
2 jam kemudian Jane yang baru saja selesai mandi langsung menemui Liam yang sedang membaca di rooftop rumah mereka. Liam membaca sebuah novel yang Liam beli di Paris waktu mereka berdua liburan honeymoon. Jane memperhatikan Liam yang sedang fokus membaca dari kejauhan hingga membuat dirinya bertanya - tanya, katanya dia tidak bisa berbahasa Perancis lantas mengapa sepertinya dia sudah sangat mahir berbahasa Perancis? amat sangat tidak mungkin jika Liam hanya melihat gambarnya saja karena buku itu hanya full tulisan dan tidak terdapat gambar di buku tersebut. Jane lalu memutuskan untuk menghampiri Liam sembari menggigit jarinya. Liam hanya menoleh sekilas ke arah Jane lalu dia kembali fokus membaca novel tersebut, sedangkan Jane langsung berbaring di pangkuan Liam lalu dia menatap awan - awan yang berada di langit bewarna biru muda tersebut. Sesekali Liam mengusap rambut Jane walaupun matanya terus tertuju kepada buku novel tersebut. Suasananya terasa sunyi tanpa canda dan tawa mereka berdua karena mereka berdua hanya sibuk dengan kegiatan masing - masing, mungkin saja hanya terdengar suara dari dalam filter aquarium atau hembusan angin saja yang terdengar di telinga mereka.
Tiba - tiba saja terdengar suara dering telepon di handphone Liam, dan dengan segera Liam langsung mengangkat telepon tersebut. Setelah menutup telepon Liam kemudian meminta izin kepada Jane untuk pergi bermain futsal bersama dengan teman - temannya. Liam langsung memakai bajunya dan pergi mengendarai motor miliknya begitu dia diizinkan pergi oleh Jane. Sekitar 30 menit kemudian Liam telah sampai di lapangan futsal dan langsung memakai sepatu miliknya. Disana sudah ada Ricko, Dio, Chicko, dan Josh yang siap bertanding di lapangan hijau. Tidak hanya itu juga, ternyata lumayan banyak orang yang datang selain mereka berlima untuk bertanding dengan team Liam dan juga untuk menyaksikan pertandingan tersebut. Setelah selesai pemanasan Liam lalu masuk ke dalam lapangan bersama teman - temannya, dan wasitpun lalu meniup peluit sebagai tanda telah dimulainya pertandingan tersebut. Disisi lain Jane kemudian memilih untuk menonton film saja di kamarnya namun tiba - tiba Nat mengetuk pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Jane ketus.
"Sedang apa?"
"Sedang menonton film."
"Aku boleh ikut menonton tidak?"
Jane mengangguk "boleh, mari silahkan masuk."
Nat lalu bergegas masuk ke kamar Jane sampai dia mendorong tubuh Jane ke pintu, dan dia merasa kagum dengan kondisi kamar utama yang terlihat sangat berbeda dengan kamar tamu.
"Wah kamar kalian terlihat sangat mewah serta ranjangnya sangat empuk," ucap Nat saat naik di atas ranjang Jane.
Jane memutar bola matanya malas "kamu ini seperti tidak mempunyai sopan santun sama sekali."
"Liam berkata anggap saja seperti rumah sendiri, lalu apa salahnya?"
"Tetapi ya tidak begitu juga, ini kamarku dengan kamar Liam, jadi ini termasuk ruangan pribadi kita berdua dan kamu tidak boleh seenaknya berbuat seperti itu di kamarku."
"Iya deh iya."
Jane lalu menarik baju Nat dan menghempaskannya ke bawah "ihhh minggir."
"Aduh," ucap Nat saat terjatuh dari atas ranjang.
Jane tersenyum licik "rasakan itu."
Nat lalu berdiri dan mendorong Jane hingga terjatuh di atas ranjang, dia juga memegang erat kedua bahu Jane "hehe, wah kamu sangat cantik saat seperti ini."
"Ja-jangan aneh - aneh, aku tidak mau."
__ADS_1
Nat menggigit bibir bawahnya "mmmm terlambat."
Karena Jane merasa panik, dia lalu menampar Nat dengan sangat kencang hingga jatuh tersungkur di lantai "aduhh sekarang menjadi sangat sakit."
