Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #294


__ADS_3

Jane lalu membuka bajunya dan hanya menutupnya dengan selimut agar Liam bisa dengan mudah memijatnya serta mengoleskan body lotion ke punggungnya. Jari jemari Shaleh, eh maksudnya Liam itu menjelajahi seluruh area punggung Jane yang tampak putih bersih dan mulus. Sesekali Liam mengajak Jane berbincang sembari jari jemarinya itu bergerak memijat punggungnya. Semakin lama tubuh Jane terasa semakin enak dan ternyata pijatan dari tangan kekar suaminya itu terbukti manjur. Meskipun begitu sedari tadi Jane berusaha keras membentengi tangan suaminya agar tangannya tidak berkeliling ke bagian lain, dan juga tidak menyentuh apapun yang seharusnya tidak dia sentuh. Tangan Liam masih saja terus nakal dengan mencari - cari kesempatan agar bisa berjalan - jalan ke arah lain hingga membuat Jane harus selalu bersikap waspada mengawasi tangan nakal suaminya.


Setelah itu pijatan Liam beralih ke bawah yaitu kaki Jane. Liam menggunakan teknik yang sama dengan memijat punggungnya untuk memijat kaki istrinya. Sekitar 45 menit kemudian Liam telah selesai memijat tubuh Jane dan langsung mengambil handphone miliknya untuk bermain game bersama teman - temannya, sedangkan Jane masih saja terus berbaring tengkurap sembari memainkan handphone miliknya. Awalnya Liam ingin bermain di balcony kamarnya namun karena istrinya tidak langsung ingin memakai bajunya, akhirnya Liam bermain di sofa kamarnya saja sembari sesekali memandangi tubuh sexy milik Jane. Malam sudah semakin larut namun Liam asih saja asyik bermain game bersama teman - temannya, sedangkan Jane juga masih asyik berselancar di media sosial. Jane kemudian meletakkan handphonenya ke atas meja dan setelah itu dia berjalan ke arah Liam dengan masih terbungkus oleh selimut.


"Hubby ini sudah malam ayo tidur, lagipula kamu besok juga harus pergi ke kantor."


"Iya sebentar, dasar cerewet!"


"Apa kamu bilang?" tanya Jane menaikkan nada bicaranya.


"Aku tidak berkata apa - apa, tadi aku hanya berkata sebentar."


"Kamu fikir aku tuli ha?"


"Kalau sudah dengar, mengapa harus bertanya kembali?"


Jane langsung menjewer telinga Liam dengan sangat keras hingga membuat Liam merintih kesakitan. Setelah itu Jane tidak berkata sepatah kata apapun dan langsung pergi tidur.


"Tumben sekali tidak berbicara panjang lebar," gumam Liam di dalam hati.


Liam lalu melanjutkan bermain game dan semakin lama Liam baru menyadari ada hal aneh yang sedang terjadi kepada istrinya. Kali ini auranya lebih mencekam daripada saat dirinya diceramahi habis - habisan oleh istrinya itu. Diamnya seorang istri saat sedang marah pasti marahnya sudah berada di tahap next level sehingga auranya lebih mencekam. Liam kemudian menghampiri istrinya yang tengah tertidur dan mencium pelipis kepalanya.


"Sayang, sudah tidur?" tanya Liam merasa takut.


"Hmm."


"Main yuk."


"Malas," jawab Jane singkat.


"Ayang, kenapa sih cuek sekali?"


"Aku sudah mengantuk hubby."


"Oh ya sudah." Liam lalu menyusul Jane tidur.


*Keesokan harinya.*


"Morning baby girl," ucap Liam mencium pipi Jane.


"Morning," ucap Jane sembari menyiapkan sarapan untuk dirinya serta suaminya.


"Sepertinya nanti aku akan pulang sedikit terlambat karena ada banyak sekali yang harus dikerjakan."

__ADS_1


"Iya. Jangan lupa susunya diminum agar kenyang."


"Okay Jane. Mmm tumben sekali kamu membuatkan aku susu dan tidak membuatkan aku kopi."


*Nom nom nom.* Jane mengunyah makanannya.


"Tidak baik untuk tubuhmu jika kamu sering meminum kopi, maka dari itu aku sesekali akan membuatkan kamu susu."


"Oh begitu."


Selesai sarapan Liam langsung pergi ke kantornya, tetapi sebelum itu dia mencium bibir istrinya terlebih dahulu agar lebih bersemangat saat bekerja.


