
Karena restaurant tersebut cukup ramai, mereka berdua mau tidak mau harus menunggu selama 30 menit untuk mendapatkan makanan mereka tersaji di meja mereka. Untung saja restaurant tersebut menggunakan konsep lesehan di gazebo, jadi itu kesempatan mereka berdua untuk meluruskan kakinya sembari menunggu makanan mereka selesai dimasak. Liam lalu memijat kaki Jane secara perlahan karena Jane terlihat sangat lelah sekali apalagi itu mungkin perjalanan jarak jauh Jane dengan menggunakan motor untuk pertama kalinya. Sekitar 30 menit kemudian makanan mereka sudah tersaji di atas meja sesuai dengan yang dikatakan oleh waiters tadi, dan mereka langsung menyantapnya dengan ditemani oleh suara hujan yang mengguyur bumi dengan sangat deras. Mereka berdua menyantap makanan tersebut sembari berbincang ringan, dan tiba - tiba saja Mrs Kim menghubungi Jane melalui panggilan vidio. Mrs Kim menghubungi Jane untuk bertanya mengenai keadaannya sekarang serta dimana posisi mereka berdua. Jane langsung memberitahu Mrs Kim bahwa di sedang berada di restaurant untuk makan sembari berteduh karena diluar sedang hujan deras.
Jane juga mengatakan kepada Mrs Kim untuk tidak terlalu merasa khawatir dengannya karena ada Liam yang akan selalu menjaganya, dan setelah itu Mrs Kim menutup teleponnya. 45 menit kemudian hujan sudah lumayan reda walaupun masih gerimis, dan mereka berdua memutuskan untuk nekat melanjutkan perjalanan mereka berdua menuju ke Dieng. Namun sebelum mereka berangkat, Liam membungkus tas ransel mereka berdua dengan sebuah trashbag agar tidak basah saat tiba - tiba kembali hujan. Liam langsung melajukan motornya dan melanjutkan perjalanannya kembali. Semakin lama jarak yang mereka tempuh, hujan gerimis sudah reda dan langit kembali cerah dengan diikuti matahari yang kembali berani menampakkan wujudnya. Kebetulan mereka melewati sebuah warung, dan Liam memutuskan untuk berhenti sebentar membeli minum. Liam sejak dulu sering touring bersama teman - temannya bahkan dengan jarak yang sangat jauh sekalipun namun karena saat ini dia sedang bersama Jane, mau tidak mau dia harus sering berhenti di suatu tempat untuk sekedar beristirahat.
"Ini minum dulu," ucap Liam sembari memberikan sebotol air meneral kepada Jane.
Bukannya langsung diminum, tapi Jane malah menempelkannya di pipinya karena merasa panas.
"Cuacanya sangat panas ya hubby."
"Iya, tetapi itu lebih baik daripada saat hujan deras seperti tadi karena akan memperlambat perjalanan kita."
"Ahhh segarnya," ucap Jane setelah meminum air mineral itu.
"Kamu tidak apa - apa?" tanya Liam khawatir.
Jane mengangguk sembari tersenyum.
"Aku tidak apa - apa hubby."
"Harusnya tadi kita naik mobil saja bukan?"
"Kenapa begitu?"
"Agar kamu tidak kepanasan serta kehujanan."
"Aku sekarang lebih menyukai naik motor bersamamu walaupun panas atau hujan, karena bagiku tidak masalah asalkan bersamamu."
Liam langsung mencium pipi Jane.
"Kalau ada merasa yang tidak enak ataupun bagaimana bilang saja kepadaku, okay?"
"Iya hubby."
Liam lalu membeli tissue dan mengusapkannya ke wajah Jane yang sedang berkeringat."
"Kamu terlihat sangat berkeringat sekali sayang."
"Iya hubby apalagi tadi aku menempelkan botol minuman ini di pipiku."
"Aku akan membantumu membersihkannya."
"Terima kasih hubby."
"Tadi tidak lupa pakai sunscreen kan?"
"Tidak hubby, mmm hubby aku ingin pipis."
"Oh di depan ada SPBU, ayo kita kesana!"
"Iya."
Liam langsung mengendarai motornya ke sebuah SPBU yang jaraknya tidak terlalu jauh dari warung tersebut.
"Tunggu disini hubby."
"Iya sayang."
*Beberapa menit kemudian.*
"Sudah sayang?" tanya Liam.
__ADS_1
"Sudah, kamu tidak ingin pipis?"
"Tidak."
"Eh ayo pipis dulu jangan ditunda agar tidak menjadi penyakit, dan aku akan gantian menjaga disini."
"Ya sudah sebentar ya."
"Okay."
