Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #178


__ADS_3

Satu bulan kemudian tepat setengah jam sebelum acara pernikahan mereka berdua, Liam terlihat sangat gugup dan gelisah sekali karena melihat tamu undangan yang terlalu banyak. Mungkin ada sekitar seribu orang yang menghadiri acara pernikahan mereka yaitu kolega Mr Robinson serta kolega Mr Kim. Oleh karena itu Liam yang merupakan anak introvet sangat merasa gugup ketika harus berinteraksi dengan ribuan orang sana, berbeda dengan Jane yang merasa sangat bersemangat dan merasa ceria karena dalam beberapa jam kedepan dia akan menjalani beberapa ritual (bukan ritual pesugihan) sebelum dia dinyatakan sah menjadi bagian dari keluarga Robinson, sebuah pernikahan yang di idam - idamkan olehnya dan yang hanya terjadi sekali dalam seumur hidupnya.


Pernikahan mereka dilaksanakan di hotel bintang 5 ternama yang berada di Korea Selatan. Semua orang khususnya keluarga Robinson serta keluarga Kim tampak sangat bahagia sekali atas pernikahan Liam dengan Jane, apalagi kedua keluarga itu sangat menginginkan jika pernikahan mereka berdua benar - benar terjadi. Berbeda dengan Liam yang sedari tadi mondar - mandir di ruang ganti dengan sudah berpakaian setelan jas lengkap bewarna biru langit serta dasi kupu - kupu dengan warna yang sesuai dengan warna jas miliknya, sedangkan Jane hanya duduk diam menggenggam hand bouquet bunga krisan miliknya sembari melihat Liam yang sedari tadi mondar - mandir di depannya seperti setrika. Tidak lama setelah itu Liam yang berdiri di dekat pendeta langsung merasa terharu saat melihat Jane yang tampak anggun dengan gaun pernikahannya berjalan di altar dengan digandeng oleh Mr Kim.


Setelah mereka mengucap sumpah pernikahan mereka berdua langsung membuka tudung gaun pengantin milik Jane dan berciuman dengan diiringi oleh tepuk tangan dari para tamu undangan. Setelah selesai berfoto ria Jane kemudian mengajak Liam untuk menyapa teman - temannya sekaligus memperkenalkan Liam kepada teman - teman Jane. Acara pernikahan mereka berdua sangat ramai apalagi setelah beberapa grup dari agensi Mr Kim satu persatu menyumbangkan lagu miliknya masing - masing sebagai hiburan. Liam sampai dibuat pusing karena sangat ramai sekali apalagi Liam juga tidak terlalu menyukai keramaian, jadi setelah acara selesai Liam memilih untuk berdiam diri di kamarnya karena ingin mengembalikan tenanganya yang sudah terkuras habis setelah bertemu dengan para tamu undangan.


Niat hati ingin bermanja ria dengan Liam yang sekarang sudah sah menjadi suaminya itu namun saat baru saja dia keluar dari kamar mandi Jane justru mendapati Liam tengah tertidur dengan masih menggunakan setelan jas lengkap serta sepatu pantofel miliknya. Setelah itu Jane melepas sepatu serta jas yang digunakan oleh Liam, dan dia lalu duduk di sofa sembari memainkan handphone miliknya. Tiba - tiba handphone Liam berdering dan dia langsung mengangkatnya dengan matanya yang masih terpejam.


"Ada apa Dio?" tanya Liam mengangkat telepon.


"Mau ikut ke bar tidak?"


"Tidak, aku ngantuk ingin tidur."


"Yakin ingin tidur di malam pertama setelah menikah?" tanya Dio menggoda Liam.


Liam terkejut "eh apa? bisa diulangi sekali lagi?"


"Jangan bilang kalau kamu lupa bahwa kamu ini sudah menikah?"


Liam kemudian menatap Jane yang sedang duduk di sofa "oh iya hehe." Setelah itu Liam menutup teleponnya.


"Siapa yang telepon?" tanya Jane menatap Liam.


"Ah hanya Dio, dia mengajak ke bar."


"Kamu ingin pergi?"


"Aku malam ini ingin disini saja denganmu, kamu tidak keberatan?"


"Tidak."


Liam kemudian menghampiri Jane dan menggendongnya ke ranjang "aku ingin.."


"Sudah sana mandi terlebih dahulu, badanmu bau."


"Oh iya baiklah."


Liam kemudian bergegas pergi mandi dan setelah itu dia kembali mendekati Jane "mmmm Jane."


