Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #245


__ADS_3

Liam bermain bersama Seojun yang sekarang telah menjadi keponakannya itu hingga membuat Seojun menjadi sangat dekat dengannya bahkan sampai tidak ingin pisah darinya. Tidak hanya bermain saja, namun Liam juga membacakan sebuah buku cerita kepada Seojun serta mengajarinya menggambar. Hal itu membuat eomma Seojun serta Mrs Kim beberapa kali berbisik kepada Jane agar segera memberi Liam seorang anak, karena dirasa Liam sudah mempunyai jiwa kebapakan. Mr Kim juga sangat senang melihat menantunya tersebut bermain - main bersama dengan Seojun, lalu dia berbicara kepada Liam untuk segera meminta seorang anak kepada Jane namun Liam langsung menjawab bahwa dia dan Jane masih ingin menundanya terlebih dahulu. Sontak hal tersebut membuat semua anggota keluarga Jane merasa terkejut dengan pernyataan Liam. Mrs Kim lalu menanyakan hal tersebut kepada Jane dan dia langsung mengangguk, tanda mengiyakan pernyataan Liam. Padahal mereka sangat ingin segera menimang seorang cucu namun anak serta menantunya tersebut malah memilih untuk menunda memiliki seorang anak selama setahun.


Awalnya Liam berfikir bahwa Jane sudah membicarakan hal tersebut kepada keluarganya namun melihat reaksi dari anggota keluarganya yang sebegitu terkejutnya, Liam lalu berfikir jika sepertinya Jane belum berkata sejujurnya kepada anggota keluarganya atau mungkin dia sudah mengatakannya namun mereka hanya menganggapnya sebagai candaan saja. Liam kemudian kembali duduk di sofa dan menjelaskan kepada orang tua Jane bahwa perjalanan mereka masih panjang sehingga mereka berdua lebih memilih untuk fokus berkarier terlebih dahulu dibidangnya masing - masing. Mereka berdua masih ingin berpacaran serta berkeliling dunia seperti yang dijanjikan oleh Liam kepada Jane sebelum mereka berdua memutuskan untuk menikah. Liam berusaha untuk menjelaskan secara perlahan kepada orang tua Jane seperti dia menjelaskam kepada orang tuanya waktu itu walaupun raut wajah Mrs Kim masih terlihat tidak mengenakkan. Sebenarnya di hati Liam juga merasa kurang setuju karena waktu itu dia harus menunggu lumayan lama untuk menikahi Jane, dan setelah berhasil menikahinya malah dia juga diminta untuk menunggu jika menginginkan seorang anak. Dia juga tidak bisa berbuat apa - apa termasuk memaksa Jane karena Jane yang memiliki kehendak penuh atas tubuhnya sendiri, dan bukannya dia. Setelah pembicaraan itu mereka berdua berpamitan untuk pulang karena sudah tidak ada lagi sebuah kalimat difikiran Liam untuk semakin menyakinkan orang tua Jane.


"Kamu ini apa - apaan, Anne? aku menjadi tidak enak dengan mereka berdua," ucap Mr Kim menggaruk kepalanya.


"Aku tidak habis fikir dengan jalan fikiran Jane, bagaimana bisa dia berbuat sangat egois seperti itu?"


"Mereka tidak egois Anne, hanya saja mereka masih ingin mempersiapkan diri menjadi orang tua yang baik karena mereka tahu jika menjadi orang tua itu tidaklah mudah."


"Tapi hon, bukankah kamu tadi merasa bahwa Liam sangat tidak setuju dengan Jane?"


"Aku juga merasa begitu. Liam sangat menginginkan seorang anak namun Jane ingin menundanya, dan dia tidak bisa memaksa karena Jane yang belum siap."


"Kenapa Liam sangat lembek sekali?"


"Liam bukannya lembek atau takut istri namun dia merasa bahwa Jane yang mempunyai tanggung jawab penuh terhadap tubuhnya sendiri. Nanti yang akan mengandung serta merasakan sakit saat melahirkan adalah Jane sebagai seorang wanita, jadi bila Jane belum siap dia juga tidak berani untuk memaksanya."


"Oh begitu."


Sesampainya di rumah Liam langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mengambil nintendo miliknya.


"Hubby, maaf atas perkataan orang tuaku."


"Iya," jawab Liam singkat.


"Sebenarnya aku..." Tiba - tiba ucapan Jane terpotong.


"Sudah jangan dibahas lagi ya, aku lelah."


"Oh ya."


Liam kemudian bergumam.


"Kenapa selalu aku saja yang diminta untuk bertanggung jawab terhadap setiap kesalahan yang tidak pernah aku buat, atau bahkan untuk membersihkan segala sesuatu yang dilakukan oleh orang lain."


