
Ricko lalu menunggu di jembatan tersebut sampai Liam benar - benar pulang agar Liam tidak melakukan hal - hal yang aneh di jembatan tersebut. Ricko menatap motor Liam yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya, dan setelah itu Ricko baru pulang ke rumahnya untuk membantu istrinya mengurus anaknya. Ricko lalu menggendong anaknya tersebut dan menyanyikan sebuah lagu dan terkadang dia bermain ciluk ba dengan anaknya itu. Disisi lain Liam malah pergi ke sebuah cafe dan bukannya pulang ke rumah. Sesampainya di sana Liam memesan coffe latte favoritenya, dan dia duduk di pojokan sembari pesanannya siap disajikan.
Tidak lama kemudian pesanan Liam sudah siap disajikan dan saat dia berjalan menuju meja kasir tiba - tiba saja ada yang menabraknya dari arah berlawanan. Segelas kopi yang dibawa oleh wanita tersebut langsung tumpah di baju Liam, dan mengetahui hal tersebut wanita itu lalu meminta maaf sembari membantu Liam membersihkan bajunya. Tanpa basa basi Liam langsung pergi meninggalkan wanita itu ke kasir untuk mengambil pesanannya, dan kembali duduk di tempatnya sembari bermain game. Saat dia tengah asyik bermain game tiba - tiba wanita yang tadi menabraknya serta menumpahkan segelas kopi di baju Liam, datang menghampiri Liam.
Wanita itu lalu duduk di depan Liam dan memperkenalkan dirinya sendiri. Liam hanya bersikap cuek dengan wanita tersebut dan tetap melanjutkan bermain game walaupun wanita tersebut mengoceh panjang kali lebar menceritakan tuujuannya serta permintaan maafnya. Entah mengapa Liam tidak merasa tertarik dengan wanita tersebut maupun dengan topik pembicaraannya, bukan karena dia sudah mempunyai istri namun Liam hanya tidak ingin terlibat masalah dengan wanita lagi. Dia terlibat dengan istrinya saja sudah pusing apalagi dengan wanita lain huffttt sangat memusingkan kepala sekali. Wanita itu tetap saja berbicara panjang lebar meskipun Liam tidak menggubris ucapannya tersebut.
"Kamu tahu? aku sebenarnya sedang belajar membuat design pakaian dan aku ingin mengajakmu, ehem maksudnya menginginkan kamu untuk menjadi model serta inspirasiku."
"Maaf aku tidak tertarik dengan dunia seperti itu."
"Eh tunggu dulu jangan terlalu cepat membuat keputusan, aku akan menawarkan kamu sejumlah uang sebagai bayarannya dan juga memberimu beberapa pakaian distro hasil rancanganku yang tidak terbatas jumlahnya."
"Maaf aku masih tidak tertarik, lebih baik kamu cari orang lain saja."
Wanita itu lalu menggenggam tangan Liam.
"Tolonglah kumohon, aku sudah mencari kemana - mana seseorang yang menjadi model pakaian yang aku design sendiri namun aku belum menemukannya."
Liam lalu melepaskan tangan wanita tersebut dan setelah itu dia menunjukkan cincin dijari manisnya.
"Tolong jangan menyentuhku seperti tadi karena ada hati yang harus saya jaga."
"Oh maaf. Tuan tolonglah saya untuk bersedia menjadi model pakaian saya untuk tugas kuliah serta kelulusan."
Liam menghela nafasnya.
"Benar begitu? kamu tidak berniat untuk mengajakku masuk ke dalam sekte ataupun untuk membuatku menjadi tumbalmu bukan?"
Wanita tersebut lalu tertawa.
"Hahaha mana mungkin aku seperti itu tuan, aku ini mahasiswa sungguhan."
"Mana buktinya?"
Wanita tersebut lalu mengeluarkan kartu pengenalnya dari dompetnya, dan setelah itu dia menunjukkannya kepada Liam.
"Ini buktinya, apakah anda masih belum percaya jika saya ini memang seorang mahasiswa?"
"Apa lagi yang bisa kamu tunjukkan sebagai buktinya?"
Wanita itu lalu membuka tablet pintarnya dan menunjukkan beberapa design pakaian yang sudah dia buat beserta hasilnya juga.
__ADS_1
"Apakah masih kurang tuan?"
Liam berfikir sejenak.
"Hmmm baiklah, aku akan membantumu untuk tugas kelulusanmu."
