
Liam lalu tengkurap dan Nat mulai memijat Liam. Nat memijat punggung, bahu dan kaki Liam sembari berbincang dengannya. Karena masih merasa lelah dan mengantuk, akhirnya Lian tertidur saat masih dipijat oleh Nat. Liam tertidur dengan sangat pulas, sedangkan Nat masih memijat badannya yang lelah tersebut. 20 menit kemudian, Nat berhenti untuk memijat tubuh Liam dan dia lalu memandangi wajah Liam yang sedang tertidur pulas tersebut. Nat tersenyum sembari memandangi wajah Liam dan mengusap lembut wajah Liam. Nat merasa jika wajah Liam tetap saja tampan meski sedang tidur sekalipun. Apakah di sana juga ada seorang wanita yang sudah memandangi wajah tampan Liam tersebut saat dia sedang tertidur atau jangan - jangan wanita itu sudah selalu tidur bersama dengan Liam? begitu gumam Nat sembari terus mengusap wajah dan rambut Liam. Setelah itu Nat kembali melanjutkan menonton acara televisi. Saat sedang menonton acara televisi, Nat terus kepikiran tentang Liam dan wanitanya yang sedang berusaha dia sembunyikan dari dirinya. Siapa namanya, apa pekerjaanya, dan wanita seperti apakah dia, apakah dia sangat menyayangi Liam sebesar dirinya menyayangi Liam atau tidak.
Teka teki itu terus bermunculan di dalam otak Nat hingga membuatnya sesekali memandang wajah Liam untuk memastikannya dan membuatnya merasa sedikit tenang. Bukannya apa - apa, tetapi Nat tidak ingin kehilangan Liam karena menurutnya Liam adalah pria yang sangat sempurna baginya dan dia tidak ingin jika Liam dimiliki oleh orang lain. Nat lalu membawa Liam ke dekapan tubuhnya dan tiba - tiba Liam mengigau " hei kenapa bau parfume kamu sangat berbeda kitten? " sontak Nat merasa terkejut dan dia kembali memandangi wajah Liam yang masih tertidur pulas tersebut. Nat semakin yakin jika Liam sudah mempunyai seseorang di hatinya selain dirinya, dan yang menjadi pertanyaan terbesar di otaknya adalah siapa Kitten itu lalu apa hubungan mereka berdua sampai Liam sangat mengenali bau parfumenya? karena Nat sangat pusing memikirkan hal tersebut, akhirnya dia ikut tertidur bersama dengan Liam. Beberapa jam kemudian Liam terbangun dari tidurnya. Liam lalu melihat sebentar Nat yang ikut tertidur pulas sebelum dia pergi ke kamar mandi untuk buang air.
Nat yang terbangun dan menyadari jika Liam tidak ada di sampingnya, lalu Nat mendekati kamar mandi karena mendengar suara kran air "honey, kamu ada di dalam?"
"Iya, tunggu sebentar aku sedang buang air." Teriak Liam dari dalam kamar mandi.
"Ah begitu rupanya." Nat lalu kembali berjalan menuju ranjangnya dan duduk di tepi ranjang.
Liam kemudian menghampiri Nat yang sedang sibuk bermain handphone "ada apa kamu memanggilku?"
"Tidak apa - apa, aku kira kamu menghilang karena waktu aku bangun kamu sudah tidak ada di sampingku."
Liam kemudian duduk di atas ranjang dan memeriksa handphone miliknya "tidak, aku tadi tiba - tiba ingin buang air."
"Oh begitu." Nat lalu meletakkan handphone miliknya dan memeluk tubuh Liam dari samping.
"Kamu kenapa menempel sekali denganku seperti prangko?" tanya Liam yang masih sibuk dengan handphone miliknya.
"Sudah aku katakan sebelumnya jika aku ini sangat merindukanmu dan ingin terus dekat denganmu walaupun waktunya tidak lama."
"Baiklah." Jawabnya singkat.
Nat lalu mengambil handphone Liam dan meletakannya di atas meja dekat ranjang "kamu ini memainkan handphone kamu terus sampai aku di diamkan begini."
Liam lalu menatap wajah Nat "baiklah, apa yang kamu inginkan?"
"Tidak ada, hanya ingin begini saja." Jawabnya sembari masih memeluk Liam.
Liam lalu mencubit hidung Nat "kamu ini masih tetap manja ya?"
"Kalau dengamu saja manjanya."
"Memangnya dengan orang lain tidak, misalnya pacar mungkin?"
"Aku tidak mempunyai pacar karena aku masih menunggumu."
__ADS_1
"Jangan menungguku karena aku masih memikirkan sesuatu hal yang penting."
