Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #111


__ADS_3

Setelah perbincangan serta debat yang mulai memanas, Mr Robinson kemudian memilih untuk pergi ke dalam kamarnya agar istrinya itu tidak semakin marah kepadanya, dan dia sebenarnya juga malas jika harus membujuk istrinya itu apabila sedang marah kepadanya. Sesampainya di kamarnya tersebut Mr Robinson kemudian merapikan bantalnya dan hendak berbaring sebentar, namun saat mengambil bantal milik istrinya dia tidak sengaja menemukan sebuah buku diary milik istrinya beserta sebuah foto dia bersama dengan ketiga anaknya saat masih kecil. Di dalam foto tersebut terlihat jelas jika dia dan istrinya sangat bahagia sekali saat melakukan pemotretan bersama ketiga anaknya sekitar 15 tahun yang lalu, sebuak Keluarga yang harmonis dan bahagia tanpa adanya permasalahan di dalam rumah tangganya. Seketika Mr Robinson merasa sedih ketika mengingat itu semua apalagi mengingat perjuangannya bersama dengan istrinya yang mencoba menata kembali kehidupan rumah tangganya yang hancur berantakan. Apalagi saat dia bersama dengan istrinya berusaha keras untuk menyakinkan kedua anaknya itu bahwa semuanya akan baik - baik saja dan akan kembali ke tempatnya masing - masing seperti sedia kala. Air mata Mr Robinson mulai menetes dan membasahi foto itu apalagi dia juga sangat sedih ketika istrinya itu mulai membicarakan betapa lengkap kehidupan rumah tangganya dahulu bersama suami yang dicintainya serta ketiga anaknya yang sangat akur satu sama lainnya. Mr Robinson sangat paham bagaimana rasa sakitnya seorang ibu yang kehilangan anaknya seperti yang dirasakan istrinya sampai sekarang. Tiba - tiba terdengar suara pintu yang terbuka dan Mr Robinson langsung menyeka air matanya sembari merapikan bantalnya.


"Ada apa Jo?" tanya Mrs Robinson sembari duduk di samping suaminya itu.


"Ah tidak ada apa - apa hon," ucap Mr Robinson berbohong.


"Benar tidak ada apa - apa?" tanya Mrs Robinson sekali lagi untuk memastikan.


Mr Robinson tersenyum "iya hon, tidak ada apa - apa kok."


"Kalau tidak ada apa - apa kenapa matamu merah begitu? apa matamu sedang sakit?"


"Iya ini tadi terkena debu jadi perih," ucap Mr Robinson kembali berbohong.


Mrs Robinson kemudian mendekatkan wajahnya untuk melihat mata suaminya yang terkena debu, kemudian dia meniup mata Mr Robinson dan berkata, "apa masih perih?"


"Sudah tidak perih lagi, mungkin debunya sudah hilang."


"Baguslah. Kamu ingin makan apa nanti?"


"Terserah kamu saja hon, aku ingin istirahat sebentar karena badanku terasa pegal - pegal."


"Baiklah kalau begitu."


"Oh ya, Rosie dimana?" tanya Mr Robinson.


"Rosie sedang pergi bersama teman - temannya, kalau Liam tidak tau karena semalam tidak pulang."


Mr Robinson menggelengkan kepalanya sembari berdecak "dasar anak itu. Tidak di Australia, tidak di Indonesia sama saja kelakuannya. Kamu harus sangat memperhatikan anakmu yang satu itu jika dia sudah begini terus."


"Iya hon, lagipula Liam kan juga anakmu dan kamu daddy nya yang harus memberitahu Liam dengan tegas jika seperti itu."


"Kamu tau sendiri kan jika Liam sangat keras kepala? jadi dia sangat sulit untuk diberitahu."


"Iya hon, nanti aku yang akan berbicara dengan Liam jika dia sudah pulang."


"Jika dia tidak menuruti ucapanmu maka pukul saja dia!"


"Aku tidak akan memukulnya karena walau bagaimanapun dia adalah anak yang aku lahirkan dan aku besarkan sampai sekarang, jadi aku tidak tega untuk memukulnya."

__ADS_1


"Hatimu sangat lemah sekali," ucap Mr Robinson mengejek istrinya.


"Itu karena aku dahulu hampir mati saat melahirkannya, jadi aku tidak akan tega untuk memukulnya apalagi dia juga masih mempunyai trauma akibat kelalaian kita dahulu."


"Kamu ini selalu membela anakmu hingga kita sering berdebat karena perbendaan pendapat kita tentang Liam."