"Yesss terima kasih tuan mmm...."
"Liam, panggil saja dengan nama Liam."
"Ah ya, tuan Liam."
"Liam saja, tidak perlu memakai tuan."
"Oh ya Liam."
"Kalau kamu?"
Wanita itu langsung menjabat tangan Liam.
"Saya Yeji."
"Hmm okay, kamu bisa menjelaskan kepada saya mengenai design pakaianmu secara mendetail?"
Yeji lalu menjelaskan kepada Liam mengenai tugas kelulusan yang sedang dia buat itu secara mendetail termasuk beberapa rancangan pakaian yang akan Liam gunakan untuk pemotretan. Liam lalu meletakkan handphone miliknya untuk mulai mendengarkan serta memahami apa saja yang disampaikan oleh Yeji. Setelah selesai Liam lalu memberikan nomor handphone miliknya dan pergi meninggalkan Yeji karena dia hendak pulang ke rumah. Liam mengendarai motor sportnya itu dengan cepat, dan sesampainya di rumah Liam langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Liam lalu kembali berfikir mengenai Yeji karena Liam menilai bahwa mata yang dimiliki oleh Yeji sangat lucu karena seperti di film kartun naga. Tanpa sadar Liam menjadi tertawa karena membayangkan jika dia sedang menyandingkan antara dia dengan karakter kartun tersebut. Tiba - tiba saja Jane masuk ke dala kamarnya dan menghampiri Liam yang sedang tertawa sendirian.
"Hubby kenapa tertawa sendirian?" tanya Jane duduk di samping Liam.
Seketika Liam langsung berhenti tertawa.
"Tidak apa - apa, tadi hanya habis melihat vidio lucu di instamili."
"Vidio apa? coba tunjukkan kepadaku."
"Sudah hilang karena ke refresh, lebih baik kamu mandi saja dan kita akan pergi ke rumah Ricko."
"Memangnya jadi?"
Liam berdecak.
"Ck kalau aku tidak menuruti keinginanmu, pasti kamu akan selalu menggerutu tidak jelas hingga membuat kepalaku pusing."
__ADS_1
"Mmm maaf jika aku selalu seperti itu."
"Ya, sudah sana mandi."
"Mandiin," ucap Jane manja.
"Mandi sendiri saja sana! aku sedang malas memandikanmu!"
"Hubby masih marah denganku? kalau iya, aku minta maaf."
Liam lalu menghela nafasnya dan merasa bahwa sepertinya dia telah keterlaluan kepada Jane karena baru saja membentaknya.
"Iya sayang, ayo aku mandikan."
"Okay hubby," ucapnya dengan tersenyum.
Liam lalu memandikan Jane di dalam bathub, tetapi entah mengapa Liam sedari tadi hanya diam saja dan tidak seperti biasanya yang selalu cerewet mengajaknya berbincang. Jane lalu berinisiatif untuk mengajaknya berbicara namun tetap saja Liam memilih untuk diam dan tidak menanggapi Jane. Setelah itu Liam membuka kran shower dan mandi dengan membelakangi Jane. 45 menit kemudian mereka berdua lalu pergi ke rumah Ricko untuk melihat anaknya. Sesampainya di sana Jane langsung ingin menggendong Ibra, anaknya Ricko dengan Gita. Jane merasa sangat senang sekali bisa menggendong Ibra karena dia terlihat sangat menggemaskan. Keesokan harinya Jane yang terbangun lebih dulu langsung meregangkan tubuhnya itu. Lalu ditatapnya wajah suaminya yang tengah tertidur pulas.
"Good morning hubby," ucap Jane pelan sembari mencium pipi Liam.
"Good morning baby girl," ucap Liam dengan mata masih terpejam.
"Eh," ucapnya terkejut.
Liam kemudian bangun dan mencium bibir Jane sekilas, lalu mencium perut Jane yang sedang mengandung anaknya.
"Mau jalan - jalan hari ini?"
"Maunya jalan - jalan di sekitar rumah saja hubby."
"Okay."
"Semalam aku mimpi buruk."
"Eh mimpi apa?" tanya Liam penasaran.
"Mimpi kamu pergi jauh dan kita berdua jadi tidak bisa bertemu lagi."
"Oh." Liam langsung memeluk Jane sembari menciumi pipinya.
"Kamu tidak akan pergi jauh bukan?"
__ADS_1
"Tidak sayang, aku tidak akan pergi jauh darimu."