"Apa itu?" tanya Nat merasa penasaran.
"Rahasia." Jawab Liam sembari tertawa.
Nat memanyunkan bibirnya "kamu ini menyebalkan sekali. Eh tadi kamu mengigau sewaktu tidur."
Liam merasa terkejut "benarkah?"
"Iya hon."
"Bagaimana?"
Nat lalu menirukan ucapan Liam "hei kenapa bau parfume kamu sangat berbeda Kitten? memangnya Kitten itu siapa?"
"Oh itu kucing betina aku."
"Sejak kapan kamu memelihara kucing betina?"
Liam berfikir sejenak "sejak aku berada di Indonesia. Dia itu sangat putih, pipinya chubby, manja, dan selalu merasa nyaman ketika tidur di pelukanku."
Liam tertawa "dia hanya seorang kucing betina Nat, masa kamu merasa cemburu kepadanya?"
"Tentu saja. Ya sudah aku mau mandi dulu, setelah itu kita pergi jalan - jalan."
"Baiklah."
Nat kemudian berjalan menuju kamar mandi, sedangkan Liam menunggunya di atas ranjangnya sembari memainkan handphone miliknya dan berkirim pesan dengan Jane. Liam sangat asik chatting dengan Jane sampai dia tidak menyadari bahwa Nat sudah selesai mandi dan berada di depan meja rias untuk berdandan. Nat lalu mengajak Liam untuk berbincang tetapi Liam tidak menjawabnya, dan akhirnya Nat berteriak kepada Liam karena semenjak tadi dia tidak memperhatikan Nat saat Nat bercerita. Liam kemudian meletakkan handphone miliknya lalu dia mendengarkan Nat saat sedang bercerita sembari merias wajahnya. Selesai merias wajahnya, Nat kemudian mengajak Liam untuk pergi berjalan - jalan di kota New York namun Liam memilih untuk kembali ke hotelnya karena ingin mandi terlebih dahulu. Setelah itu mereka berdua keluar dari apartement milik Nat, lalu pergi ke hotel Liam. Sesampainya di dalam kamar Liam, Nat menunggu Liam dengan duduk di atas ranjangnya. 15 menit kemudian Liam telah selesai mandi dan sedang menyisir rambutnya.
"Mau kemana kita hari ini?" tanya Liam sembari menyisir rambutnya.
"Jalan - jalan berkeliling kota saja bagaimana, atau mau ke tempat lain seperti mall mungkin?"
"Baiklah terserah kamu saja."
"Kamarmu rapi sekali hon."
Liam menghampiri Nat "kan ada room attendant yang membersihkannya."
__ADS_1
Nat lalu memuji Liam "kamu masih seperti dulu, sangat cinta dengan yang namanya bersih dan rapi."
"Kan sudah ku katakan jika aku masih sama seperti yang dulu Nat," ucapnya lalu mencubit hidung Nat.
Nat lalu memegang hidungnya "sakit hon. Tapi aku rasa tidak sepenuhnya."
"Maksud kamu?"
Nat memeluk Liam dengan erat "ya maksud aku, kamu tidak sepenuhnya seperti dahulu dan ada sedikit yang berubah dari diri kamu."
"Ya pasti semua orang itu berusaha untuk berubah menjadi yang lebih baik bukan?"
"Aku tau itu honey, tetapi yang aku maksud itu kamu seperti sedang menjaga jarak denganku."
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja Nat."
"Ya aku harap begitu hon."
Liam kemudian mengusap rambut Nat "jika aku sedang menjaga jarak denganmu mana mungkin aku mengizinkanmu untuk memelukku seperti ini dan memanggilku dengan sebutan honey, benar kan?"
"Benar hon."
"Tunggu sebentar, aku merasa aneh kenapa kamu tiba - tiba memanggilku dengan sebutan honey?"
"Sepertinya dulu aku juga memanggilmu honey tetapi hanya terkadang saja, dan jika iya memangnya aku dulu memangilku dengan sebutan apa hon?"
"Seingatku kamu dulu memanggilku hanya dengan namaku saja, lalu kenapa tiba - tiba panggilannya berubah?"
Nat berfikir sejenak "kenapa ya?"
"Cepat katakan!"
"Karena aku sadar jika aku sudah sangat menyayangimu, dan aku sulit sekali menemukan seorang pria sepertimu yang selalu memberiku hadiah saat dulu kamu menginap di villa."
"Benarkah begitu?"
"Tentu saja honey, sudahlah ayo kita pergi sekarang." Ajak Nat.
"Baiklah, tetapi bagaimana kalau kita makan di restaurant hotel terlebih dahulu sebelum kita pergi."
__ADS_1
"Aku setuju denganmu hon."