Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #28


__ADS_3


Setelah Jane selesai membersihkan semua peralatan, Jane duduk di samping Liam. Liam hanya menatap Jane dengan disertai senyuman di bibirnya. Jane hanya tersenyum dan menatap wajah Liam. Kemudian Jane menawarkan Liam sebuah teh agar mau meminum teh bersama dengannya. Liam hanya mengangguk dan kemudian Jane berdiri untuk membuat teh. Sedangkan Liam berjalan menghampiri Kiko di ruang tengah. Setelah selesai, kemudian Jane datang menghampiri Liam dan meletakkan dua cangkir teh di atas meja bersamaan dengan sebuah toples berisi cookies.


Meminum secangkir teh "mmm nikmat, eh ini kamu tadi membeli cookies?"


"Aku tidak membelinya, tetapi tadi aku membuatnya sebelum pergi ke taman."


"Oh, tadi kamu pergi ke taman?"


"Iya tadi aku mengajak Kiko untuk berjalan - jalan di taman sekalian bertemu dengan oppa."


Mengangguk pelan "oh jadi anjing itu bernama Kiko?"


"Iya, memang jelek ya namanya? atau kamu tidak menyukai anjing dan tidak memberiku izin untuk membawa Kiko di unit apartement kamu?"


"Tidak juga, aku mengizinkanmu untuk membawa Kiko di unit apartement aku kok karena aku tau jika kamu merasa kesepian di sini."


"Kalau kamu tau aku kesepian disini, mengapa kamu tidak menemaniku tinggal di sini saja?"


"Hei bukannya aku tidak bisa tapi...." (terpotong)


Jane menyela ucapan Liam "karena kamu takut kalau suatu saat nanti kamu akan berubah pikiran kan?"


Mengambil sebuah cookies dari toples "yah bagaimana aku menjelaskannya kepadamu sedangkan aku sedang tidak ingin berdebat dengan kamu."


"Yah terserah kamu sih, memangnya sebenarnya apa yang terjadi sehingga kamu enggan untuk menikah?"


"Aku belum bisa bercerita sekarang karena aku harus menyiapkan mentalku terlebih dahulu. Tapi aku janji suatu saat aku akan menceritakannya kepada kamu."


"Ya, aku bakalan menunggu cerita kamu itu."


Kemudian Liam melihat sekeliling "ternyata semenjak kamu tinggal di apartement aku suasanya berubah ya, jadi seperti lebih hidup, lebih terawat, lebih bersih dan rapi."


"Yah begitulah kalau di dalam apartement atau rumah terdapat sentuhan seorang wanita. Yah bisa kamu lihat sendiri, bahkan aku juga menata ulang semua perabotan dan hiasan di tempat ini. Maka dari itu, sebaiknya kamu berfikir ulang soal keinginanmu untuk melajang itu, apa kamu mau jika suatu saat rumahmu menjadi kurang terawat dan seperti kurang hidup suasananya jika kamu terus melakukan niat kamu itu?"


"Tidak sih. Tapi apa memang benar begitu?"


Jane mengangguk pelan kemudian menepuk - nepuk bahu Liam dengan pelan. Setelah itu, Liam berdiri dan mulai berjalan berkeliling dan melihat - lihat unit apartement nya itu. Sedangkan Jane hanya melihat Liam berkeliling dan menghampiri Kiko yang sedang berada di tempat tidurnya, untuk mengajaknya bermain. Setelah Liam selesai berkeliling, kemudian dia kembali duduk di sofa ruang tengah sembari memakan cookies buatan Jane. Kemudian Jane menggendong Kiko dan duduk di sofa. Kiko terdiam saat duduk di pangkuan Jane. Kemudian Jane mengusap lembut bulu Kiko itu, sedangkan Liam hanya melihat tingkah laku Jane yang sangat menyayangi Kiko.

__ADS_1


Jane beralih menatap wajah Liam "kamu nanti mau pulang ke rumah kamu atau mau menginap di apartement?"


"Mungkin untuk malam ini aku akan tidur di sini, memangnya kenapa?"


Tersenyum manis kepada Liam "tidak apa - apa, hanya memastikan saja karena ini malam minggu jadi aku pikir kamu akan pergi hangout dengan teman - teman kamu."


Ikut tersenyum "ya aku pikir aku sedang ingin saja menginap di apartement karena sedang tidak ingin tidur di rumah."


"Oh begitu. Apa tidak ada alasan lain?"


"Tidak."