"Kamu bilang apa hubby?" tanya Jane memastikan.


"Tidak, aku tidak bilang apa - apa."


"Sepertinya aku mendengarmu mengatakan sesuatu."


"Mungkin kamu salah dengar. Aku ingin ke bawah karena teman - temanku akan datang, jangan mencariku malam ini."

__ADS_1


"Kenapa tidak bilang kepadaku?"


"Karena rumah ini milikku, jadi terserah aku akan berbuat bagaimana."


"Kamu marah karena hal tadi?"


"Apa kamu tuli? bukankah aku sudah mengatakan kepadamu jika aku tidak ingin membahas hal tersebut?"


"Maaf."


Beberapa menit kemudian teman - teman Liam sudah berada di rumahnya dan sedang menonton bola bersama.


"Kamu kenapa Li? sepertinya sedang pusing."


"Iya nih biasanya sangat semangat," ucap Chicko menambahkan.


"Aku sedang sedih, kecewa, dan marah yang campur aduk menjadi satu."


Dio tertawa.


"Semenjak kamu menikah, rasanya kamu menjadi pria yang kebanyakan fikirkan. Padahal dahulu hidupmu selalu enjoy walaupun sedang dalam masalah kok sekarang menjadi seperti ini, lebih baik jangan menikah jika jadi begini."


Ricko langsung menyenggol lengan Dio.


"Aku tidak menjadi kompor, tetapi hanya mengatakan yang sejujurnya saja kok."


"Lebih baik diam saja kamu!!" ucap Ricko memperingatkan Dio.


"Iya."


"Kalau begitu kita pulang saja ya Li?"


"Jangan, aku membutuhkan kalian untuk menenangkan fikiranku."


"Ya sudah."


"Memang seperti ini ya nasibnya jadi anjing peliharaan keluarga Robinson, harus dituntut untuk patuh terhadap tuannya."


"Come on, jangan berfikir seperti itu."


"Benar ucapan Chicko."


"Andai saja aku tidak memikirkan mommy serta adikku, pasti aku sudah ikut Lian pergi."

__ADS_1


"Jangan begitu, nanti kalau kamu pergi aku jamin hidupmu tidak akan seenak sekarang."


"Tapi Chic, rasanya lelah sekali."


Dio lalu nekat berbicara.


"Sudah nikmati saja hidupmu yang sekarang, bukankah enak memiliki rumah mewah, harta berlimpah 10 turunan, memiliki koleksi kendaraan mewah, makan enak setiap hari, memiliki istri yang cantik serta sexy."


"Benar kata Dio, kamu bersyukur saja karena diluar sana masih banyak orang yang ingin berada diposisimu termasuk kita hahaha."


"Aku setuju ucapan Ricko."


Setelah ucapan teman - temannya tersebut, Liam lalu berfikir kembali. Mungkin yang diucapkan oleh teman - temannya itu memang benar adanya bahwa dia selama ini kurang bersyukur saja. Mereka lalu kembali melanjutkan menonton pertandingan bola bersama sembari berbincang ringan mengenai strategy yang dilakukan oleh kedua team. Sekitar pukul 1 malam dini hari, pertandingan itu telah selesai dan mereka tidak langsung pulang melainkan membantu Liam membereskan rumahnya terlebih dahulu. Sejak dahulu mereka selalu melakukan hal tersebut setiap hendak pulang dari rumah teman - temannya, dan semakin lama hal tersebut menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh mereka. Jane yang hendak pergi ke dapur untuk mengambil air minum tiba - tiba saja terheran melihat tingkah mereka, dan memilih untuk memperhatikan dari tangga rumahnya.


Dio menyapa Jane.


"Eh Jane, maaf ya kita mengganggu kamu beristirahat."


"Iya Jane, kami hanya menumpang untuk menonton bola dan setelah selesai kami akan membereskannya," ucap Ricko.


"Iya santai saja," ucap Jane.


Chicko lalu berbisik kepada Liam.


"Kenapa kamu bisa pusing jika kamu saja memiliki istri yang seperti itu? seharusnya itu menjadi obat sakit kepala bukan?"


"Iya juga ya? dia sangat sexy saat memakai piyamanya.


"Nah kan."


Setelah mereka pulang Liam lalu pergi ke kamarnya dan mendorong tubuh Jane ke ranjangnya.


"Aku sedang ingin."


"Aku masih datang bulan."


"Kapan selesainya?"


"Mungkin seminggu atau 5 harian lagi."


"Aaahh lama sekali."


"Sabar ya."

__ADS_1


__ADS_2