
"Aku sekarang paham mengapa kamu selalu mengatakan jika melukis dapat membuatmu merasa damai serta menenangkan sebuah jiwa, karena kita dilatih untuk fokus pada satu hal saja serta menyingkirkan hal - hal lain yang sedang mengusik fikiran kita."
"Hampir mirip seperti itu sih namun lebih tepatnya aku tidak tahu yang pasti karena sangat sulit untuk dijelaskan."
"Benar, terkadang memang ada sesuatu hal yang sulit dijelaskan oleh lisan dan bahkan difikirkan secara logika namun hal tersebut memang ada di dunia ini."
"Contohnya?"
"Cinta."
"Cinta? kenapa begitu?"
"Terkadang cinta sangat sulit dijelaskan serta diungkapkan oleh lisan. Cinta juga sangat sulit jika difikirkan dengan menggunakan sebuah logika atau dengan menggunakan akal sehat."
"Kenapa begitu?"
Jane lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Karena pada dasarnya cinta itu datangnya dari hati dan juga dari perasaan, jadi kamu tidak bisa memikirkannya dengan menggunakan sebuah logika. Ada yang pernah berkata jika cinta itu gila bahkan buta dan tuli, karena ketika sudah dimabuk cinta pasti tidak akan memikirkan hal lainnya secara waras karena perasaannya sudah mengusai dirinya."
"Oleh karena itu aku benci dengan yang namanya cinta."
"Kenapa begitu?"
"Ya aku tidak ingin menjadi gila karena cinta, jadi walaupun aku sedang jatuh cinta pasti akan selalu menggunakan logika aku untuk berfikir jernih dan tidak akan membiarkan perasaan menguasai diriku."
"Aku baru tahu jika ada seseorang yang seperti itu."
"Maka dari itu ada seseorang yang pernah berkata jika melakukan apapun itu jangan berlebihan dan harus dalam batas wajar apalagi mengenai hal yang berhubungan cinta."
"Kamu bisa berkata seperti itu pasti karena kamu telah mengalami sesuatu hal hingga kamu tidak ingin hal itu terjadi pada dirimu kembali, bukan?"
"Bukan aku sih namun seseorang terdekatku yang pernah ada di titik seperti itu hingga hampir kehilangan nyawanya sendiri, jadi aku tidak ingin hal itu terjadi kepadaku juga."
"Memangnya apa yang terjadi kepada seseorang terdekatmu jika aku boleh tahu?"
"Nanti aku akan menceritakannya setelah makan siang."
"Okay hubby."
__ADS_1
Karena Liam menginginkan jika hari Sabtu dan Minggu adalah hari dimana dia akan mendapatkan ketenangan dalam jiwanya serta tidak ingin terusik oleh keberadaan orang luar, alhasil Liam kemudian meminta bibi untuk libur bekerja di rumahnya. Liam kemudian memasak makan siang untuk mereka berdua dan juga membuat beberapa dessert sebagai hidangan penutup. Kali ini Liam memasak steak salmon filet dan membuat oreo pudding sebagai dessert. Jane yang baru saja selesai mandi langsung menghampiri Liam untuk melihat dia memasak di dapur, dan itu menjadi salah satu hal yang disukainya walaupun dia tidak ingin jika Liam selalu memasak untuk dirinya. Jane berfikir mengapa Liam senang sekali memasak hanya dengan menggunakan celemek saja tanpa baju, dan bahkan terkadang Liam tidak memakai celemek serta bajunya hingga tubuhnya yang kekar itu terlihat sangat jelas.
Jane selalu saja gagal fokus karena justru malah melihat perut sixpack Liam daripada melihat keahlian dia memasak serta langkah - langkahnya memasak semua hidangan tersebut. Jari jemari Liam sangat gesit sekali saat memotong bahan - bahan makanan dan juga memanjakannya saat malam hari ehe. Tangannya yang berotot itu telah melakukan semua pekerjaannya dengan baik hingga seperti tidak ada kekurangan suatu apapun. Hal itu membuat Jane merasa sangat gugup saat Liam memperhatikan dirinya ketika dia sedang memasak untuknya. Begitu selesai memasak steak Liam lalu menyajikannya di piring yang bewarna gelap dan tidak lupa dia juga menambahkan garnish di hidangan tersebut untuk mempercantik tampilan dari steak salmon filet buatannya. Liam kemudian menyajikannya di atas meja mini bar dan mempersilahkan Jane untuk mencicipi masakannya.