RING!! RING!! RING!! (telepon Liam berbunyi)


Kemudian Liam mengambil handphone dari saku nya dan meminta izin kepada Jane untuk mengangkat teleponnya sebentar. Jane hanya mengangguk dan beralih bermain dengan Kiko kembali. Setelah 30 menit mengangkat telepon, Liam kembali mengambil jacketnya dan menghampiri Jane.


Bertanya dengan keheranan "mau pergi kemana malam - malam begini? apa kamu tidak jadi menginap di sini?"


Liam yang sedang memakai jacketnya dan mengambil kuncinya "aku ada urusan mendadak jadi aku akan pergi."


Jane memasang ekspresi kecewa "baiklah, hati - hati dijalan."


Berjalan keluar pintu "oke."


Menyerahkan buku menu kepada Liam "mau minum atau makan apa biar aku pesankan."


(Dengan nada dingin) "tidak perlu, aku sudah meminum teh tadi di apartement. Langsung to the point saja apa yang ingin kamu katakan."


Kemudian wanita itu mengambil sesuatu dari tas nya dan memberikannya kepada Liam "ini, kamu pasti bisa datang kan?"


Mengambil undangan itu dan membacanya "undangan reuni akbar besok?"


"Ah maaf ya aku memberikannya sangat mendadak."


"Hmm."


Memegang tangan Liam "kamu bisa datang kan? pasti anak - anak yang lain sangat senang jika kamu bisa datang ke acara reuni."


Kemudian Liam melepaskan tangan si wanita itu "aku tidak tau bisa datang atau tidak, tapi mungkin aku akan mengusahakannya."

__ADS_1


"Baiklah. Apa sekarang kamu merasa jijik ketika tangan kamu aku pegang?"


"Tidak juga."


"Lalu kenapa kamu melepaskannya? apa ada hati yang sedang kamu jaga Li?"


"Tidak juga, aku hanya merasa risih jika wanita lain memegang tanganku terutama wanita asing sepertimu."


Kemudian wanita itu menundukkan kepalanya "apakah sekarang hubungan kita hanya sebatas orang asing?"


"Menurutmu? bukankah kamu yang mengiginkannya?"


"Tapi Liam, sebenarnya aku tidak bermaksud untuk begitu tetapi" (terpotong)


Berdiri dari tempat duduknya " Sudah tidak ada yang ingin kita bicarakan lagi kan? "


Memegang tangan Liam kembali " tunggu dulu Liam aku belum selesai berbicara. "


Melepaskan kembali tangan wanita tersebut " aku sedang tidak mempunyai banyak waktu, aku harus pergi. Besok jam 9 pagi kan? "


" Iya, tapi Liam kumohon sekali ini saja. "


Liam mulai meninggalkan wanita tersebut " Baiklah besok aku akan datang, sampai jumpa. "


Wanita itu terus memanggil - manggil nama Liam tetapi Liam tetap saja dia berpura - pura untuk tidak mendengarkannya dan terus melangkah keluar dari cafe tersebut. Kemudian sesampainya di apartement, Liam memasuki unit nya yang ternyata cuma ada cahaya dari televisi yang menyala dan terkejut melihat Jane yang sedang berbaring di atas sofanya dengan pakaian minim. Seketika Liam melemparkan Jacketnya ke arah tubuh Jane.


Berteriak kepada Liam " Apa - apaan kamu ini? sembarangan melemparkan jacketmu ke atas tubuhku. "


(berbicara dengan nada datar) " Kamu ini yang apa - apaan memakai pakaian yang minim seperti pakaian kekurangan bahan begitu, kalau ternyata yang masuk orang jahat bagaimana? "


Kemudian Jane tersenyum nakal kepada Liam " Buktinya kamu kan yang masuk ke apartement ini jadi aman - aman saja, atau kamu yang akan beralih jadi orang jahatnya? "


Memasang ekspresi datar " Hentikanlah pembicaraanmu itu, aku mau pergi ke kamar. "


" Eh kamu jadi menginap disini Chicken? "


" Siapa bilang kalau aku tidak jadi menginap disini? "


" Tadi katanya ada urusan mendadak, ya aku kira kamu tidak jadi menginap disini. Eh tapi tunggu sebentar, kenapa ekspresi wajah kamu berubah menjadi datar seperti itu? apa ada masalah? "

__ADS_1


" Tidak kok. Goodnight. "


Jane yang mengetahui perubahan ekspresi Liam tersebut lalu berdiri dan menghampiri Liam. Ketika Liam mengetahui Jane akan menghampirinya, dia langsung berjalan menuju kamarnya. Tetapi hal itu tidak berhasil karena Jane berhasil memegang tangannya. Seketika Liam menghentikan langkahnya dan berbalik menoleh ke arah Jane.


__ADS_2