
Rosie merasa sangat kagum terhadap Leon yang sudah mau bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya, padahal dia pernah mendengar bahwa sekarang gaji kakaknya sudah lebih banyak dan setara dengan seorang direktur. Namun meskipun begitu Yunna, alias kakak Leon tetap menjadi sekretaria pribadi Liam. Memang Liam sengaja meminta secara khusus kepada Mr Robinson untuk memberikan Yunna gaji setara dengan direktur karena Liam tidak mengizinkan Yunna untuk pindah jabatan, ya istilahnya Liam mengganti rugi Yunna karena tidak mengizinkannya untuk pindah jabatan setelah beberapa kali diminta oleh Mr Robinson.
Liam sudah merasa nyaman mempunyai partner kerja seperti Yunna karena dia memang bisa selalu diandalkan kapanpun dia membutuhkannya. Yunna adalah wanita cerdas dan mandiri, oleh karena itu Liam sangat menyukai Yunna sejak dia pertama kali bekerja di perusahaan yang berada di Indonesia. Semakin lama mereka berdua menjadi dekat seiringnya waktu hingga membuat benih - benih cinta di dalam hati Liam tumbuh. Namun saat Liam menyatakan cinta kepada Yunna, Liam langsung ditolak oleh Yunna karena dia telah menganggap Liam seperti adiknya sendiri.
Padahal alasan sebenarnya adalah karena Liam sudah dekat dengan Jane dan mereka sudah dijodohkan juga oleh kedua orang tuanya masing - masing. Mungkin daripada menerima pernyataan cinta Liam dan menentang kedua orang tua Liam hingga membuat kariernya buruk, Yunna memilih untuk menolaknya agar kariernya baik - baik saja meskipun mereka berdua saling mencintai. Namun saat ini mungkin Yunna sudah mengubur perasaannya dengan sangat dalam dan memulai kehidupan yang baru. Saat ini Liam sedang duduk di tepi pantai sembari menatap gulungan - gulungan ombak.
Jane lalu menghampiri Liam dan duduk di sebelahnya sembari menggendong baby Ace setelah melihat dia duduk sendirian di sana.
"Kenapa melamun?"
"Tidak ada," jawab Liam lesu.
"Ingin menceritakannya denganku?" tanyanya menatap Liam.
"Kenapa ya kehidupanku terasa sangat hampa sekali, apa karena aku sudah memiliki segalanya sehingga aku merasa bingung ingin bagaimana lagi?"
"Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Mungkin saja kamu memiliki sebuah keinginan yang sampai sekarang tidak dapat dipenuhi, sehingga itu membuatmu merasa putus asa dan membuat hidupmu terasa hampa."
"Oh begitu rupanya. Aku memiliki sebuah keinginan yang sampai sekarang belum bisa aku penuhi, dan mungkin sampai kapanpun aku tidak bisa mewujudkannya."
"Apa itu?"
Liam lalu menatap Jane, dan setelah itu dia mengehela nafasnya kasar.
"Rahasia."
"Apa itu ada hubungannya dengan Yunna?" tanya Jane menebak.
Liam hanya diam sembari menatap ke arah pantai.
"Lupakanlah," ucapnya menundukkan kepala.
"Benar kan? kamu sebenarnya ingin menikah dengan Yunna bukan? maaf ya kalau aku jadi perusak hubungan kalian berdua."
"Tidak, bukan begitu maksudku..."
"Tanpa menjelaskannya saja aku sudah paham dengan arti tatapan matamu itu."
"Sejujurnya sangat sulit untuk move on sehingga sampai sekarang aku selalu berusaha untuk move on agar aku lebih fokus dengan keluarga kecilku saat ini."
Jane mengusap punggung Liam.
"Tidak apa - apa, yang penting kamu sudah berusaha."
"Maafkan aku, Jane."
"Iya tidak apa - apa, mmm sudah lama mencintai Yunna?"
__ADS_1
"Sudah lumayan lama saat pertama kali aku bertemu dengannya."
"Lalu apakah kamu pernah menyatakan perasaanmu kepadanya?"
"Sudah, tapi aku ditolak karena dia hanya menganggapku sebagai adiknya saja."
"Oh begitu. Kenapa kamu bisa sangat mencintai Yunna?"
"No comment."