"Hahaha rasakan itu jika berani macam - macam denganku." Jane lalu kembali menonton film di layar televisi kamar tersebut, sedangkan Nat lalu duduk diam di samping Jane.
"Ternyata tenagamu ini sangat kuat sekali walaupun tubuhmu sangat mungil."
"Maka dari itu jangan macam - macam denganku."
Nat lalu mengambil sebuah guling dan mendekati Jane "apa Liam melakukannya dengan sangat lembut setiap malam?"
"Tentu saja," ucap Jane yang masih fokus menonton film.
"Wah menarik, lalu dia bagaimana? apakah anacondanya terlihat sangat jantan sekali?" tanya Nat sembari menaik - naikkan alisnya.
Jane mulai tersadar dengan arah pertanyaan Nat "eh maksudku tadi emmm.."
"Ah tidak perlu malu - malu, ayo ceritakan kepadaku!!"
"Tidak mau, itu privasi."
"Ya itu kan rahasia diantara kita berdua, dan hanya kita berdua saja yang mengetahuinya."
"Apa miliknya terlihat sangat jantan sekali heum?"
"Apa dahulu kamu tidak bisa melihat miliknya?"
Nat menggeleng "tidak, dia dahulu sangat rapat sekali saat memakai pakaian apalagi celananya jadi aku tidak pernah melihat miliknya sama sekali."
"Ya sudah itu deritamu."
"Huh menyebalkan sekali."
"Lagipula kalian kan sudah menjalin hubungan selama kurang lebih 3 tahun, masa belum pernah melihat miliknya ataupun menyentuhnya?"
__ADS_1
"Belum sama sekali, memangnya sebelum kalian menikah kamu sudah pernah melihatnya?"
"Kalau melihat sih belum, tetapi kalau menyentuhnya sudah pernah."
"Yah aku merasa iri denganmu," ucap Nat lemas.
Jane tertawa "hahaha kasihan sekali, padahal kamu lebih lama mengenalnya dibandingkan denganku dan aku fikir kalian berdua sudah melakukan sampai ke tahap seperti itu."
"Kami berdua belum sampai ke tahap seperti itu karena saat dia sedang ke villa dia hanya berbincang saja tanpa melakukan hal seperti yang aku inginkan."
"Oh."
Saat sore hari Liam sudah sampai dirumahnya dan langsung menuju ke kamarnya untuk bertemu dengan Jane. Karena kebetulan Jane masih mandi, jadi Liam menunggunya sembari duduk di sofa yang berada di walk in closet mereka. Tidak lama kemudian Jane keluar dari kamar mandi dan ingin mengambil sebuah baju di rak paling atas namun tangannya tidak sampai. Dengan sigap Liam langsung menggambilkan Jane baju tersebut, lalu setelah itu dia pergi mandi. Tiba - tiba saja saat Jane sedang menonton televisi di malam hari pandangan Jane tertuju kepada ruangan kerja Liam yang berada tepat di sebelah ranjang mereka, alias ruangan tersebut masih berada di dalam kamar mereka berdua. Saat dibuka ternyata terdapat sebuah rak buku yang sangat besar dan hampir memenuhi ruangan tersebut. Jane lalu mengambil sebuah buku dan membacanya namun dia dikejutkan oleh Liam yang menepuk bahunya.
"Kenapa kamu kemari?" tanya Liam penasaran.
"Aku merasa penasaran dengan ruangan kerja milikmu serta perpustakaan pribadimu."
"Oh begitu."
"Apa aku boleh meminjam buku - bukumu ini?"
"Tentu saja boleh. Mmm apa aku boleh meminta sebuah pijatan darimu?"
"Okay, ayo berbaringlah di atas ranjang dan aku akan memijatmu."
Liam kemudian mengikuti perintah Jane dan menikmati pijatan dari Jane "nahh itu sangat enak sekali."
"Apa ini terasa sakit?" tanya Jane menyentuh punggung Liam.
"Lumayan, kenapa?"
"Punggungmu memar, kenapa bisa sampai seperti ini?"
"Oh sepertinya tadi terkena tendangan bola, jadinya memar seperti itu."
__ADS_1
Jane menghela nafasnya "lain kali hati - hati saat bermain," ucap Jane khawatir.
"Iya sayang."