
Jane merasa lemas sekali, sedangkan Liam hanya cengar - cengir tidak jelas karena sudah berhasil membuat Jane terlihat pasrah. Biasanya Jane adalah wanita yang memiliki aura kepemimpinan yang kuat serta cenderung judes karena wajahnya yang terlihat seperti itu, dan intinya Jane bukan wanita yang menye - menye. Kalau bukan karena Jane orangnya seperti itu. mana mungkin Liam bisa sampai bertekuk lutut kepada Jane sekaligus selalu menuruti perintahnya, karena secara dari dulu Liam adalah seorang anak yang bandel serta tidak suka diatur.
Namun semenjak dia menikah dengan Jane, Liam sudah tidak berani berbuat ulah terlalu sering karena takut dimarahi oleh Jane. Setelah itu Liam memeluk Jane yang sedang tertidur pulas di sofa setelah mereka melakukan aktivitas panas itu. Sesekali Liam membelai rambut Jane sembari menatap wajah imutnya yang awet muda, dan justru terkesan bahwa dia masih remaja SMA. Disisi lain Mr Robinson saat ini sedang berbincang dengan grandpa alias daddy nya untuk membahas mengenai perusahaannya.
1 jam setelah pembicaraan tersebut, Mr Robinson lalu mendekati istrinya yang sedang berkebun di halaman depan rumah. Menurut Mrs Robinson taman halaman depan sudah terlihat berantakan dan terkesan menakutkan jika tiba - tiba sebagai rumah ular. Mrs Robinson menata sekaligus merapikan tanamannya yang sudah mulai tidak terawat, karena akhir - akhir ini selalu sibuk menghadiri pertemuan dengan para istri - istri pengusaha termasuk bersama sahabatnya Mrs Anne Kim.
Mrs Robinson sangat ahli dalam menangani masalah pertanaman apalagi mengenai berbagai macam bunga karena dahulu dia pernah bekerja di toko bunga saat setelah bercerai dengan suami pertamanya. Karena toko bunga itulah Mrs Robinson bertemu dengan Mr Robinson yang umurnya lebih muda darinya serta masih perjaka. Setelah disia - siakan oleh suami pertamanya, sekarang Mrs Robinson malah di perlakukan sebagai seorang ratu oleh Mr Robinson sekaligus hidup bergelimang harta.
"Sedang apa hon?" tanya Mr Robinson saat menghampiri istrinya.
"Sedang merapikan semua tanaman kesayanganku."
"Ckckck tanaman saja disayang - sayang, sedangkan aku malah disia - siakan."
"Siapa yang menyia - nyiakan kamu? mungkin itu semua hanya perasaanmu saja."
"Kamu ini sangat menyebalkan."
"Ya sudah kalau begitu lebih baik kamu bermain golf saja dengan Andrew, bukankah kalian selalu bermain golf setiap weekend?"
"Dia sedang ada acara dengan Anne, jadi aku tidak punya teman."
"Kasihan sekali," ucap Mrs Robinson mengejek suaminya.
"Kamu kan juga temanku, teman sehidup semati hehe."
"Ssttt," ucap Mrs Robinson yang langsung tersipu malu.
"Ayolah hon, kita pergi."
"Kemana?" tanya Mrs Robinson yang masih sibuk merapikan tanamannya.
"Kemana saja, aku ingin jalan - jalan denganmu."
"Tapi ini belum selesai," ucap Mrs Robinson menatap suaminya.
"Besok saja," ucap Mr Robinson yang langsung menarik tangan istrinya.
"Eh Jonathan jangan menarik tanganku!!" teriak Mrs Robinson.
"Jonathan, apa yang kamu lakukan kepada Margareth?" tanya grandma.
"Aku ingin mengajaknya pergi karena aku tidak suka melihatnya terus bermain dengan tanamannya mom."
"Ya tidak apa - apa, kan itu hobi Margareth."
__ADS_1
"Tapi aku tidak suka, masa tanaman terus yang disayang sedangkan aku hanya didiamkan saja."
Grandma seketika tertawa mendengar penjelasan putra tunggalnya itu.
