
Mereka berdua lalu menertawakan Liam yang dinilai terlalu posesif terhadap adik perempuannya. Tiba - tiba saja baby Ace menangis karena merasa lapar, Jane kemudian menggendong baby Ace ke kamar pribadi Liam untuk memberikan baby Ace susu. Liam kembali melanjutkan perbincangan dengan Mrs Robinson mengenai konsep cafe yang ingin dibangun olehnya. Dia menginginkan jika konsep cafenya itu terlihat seperti saat berada di gallery seni, yang dimana konsep tersebut jarang diterapkan di sebuah cafe alias jarang sekali ada yang menggunakan konsep seperti itu untuk sebuah cafe.
Meskipun begitu Liam akan tetap mempertimbangkan beberapa hal yang sangat digemari oleh anak muda, karena mengingat sejak awal target pemasaran utamanya adalah anak muda. Jika misalnya itu dapat menarik minat anak muda, maka bisa dipastikan itu akan mendapatkan promosi gratis untuk cafenya dan itu adalah hal utama mengapa Liam menargetkan pemasarannya untuk anak muda. Liam bisa mengatakan hal tersebut karena di zaman sekarang hampir sebagian besar anak muda telah memiliki berbagai macam akun sosial media.
Jika cafe miliknya mempunyai tempat yang nyaman, menu yang cocok di lidah anak muda apalagi harganya yang terjangkau di dompet anak muda pasti mereka akan senang mengunjungi cafe miliknya. Disisi lain Liam juga akan membuat spot foto yang kekinian sehingga dapat menarik daya tarik pengunjung, dan juga memberikan fasilitas wifi agar mereka semakin betah di cafenya. Liam menjelaskan beberapa dasar mengenai rencananya itu kepada Mrs Robinson dan juga kepada Jane yang datang sejak 10 menit yang lalu.
Liam menjelaskan hal tersebut kepada mereka berdua layaknya dia sedang menjelaskan bahan materi meeting kepada kliennya. Setelah difikirkan sejenak ternyata ide putranya itu sangat bagus, sehingga membuat Mrs Robinson memberikan sebuah cek kosong kepada putranya tersebut untuk diisi berapapun jumlah nominal uang yang dia butuhkan untuk membuat cafe. Namun Liam menolaknya dan menundanya terlebih dahulu karena dia belum menemukan tempat yang cocok untuk mendirikan sebuah cafe seperti keinginannya sekaligus tempat yang strategis.
"Sekarang saja tidak apa - apa Li, untuk modal awal mencari sebuah tempat untuk membangun cafemu."
"Sekalian besok saja semuanya tidak apa - apa mom, karena masih akan Liam pertimbangkan terlebih dahulu."
"Hmm baiklah jika itu keinginanmu, tetapi kamu harus janji kepada mommy jika kamu akan benar - benar mengambil uang yang mommy sudah simpan untukmu sejak dulu."
"Mmmm bagaimana ya mom?" tanya Liam sembari menggaruk rambutnya.
"Ck kamu selalu saja begitu, padahal mommy sudah katakan dari awal jika mommy memang sudah menyimpan uang tabungan untuk kalian bertiga masing - masing namun kamu selama ini tidak pernah mengambilnya."
"Simpan saja untuk mommy, untuk berbelanja kebutuhan mommy kan Liam sudah bisa mencari uang sendiri."
Mrs Robinson lalu mengusap bahu Liam.
"Uang untuk kebutuhan mommy sudah ada sendiri sayang, jadi tolong diterima ya?"
"Tapi mom, Liam sudah punya tabungan sendiri."
"Kamu ini selalu saja berkata seperti itu saat momny akan membantumu mengenai masalah finansial, saat kamu akan menikah juga berkata seperti itu kepada mommy serta saat kamu membangun rumah ini juga semuanya menggunakan uang milikmu sendiri."
"Ya tidak apa - apa mom, simpan saja uangnya untuk kebutuhan darurat."
Jane tiba - tiba menyela pembicaraan mereka berdua.
"Nah ini mom, semalam Liam juga mengatakan hal seperti itu saat aku menawarkan uang modal untuknya."
