
Mereka lalu berbincang ringan sembari memainkan kartu uno yang dipinjamnya di cafe tersebut. Mereka semua membicarakan banyak hal mulai dari berita terbaru, skin game, sampai konspirasi dunia. Ronde pertama yang kalah adalah Dio, namun di beberapa ronde terakhir ini justru Dio yang menang karena otaknya Dio sudah mulai panas. Dio sudah menang 3 kali berturut - turut, dan justru sekarang Chicko yang selalu sial karena dia selalu kalah 4 kali berturut - turut.
Seperti biasa, mereka selalu memberikan hukuman bagi siapapun peserta yang kalah dalam permainan tersebut dan hukumannya pasti selalu random. Chicko sudah melakukan hukumannya antara lain, push up 10 kali, berkenalan dengan orang random, mentraktir ice cream, dan squad jump 5 kali. Karena semakin lama mereka berempat sudah mulai bosan, mereka lalu memutuskan untuk bermain game saja. Setelah 2 match akhirnya mereka juga mulai merasa bosan, dan Ricko lalu mengajak mereka untuk pergi ke tempat karaoke saja.
Sudah lama mereka tidak pergi karaokean bersama, dan mereka langsung menyetujui ajakan Ricko itu. Mereka langsung bergegas pergi ke tempat karaoke, dan sesampainya disana Liam langsung memilih tempat yang VIP agar lebih nyaman. Sebagai awalan, Dio memilih untuk menyanyi lagu Jepang yang berjudul tabun milik Yoasobi. Mereka berempat sangat bersenang - senang di tempat karaoke itu, dan semua mendapat gilirannya masing - masing untuk bernyanyi lagu favoritenya. Sekarang giliran Liam yang bernyanyi, dan dia memilih lagu berjudul fly me to the moon.
"Sepertinya Liam sedang kasmaran," ucap Dio berbisik.
"Memangnya kenapa?" tanya Chicko penasaran.
"Soalnya dari tadi dia menyanyi lagu cinta terus hahaha."
"Sepertinya begitu, sedang kasmaran dengan istrinya atau yang lain ya kira - kira?"
"Tentunya dia sedang kasmaran dengan istrinya dong," ucap Ricko menyela pembicaraan mereka berdua.
"Iya sih bisa jadi, karena dahulu mereka berdua awalnya menikah karena dijodohkan dan siapa tahu sekarang Liam baru mencintainya."
"Salah, Liam mencintainya saat sebelum Jane mengandung baby Ace."
Dio berfikir sejenak.
"Benar juga, tidak mungkin baby Ace lahir kalau mereka berdua tidak saling mencintai."
"Nah kan, Liam sebenarnya sudah sangat mencintai Jane namun dia masih gengsi."
Dio lalu menepuk punggung Ricko.
"Hahaha kelakuannya teman kamu, orangnya gengsian."
"Dih dia juga temanmu kan?"
"Iya benar juga sih hehe, tetapi dia lebih dekat denganmu daripada denganku."
"Benar apa - apa selalu dengan Ricko, aku kan menjadi iri."
"Iri kenapa Chic?" tanya Dio.
"Iri karena ingin ditraktir Liam terus."
"Sekarang saja Liam sedang mentraktir kita, apa masih kurang heum?" tanya Ricko.
"Oh iya benar juga sih hehe."
"Ayo sekarang siapa lagi yang ingin bernyanyi?" tanya Liam sembari meletakkan mic di atas meja.
"Aku saja," ucap Dio.
"Baiklah."
"Jam berapa sekarang Ric?" tanya Liam duduk di sebelahnya.
"Baru jam setengah sepuluh malam."
"Oh begitu."
"Sudah mau pulang?"
__ADS_1
"Belum nanti saja jam setengah 11 malam."
"Oh okay."
Liam lalu menatap kedua temannya yang sedang bersenang - senang.
"Aku senang melihat mereka bersenang - senang seperti itu, dan aku juga sangat bahagia karena meskipun sudah menikah namun aku masih bisa berkumpul bersama teman - temanku layaknya waktu masih muda."
"Sekarang kamu juga masih muda kok."
"Oh iya juga sih, tetapi statusku sekarang sudah menjadi bapak - bapak hahaha."
"Tidak apa - apa statusnya sudah menjadi bapak - bapak, yang terpenting jiwanya tetap jiwa muda terus."