*cup.*


"Aku pergi dulu, sampai ketemu nanti malam."


"Iya, hati - hati dijalan."


"Pasti."


Liam mengendarai mobilnya menuju ke kantornya, dan pada hari itu jalanan lumayan padat karena hari itu adalah hari Senin. Sesampainya di kantor, Liam langsung disuguhi oleh pemandangan indah dari tumpukan beberapa berkas dokumen yang harus dia kerjakan serta ditandatangani. Yunna, sekretaris Liam langsung membacakan beberapa rentetan jadwal meeting yang akan dilaksanakan oleh Liam selama seharian ini. Saat mendengarnya saja sudah dapat membuat Liam gumoh, apalagi saat membayangkan dia akan pulang terlambat hari ini. Dahulu Liam sangat suka bekerja lembur namun entah mengapa setelah menikah dan lebih tepatnya mengenal Jane, dia menjadi membenci hal tersebut. Mungkin saja karena dia sekarang selalu merindukan Jane jadi dia memilih untuk cepat - cepat pulang ke rumah, begitu batinnya.


"Ada yang ingin ditanyakan lagi mengenai beberapa jadwal pada hari ini, pak?" tanya Yunna memecah lamunan Liam.


"Tidak ada yang ingin dirubah?" tanya Yunna kembali.


"Mmm sepertinya tidak ada, kamu boleh kembali ke tempatmu."


"Baik pak, saya permisi."


"Ya, silahkan."


Liam kemudian mulai membuka berkas dokumen itu saru persatu serta memahami dari isi beberapa dokumen tersebut. Tiba - tiba saja dia menemukan sebuah dekumen di antara tumpukan dokumen itu.


"Hmm dokumen pengajuan perpanjangan kontrak kerjasama dari perusahaan appa?" gumam Liam.


Setelah membaca dokumen tersebut Liam menjadi terbayang saat dirinya bertemu dengan Jane untuk yang kedua kalinya. Liam tertawa karena saat itu Jane masih sangat benci kepadanya namun kenyataannya sekarang justru dia malah menjadi istrinya. Melihat boss nya yang melamun sembari tersenyum seperti orang gila, Yunna lalu kembali masuk ke dalam ruangan kerja Liam.


"Ehem, anda sedang melamun pak?"


"Haiss kamu ini selalu saja membuyarkan lamunanku," ucap Liam sedikit kesal.


"Ya maaf, habisnya aku seperti orang gila karena senyum - senyum sendiri."

__ADS_1


"Hehe."


"Memangnya ada apa sih? apa ada kabar baik heum?" tanya Yunna penasaran.


"Tidak ada, hanya saja aku sedang memikirkan tentang Jane."


"Oh begitu, rupanya ada yang sudah mulai di mabuk cinta nih."


"Tidak, hanya saja aku sedang merasa bingung."


"Bingung kenapa?"


"Entahlah, Jane hari ini bersikap sangat cuek sekali kepadaku dan tidak seperti biasanya."


"Kenapa begitu? apa kamu membuat kesalahan?"


"Sepertinya begitu, apa dia tersinggung karena aku selalu menyebutnya dengan sebutan wanita cerewet?"


Yunna menghela nafasnya kasar.


"Hhh bisa saja sih, lagipula kamu ini juga kenapa sampai terus menyebutnya dengan sebutan wanita cerewet?"


"Dia cerewet karena kebanyakan mengatur, aku tidak suka. Liam jangan ini, Liam jangan itu, Liam kamu harus begini, Liam kamu harus begitu."


"Dia bersikap seperti itu karena dia sangat menyayangimu Liam."


"Tetapi aku tidak suka jika dia berubah seperti daddy yang selalu saja mengatur."


"Jika tidak suka di atur ya sudah, lebih baik dari awal jangan menikah!!"


"Kok kamu menjadi marah seperti itu sih?"


"Habisnya kamu membuatku merasa kesal untung saja aku tidak menerimamu waktu itu, coba kalau waktu itu aku menerimamu pasti aku sudah dibuat darah tinggi setiap hari."


"Kenapa begitu?"


"Karena kamu sangat susah diberitahu, asalkan kamu tahu ya bahwa Jane itu sudah lelah denganmu dan lebih tepatnya dengan sikap kamu yang sangat susah diatur."


"Benarkah?"


"Iyaaa, sudahlah malas aku!!"


*Blam.* Yunna pergi meninggalkan Liam.

__ADS_1


__ADS_2