"Suamiku tampak sangat sexy sekali saat sedang memasak," ucap Jane dengan mata yang berbinar - binar, dan mendengar hal seperti itu pipi Liam langsung memerah seperti kepiting rebus.
"Ssstt kamu ini selalu saja merusak fokus aku saat sedang memasak."
"Yang ada justru kamu yang merusak fokus aku untuk melihat caramu memasak."
"Eh kenapa begitu?"
"Kamu kalau sedang memasak pasti selalu saja seperti itu, hanya menggunakan celemek tanpa baju dan terkadang tidak memakai baju atasan ataupun celemek sama sekali."
"Oh jadi kamu merasa tergoda saat aku bert*lanjang dada hingga memperlihatkan perut sixpack aku seperti ini heum?"
"Oh jadi kamu sangat menyukai perut sixpack milikku ini ya?"
Liam kemudian mendekati Jane.
"Liam, jangan coba - coba untuk melakukan sesuatu!! awas saja jika kamu berani denganku!!"
Liam lalu menarik pinggul Jane agar mendekat ke arahanya hingga tidak ada jarak di antara mereka berdua.
"Masa bodoh."
"Ihh aku ini sedang mengandung anakmu."
"Iya aku tahu, lalu?"
"Liam!!"
"Bukankah tidak apa - apa jika aku..."
"Tidak boleh!!"
"Kenapa?"
"Aku akan berteriak jika kamu berani macam - macam denganku."
__ADS_1
"Ya."
Belum sempat berteriak Liam sudah langsung mencium bibir Jane dengan ganas.
"Sudah, mari makan."
"Dasar pria ini," ucap Jane bergumam.
Mereka berdua lalu makan siang bersama dan selesai makan siang, Liam kemudian mengambil oreo pudding yang berada di kulkas. Setelah itu dia memberikannya kepada Jane sebagai hidangan pencuci mulut. Entah dahulu dia bermimpi apa sampai mempunyai seorang suami yang bisa dikatakan sebagai suami sempurna karena sangat lihai melakukan banyak hal seperti memasak (chef bintang 5), bersih - bersih rumah, tukang service kecil - kecilan, pengusaha, gamers, pelukis, penulis, dan lain sebagainya. Namun walaupun begitu Liam masih saja mempunyai kelemahan yaitu trauma yang dimiliki olehnya sejak dahulu, keras kepala, dan juga tempramental. Setelah mengetahui hal tersebut Jane hanya bisa membantunya untuk keluar dari itu semua serta membuatnya berubah lebih baik, karena walupun sifat Liam seperti itu namun dia masih memiliki sisi baik di hati kecilnya.
"Masakanmu selalu saja tidak pernah gagal dan selalu merasa sangat lezat sekali hubby."
"Tentu saja begitu karena aku ini sebenarnya adalah chef bintang 5," ucap Liam dengan penuh rasa percaya diri.
"Iya hubby sayang."
"Maka dari itu sebenarnya tidak apa - apa jika aku yang selalu memasak untukmu."
"Nope."
"Kenapa begitu? pasti kamu merasa tidak enak denganku bukan?"
Jane mengusap pipi Liam dan menatapnya dengan sangat dalam.
"Benar hubby, aku tidak ingin suamiku yang paling tampan ini merasa kelelahan hanya karena mengurus semua pekerjaan rumah tangga dan aku hanya ingin kamu selalu menemaniku."
"Ah kamu ini."
Jane langsung mencium bibir Liam.
"Sssttt sudah jangan seperti itu."
"Hmmm."
"Hubby cepat ceritakan yang ingin kamu ceritakan kepadaku tadi!!"
"Nanti malam saja."
"Kenapa begitu?"
__ADS_1
"Agar lebih enak suasananya."
"Ihh kamu ini," ucap Jane merasa kesal.