"Ayo sudah, eh sedang apa?" tanya Liam begitu keluar dari kamar mandi.
"Berdandan sebentar."
"Oh baiklah."
"Masih jauh ya?"
"Lumayan, mungkin sekitar satu setengah jam lagi kita akan sampai di kawah sikidang."
"Oh begitu."
Setelah menunggu Jane selesai berdandan sebentar, mereka kembali melanjutkan perjalanannya yang sudah lebih dari setengahnya. Liam mengendarai motornya dengan cukup cepat serta bisa menyalip sana menyalip sini layaknya seorang pembalap, eh Liam memang pembalap sih karena sering ikut balapan. Karena dia melewati SPBU kembali, dia lalu memutuskan untuk mengisi bensin agar dirinya merasa tenang saat dalam perjalanan. Akhirnya mereka berdua sampai juga di sebuah tempat wisata yang bernama kawah sikidang. Setelah membeli dua tiket untuk dirinya serta Jane, Liam lalu memakaikan Jane masker agar tidak merasa sesak karena bau belerangnya yang menyengat.
"Kakinya sangat pegal sekali," ucap Jane menggandeng tangan Liam.
Liam lalu melihat kebawah dan langsung berjongkok.
"Ada apa hubby?"
"Tali sepatumu lepas, aku takut jika nanti kamu akan jatuh tersandung."
"Terima kasih hubby sayang."
"Eh tas ranselnya akan kamu gendong?"
"Iya, takut jika nanti hilang kalau diletakkan di motor."
"Benar juga."
"Ayo," ucap Liam menggandeng tangan Jane.
"Yang ditengah - tengah itu semuanya belerang?" tanya Jane sembari berjalan - jalan santai.
"Iya, makanya aku memakaikan kamu masker."
"Meskipun sudah memakai masker, akan tetapi baunya masih saja menyengat."
"Benar, tapi setidaknya lebih aman daripada tidak memakai masker."
"Iya sih hubby walaupun maskernya sangat besar."
Liam langsung tertawa saat menatap Jane.
"Maaf, harusnya aku membelikanmu masker anak - anak karena wajahmu yang mungil itu."
"Iya tidak apa - apa hubby."
"Mau aku fotokan kamu disana?" tanya Liam sembari menunjuk ke suatu tempat.
"Boleh hubby, tetapi nanti dengan kamu juga."
__ADS_1
"Baiklah."
Mereka berdua langsung menuju ke sebuah tempat yang tadi ditunjuk oleh Liam untuk berfoto bersama. Setelah selesai mengambil beberapa foto, mereka berdua kembali melanjutkan berjalan - jalan di sekitar kawah tersebut sembari berbincang ringan. Karena tempat tersebut lumayan ramai, jadi Liam menggenggam tangan Jane dengan sangat erat agar dia tidak hilang di antara kerumunan orang. Begitu keluar dari sekitar kawah tersebut, ternyata dipintu keluarnya terdapat banyak sekali pedagang. Kebetulan ada pedangang es cincau durian, dan karena Liam tidak suka durian jadi dia mengatakan kepada penjualnya agar es nya tanpa durian (btw es cincaunya di kawah itu emang enak tanpa durian dan rasanya manis sekali serta bikin kenyang).
"Wah menyegarkan sekali."
"Benar hubby, walaupun tanpa durian."
"Eh kamu tidak memakai durian?"
"Aku tidak suka durian."
"Wah apa jangan - jangan kita berjodoh?"
"Kita kan sudah menikah hubby."
"Oh iya ya, aku lupa hahaha."
"Ayo kita lihat - lihat bunga - bunga yang disana."
"Boleh."
"Eh itu minuman apa hubby?"
"Itu namanya carica, rasanya sangat lezat."
"Aku boleh beli?"
"Tentu saja, beli yang banyak untuk oleh - oleh nanti dan sekalian grubby nya juga."
"Grubby yang ini?"
Liam mengangguk.
"Iya, itu juga lezat."
"Okay, bu beli ini caricanya serta grubby nya."
"Baik mbak," ucap penjual tersebut.
"Aku ingin melihat pedangang kaktus itu."
"Okay hubby pergilah!"
"Dengan kamu dong, nanti kalau sampai hilang bisa repot aku."
"Oh aku kira kamu pergi sendiri hahaha."
"Tidak mungkin aku meninggalkanmu diantara kerumunan orang."
"Ya sudah ayo."
"Berapaan bu?"
"Ya besar 30 ribu, terus yang ini 20 ribu."
"Tidak bisa kurang?"
"Ya sudah yang mungil ini jadi 15 ribu, bagaimana?"
"Baiklah."
__ADS_1
"Hubby ini."
"Sssttt tidak apa - apa haha."