"Ckckck ceritanya kamu ini sedang cemburu dengan tanaman heum?"
"Bisa dikatakan seperti itu," jawab Mr Robinson.
"Maaf ya Margareth, putra mommy memang sedikit kekanakan sejak dahulu."
Mrs Robinson tersenyum.
"Tidak apa - apa mom, ini sudah menjadi konsekuensiku menikah dengan seorang pria yang umurnya lumayan jauh dibawahku."
"Harusnya dahulu kamu bisa memilih yang lebih baik dari Jonathan, lalu mengapa kamu malah memilih Jonathan? tanya grandma bercanda.
"Mom!! kenapa mommy menjadi seperti itu denganku?" tanya Mr Robinson kesal.
"Habisnya mommy tidak habis fikir mengapa Margareth bisa memilihmu yang kelakuannya seperti ini, kamu ini selalu saja merepotkan Margareth hufftt."
"Tidak mom, sekarang Jonathan ingin berubah dan tidak akan merepotkan Margareth lagi."
"Ckckck ya sudah, sana cepat pergi berjalan - jalan."
"Iya mom," ucap Mr Robinson yang langsung membawa pergi istrinya ke kamar untuk bersiap - siap.
"Hon, kenapa sih kamu sangat cuek sekali heum?" tanya Mr Robinson menatap istrinya itu.
"Aku sedang malas," jawabnya dingin.
"Ya sudah pulang saja kalau begitu," ucap Mr Robinson ketus.
"Tidak usah, mari kita lanjutkan saja perjalanannya."
"Hei supir, putar balik kita pulang ke rumah!!"
"Tapi tuan..." Belum selesai berbicara tiba - tiba saja kepala supir itu langsung ditodong pistol oleh Mr Robinson.
"Kau ingin membantah ucapanku ha?" teriak Mr Robinson.
Namun dengan berani Mrs Robinson langsung menutupi ujung pistol itu dengan menggunakan tangannya, otomatis jika Mr Robinson menembak maka peluru itu akan langsung mengenai tangan Mrs Robinson.
"Hon," ucap Mr Robinson.
"Turunkan senjatamu!!" perintah Mrs Robinson dengan menatap tajam mata suaminya itu.
__ADS_1
"Iya," ucap Mr Robinson menyimpan kembali pistol miliknya.
"Mari kita lanjutkan saja perjalanannya," ucapnya kepada supir.
"Baik nyonya."
Supir itu kembali melanjutkan perjalanannya, dan tidak lama kemudian mereka sudah sampai di tempat yang ingin dituju. Mereka berdua berjalan - jalan bersama di bukit itu dan ternyata sudah banyak pengunjung begitu mereka sampai disana.
"Ternyata sekarang sudah semakin ramai ya Jo?" tanya Mrs Robinson.
"Iya," jawabnya singkat.
Mrs Robinson lalu menatap mata suaminya yang suasana hatinya sedang tidak terlalu baik setelah kejadian tadi.
"Kenapa?" tanya Mrs Robinson sembari mengusap pipi suaminya.
"Suasana hatiku sedang tidak terlalu baik, dan sedang ingin membunuh orang."
"Jangan begitu, itu dosa jika kamu membunuh mereka tanpa alasan."
"Kenapa sih kamu berani sekali berbuat seperti tadi? kalau tiba - tiba aku menarik pelatuknya kan kamu yang terkena tembakan itu."
"Tidak apa - apa yang terkena juga hanya tangan saja kok, daripada seorang ibu yang kehilangan anaknya."
"Tapikan aku tidak ingin kamu terluka."
"Iya, buktinya sekarang aku tidak terluka kan? ayo kita lanjutkan perjalanan kita."
"Baiklah."
"Senyum dong sayang, nanti tampannya akan semakin kelihatan jika kamu tersenyum."
Mr Robinson tersenyum dengan terpaksa.
"Nih sudah!!"
Mrs Robinson tertawa.
"Kamu ini sangat lucu sekali."
"Aku memang lucu jika hanya dihadapanmu saja."
"Benarkah begitu?"
"Tentu saja, karena aku menyayangimu."
__ADS_1
"Aku juga."