
Setelah Mr Robinson keluar dari ruangannya, Liam kemudian melanjutkan pekerjaannya. Liam membaca setiap kalimat yang sudah tertulis jelas di berkas dokumen tersebut sembari menelaah beberapa informasi yang terdapat disana. 2 jam kemudian Liam telah menyelesaikan pekerjaannya dan itu bertepatan dengan jam makan siang. Yunna masuk ke dalam ruangan Liam untuk mengajaknya makan siang, dan Liam langsung berencana untuk makan siang di luar saja seperti yang biasa dia lakukan dengan Yunna.
Setelah Yunna menyetujuinya, mereka berdua lalu berjalan menuju tempat parkir dan langsung tancap gas menuju ke sebuah warung makan Saat ini Yunna sedang ingin makan seblak, jadinya mau tidak mau Liam juga ikut makan disana. Sesampainya disana Yunna memilih seblak special dengan level 3, sedangkan Liam hanya memilih level 1 saja karena takut perutnya sakit. Kebetulan warung tersebut sangat ramai, jadi mereka berdua harus menunggu antrian terlebih dahulu. Mereka berdua berbincang bersama sembari menunggu pesanan mereka selesai disiapkan, dan Liam langsung berkata bahwa dia ingin membangun cafe.
10 menit kemudian pesanan mereka telah siap, dan mereka langsung menyantapnya. Liam merasa penasaran bagaimana rasa seblak level 3 Yunna karena miliknya yang level 1 saja sudah sangat pedas menurutnya, apalagi ditambah dengan seblak tersebut masih sangat panas hingga beruap. Liam lalu bertanya kepada Yunna mengenai hal tersebut, dan Yunna langsung menyuapi satu sendok seblak miliknya. Setelah merasakan milik Yunna, Liam langsung kepedesan hingga membuatnya cegukan.
Liam memang selalu cegukan seperti itu saat dia merasa kepedesan, dan untung saja Yunna langsung memberi Liam minuman agar dia tidak cegukan lagi. Beberapa jam kemudian saat sore hari tiba - tiba saja hujan deras, hingga membuat beberapa karyawan yang menaiki motor ataupun angkutan umum harus menunggu sebentar di depan kantor sampai hujannya tidak terlalu deras. Yunna adalah termasuk salah satu karyawan yang menaiki motor, jadi dia juga ikut menunggu di depan kantor sampai hujan sedikit reda karena dia takut naik motor saat hujan sangat deras dengan disertai angin kencang.
*Zraash.*
*Duaarr.*
*Was wes wos.* (Ceritanya suara figuran yang sedang berbincang).
"Belum pulang Yun?" tanya Liam yang tiba - tiba saja berdiri di samping Yunna.
"Belum, hujannya sangat deras dengan disertai angin kencang dan itu membuatku sangat takut untuk pulang."
"Oh kalau begitu bareng denganku saja," ucap Liam menawarkan tumpangan.
"Tidak perlu Li, lagipula rumah kita arahnya sangat berlawanan."
"Tenang saja aku akan tetap mengantarmu sampai rumah dan kalau perlu sampai ke depan pintu rumahmu."
"Kamu duluan saja tidak apa - apa, lagipula disini juga masih banyak orang kok."
Liam lalu menggandeng tangan Yunna.
"Hei ayolah, kamu ini harus menurut kepadaku karena aku ini boss mu."
"Hmm baiklah jika kamu memaksa," ucap Yunna pasrah.
Liam lalu melepaskan jas yang dia kenakan dan memakaikannya di badan Yunna karena dia terlihat kedinginan. Setelah itu Liam memayungi mereka berdua untuk berjalan ke mobil.
"Ah ternyata hujannya memang sangat deras sekali," ucap Liam sembari menyalakan mesin mobilnya.
"Mmm sebelumnya terima kasih ya karena telah bersedia untuk mengantarkanku pulang ke rumah."
"Iya sama - sama, santai saja."
Liam lalu mengendarai mobilnya menuju ke rumah Yunna. Selama diperjalanan mereka berdua terus asyik berbincang satu sama lain agar suasananya tidak menjadi canggung. Saat di lampu merah, Yunna melihat bahwa kacamata Liam kotor terkena air hujan.
"Mmm kacamatamu kotor, sini aku bersihkan terlebih dahulu."