"Haiss kenapa? aku sangat penasaran dan ingin mendengarnya."
"Tidak, nanti kamu akan marah kepadaku."
"Tidak apa - apa katakan saja, aku tidak akan marah kepadamu."
"Benarkah?"
"Iya, cepat katakan!"
"Dia cantik, pintar, mandiri, berpendirian teguh, dan dia bisa membuatku merasa nyaman saat tengah berbincang."
"Kenapa dia bisa membuatmu nyaman saat berbincang dengannya?"
"Entahlah mungkin kita berdua sudah satu frekuensi, jadi ingin membicarakan apapun pasti sangat nyambung."
"Jadi menurutmu, aku ini tidak pernah nyambung saat kamu ajak berbicara?"
"Oh begitu, sangat berbanding terbalik denganku yang suka marah - marah dan bahasanya sedikit kasar."
"Tidak juga, kamu sudah bagus namun ada satu hal yang tidak aku sukai darimu."
"Apa itu hubby?"
"Sifat keras kepalamu dan juga tidak mau menurut itu yang terkadang membuatku tidak suka. Apakah salah jika seorang suami menginginkan istrinya untuk patuh kepadanya?"
Jane menggeleng.
"Tidak hubby, para suami menginginkan istrinya untuk patuh kepadanya karena membuatnya merasa bahwa dia itu dianggap sebagai seorang suami."
"Nah itu tahu, jadi maaf ya kalau aku belum benar menjadi seorang suami."
"Harusnya aku yang meminta maaf kepadamu karena aku selalu membangkang dan tidak patuh kepadamu, lagipula kenapa selama ini kamu tidak membicarakannya kepadaku jika kamu menginginkan hal seperti itu?"
"Tidak apa - apa, mungkin ini semua juga salahku."
"Ti-tidak hubby, ini semua salahku."
__ADS_1
Jane lalu bersandar di bahu Liam, dan setelah itu Liam mengusap rambutnya.
"Hei sudah sstt cup cup jangan menangis, nanti diketawain oleh baby Ace jika kamu seperti ini."
"Maaf hubby."
"Iya sstt, bagaimana kalau kita main jet ski aja?"
"Boleh, sebentar aku akan menitipkan baby Ace dengan Pak Kang."
"Okay."
Jane lalu pergi menitipkan baby Ace kepada Pak Kang, dan setelah itu dia ikut dengan Liam untuk bermain jet ski. Ingat ya teman - teman, minimal membawa anak untuk bermain jet ski adalah umur 3 tahunan jadi kalau dibawahnya 3 tahun tidak diizinkan untuk bermain jet ski. Liam lalu mengendarai jet ski dengan cepat hingga membuat Jane bersorak kegirangan. Pada saat itu Liam hanya memakai celana kolornya saja, sedangkan Jane sudah berganti pakaian menjadi memakai bikini saja sehingga menampilkan tubuhnya yang sangat sexy itu. Liam mengajak Jane untuk berkeliling pantai dengan menggunakan het ski itu sembari berbincang. Jane memeluk perut Liam dengan sangat erat karena takut jatuh.
"Wohoo sangat menyenangkan sekali hubby!!" teriak Jane kegirangan.
"Kamu menyukainya sayang?"
"Tentu saja, ayo lebih cepat lagi!"
"Tidak bisa, terlalu berbahaya sayang."
"Oh baiklah hubby."
1 jam kemudian mereka sudah puas bermain jet ski, dan setelah itu mereka semua kembali ke villa. Sesampainya di villa, Jane langsung membaringkan tubuh baby Ace ke ranjangnya yang sedang tertidur dan kembali. ke kamarnya.
"Mmmhh," ucap Liam saat memciumi bibir Jane.
Jane langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Liam.
"Ingin melakukannya lagi?" tanya Jane menggoda.
"Tentu saja jika kamu menginginkannya juga."
"Aku sangat menginginkannya hubby, mari kita lakukan sekarang saja."
"Umm kamu terlihat sangat sexy jika seperti ini," ucapnya sembari mengusap ****** Jane yang sintal itu.
"Terima kasih atas pujiannya hahaha."
"Iya."
Setelah itu Liam langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan langsung memulai rencananya.
"Pelan - pelan hubby."
"Kenapa? sakit?"
__ADS_1
"Iya hubby."
"Jya ini pelan - pelan."