"Kenapa sih sayang? jangan selalu seperti itu karena kita selalu sayang kepadamu dan selalu ada untukmu disaat kamu membutuhkan. Jangan selalu merasa sendirian seperti ini dong," ucap Mrs Robinson sembari mengusap rambut Liam.
"I-iya mom."
"Jangan selalu berjalan sendirian seperti ini, dan ingatlah bahwa kita selalu bersedia untuk menemanimu berjalan meskipun perjalananmu mungkin tidak akan selamanya mudah."
"Nah benar kata Jane," ucap Mrs Robinson menyetujui ucapan Liam.
Keesokan harinya Liam yang baru saja terbangun dari tidurnya langsung menatap wajah Jane yang tengah tertidur nyenyak. Liam lalu menciumi wajah Jane hingga membuatnya terbangun dari tidurnya. Semakin lama ciuman Liam turun ke leher dan langsung menindih tubuh Jane, akan tetapi saat Liam akan memulai olahraga pagi dengan istrinya tiba - tiba saja handphone Liam berbunyi.
__ADS_1
"Ah sialan!!" teriak Liam merasa kesal.
Jane tertawa saat melihat suaminya yang kesal karena diganggu oleh sebuah telepon.
"Jawab dulu teleponnya sayang, siapa tahu itu panggilan penting "
Liam lalu melihat ke layar handphonenya.
"Ricko?" gumam Liam, dan setelah itu dia menjawab panggilan tersebut.
5 menit kemudian Liam telah menyelesaikan panggilan itu dan kembali menindih tubuh Jane.
"Ayo kita lanjutkan," ucap Liam menyeringai.
"Sebentar dulu hubby, aku masih ada urusan."
"Ya sudah iya sayang."
"Sabar."
"Iya."
*10 menit kemudian.*
"Hmm baiklah," ucap Liam sudah tidak terlalu bersemangat.
"Kenapa sayang? tadi kamu memintanya dengan sangat menggebu - nggebu, dan sekarang malah seperti tidak bersemangat sekali."
"Sudah malas."
Jane lalu mencoba merayu suaminya.
"Ayolah hubby sayang, kamu terlihat sangat gagah dan sangat tampan sekali."
"Aku fikir aku terlihat sangat jelek dimatamu."
"Tidak juga, justru dimataku kamu terlihat sangat tampan sekali apalagi hidungmu yang mancung itu."
"Benarkah? kamu juga terlihat sangat cantik meskipun terkadang sangat menyeramkan ketika sedang marah," ucap Liam menepuk - nepuk bokong Jane yang sintal itu.
30 menit kemudian Liam sedang berbaring di samping Jane, dan dia memeluk Jane dengan sangat erat.
"Tadi siapa yang menghubungimu hubby?" tanya Jane penasaran.
__ADS_1
"Tadi Ricko yang menghubungiku untuk mengajakku pergi ke cafe."
"Oh begitu, pergilah jika kamu menginginkannya."
"Benarkah sayang?"
"Iya sayang," ucapnya sembari tersenyum.
"Yess!!" teriak Liam bersorak kegirangan.
"Cium dulu sini."
Liam lalu mencium pipi Jane namun Jane malah protes karena itu hanya ciuman di pipi saja, dan setelah itu Liam mencium bibir Jane sekilas. Ternyata strawberry nya masih awet sampai sekarang, dan sekarang Liam juga masih bisa merasakannya sejak first kiss mereka berdua.
"Tetapi nanti sajalah aku pergi ke cafe."
"Kenapa begitu?"
"Jam segini teman - teman juga pasti belum datang karena masih tidur."
"Oh begitu."
"Mohon doakan ya agar aku bisa segera membuka cafe."
"Iya sayang, aku pasti akan selalu mendoakan kamu."
"Terima kasih."
"Ih kamu ini sedang apa? aku sibuk mendoakanmu eh kamu malah sibuk menandai daerah kekuasaanmu."
"Hehe masalahnya aku belum puas jika belum membuatnya."
"Nanti bedak dan juga foundationku akan cepat habis untuk menutupinya jika sedang diluar rumah."
"Tenang saja nanti aku akan membelikannya, bahkan jika perlu aku akan membeli pabriknya juga."
"Dih dasar, hei sudahlah ini sudah banyak!!"
"Satu lagi."
"Tidak hubby, sudah hentikan!!"
"Hmm baiklah."
__ADS_1