"Ya hubby?"


"Hu-hubby?"

__ADS_1


"Iya, karena kamu sekarang suamiku jadi aku akan memanggilmu dengan sebutan hubby."


Liam tersipu malu "oh."


Jane kemudian menggelitiki suaminya itu "ih kamu ini kenapa gugup seperti ini heum? biasanya juga langsung nyosor."


Liam tertawa karena merasa geli "ak-aku bingung saja."


"Bingung kenapa?"


"Bingung harus mulai darimana."


"Apa harus diajari terlebih dahulu heum?"


"Tidak, lagipula kenapa harus terburu - buru? malam kan masih panjang sayang."


"Benar juga."


"Oh ya sebentar, aku kunci pintunya terlebih dahulu."


"Sekalian lampu utamanya dimatikan saja."


Liam langsung lompat di atas ranjang yang bertaburan kelopak bunga mawar dan setelah itu dia menciumi kaki Jane yang mulus dan putih itu "hmmm harum sekali."


Liam mengambil sebuah kuncir rambut yang berada di atas meja dan mengikat rambut Jane agar tidak mengganggunya "kenapa ya tiba - tiba gerah sekali?"


Jane hanya tersenyum. Setelah itu dia menanggalkan pakaiannya "itu karena perbuatanmu sendiri."


"Memangnya aku melakukan apa?" tanyanya sembari memperhatikan yang dilakukan Jane serta bentuk tubuh Jane.


Jane langsung mencubit hidung Liam "lihat apa?"


Liam langsung memalingkan wajahnya "aku melihat langit - langit, sepertinya bagus sekali desainnya."


Jane memegang wajah Liam "dasar pembohong," ucap Jane sembari menyeringai.


Liam kemudian ikut menanggalkan pakaiannya "aku ingin seratus anak darimu."


Jane tertawa "yakin? sepertinya melihat tingkah laku satu anak saja sudah membuat sepupuku pusing, lalu kamu ingin seratus anak?"


Liam berfikir sejenak "mmmm benar juga ucapanmu."


"Kita buat dua anak saja laki - laki dan perempuan, bagaimana?"

__ADS_1


"Boleh juga."


Mereka berdua lalu menciptakan malam indah mereka berdua sendiri, dan rasa lelah serta kantuk yang mereka rasakan seketika lenyap begitu saja setelah mereka berdua melakukan hal yang diinginkan olehnya. Liam sangat merasa bersemangat sekali untuk mengerjai Jane semalaman pada malam itu sehingga dia mengeluarkan banyak keringat dari tubuhnya, sedangkan Jane merasa nyaman dengan perlakuan lembut Liam kepadanya. Jam menunjukkan pukul 1 malam dini hari, setelah selesai Liam kemudian membawa Jane ke dalam pelukannya dan menarik selimutnya untuk tidur. Liam merasa kasihan kepada Jane karena wajah Jane terlihat sangat kelelahan sekali, dan dia kemudian mengusap punggungnya agar Jane bisa beristirahat dengan nyaman.


"Good night and sweet dream my dear," ucap Liam sembari mencium kening Jane.


"You too. Eh hubby."


"Ya?"


"Aku tidak bisa tertidur."


"Wajahmu terlihat lelah sekali sayang, ayo tidur!"


"Temani aku berbincang agar aku bisa tidur."


"Baiklah," ucapnya saat mencium pipi Jane.


Jane mendusel - ndusel di dada Liam "sejak kapan kamu melakukan latihan di gym hingga dadamu ini terasa keras seperti ini?"


"Seingatku saat umurku menginjak 15 tahun."


"Oh pantas saja kamu memiliki dada yang bidang, lalu apa alasanmu dahulu pergi ke gym?"


"Karena aku ingin menjadi pria yang kuat sehingga bisa melindungimu dan keluarga kecil kita, yah walaupun aku sekarang terkadang menangis."


Jane mengusap rambut Liam "tidak apa - apa, menangis itu manusiawi."


"Kamu pasti sering menangis?"


"Iya. Hoammm, aku mengantuk."


"Ayo tidur! kemarilah ke dalam pelukanku."


Saat jam 5 pagi Jane terbangun dari tidurnya dan mencium bibir Liam sekilas "good morning hubby."


"Good morning."


"Maaf aku membangunkankamu."


Liam memeluk Jane dengan sangat erat "tidak masalah, ayo kita lanjutkan yang semalam."


Jane tersenyum "baiklah."

__ADS_1


__ADS_2