"Itu karena kesalahan kamu sendiri."


"Memangnya apa salahku?"


"Salahmu adalah karena kamu selalu menggunakan kekerasan saat menghadapi anak - anakmu hingga mereka menjadi seperti itu, kan aku sudah mengatakan jika tidak perlu menggunakan kekerasan jadi lihat saja karena itu Liam menjadi menganggap kamu seperti orang asing selama beberapa tahun belakangan ini."


"Itu karena dia anak yang nakal, dari dahulu sampai sekarang tidak pernah berubah dan selalu membuat keributan."


"Liam nakal karena kamu selalu menyebutnya sebagai anak nakal saat dihadapannya, jadi percaya atau tidak dia akan menjadi seperti yang selalu kamu ucapkan."


"Kenapa bisa begitu?"


"Ucapan adalah doa, jadi setiap yang kita katakan kepada anak kita sama saja seperti kamu sedang mendoakannya menjadi seperti itu."


"Baiklah, jadi aku harus menyebutnya sebagai apa?"


Mr Robinson tersenyum "baiklah, Liam dan Rosie adalah anak baik yang akan sukses seperti daddy nya bahkan lebih sukses dari daddy nya."


Mrs Robinson langsung mengacungkan jempolnya kepada suaminya itu "begitu dong."


Liam tertidur sebentar di pangkuan Jane, setelah terbangun dari tidurnya Liam kemudian mengajak Jane berjalan - jalan sore di taman dan berkeliling kota menikmati suasana Kota Yogyakarta di sore hari. Mereka berdua kemudian pergi ke sebuah cafe outdoor yang terletak lumayan jauh dari apartement miliknya. Di cafe tersebut terdapat pemandangan matahari terbenam yang sangat indah hingga membuat siapapun yang mengunjungi cafe tersebut ingin berlama - lama disana dan tidak ingin pulang. Di cafe tersebut juga ada konser band akustik yang menemani pengunjung menghabiskan waktu bersama teman, pacar, dan keluarga. Sesampainya di cafe tersebut Liam lalu menggandeng tangan Jane untuk berjalan bersama dengannya, setelah itu mereka memilih tempat duduk yang nyaman mereka berdua lalu memesan makanan dan minuman untuk menemani mereka berbincang di cafe tersebut.


"Cafenya bagus bukan?" tanya Liam menatap Jane.


Jane mengangguk "iya bagus, kok kamu bisa mengetahui tempat seperti ini?"


"Itu karena sebenarnya cafe ini milik kenalanku yang baru dibuka belum lama ini."


"Oh begitu rupanya."


Tiba - tiba ada seseorang yang membawakan pesanan mereka dan orang itu kemudian menegur Liam "hai Liam akhirnya kamu bisa datang juga," ucap orang itu sembari menyajikan pesanan mereka di atas meja.


"Hai pak boss kenapa melayani sendirian?" tanya Liam bercanda.

__ADS_1


"Aku bukan pak boss tetapi kamu yang pak boss," ucap orang itu sembari tertawa.


Liam tertawa "bisa saja kamu, oh ya kenalkan dia Jane."


Orang itu lalu menjabat tangan Jane "saya Rey, teman sekolah Liam dulu."


"Dia pemilik cafe ini."


"Oh begitu rupanya," ucap Jane sembari menjabat tangan Rey.


"Dia pacarmu Li?"


"Calon," jawab Liam singkat yang membuat Jane seketika terkejut dengan ucapannya.


"Oh begitu, kalau begitu selamat menikmati pak boss."


"Iya terima kasih."


"Seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih kepadamu karena bisa menyempatkan waktu untuk datang kesini."


"Ah kamu ini," ucap Liam sembari tertawa.


Rey kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Liam dan Jane lalu menikmati hidangan yang telah mereka pesan sembari mendengarkan band itu bernyanyi. Jane kemudian melihat minuman milik Liam "sepertinya minuman milikmu lebih menarik, boleh aku coba?"


Liam kemudian memberikan minumannya "ini."


Setelah meminumnya Jane kemudian menukar minuman miliknya dan milik Liam "terima kasih."


"Kenapa kamu menukarnya?"


"Karena milikmu lebih lezat."


"Ya sudah terserah kamu saja."


Jane tersenyum memperlihatkan gummy smilenya "iya, harus mau dong."


"Untung sayang," ucap Liam bergumam.


"Kamu bilang apa?"

__ADS_1


"Aku tidak bilang apa - apa kok."


__ADS_2