"Oh ya silahkan."
Yunna lalu melepas kacamata Liam dan membersihkannya dengan cairan pembersih khusus yang telah tersedia di tas pribadinya. Setiap hari Yunna juga membawa barang - barang ditas pribadinya yang mungkin dibutuhkan oleh Liam, secara Yunna adalah sekretaris pribadinya. Barang - barang itu seperti rokok, korek api, cairan pembersih kacamata, sapu tangan, dan lain sebagainya.
"Ini sudah," ucap Yunna sembari memakaikan kembali kacamata itu di mata Liam.
__ADS_1
"Terima kasih."
"Sama - sama, oh ya sebenarnya kamu itu minus berapa?" tanya Yunna penasaran.
Liam berfikir sejenak.
"Kalau dulu satu, tapi tidak tahu kalau sekarang karena sudah lama aku tidak pergi ke dokter mata."
"Kenapa begitu?"
"Aku malas, jadinya aku enggan untuk pergi kesana."
"Besok jika ada waktu luang, aku akan menjadwalkan kamu untuk konsultasi ke dokter mata."
"Kenapa kamu sangat perhatian sekali?"
"Karena kamu atasanku, dan pekerjaanku adalah sebagai sekretaris pribadimu yang otomatis aku akan memperhatikanmu saat kamu sedang di kantor."
"Oh begitu."
*Beberapa menit kemudian.*
"Sudah sampai Yun," ucap Liam memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu rumah Yunna.
"Terima kasih Liam," ucap Yunna dengan tersenyum.
"Hati - hati dijalan."
"Iya, bye."
"Bye."
Setelah Yunna masuk ke dalam rumahnya, Liam kemudian kembali mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah. Selama diperjalanan pulang Liam terus menerus memikirkan Yunna dan merasa bahwa perasaan cinta itu kembali muncul seiring waktu serta karena Yunna selalu perhatian kepadanya. Sesampainya dirumah Liam langsung disambut oleh istri tercintanya.
"Hai hubby, aku sudah membuatkan kamu teh hangat."
"Terima kasih sayang," ucap Liam mencium kening Jane.
"Sini jas dan tasnya, aku akan meletakannya di kamar."
Liam lalu memberikan barang yang diminta oleh Jane.
"Oh ini sayang."
Jane lalu mencium jas yang baru saja Liam pakai, dan jas itu tercium aroma parfume wanita.
"Hubby, ini parfume siapa yang menempel di jas milikmu?" tanya Jane penasaran.
"Oh itu mungkin parfume milik Yunna karena aku memberikan jas milikku untuknya."
__ADS_1
"Kenapa begitu?"
"Kasihan dia kedinginan karena diluar sedang hujan deras."
Jane menghela nafasnya dan bergumam.
"Dengan orang lain saja sangat perhatian sekali, sedangkan dengan istrinya sangat cuek dan tidak peka sama sekali."
Liam lalu menghampiri Jane dan memeluknya dari belakang.
"Sayang, jangan berkata seperti itu."
"Aku tidak berkata apapun!!" jawab Jane ketus.
"Jangan berbohong kepadaku, kalau tidak....."
"Kalau tidak apa?" tanya Jane menatap Liam.
"Kalau tidak aku akan menggendongmu sembari menciumi wajahmu untuk membuat tanda daerah kekuasaan," ucap Liam menggendong Jane.
"Hubby jangan, hentikan!!"
Liam lalu membawa Jane ke kamar, hujan - hujan begini rasanya sangat enak sekali ketika melakukan hal seperti itu bagi pasangan yang sudah menikah.
"Iyakkk!!" teriak Jane.
"Hahaha siapa suruh kamu bergumam seperti tadi ha?"
"Hubby lepaskan, aku sedang tidak ingin melakukannya."
"Kenapa begitu sayang?"
"Apa kamu tidak merasa lelah setelah seharian bekerja di kantor?"
Liam menggeleng.
"Tidak kok, justru aku lebih bersemangat saat bersamamu."
"Haiss kamu ini, besok saja ya hubby?"
"Kenapa begitu?"
"Aku sedang merasa lelah."
Liam langsung memijat tubuh Jane agar tidak diejek pria yang cuek serta tidak peka oleh istrinya sendiri.
"Bagaimana? nyaman bukan?"
"Iya hubby."
__ADS_1