
Karena merasa sudah muak dengan tingkah mereka berdua lalu Jane berteriak dengan sangat keras hingga mengagetkan Josh dan Liam. Merasa bahwa aura Jane menjadi menyeramkan lalu mereka berdua duduk dengan tenang tanpa mengatakan sepatah kata apapun karena takut dengan kemarahan Jane yang seperti nenek sihir. Jane lalu pergi ke kamarnya untuk merebahkan tubuhnya, sedangkan Josh dan Liam memainkan handphone milik mereka masing - masing. Karena sudah merasa bosan Liam memilih untuk kembali tidur di sofa ruang tamu. Liam sebenarnya ingin menemui Jane namun dia merasa takut karena Jane sangat menyeramkan sekali melebihi nenek gayung. Sekitar 1,5 jam kemudian Mr Kim telah kembali ke rumah bersama dengan istrinya, dia lalu mendekati seseorang pria yang tengah tertidur di sofa ruang tamu rumahnya.
"Liam, hon?" tanya Mrs Kim kepada suaminya itu.
Mr Kim lalu memegang wajah Liam untuk memastikannya "iya hon, ini memang benar Liam."
"Sejak kapan dia tertidur di sini?"
"Tidak tau, lalu kemana anakmu itu?"
"Jane tadi meminta izin kepadaku untuk pergi berbelanja di mall, tapi aku tidak tau apakah dia sudah pulang atau belum."
"Coba kamu cek ke kamarnya."
"Sebentar." Mrs Kim lalu melangkah pergi ke kamar Jane.
Mr Kim mencoba membangunkan Liam "Li, bangun!"
Liam langsung membuka matanya "om, maaf saya ketiduran."
"Tidak apa - apa Liam, apa kamu tidur di kamar tamu saja jika kamu sangat mengantuk."
"Tidak perlu om, kalau begitu saya permisi pulang."
"Kenapa buru - buru? apa kamu sudah bertemu dengan Jane?" tanya Mr Kim sembari menepuk punggung Liam.
"Sudah om, lagipula saya ada janji bertemu dengan teman hari ini."
"Oh begitu, ya sudah hati - hati dijalan."
"Baik om, saya permisi."
Liam kemudian mengambil handphone miliknya beserta kunci mobilnya. Setelah itu dia pergi ke cafe untuk bertemu dengan seseorang wanita yang ternyata Yunna. Mereka berdua ternyata sudah membuat janji sejak dua hari yang lalu. Sesampainya di dalam cafe lalu Liam mengedarkan matanya untuk mencari dimana Yunna duduk, dan tidak lama kemudian Yunna melambaikan tangannya untuk memanggil Liam. Setelah mengetahui tempat dimana Yunna duduk Liam dengan segera menghampirinya dan duduk di depannya. Liam kemudian memesan snack dan cocktail karena selain dia merasa haus, dia juga merasa sedikit lapar apalagi dia belum makan dari pagi. Tiba - tiba saja handphone Liam berbunyi karena mendapat telepon dari Jane, Liam lalu mengangkat teleponnya di depan Yunna. Mereka hanya berbicara sekitar 5 menit saja, tidak seperti biasanya yang berbincang sampai 1 jam saat di telepon. Liam memilih mematikannya karena merasa tidak enak dengan Yunna jika dia terus berbincang di telepon.
"Tadi siapa yang menghubungimu?"
"Jane."
"Oh begitu," ucap Yunna mengangguk paham.
(Hah) Liam menghela nafasnya dengan kasar "membingungkan," ucap Liam bergumam.
"Kamu kenapa Li?"
"Tidak apa - apa."
__ADS_1
"Kamu pasti baru bangun tidur ya?"
"Iya, tadi aku ketiduran di rumahnya Jane."
"Oh begitu rupanya, eh kamu masih memperjuangkannya ya?"
"Sepertinya begitu, aku bersikap seperti ini karena aku ingin membuat mommy senang saja."
"Kenapa begitu?"
"Karena mommy sudah sangat akrab dengan Jane bahkan adikku Rosie juga, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan hatinya lalu menikahinya agar mommy bahagia."
"Jika kamu tidak mencintainya maka jangan memaksakannya, kasihan Jane jika seperti itu apalagi ketika kalian berdua sudah benar - benar menikah karena hubungan yang dimulai dengan sebuah kebohongan tidak akan berakhir dengan baik."
"Oh seperti itu."
"Iya Liam," ucap Yunna sembari mengusap rambut Liam.
"Lalu aku harus bagaimana?"
Yunna menunjuk dada Liam "ikuti kata hatimu."
"Baiklah."
"Benarkah begitu? apakah karena ini kamu tidak menerimaku saat aku mengatakan perasaanku kepadamu?"