"Benar sih hahaha."
"Bagaimana perkembangan cafemu?"
"Sebulan lagi sudah selesai dibangun, kurang membeli perabotannya saja dan hal - hal lainnya."
"Itu sih bukan kurang lagi namanya."
"Mengurus hal seperti itu tidak membutuhkan waktu lama kok, tidak seperti saat membangun cafenya."
"Iya sih benar juga, mudah - mudahan semuanya lancar dan sukses."
"Amin, terima kasih Ric."
"Sama - sama Liam."
"Ini tidak ada manis - manisnya gitu?" tanya Dio memancing.
"Biasa, mereka yang selalu menemani orang karaokean."
"Hei tidak ada hal seperti itu, nanti istriku marah mampus aku."
Dio tertawa.
"Hahaha iya deh iya, lagipula aku hanya bercanda saja kok."
"Iya," jawab Liam malas.
Setelah jam setengah 11 malam, Liam langsung bergegas untuk pulang sebelum ditelepon oleh Jane. Liam takut jika nanti dia akan dimarahi oleh Jane karena pulang terlambat. Beberapa menit kemudian dia sudah sampai di basement rumahnya dan sedang memarkirkan motornya.
*Tak.*
"Mudah - mudahan saja aku tidak pulang terlambat," gumam Liam.
Liam lalu berjalan naik lift untuk masuk ke dalam rumahnya.
*Tring "
"Jane, aku pulang."
"Iya hubby!!" teriak Jane dari dapur.
Liam lalu menghampiri Jane.
__ADS_1
"Aku tidak terlambat pulang kan sayang?" tanya Liam khawatir.
"Tidak hubby, justru ini sangat awal sekali kamu pulangnya karena biasanya kamu pulang jam 1 malam dan ku pikir kamu akan pulang jam 12 malam."
Liam menggaruk rambutnya.
"Hehe aku fikir aku terlambat pulang, ternyata aku sangat awal sekali pulangnya."
"Iya hubby. Tadi kamu jadi ke cafe?"
"Jadi, lalu setelah itu aku pergi karaokean bersama teman - teman."
"Laki - laki semua kan? tidak ada wanitanya?"
"Tidak sayang, aku hanya main dengan mereka bertiga."
"Oh begitu."
Liam lalu memperhatikan Jane yang sedang sibuk sendiri dengan sebuah mesin pembuat kopi, ah tidak - tidak itu ternyata mesin pembuat minuman green tea. Jane membeli mesin itu 5 hari yang lalu melalui toko online, dan baru skrng dia mencobanya untuk pertama kalinya. Jane membuat dua cangkir minuman green tea untuknya dan untuk Liam juga. Setelah itu mereka berdua menikmati minuman tersebut sembari berbincang di meja mini bar dapurnya. Mereka berdua saling bertukar pikiran satu sama lain serta mengeluarkan uneg - unegnya masing - masing selama menjalani kehidupan pernikahannya.
"Besok katanya Rosie mengundang kita untuk datang ke acara pameran penggalangan dana di kampusnya."
"Besok kapan?"
"Besok hari Sabtu minggu depan."
"Oh begitu."
*Slurrpp.*
"Ah sangat nikmat sekali," ucap Liam setelah meminum secangkir green tea.
"Benar rasanya sangat nikmat sekali."
"Berapa harganya mesin yang kamu beli itu?"
"Sekitar 5 jutaan saja kok."
"Hmm begitu rupanya."
"Memangnya kenapa hubby?"
"Tidak apa - apa, aku lebih suka kamu membeli barang - barang yang bermanfaat daripada membeli barang yang menurutmu bentuknya lucu namun tidak akan terpakai setelahnya."
"Iya hubby."
"Baby Ace sudah tidur?"
"Sudah hubby, baby Ace sudah tidur dari tadi setelah aku memberinya susu."
"Oh. aku rencananya ingin membuat rumah lain di Korea Selatan, bagaimana menurutmu?"
"Mmm lebih baik tidak perlu hubby kan sudah ada rumahku, jadi kalau kita pulang ke Korea nanti kita akan tinggal di rumahku saja."
"Mmm baiklah."
Jane lalu menggenggam tangan Liam.
__ADS_1
"Lebih baik uangnya kamu simpan untuk membuat cabang cafe, katanya ingin membuat cabang yang banyak di seluruh daerah."
"Iya sayang."