja bagaimana mengerikannya jika Jane sudah merasa marah serta kesal, untung saja Liam hanya dikurung di dalam kamar mandi dan bukan ditendang sampai pluto atau disembur api naga. Dengan santai dia lalu mengecat kukunya sembari terus bersenandung ria di depan cermin riasnya. 30 menit telah berlalu serta cat di kuku Jane telah kering, setelah itu Jane kembali ke kamar mandi untuk membuka kunci pintu tersebut.
"Sudah belum mandinya?" tanya Jane saat masuk ke dalam kamar mandi.
Liam yang tengah duduk termenung sembari berendam di bathtub, kemudian menggelengkan kepalanya. Jane lalu menghela nafasnya dan menghampiri Liam.
"Sini, aku mandikan."
"Tidak mau, kamu keluar saja sana!!" teriak Liam.
"Sssttt, jangan berteriak nanti suaramu habis jika kamu terus menerus berteriak seperti itu."
"Kamu sangat menyeramkan sekali, aku tidak ingin dekat dengan wanita sepertimu."
"Salah sendiri kamu berbuat nakal."
"Aku tidak berbuat nakal!!"
"Iya deh aku minta maaf."
"Bodo amat."
Jane lalu mengambil selang shower mandi dan membasahi rambut Liam.
"Jangan lupa keramas agar rambutmu tidak bau."
"Malas."
"Jangan jadi orang yang jorok nanti aku tidak mau tidur denganmu jika tubuhmu sangat bau," ucap Jane setelah mencium pipi Liam.
"Iya nyonya."
Selesai mandi, Jane lalu mendandani Liam layaknya seorang boneka hidup karena Liam hanya diam dan pasrah saja saat didandani oleh Jane.
*Ngung ngung* suara hairdryer.
"Nah habis ini disisir seperti ini maka kamu akan terlihat sangat tampan sekali."
"Iya nyonya, terserah anda saja."
"Uhhh kamu sangat tampan sekali hubby," ucap Jane begitu dia selesai mendandani Liam.
"Aku lapar."
"Ya ampun aku lupa, sebentar aku masakkan kamu sesuatu untuk dimakan."
"Yang lezat, kalau tidak aku akan melemparkannya tepat di wajahmu."
__ADS_1
"Iya hubby sayang." Jane lalu mencium pipi Liam sebelum pergi ke dapur.
"Dasar wanita psycho," gumam Liam saat Jane telah pergi.
*Beberapa menit kemudian.*
"Hubby sayang, makanannya sudah siap."
"Iya aku datang," ucap Liam sembari berjalan menuruni tangga.
"Ayo makan yang banyak."
"Kamu masak apa?"
"Ayam rica - rica."
"Woahh pasti sangat lezat."
"Coba cicipi." Jane lalu menyuapi Liam.
"Memang sangat lezat."
Selesai makan malam mereka berdua lalu tiduran di sofa ruang tengah sembari menonton televisi ataupun bermain handphone masing - masing. Kebetulan pada malam itu diluar sedang hujan deras, jadi mereka berdua memilih untuk bersantai saja di rumah dan tidak pergi kemanapun. Namun tiba - tiba saja Liam yang hanya memakai kaos oblong kemudian masuk ke dalam hoddie oversize yang dipakai oleh Jane karena merasa kedinginan, akan tetapi belum ada semenit dia langsung keluar.
"Hih kamu tidak memakai baju dan hanya memakai hoddie saja," ucap Liam merasa sedikit trauma karena melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat.
"Memang aku dari dulu sudah terbiasa seperti itu, lagipula orang aneh mana yang memakai baju di dalam hoddie?" tanya Jane keheranan.
"Apa kamu tidak merasa gerah?"
Liam menggeleng.
"Tidak, aku sudah terbiasa sih."
"Kamu ini sukanya memakai baju ataupun celana secara double - double ya ternyata? setiap memakai celana pasti memakai ****** *****, lalu celana kolor, dan baru memakai celana panjang."
"Iya memang."
"Kenapa begitu?" tanya Jane penasaran.
"Aku tidak nyaman jika orang - orang melihat arah bawah milikku karena terlalu menonjol kalau tidak memakai celana seperti itu."
"Tetapi saat di Santorini dan Hawaii waktu itu kamu berani tampil dengan pakaian seperti itu."
"Ya karena jika di pantai orang - orang pasti sibuk dengan dunianya masing - masing, jadi aku tidak terlalu perduli."
"Kamu ini sangat pemalu ya rupanya?" tanya Jane menggoda Liam.
"Iya, eh kok kamu bisa tau?"
__ADS_1
"Hahaha buktinya saja saat kita sudah menikah kamu masih saja memakai pakaian lengkap dan rapat seperti ini."
"Memangnya kenapa? aku waktu itu juga tidur telanjang gara - gara kamu yang selalu menggodaku."
"Memang, dan aku sangat menyukainya."
"Ssttt jangan mulai dirty talk."
"Kenapa?"
"Aku sedang tidak ingin meladenimu."
Jane menggigit jarinya dan mulai mendekati Liam.
"Aku suka postur tubuhmu yang bagus itu," ucap Jane sembari menunjuk di dada Liam yang bidang.
"Terima kasih."
Jane lalu mengambil selimut yang tersimpan di rak mejanya dan menyelimuti tubuhnya serta tubuh Liam.
"Cuacanya sangat dingin dan aku sedang butuh kehangatan," ucap Jane kembali menggoda Liam.
"Kalau ingin kehangatan lebih baik kamu masuk ke dalam perapian yang sedang menyala, nanti lama - lama kamu juga akan gosong hahaha."
"Aku serius hubby!! menyebalkan sekali mempunyai suami yang tidak mempunyai rasa peka terhadap pasangannya."
"Jangan ngambek dong, utututu sayang sini peluk."
Jane langsung tersenyum lebar.
"Nah begitu dong."
"Tetapi kalau nanti ada yang melihat bagaimana?" tanya Liam khawatir.
"Bukankah kita berdua sudah resmi menjadi suami istri? kita bisa bebas melakukan apa saja di rumah kita sendiri, lalu untuk apa kamu kahwatir?"
"Oh iya ya."
"Eh lain kali ayo kita jalan - jalan naik motor lagi."
"Boleh, kemana?"
"Ke puncak? atau dimana saja terserah."
"Kalau ke puncak sedikit meragukan karena cuacanya sedang tidak mendukung, tetapi kita coba saja besok."
"Baiklah."
"Ke Dieng?"
__ADS_1
"Mau."