"Sepertinya ada alasan lain mengapa aku tidak menerima pernyataanmu waktu itu."
"Apa?"
"Aku lebih suka melihat jika kamu dengan Jane bersama, pasti kalian akan menjadi pasangan yang serasi jika kalian menikah di masa depan."
"Tetapi aku lebih mencintaimu daripada Jane."
Yunna menggeleng "maaf aku tidak bisa menerimamu Liam, aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri."
"Tetapi kamu sudah mempunyai seorang adik laki - laki."
"Sekarang aku mempunyai dua adik laki - laki."
Liam memanyunkan bibirnya "kamu ini sangat menyebalkan."
Yunna tertawa kecil "sudah, kamu sekarang makan terlebih dahulu lalu setelah itu kita bercerita kembali."
"Suapi aku!"
__ADS_1
"Baiklah, tetapi hanya satu suapan saja."
Liam mengangguk sembari tersenyum, lalu dia membuka mulutnya agar Yunna dengan mudah menyuapinya. Yunna lalu mulai menyuapi Liam dengan hati - hati agar makanannya tidak berceceran apalagi sampai mengenai baju Liam. Begitu Liam selesai makan kemudian mereka melanjutkan perbincangan dengan topik yang berbeda. Mereka berdua tampak sangat akrab sekali satu sama lain tanpa disadari oleh orang - orang sekitarnya karena memang Yunna tidak ingin memperlihatkan keakraban saat di kantor. Liam ternyata lebih diam - diam menghanyutkan karena dia sangat playboy sekali. Dia dengan mudah mendapatkan hati para wanita karena sifat humorisnya yang dapat membuat para wanita itu menyukainya dan bahkan bisa dengan mudah akrab dengannya. Dia dahulu berhasil mendapatkan hati wanita New York yaitu Nathalie, lalu kemudian wanita Korea Selatan yaitu Jane, dan sekarang wanita yang memiliki darah campuran Taiwan yaitu Yunna (dasar pria playboy cap kukang, semoga saja diberi hidayah oleh Tuhan). Setelah itu mereka berdua pergi ke rumah baru Liam karena truck pengangkut furniture yang dibeli oleh Liam telah datang. Liam baru membeli ranjang, sofa, meja, kitchen set, dan yang lainnya menyusul. Liam membeli 4 ranjang ukuran queen untuk ditempatkan di kamar tamu, sedangkan satu ukuran king ditempatkan di kamar utama.
Yunna kemudian duduk di sofa baru Liam "sofa yang kamu pilih sangat nyaman sekali."
"Hei itu pilihanmu juga, lebih tepatnya pilihan kita berdua hehe."
"Iya semua ini pilihan kita berdua, kenapa kamu tidak memilih bersama dengan Jane karena dia yang pasti akan menempati rumah ini bersama denganmu?"
"Selera kita sangat bersebrangan, jadi mungkin kita berdua akan menghabiskan waktu untuk berdebat daripada membeli semua furniture ini."
"Liam, Liam."
"Tidak apa - apa, ini justru akan menjadi kejutan saat setelah kita berdua menikah nanti."
Yunna kemudian berdiri "ide yang bagus."
Liam kemudian menghampiri Yunna dan langsung menggendongnya ala bridal style "mungkin aku akan menggendongnya seperti ini saat di depan pintu utama rumah ini dan langsung berjalan membawanya ke kamar utama dengan menaiki lift pribadi."
"Li-Liam apa yang kamu lakukan?"
"Menunjukkan rute yang baru saja aku bicarakan kepadamu," ucap Liam sembari berjalan menuju kamar utama.
"Apa kamu tidak keberatan menggendongku?"
"Tidak sama sekali, karena tubuhku sangat kekar dan kuat."
"Aku takut jika ada orang yang melihatnya kita berdua seperti ini."
"Tidak akan karena halaman rumah ini sangat luas walaupun berada di tengah desa, apalagi hanya ada kita berdua di rumah sebesar ini dan aku sudah mengunci pagarnya setelah truck itu pergi."
"Tetapi jangan apa - apakan aku ketika sampai di kamar utama."
Liam tertawa, lalu dia menurunkan Yunna di atas ranjang yang plastiknya belum dibuka "tenang saja, aku membawamu kesini hanya untuk melihat - lihat kamar utama saja kok."
"Syukurlah."
"Bagimana ranjangnya?"
"Sangat nyaman."
Liam berbaring di samping Yunna "tentu saja karena harganya sangat mahal, jika kamu menginginkannya aku akan memindahkannya di rumahmu."
"Jangan! harganya saja sama dengan 3 tahun gajiku."
__ADS_1